
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 31...
...—---- o0o —----...
"Ki, apinya sudah siap!" ujar Mang Dirman tergopoh-gopoh dari arah ruangan belakang.
Bunga yang tengah termenung, spontan menoleh. "Api? Buat apa api?" gumamnya pada Sumiarsih. Jawab ibunya Hanan tersebut, "Entahlah. Mungkin Uwakmu mau membakar buhul."
"Buhul?"
"Iya, Nèng. Itu semacam jimat kiriman yang berhasil dikeluarkan dari badan suami Ibu oleh Ki Endang tadi," jawab kembali Sumiarsih terdengar lirih.
"Astaghfirullahal'adziim," desah Bunga terkaget-kaget. "Jadi benar adanya, kalau Juragan Laki-laki sakit karena …."
"Sudahlah, Nèng. Jangan sebut-sebut itu lagi. Ibu makin merasa sedih mendengarnya." Perempuan tua itu mendesah panjang. "Entah kesalahan apa yang pernah diperbuat Ayah, sampai-sampai ada orang yang tega berbuat sedzalim itu pada dia."
"Buu …." Bunga merangkul calon ibu mertuanya. Memeluk erat disertai isak tangis memilukan. "Pasrahkan semuanya pada Gusti Allah, Bu. Juragan Laki-laki memang orang baik. Bahkan teramat baik hati. Semua orang pasti mengenal beliau seperti itu. Tapi selalu saja ada yang tidak menyukai kebaikan yang sudah Juragan Laki-laki lakukan. Mereka hanya dengki saja, Bu. Biarlah Gusti Allah yang membalaskannya."
"Terima kasih, Nèng. Doakan selalu ya suami Ibu," ujar Sumiarsih tersedu sedan.
"Insyaa Allah … Insyaa Allah …., Enèng selalu mendoakan beliau, juga buat kebaikan kita semua, Bu."
"Aamiin, Nèng. Aamiin."
Keduanya duduk bersebelahan, masih dalam Isak tangis yang belum berkesudahan, terhanyut dalam suasana kepilu-piluan.
Sementara itu Ki Sendang Waruk bergegas ke luar kamar usai diberitahu oleh Mang Dirman. Dengan tangan mengepal, menggenggam erat bungkusan aneh yang berhasil dikeluarkan dari tubuh Juragan Juanda, dia merapal kalimat-kalimat tertentu disertai sorot mata tajam.
"Tunggu sebentar, Juanda," kata laki-laki berikat kepala kain batik itu sebelum meninggalkan kamar. "Saya akan memusnahkan barang jahanam ini. Tetaplah beristighfar dan ingat hanya pada Gusti Allah."
Juragan Juanda mengangguk. "T-terima k-kasih, Endang," ucapnya lirih terbata-bata, terduduk menyender di dinding kamar dilapisi bantal teronggok di punggung. "Tolong, kembalilah secepatnya. Saya ingin bicara padamu, Endang."
"Hhmmm, baiklah. Sebentar saja," timpal Ki Sendang Waruk, kemudian meninggalkan Juragan Juanda di kamar bersama ketiga pekerja perempuan; Ceu Enok, Ceu Ijah, dan Ceu Odah. Mereka masih sibuk membenahi tempat tidur.
Kemudian laki-laki berwajah sangar dengan rambut panjang hingga sebahu itu, bersama-sama Mang Dirman memasukkan benda asing yang berbentuk mirip pocong tadi ke dalam perapian.
"Bismillaahirrahmaanirrahiim …." ucap Ki Sendang Waruk setelah sebelumnya merapal kembali beberapa kalimat lain. "Semuanya dari Allah dan atas seizin Allah, maka kita kembalikan semuanya dengan menyebut asma Allah."
Terdengar suara keretek-keretek begitu benda tersebut mulai dimasukkan ke dalam kobaran api. Bau tidak sedap segera mengudara di sekitar tempat, seperti aroma rambut terbakar yang bercampur dengan serbuk kemenyan. Tidak berapa lama kemudian, sayup-sayup dari kejauhan, lolongan anjing menggema mencekam suasana alam yang gulita.
Cukup lama proses pembakaran itu berlangsung. Sekilas hanya berupa bungkusan kecil, tapi nyaris memakan waktu yang tidak sebentar hingga benar-benar musnah dilalap api.
"Allahuakbar …." gumam Mang Dirman seraya mengusap tengkuk yang tiba-tiba terasa meremang. "Laa hawlaa walaa quwwata Illaa billahil'aliyyil'adziim." Dia melirik sosok di samping sesaat. Tampak biasa-biasa saja dengan raut wajah dingin. Asyik mengorek-ngorek batang perapian yang menyala-nyala menggunakan serangkai ranting.
