Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 15


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 15...


...—---- o0o —----...


Ki Praja tersurut mundur begitu Tuan Guus mendekat. Tampak sekali di wajah tua tukang mengurus kuda itu, raut was-was menggayutinya.


"Kamu orang hampir saja membocorkan apa yang seharus tidak kamu orang lakukan, Ki," ucap Tuan Guus seraya berjalan mengelilingi Ki Praja. "Bukan sudah janji dulu, perkara itu akan tetap jadi rahasia kamu orang dan saya, huh?"


"M-muhun, T-tuan. Maafkan saya," balas sosok tua tersebut dengan suara bergetar. "S-saya hampir saja mengungkapkan itu pada Nona Roos. T-tapi untunglah, saya berhasil mengalihkan—"


"Berhasil katamu, huh?" seru ayahnya Roosje tersebut menggetarkan hati. "Itu anakku, Roos, bukan seperti gadis-gadis biasa, Ki. Itu dia pasti akan selalu menagih apa yang kamu orang sudah janjikan!"


"A-ampun, T-tuan. M-maafkan saya," kata Ki Praja kembali semakin menciut nyalinya. "Tadi itu, saya benar-benar lupa mengontrol diri. Kalau sekiranya Tuan tidak berkenan, saya siap menerima hukuman dari Tuan Guus terhormat."


Ki Praja langsung menjatuhkan diri. Berdiri setengah kaki bertopangkan lutut dan wajah tertunduk. Dia pasrah apa yang akan diterimanya sesaat lagi. Sementara Tuan Guus sendiri masih berjalan mengelilingi dengan kedua tangan menyilang di dada. Senyum tipis mengembang menghiasi wajahnya yang tampak garang.


Buk!


Kaki Tuan Guus menjejak pundak Ki Praja dari arah belakang. Sehingga tubuh tua sosok itu pun langsung tersungkur mencium permukaan lantai istal. Dia mengerang kesakitan dan belum berani mencoba bangkit kembali sebelum mendapat perintah lanjutan.


"Saya paling benci seorang pengkhianat!" ucap Tuan Guus disertai senyum kambing. "Sebuah hubungan … sekuat apapun diikat, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran akibat pengkhianatan. Kamu orang harus pahami itu, Aki!"


"I-iya, T-uan. Saya mengerti," jawab Ki Praja lirih menahan rasa nyeri yang mengentak tulang belakang. "Mohon maafkan saya, Tuan Guus terhormat. Biarkan saya menebus kekhilafan ini dengan kesetiaan saya pada Tuan."


Laki-laki berkulit putih kemerahan itu tergelak. Namun lekas terhenti begitu menyadari jika suaranya tersebut khawatir sampai terdengar oleh putri semata wayangnya, Roosje Van Der Kruk.


"Bangun kamu orang, Ki Praja!" perintah Tuan Guus menggetarkan. Perlahan-lahan orang tua itu bangkit dan berusaha berdiri walau sempat terhuyung sebentar. "Saya paling benci pengkhianat, tapi saya juga sangat suka seorang setia, Ki Praja. He-he."


"Hatur nuhun, Tuan Guus terhormat," ucap Ki Praja seraya menghaturkan sembahnya.


"En kamu orang juga harus selalu ingat, seorang Guus Van Der Kruk, tidak suka itu namanya diingkari. Kamu orang pahamkan itu, Aki?"


"I-iya, Tuan. S-saya sangat mengerti itu, Tuan."


"Bagus!" ujar Tuan Guus sembari menepuk pundak Ki Praja yang terkena jejakannya tadi. "Huh!" desahnya kemudian. "Akhir-akhir ini, saya sering memperhatikan itu sikap Roos …." Tanpa dipinta, Tuan Guus bertutur, "Dia anak cantik saya, sering bertanya hal sama pada itu orang-orang pribumi, tentang anak muda yang mengantar pulang Roos beberapa hari lalu."


