Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 23


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 23...


...—---- o0o —----...


Sado melaju menaiki jalanan terjal. Sesekali Mang Dirman harus sigap mengendalikan langkah kuda yang terseok-seok dan tampak keletihan. Hanan, Roosje, serta Dasimah harus berpegangan kuat pada jeruji bangku agar tidak ikut terdorong maju mengikuti entakkan.


"Kita turun di sini saja!" seru Roosje tiba-tiba, begitu mendapati sebuah sado lain terparkir di depan. "Itu ada Ki Praja sedang menunggui kuda-kuda."


"Huuppss! Hiihhhih!"


Mang Dirman segera menarik tali kekang agar kuda menghentikan langkah.


"Di sini, Nona?" tanya Hanan saat roda sado sudah benar-benar berhenti berputar.


"Ja, di sini saja, Hanan," jawab Roosje seraya melempar senyum pada anak muda tersebut. "Ayo, ikutlah saya turun. Sekalian kamu orang bertemu Papa."


Hanan melirik ke arah Mang Dirman. Sosok tua itu menanggapinya dengan gelengan perlahan —yang tentu saja— tanpa sepengetahuan Roosje maupun Dasimah.


"Uummhhh, maafkan, Nona. Terima kasih atas tawarannya, tapi kami harus segera kembali—"


"Ah, sebentar saja, Hanan," pinta Roosje sedikit merengek. "Saya ingin kamu orang bertemu kembali dengan Papa. Ini terkait kamu orang juga, Hanan."


"Mengenai saya?" Hanan bertanya dan mulai timbul rasa penasaran. "Apa yang hendak Nona bicarakan dengan Tuan Guus mengenai saya?"


Kembali Roosje melempar senyum manis. "Makanya, kamu orang ikutlah dengan saya. Nanti kamu orang akan mendengarnya sendiri. Kom op, volg me nu gewoon," ujarnya setengah memaksa.


(Ayolah, ikuti saja saya sekarang)


Hanan kembali menoleh pada Mang Dirman. "Bagaimana ini, Mang?" tanyanya bingung.


Sosok tua itu mengangkat bahu, lantas menjawab, "Terserah Aden saja."


"Ah, Mamang ini," gerutu Hanan tidak puas dengan jawaban yang diberikan Mang Dirman tersebut. "Sore ini kita juga harus menjemput Nèng Bunga 'kan, Mang?"


Mang Dirman ragu untuk kembali menjawab dan itu pun terlebih dahulu disambar oleh Roosje. "Bunga? Siapa itu Bunga?" tanya putri tunggal Tuan Guus itu dengan mata menyipit. "Seorang perempuan jugakah?"


Hanan tersenyum tipis. "Iya, Nona. Salah seorang kawan sepermainan dengan Nèng Imah juga dulu," jawabnya seraya melempar tatap pada Dasimah.


Roosje menoleh pada sosok di sampingnya. Lalu kembali memandang Hanan —masih— dengan sorot mata menyipit taham "Oh, banyak sekali rupanya kamu orang berkawan dengan itu perempuan-perempuan, Hanan? Pasti cantik-cantik jugakah, huh? Wel, tidak terlalu merasa heran saya." Raut gadis itu mendadak berubah masam.


"Hanya kawan sepermainan waktu kami masih anak-anak saja, Nona," ujar Hanan sengaja menutupi hubungannya dengan Bunga dari Roosje. Sebagai seorang lelaki, dia merasa Noni Belanda itu tampaknya tidak begitu menyukai hal tersebut.


"Wel, terserah kalian orang saja," kata Roosje akhirnya. "Tapi … kamu orang harus ikut saya menemui Papa sekarang, Hanan. Mau, 'kan? En kamu orang, Dasimah, tunggu di sini sampai saya kembali."


"Baik, Nona Roos," sahut Dasimah patuh.


Hanan sendiri masih kebingungan harus menjawab apa. Sementara Mang Dirman sendiri sudah menyerahkan sepenuhnya pada dia tadi. Hingga akhirnya anak muda tersebut mengiakan, terpaksa.

__ADS_1


"Sebentar saja, Mang," ujar Hanan sebelum mengikuti langkah Roosje hendak menemui Tuan Guus. "Mamang tunggu di sini sampai saya kembali."


"Baik, Den," balas Mang Dirman seraya memerhatikan sosok tua yang ada di depan, tidak seberapa jauh dari keberadaan mereka saat itu.


Hanan dan Roosje segera menuruni jalan kecil setapak menuju kawasan perkebunan dan pesawahan yang dikelola oleh Tuan Guus. Tampak hijau subur walaupun sedang dilanda musim kemarau. Berbeda dengan kondisi lahan lain, seperti yang dimiliki oleh keluarga Sumiarsih, kering dan tandus tidak terurus.