Ingin sekali Mang Dirman menyapa tanya, tapi enggan sendiri dengan suasana mencekam dan serba kaku seperti itu. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki tua berikat kepala kain batik itu bersuara.
"Mang …."
"Iya, Ki," sahut Mang Dirman langsung bereaksi.
"Mang Dirman tahu, apa saja yang pernah dikatakan oleh juraganmu selama dia sakit, Mang?" tanya Ki Sendang Waruk selanjutnya.
Jawab Mang Dirman seraya mengingat-ingat, "Tidak begitu banyak, Ki, saya pikir. Tapi entahlah pada Juragan Perempuan." Laki-laki tua itu menelan ludah sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang kering. "Juragan Laki-laki hanya berpesan, jangan sampai kejadian ini dikabarkan pada Den Hanan, anak beliau di Jakarta. Khawatir akan mengganggu pendidikan Den Hanan di sana."
__ADS_1
"Hanya itu?" Ki Sendang Waruk menoleh dengan tatapan tajam.
"Tentu saja tidak, Ki. Masih ada lagi," timpal kembali Mang Dirman. "Sejak kejadian saung di perkebunan sebelah wètan itu terbakar, perlahan-lahan kesehatan Juragan Laki-laki semakin menurun."
"Saung terbakar?" ulang Ki Sendang Waruk mempertanyakan ucapan kusir keluarga sahabatnya tersebut. "Terbakar atau dibakar, Mang?"
Mang Dirman berpikir sesaat, lantas menjawab, "Entahlah, Ki. Saya atau mungkin Juragan Laki-laki juga belum meyakini adanya kemungkinan lain."
"Hhmmm."
"Kami belum bisa memastikan penyebab sakitnya Juragan Laki-laki itu karena kejadian itu. Tapi nyatanya, sejak itulah … beliau jatuh sakit dan sakit-sakitan."
"Terus?"
"Kemudian … tepat di awal malam kemarin, kondisi Juragan semakin parah," tutur Mang Dirman terdengar lirih. "Malah sejak siang tadi itu, muntah-muntah darah sampai menjelang … Ki Endang tiba di sini."
"Astaghfirullahal'adziim," desah Ki Sendang Waruk seraya menunduk dalam-dalam. "Berat sekali dodoja yang diterima oleh Juanda itu … ya, Allah."
"Makanya saya tadi bermaksud memanggil Pak Mantri yang biasa mengobati Juragan dan juga warga di sini, tapi … Alhamdulillah-nya … malah bertemu dengan Aki di tengah perjalanan."
"Iya, saya paham itu," kata Ki Sendang Waruk prihatin. "Saya sendiri sangat menyesali, mengapa tidak sejak awal kabar ini sampai ke saya?" Dia memandang ke arah kegelapan di depan. "Seseorang telah mengabari saya dan saya langsung berangkat detik itu juga. Tapi … Belanda-Belanda sialan itu kini semakin mempersempit ruang gerak para pejuang untuk turun ke pinggiran kota besar."
Mang Dirman melirik dan bertanya, "Lantas bagaimana dengan keberadaan Tuan Guus di wilayah ini, Ki?"
"Tuan Guus? Siapa itu Tuan Guus?" tanya Ki Sendang Waruk keheranan.
"Dia orang yang menggantikan Tuan Hansen, Ki," jawab Mang Dirman dengan suara perlahan. "Belum begitu lama dia ditugaskan di wilayah ini."
"Saya pikir Tuan Hansen yang masih mengatur pemerintahan di sini? Sejak kapan itu terjadi?"
"Belum lebih dari dua bulanan ini kalau saya tidak keliru, Ki."
"Banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi, sejak Tuan Guus berkuasa di sini, Ki."
"Tuan Guus?" Kening laki-laki berikat kepala kain batik itu berkerut hebat. "Sebentar … rasanya saya pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Juanda dulu." Dia berpikir sesaat. "Guus … Guus …."
"Tuan Guus Van Der Kruk."
"Nah, itu!" ujar Ki Sendang Waruk seraya menjentikkan jari. "Guus Van Der Kruk! Tapi … apakah dia orang yang sama sebagaimana yang dimaksud oleh Juanda dulu, ya?"
"Memangnya ada hubungan apa antara Juragan Laki-laki dengan Tuan Guus itu, Ki?" Timbul rasa penasaran Mang Dirman.
Ki Sendang Waruk menoleh. "Ah, tidak terlalu penting, Mang. Lagipula, waktu itu hanya curahan kecil Juanda semasa masih muda dulu. Jauh sebelum akhirnya berjodoh dan menikah dengan Sumiarsih."
