Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 64


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 64...


...------- o0o -------...


Benar saja, begitu jam kerja usai, sebuah sado menunggu di depan bangunan tersebut. Tampak sesosok tua Ki Praja tengah berdiri menyambut kemunculan Hanan.


"Selamat siang, Den Dokter," sapanya diiringi seringai aneh menguar dari wajahnya yang kelam. "Saya diperintahkan oleh Nona Roosje untuk menjemput Den Dokter," imbuhnya sambil membantu membawakan tas kerja anak muda tersebut.


"Ah, iya. Terima kasih. Saya sudah tahu itu tadi," balas Hanan dingin. 'Ternyata Nona Roos tidak main-main dengan ajakannya. Dia benar-benar meminta aku agar datang ke rumahnya siang ini juga,' gumamnya di dalam hati.


Usai berpamitan terlebih dahulu dengan Pak Mantri dan ketiga petugas kebersihan Balai Kesehatan, Hanan segera menaiki sado yang dikemudikan oleh Ki Praja. Membawanya menjauh menuju kediaman Tuan Guus di siang itu.


Tidak banyak yang dibicarakan oleh Hanan dan Ki Praja selama di perjalanan, terkecuali pertanyaan yang sebelumnya sempat terlintas di benak anak muda tersebut.


"Dengar-dengar, dulu Ki Praja pernah ikut bekerja juga pada keluarga saya ya, Ki?" tanya Hanan yang duduk di belakang bangku kusir.


Raut masam seketika menyeruak di wajah Ki Praja begitu mendapat pertanyaan seperti itu. Namun mau tidak mau, dia harus menjawab juga dengan hati terpaksa. 


"Betul, Den Dokter," jawab Ki Praja tanpa sedikitpun mau menoleh ke belakang. "Itu dulu, jauh sebelum ayah Den Dokter, Juragan Juanda, tiada."


"Mengapa berhenti dan kembali bekerja pada Tuan Guus? Bukannya sebelum kerja pada Ayah, Ki Praja juga sempat bekerja dengan Tuan Guus?" cecar Hanan penasaran. 


Agak lama Ki Praja berpikir, lantas kembali bertutur kata, "Ah, itu hanya masalah pribadi saya saja, Den."


"Masalah pribadi? Maksudnya, masalah pribadi seperti apa ya, Ki?" Kedua alis anak muda tersebut saling bertaut. "Apakah Aki ada masalah pribadi dengan Ayah saya atau Mang Dirman? Seperti kejadian beberapa hari lalu di perkebunan Tuan Guus itu?"


Bias muka Ki Praja kian mengelam. Tampak sekali lelaki tua tersebut tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Hanan. Namun, lagi-lagi karena saat itu tengah  berurusan dengan perintah dari Roosje, dia tidak ingin membuat tamu undangan anak majikannya tidak merasa nyaman.

__ADS_1


"Bukan itu saja masalahnya, Den Dokter," ungkap Ki Praja perlahan. "Dulu saya kembali bekerja pada Tuan Guus, karena laki-laki jahanam itu berulangkali mengancam saya."


"Mengancam?" Kening Hanan sampai berkerut hebat mendengar penuturan dari Ki Praja tersebut. "Maksud Aki, diancam seperti apa?"


"Saya dipaksa kembali bekerja pada Tuan Guus. Kalau tidak … saya akan dijebloskan ke dalam penjara, Den Dokter," ucap Ki Praja lirih. "Saya pernah diancam dengan tuduhan telah bergabung dengan para pejuang yang mereka sebut sebagai kaum pemberontak itu."


"Kok, bisa, Ki? Semudah itu?" Hanan makin penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh tentang sepak terjang sosok ayahnya Roosje yang sebenarnya. 


"Tentu saja mudah, Den Dokter," jawab Ki Praja tercekat. "Bukan hal yang sulit bagi seorang Tuan Guus untuk memenjarakan warga pribumi seperti saya. Dia mempunyai kekuatan tersendiri. Mantan mertua Tuan Guus adalah seseorang yang memiliki pengaruh besar di negeri asalnya. Saya takut dan terpaksa kembali bekerja dengannya sampai sekarang."


"Ya, Tuhan! Astaghfirullahal'adziim," gumam anak muda tersebut merasa miris.


"Disamping itu, kehadiran saya di tengah-tengah keluarga Den Dokter pun, sepertinya tidak disukai oleh Mang Dirman," imbuh kembali Ki Praja berungkap. "Kami berdua tidak pernah merasa cocok dan kerap berselisih paham. Bahkan sampai sempat terjadi percekcokan besar. Mendiang Juragan Juanda sendiri, ayah Aden Dokter, yang melerai kami. Lantas beliau mengizinkan saya untuk menuruti keinginan Tuan Guus tadi. Itulah makanya, Mang Dirman seperti masih menyimpan rasa dendam pada saya hingga saat ini. Padahal saya sudah berusaha untuk meminta maaf dan berbaikan. Tapi semuanya sia-sia belaka, aampai kemudian … perkelahian kami berlanjut pada siang hari itu, di perkebunan Tuan Guus sendiri, Den Dokter."