Sepeninggal kedua anak muda tadi, Ki Praja yang sejak tadi melihat kedatangan mereka, akhirnya turun dari sado dan menghampiri Mang Dirman.


"Akhirnya kita bertemu kembali, Dirman," ucap laki-laki tua tersebut diiringi seringai tidak bersahabat. "Lama sekali kita tidak saling bertegur sapa, sejak saya memutuskan hengkang dari rumah majikanmu itu. Apa kabar, Dirman?"


Mang Dirman membuang pandangannya ke arah lain. Raut mukanya mendadak masam begitu sosok Ki Praja mulai mendekat sebelumnya. "Sebaiknya kamu tetap berada di atas sadomu itu, Praja. Tidak ada gunanya kemari mendekat dan mengajakku berbicara."


Terdengar kekehan menyebal dari sosok tadi. "Aahhh, rupanya kamu masih marah dan menyimpan dendam itu pada saya, Dirman. Padahal, jelas-jelas itu tidak baik, bukan?" ucap Ki Praja seperti hendak mengorek-ngorek kembali masa lalu di antara mereka berdua. "Heh, Dasimah!" sentaknya pada perempuan yang masih berdiri mematung di samping sado Mang Dirman. "Mengapa kamu tidak mencari-cari kesibukan lain, selain harus menguping obrolan kami?"


"Maafkan saya, Ki," timpal Dasimah ketakutan. "Saya diperintahkan Nona Roos untuk menunggui di sini. Mohon maaf."


"Aahhh, persetan dengan alasanmu itu! Lekas menyingkir dari sini dan cari tugas baru ke tempat lain!"


"B-baik, Ki," balas Dasimah semakin ketakutan dan bergegas menyingkir dari tempat tersebut. 'Gawat! Ini berbahaya sekali!' gumam perempuan ini. 'Sepertinya akan pecah kembali keributan antara Ki Praja dan Mang Dirman sebagaimana dulu. Aku harus mengawasi mereka berdua dan melapor pada Nona Roos jika itu sampai terjadi.'


Ki Praja semakin mendekat disertai kekehannya yang tiada henti.


"Tolonglah, Praja," kata Mang Dirman mewanti-wanti. "Saya sedang mengantar anak majikan saya. Jangan sampai Den Hanan tahu tentang permasalahan kita dulu dan kini."


Ki Praja mengekeh seperti tengah mengejek. "Mengapa, Dirman? Kamu  takut dia juga mengetahui semua tentang permasalahan yang dialami keluarganya? Hi-hi-hi," katanya seraya mengikik. "Kasihan sekali kamu, Dirman. Bertahun-tahun hidupmu hanya menjadi kacung keluarga itu. Bahkan, kamu sendiri sampai rela tidak menikah lagi hanya demi berharap perempuan tua janda itu, 'kan?"


"Tutup mulutmu, Praja! Tidak sepantasnya kamu berkata yang sama sekali tidak ada kebenarannya itu!" Mang Dirman berusaha bersabar. "Dari dulu kamu selalu melempariku fitnah keji. Apa kamu masih belum puas juga, hah?"


Mang Dirman mendengkus kesal.


"Ayolah, Dirman," ujar Ki Praja kembali. "Mengapa harus bertahan seperti sekarang ini? Lihatlah saya, apapun yang saya inginkan, Tuan Guus selalu memberikannya, Dirman. Lantas, apa yang bisa kamu dapatkan dari keluarga si Juanda itu? Sumiarsih? Ha-ha-ha. Naif sekali kamu. Mana mungkin perempuan itu tertarik pada—"


"Diamlah kamu, Praja!" bentak Mang Dirman terengah-engah menahan amarah. "Saya tidak pernah berharap apapun! Tidak juga seperti kamu yang rela menjual harga diri menjadi seorang pengkhianat dan kacung Belanda! Sekarang tanyalah dirimu sendiri, siapa yang benar-benar seorang pecundang di antara kita?"


Ki Praja tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Mang Dirman dan lekas dielakkan kesal.


"Apa bedanya? Apa bedanya, Dirman? Hi-hi-hi," ujar Ki Praja semakin menyebalkan. "Menjadi pejuang, memerangi Belanda, ujung-ujungnya hanya ingin bebas mencari makan. Menjadi pengkhianat, itu juga untuk mencari penghidupan. Salahnya saya di mana? Daripada kamu, hanya menjadi kacung abadi dan tidak pernah mendapat apa-apa. Numpang hidup di rumah seorang janda karena alasan balas budi. Ha-ha-ha!"


"Cukup, Praja! Saya tidak ingin meladenimu!" Mang Dirman bermaksud menghindar dengan pergi dari sana. Namun amarahnya seketika menggelegak, saat mendengar ucapan terakhir sosok lawannya tersebut.