Ki Praja melirik sejenak di saat wajahnya tertunduk takzim.

__ADS_1


"Aku khawatir, Roos menaruh hati pada itu orang muda … uummhhh … siapa punya itu nama … aaahh, Hanan. Ya, Hanan. Dia anaknya perempuan yang punya nama Sumiarsih. Kamu orang tahu apa itu artinya, Ki Praja?"


Walaupun belum paham apa yang dimaksud oleh Tuan Guus, Ki Praja mencoba menjawab, "Sumiarsih perempuan yang pernah dan masih Tuan Guus cint—"


"Bodoh!" seru Tuan Guus menukas.


"Ah, maafkan saya, Tuan," ucap Ki Praja sambil kembali menghaturkan sembah.


Laki-laki bule yang masih terlihat gagah dan tampan di usia empat puluhan tahun tersebut, menoleh dan memandangi sosok tua di dekatnya. "Saya harus meminta Roos kembali ke Belanda atau kedatangan Kervyn semakin dipercepat!"


Ki Praja menganggukkan kepala. Dia mulai paham kini, kemana aliran pembicaraan Tuan Guus berhulu arah.


"Kamu orang juga pasti tahu …." Ayah Roosje berbisik dekat sekali, "aku masih mengharapkan Sumiarsih sampai saat ini."


"Oohhh."


Ki Praja tertegun.


"Kalau sampai Roos mendekati itu anak muda punya nama Hanan, usaha saya selama ini akan menjadi kendala dan dikhawatirkan berakhir sia-sia," ungkap Tuan Guus. Tiba-tiba senyum laki-laki itu mengembang lebar. "Sumiarsih … gadis muda pujaan seorang Guus, dulu lebih memilih si bodoh Juanda dan saya merasa kecewa dengan menikahi Eline. Bertahun-tahun itu juga, ini hidup saya menjalani kepura-puraan cinta."


"Tuan …."


Tuan Guus menoleh. "Mau berkata apa kamu orang, Aki?" tanyanya dengan raut seperti tengah menahan rasa luka bertabur asam cuka. "Kamu orang punya kabar baru mengenai keluarga Sumiarsih, huh?"


"Tanyakanlah," ujar Tuan Guus seraya menyipitkan kelopak mata.


"Ini mengenai Nyai Kasambi, Tuan," ucap Ki Praja ragu-ragu untuk berungkap dan langsung direspons tanya oleh laki-laki bule tersebut, "Ada apa dengan itu Nyai Kasambi?"


Ki Praja melirik majikannya sejenak, lalu melihat-lihat suasana sekitar. "Apa tidak sebaiknya, Tuan meminta kembali bantuan Nyai Kasambi, untuk mewujudkan keinginan Tuan Guus terhormat ini? Mungkin dengan cara—"


"Kamu orang pikir saya ini bodoh, huh?" sentak Tuan Guus menukas dan langsung menyurutkan niat sosok tua tersebut melanjutkan ucapan. "Nyai Kasambi sudah memenuhi permintaan saya dan itu pun harus berusaha keras membujuk itu perempuan tua untuk membantu saya!"


"Maafkan saya, Tuan. Saya khilaf berucap."


Tuan Guus mendengkus. Ujarnya pelan, tapi menusuk tajam, "Satu hal yang kamu orang miliki kekurangan, Aki, sering berlaku ceroboh dalam bicara."


"Maafkan saya, Tuan," timpal Ki Praja untuk yang kesekian kali memohon pemaafan. "Saya ini memang—"


"Itu pula salah satu penyebab, saya cepat meminta kamu orang untuk kembali bekerja di sini dari keluarga itu si Juanda," kata Tuan Guus berbisik dekat sekali di wajah sosok tua tersebut. "Walaupun belum tuntas itu rencana punya saya, sepenuhnya terlaksana."