"Ooohhh." Mang Dirman manggut-manggut.
"Itupun kalau memang Tuan Guus yang Mamang maksud itu … adalah orang yang pernah diceritakan oleh Juanda dulu. Tapi bisa saja bukan, bisa juga iya."
Mang Dirman kembali mengangguk-angguk. Kemudian mengulang lagi perkataan dia sebelumnya. "Terus … bagaimana tentang keberadaan Tuan Guus di wilayah ini, Ki?"
Jawab Ki Sendang Waruk, "Dia … Tuan Guus atau Tuan Hansen, hanya seorang pejabat biasa yang ditugaskan oleh pemerintah pusat untuk mengatur roda pemerintahan di wilayah ini. Tidak secara langsung berhadapan dengan para pejuang dan memerangi rakyat. Jadi keberadaannya tidak begitu membahayakan pergerakan para pejuang, tapi patut selalu diwaspadai. Karena dia adalah kepanjangan tangan dari pemerintah kolonial. Jika memang kehadirannya justru membantu sebagaimana Tuan Hansen, kita tidak perlu mengusik kewenangan tugasnya."
Kembali Mang Dirman manggut-manggut, walaupun hatinya masih belum bisa menerima penjelasan dari Ki Sendang Waruk. Bagi kusir keluarga Juragan Juanda tersebut, apapun yang terkait dengan nama Belanda, mereka adalah musuh nyata yang harus diusir dari negeri pertiwi ini.
"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan, Ki."
"Mengenai apalagi, Mang?" tanya Ki Sendang Waruk sembari mengorek-ngorek bara yang menghanguskan benda berupa bungkusan mirip pocong tadi.
__ADS_1
"Apakah dugaan kita sama, Ki? Terkait orang mendzalimi Juragan Laki-laki itu?"
Uwaknya Bunga itu melirik sejenak. "Memangnya siapa yang kamu curigai itu, Mang?" tanyanya balik dengan kelopak mata menyipit.
"Yaaa … saya sendiri masih belum begitu yakin, Ki, karena masih dalam perkiraan belaka," kata Mang Dirman seraya melihat-lihat suasana sekitar yang kian sunyi. "Bukti-bukti yang ada pun, sama sekali tidak kami miliki. Tapi … dugaan kami kerap mengarah pada seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
Mang Dirman mendekat dan berbisik, "Apakah Aki juga mencurigai … Nyai Kasambi?"
"Nyai Kasambi?" Ki Sendang Waruk berpikir-pikir agak lama. "Saya tidak ingin sembarang menuduh seseorang, tanpa sebuah bukti yang jelas, Mang. Karena bisa jatuh ke dalam hukum fitnah."
"Lantas, kalau bukan dia … siapa yang Aki curigai telah berbuat keji pada Juragan kami itu, Ki?"
Benak Ki Sendang Waruk beraduk-aduk kini. 'Nyai Kasambi … ah, tidak mungkin juga perempuan itu tega berbuat jahat terhadap Juanda. Walaupun sekarang dia dikenal memiliki keahlian dalam pengobatan, apa iya … Nyai Kasambi juga mampu mengguna-gunai Juanda? Seingatku, dulu dia begitu menyayangi Juanda. Aku kenal sekali siapa dia. Perempuan cantik dan rendah hati, senantiasa mengulurkan tangan dengan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.'
'Tapi … pikiranku justru tertuju pada sosok si ….'
"Uwaakkk …."
Tiba-tiba Bunga muncul dari ambang pintu dapur. Dia berseru panik memanggil Ki Sendang Waruk.
"Ada apa, Nèng? Ada apa?"
Gadis itu menunjuk-nunjuk ke dalam dengan bias rasa khawatir yang begitu besar.
"Juragan, Wak! Juragan …." ujar Bunga tergagap-gagap. "Juragan Laki-laki di kamar …."
Tanpa menunggu hingga keponakannya selesai bicara, Ki Sendang Waruk bersama Mang Dirman cepat-cepat menghambur masuk ke dalam rumah. Mereka menduga ada sesuatu yang telah terjadi dengan sosok Juragan Juanda.
"Ki Endang … tolooonnggg!" teriak Sumiarsih dari dalam kamar.
"Astaghfirullahal'adziim!"
...BERSAMBUNG...
Keterangan Kata :
Wètan : Timur.
Saung : Gubuk peristirahatan (biasanya tanpa disertai dinding pelindung dan dibiarkan terbuka).
Dodoja : ujian/cobaan hidup.
__ADS_1