"Jangan-jangan kamu sengaja membunuh si Juanda untuk berharap mendapat hatinya Sumiarsih, Dirman? Hi-hi-hi!"


"Hentikan, Praja! Cukup!" bentak Mang Dirman sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia berbalik, menyerang Ki Praja dengan beberapa pukulan yang dipadu bersama ayunan kaki.


Wuusshhh!


"Hiaattt!"


Mang Dirman memutar badan sekali, lalu mengangkat lurus kaki ke atas mengincar bagian kepala Ki Praja.


Prak!

__ADS_1


Dua kekuatan beradu di udara.


"Hups!"


Ki Praja berhasil menahan terjangan kaki Mang Dirman dengan sapuan tangan. Membuangnya ke samping, lantas balik mengincar bagian perut lawan menggunakan kepalan tangan. Begitu cepat dan nyaris mengenai sasaran jika kusir sado keluarga Sumiarsih itu tidak lekas menarik diri ke belakang.


"Hap!"


Kaki Mang Dirman sampai terseret beberapa jengkal, menahan laju tubuhnya yang mengelak cepat tadi. Mengakibatkan kepulan debu kering membubung area sekitar.


"Hhmmm, kamu benar-benar ingin melukai saya, Dirman? Hi-hi-hi. Tidak semudah itu, Kacung bodoh!" ejek Ki Praja seraya menggerak-gerakan pergelangan tangan bekas menahan serangan tadi. Ada rasa ngilu yang menyentak begitu beradu keras dengan tulang kering Mang Dirman. Seperti entakkan daya listrik yang besar.


"Mengapa, Praja? Masih mau kamu tutup-tutupi kelemahanmu itu, hhmm?" Balik membalas Mang Dirman. "Kamu pernah lari terbirit-birit saat saya gagalkan usahamu untuk memperdaya ibunya Bunga. Kamu masih ingat itu, Praja?"


"Bangsat!" umpat Ki Praja. "Kamu pikir saya selemah itu sekarang? Tidak, Dirman! Saya sudah menunggu-nunggu saat seperti ini sekian lama!"


Mang Dirman tersenyum tipis. Sudut matanya menangkap ada ringis kesakitan menghiasi bibir hitam milik Ki Praja. "Buktikan saja, Praja. Tidak perlu berbuih-buih kata untuk menyembunyikan rasa malumu itu!" ucapnya seakan menantang.


Terbukti, kini lenguh napas lawan kian mengencang. Diawali seruan lepas, Ki Praja menghunuskan serangan baru melalui ujung jari jemari tangan, mengeras bagaikan bebatuan cadas.


"Hiiaattt!"


Mang Dirman bersiap-siap memasang kuda-kuda. Memajukan kaki kiri ke depan, sementara kaki kanan menopang ke belakang. Lantas memusatkan separuh tenaga pada bagian tangan hingga bergetar.


"Aasshhh!"


Bibirnya meruncing, mengeluarkan desis panas hingga memercik uap, mengepul terbakar ganasnya terik matahari menjelang sore.


Sementara itu Dasimah yang tengah bersembunyi mengawasi di balik rimbunan ilalang, terengah-engah ketakutan sendiri sambil menutupi mulut dengan tangan.


'Bahaya! Ini bahaya!' pekik perempuan berusia dua puluhan tahun tersebut di dalam hati. 'Ki Praja dan Mang Dirman benar-benar berniat ingin saling melukai! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera memberitahu Tuan Guus dan … Kang Hanan … eh, Hanan?' Tiba-tiba dia terenyak begitu menyebut nama laki-laki seusianya itu. Lalu segera mengelus dada disertai pejaman mata.


"Kang Hanaaannn …." desahnya sesaat tanpa sadar. 'Ah, gila! Mengapa aku justru membayangkan laki-laki yang satu itu?!' rutuk Dasimah memaki diri. 'Rasa yang kumiliki sejak dulu, kini terasa kembali. Berharap suatu saat Kang Hanan menjatuhkan hatinya padaku, tapi mengapa justru si Bunga yang dia pilih? Ini benar-benar tidak adil! Ini teramat menyiksa!'


"Hiaaattt!"


Suara teriakan itu kembali membahana dan menyadarkan Dasimah.


Trak!


Trek!


Dua kekuatan beradu keras menghiasi udara panas. Dasimah tidak ingin melihatnya. Terlalu mengerikan. Itu pasti peraduan tulang kering dari dua laki-laki tua di sana, pikir perempuan itu. Kemudian buru-buru bangkit, berlari ke arah Hanan dan Roosje tadi menghilang.


"Hiaattt!"


Trak!


"Aaakkhhh!"


Jeritan kesakitan segera menyusul usai daging-daging tua tersebut saling beradu keras.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2