"Saya berjanji, Tuan, untuk lebih berhati-hati lagi dalam bersikap dan berucap. Tapi kalau dalam kesetiaan, Tuan tentu sudah mengenali betul siapa saya, bukan?" ujar Ki Praja terdengar seperti tengah menjilat di muka majikannya.

__ADS_1


Laki-laki berkulit putih kemerahan itu tergelak keras. "Itu pula yang paling saya sukai dari kamu orang, Ki Praja! Ha-ha-ha! Makanya kamu orang masih saya pekerjakan di sini!"


Ki Praja tersenyum tipis seraya melirik wajah ayah dari Roosje tersebut. "Terima kasih, Tuan Guus terhormat. He-he," ucapnya terkekeh pelan.


Lanjut Tuan Guus berkata, "Tugasmu sekarang saya tambahkan, Ki."


"Ah, apakah itu, Tuan?" Raut Ki Praja spontan terperangah.


Sebelumnya, laki-laki bule bertubuh tinggi itu memutari pandangan, lantas mendekat dan berbisik kembali, "Kamu orang, awasi itu anak muda punya nama Hanan. Saya mendengar kabar, itu Hanan akan bertugas di balai pengobatan di wilayah ini."


"Aahhh," desah Ki Praja diikuti gerakan manggut-manggut. 'Ini sebuah kabar bagus sekali untuk Nona Roos. He-he. Akan lebih mudah rasanya, menjadikan drama keluarga kompeni ini makin bertambah menarik.'


"Untuk itu, saya tidak akan memberi kamu orang tugas secara percuma-cuma, Ki. Tentu akan ada tambahan upah besar jika kamu orang benar melakukan ini saya punya perintah, huh!"


Semakin semringah hati Ki Praja mendengarnya. "Aahhh, hatur nuhun, Tuan. Terima kasih. Saya sangat senang sekali menunaikan tugas yang Tuan berikan ini. He-he."


Tuan Guus menepuk-nepuk pundak Ki Praja. Sesaat laki-laki tua itu meringis nyeri merasakan bekas tendangan sepatu lars milik majikannya tadi.


Di saat itulah, Roosje muncul secara tiba-tiba di sana. "Papa! Wat doet Papa hier? Aku mencari-cari Papa di rumah, tapi tidak menemukan. Blijkbaar was papa hier met Ki Praja aan het praten."


(Apa yang Papa lakukan di sini? Rupanya Papa mengobrol dengan Ki Praja.)


"Aahhh, Roosje mijn lieve kind!" seru Tuan Guus lekas mendekati putrinya. "Maafkan Papa, Sayang. Tadi Papa juga mencari-carimu sampai akhirnya malah bertemu dengan itu Aki Praja, huh. Benar seperti itu, Ki?" Dia menoleh dan mengedipkan mata kiri pada Ki Praja.


(Roosje anakku sayang!)


"Benar sekali, Tuan Guus dan Nona Roos."


"Heb je het antwoord van Ki Praja zelf gehoord, Roos?" Tuan Guus tersenyum kambing.


(Kamu dengar sendiri apa yang diucapkan oleh Ki Praja itu 'kan, Roos?)


Kelopak mata Roosje menyipit, memandangi wajah Ki Praja yang sesekali meringis menahan sisa rasa nyeri tadi.


"Wat is er met Ki Praja gebeurd, Papa?" tanya gadis cantik tersebut seraya mendekati sosok tua itu, dan berjalan memutarinya.


(Apa yang terjadi pada Ki Praja, Papa?)


"Aahhh, saya hanya terjatuh tadi, Nona," ujar Ki Praja buru-buru memutar tubuh, mengalihkan pandangan mata Roosje pada area punggung tuanya. "Kuda liar itu, sedikit agak merepotkan saat saya urus dan beri makan tadi."


"Aahhh, hhmmm?" deham Roosje seraya memerhatikan sekujur pakaian putih yang dikenakan oleh Ki Praja.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2