'Ah, benarkah seperti itu alasan Mang Dirman berkelahi dengan Ki Praja? Mengapa justru Mang Dirman belum juga mengungkapkan hal yang sebenarnya padaku? Malah sekarang, aku tahu dari omongan Ki Praja sendiri," membatin anak muda tersebut. Berusaha memutar-mutar otak untuk mencerna serta menganalisa untuk sementara waktu, hingga akhirnya tidak terasa tiba di tempat tujuan.


"Selamat siang, Dokter," sapa Gert dan Koen di depan gerbang begitu Hanan sado berhenti sejenak di sana. "Tuan Guus dan Nona Roos sudah menunggu Anda di dalam. Silakan masuk."


"Terima kasih, Tuan-tuan," balas Hanan dari atas sado. Kemudian Ki Praja lanjut melajukan roda kendaraan berkuda ke pelataran rumah dinas Tuan Guus yang cukup luas.


"Aahhh, akhirnya kamu orang datang juga, Hanan," ujar gadis tersebut dengan mengenakan setelan kasual khas gaya perempuan-perempuan Eropa pada umumnya. "Masuklah, Papa sudah lama menunggumu orang."


Hanan tersenyum kaku. "O, iya … terima kasih, Nona," ujarnya membalas sambutan yang punya rumah. "Di mana Tuan Guus?" tanya anak muda tersebut usai beberapa saat duduk di sebuah kursi kayu jati memanjang di sebuah ruangan besar.


"Papa masih ada di ruang kerjanya. Nanti juga akan keluar kalau sudah selesai," timpal Roosje masih tersenyum-senyum sendiri. "Saya tidak pernah berani mendekati ruang kerja Papa. Sebab kalau  Papa sedang sibuk, Papa tidak mau diganggu sedikitpun. He-he."


"Oohhh, seperti itu." Hanan membulatkan bibir seraya manggut-manggut.


Roosje langsung ikut duduk berdampingan di kursi sebelah, sambil tidak henti-hentinya memandangi sosok laki-laki muda tersebut.


"Bagaimana kabar kerjamu orang hari ini, Hanan? Kamu orang mengalami kesulitan?" tanyanya berbasa-basi.

__ADS_1


Hanan menggeser duduknya agak menjauh dari posisi Roosje. Dia tersenyum lembut dan menjawab, "Ah, tentu saja tidak, Nona. Semuanya bisa diatasi dengan baik dan berjalan lancar. He-he." Ada perasaan risi atas sikap perempuan itu yang berusaha duduk sedekat mungkin di dekat dirinya.


"Syukurlah, saya ikut senang dengan apa yang kamu orang rasakan itu, Hanan," ujar Roosje berseri-seri. "O, iya … aku lupa, kamu orang tentu haus, bukan? Perjalanan dari itu Balai ke ini rumah tentu lumayan panas, heh? Sebentar, saya suruh dulu itu Dasimah membawakanmu orang minuman, ya?"


Akhirnya, Hanan bisa sedikit lega kini. Sosok perempuan tersebut bangkit dan bergegas ke ruangan lain. Sementara dia sendiri kini terduduk merenung sembari menanti-nanti Tuan Guus.


Beberapa saat kemudian, terdengar derit daun pintu terbuka dari arah ruangan lain. Hanan sampai menoleh ke sumber suara, tapi tidak menemukan seseorang pun muncul di ruangan tersebut, karena terhalang oleh tembok pembatas yang ada.


Tidak berapa lama, sesosok perempuan muda melenggang begitu saja melewati ruangan dimana saat itu Hanan tengah berada.


Spontan kedua orang tersebut saling menoleh saat menyadari satu dengan lainnya. 


"Nèng Imah?"


"Kang Hanan?"


Dasimah dan Hanan saling beradu tatap untuk beberapa saat. Sampai-sampai pihak perempuan itu tidak menyadari akan kondisi pakaiannya yang masih acak-acakan di depan lelaki tersebut.


"Astaghfirullaahal'adziim!" seru Hanan langsung memalingkan muka ke arah berlawanan, begitu melihat singkapan kain kebaya di bagian dada Dasimah masih terbuka lebar.


Buru-buru Dasimah menyingkap dan membetulkan letak penutup ***********, diiringi rasa malu dan wajah memerah padam.


"Ah, m-maafkan saya, K-kang!" seru Dasimah merasa malu. Lantas bergegas pergi ke ruangan lain usai berpamitan. "S-saya permisi dulu, Kang. M-maaf …."


Hanan memejamkan mata sampai diyakini bahwa sosok Dasimah sudah tidak lagi berada di tempat yang sama. 


Tidak berapa lama setelah Dasimah berlalu, muncul Tuan Guus dari arah yang sama sebagaimana perempuan tadi datang.


"Aahhh, Anak Muda! Sudah tiba rupanya kamu orang, heh!" seru lelaki tinggi besar itu seraya mendekat dan menyalami Hanan. "Sejak kapan kamu orang tiba di sini? Tentu Roos sudah terlebih dahulu menyambutmu orang, bukan?"


Jawab Hanan, "Sudah, Tuan. Terima kasih atas undangan makan siangnya. Nona Roos baru saja hendak mengambilkan air minum."

__ADS_1


Tuan Guus tersenyum-senyum senang seraya merapikan letak gespernya yang tampak masih belum beraturan. 


...BERSAMBUNG...


__ADS_2