
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 13...
...------- o0o -------...
Sosok perempuan tua berkeriput, bertubuh bongkok ―melengkung― ke depan, dan bertopangkan tongkat kayu sebesar pergelangan tangan, menatap tajam ke atas sado. “Siapa kalian? Berani-beraninya di waktu seperti ini melewati jalan ini!” tanyanya dengan suara parau tertahan di kerongkongan. Gelambir kulit pipinya yang dipenuhi titik-titik bopeng, turut bergerak-gerak layaknya jengger ayam di kala berbicara.
Mang Dirman berusaha tenang. Satu hal yang dia khawatirkan, tentu saja keselamatan Bunga dan Hanan. Jawab laki-laki tua tersebut, “Maafkan kami, Nyai. Saya hanya kebetulan lewat di jalan ini, mengantarkan tamu-tamunya Tuan Guus, dan buru-buru hendak menuju pulang.”
Nyai Kasambi menggeram. Bola matanya yang hanya berupa titik hitam kecil bergerak-gerak, meneliti dua sosok di belakang Mang Dirman. Terlihat begitu asing, menurutnya. “Hhmmm, anak muda yang cantik dan tampan,” gumamnya seraya manggut-manggut sehingga gelambir kulit pipinya kembali berayun-ayun. “Sepertinya aku membaui aroma lampau yang sudah begitu lama tak lagi kuhirup.”
Mang Dirman ingin menoleh, tapi tetap berusaha bertahan. Ditandai dengan gerak bola matanya mengawasi gerik sosok Nyai Kasambi yang mulai mendekat. Dia selusupkan tangan ke belakang dan menggerakkan jemari turun-naik, memberi isyarat agar Bunga maupun Hanan tetap diam di tempat.
“Hhmmm, tapi wajahmu seperti tak asing bagiku, anak mudi cantik,” ujar Nyai Kasambi berimbuh. Kemudian berganti menatap Hanan sekian lama dengan kelopak menyipit. “Hhmmm … kau anak muda tampan, siapa namamu?”
Baru saja Hanan hendak menjawab, jemari tangan Mang Dirman kembali bergerak turun-naik dengan cepat. Lantas buru-buru membantu menyebutkan nama anak majikannya tersebut. “Dia tamu khususnya Tuan Guus Van Der Kruk, Nyai. Baru saja datang dari Jakarta. Tentunya Nyai pernah mendengar Tuan Guus bercerita tentang anak muda ini, bukan?”
Nyai Kasambi mendelik. “Aku tidak bertanya padamu, Dirman! Buat apa kau bicara, jika tidak aku pinta?” sentak sosok perempuan bongkok tersebut seraya mencekal batang tongkat di tangannya, hingga mengeluarkan asap putih mengepul dari sela-sela jemarinya.
“Maafkan saya, Nyai. Tamu Tuan Guus ini, sama sekali belum paham dengan bahasa yang sehari-hari kita ucapkan,” kata Mang Dirman kembali sambil menggerakkan jemari turun-naik seperti tadi. Kemudian tanpa disangka-sangka, laki-laki tua itu berbicara menggunakan bahasa Belanda. "Dames en heren, onze reis is tot stilstand gekomen en ik zal eerst met deze mooie ouderling spreken." Lalu berucap kembali pada Nyai Kasambi, “Mohon sekiranya Nyai bisa mengizinkan kami untuk lekas pulang dan tiba di rumah Tuan Guus sebelum waktu petang menjemput.”
(Tuan dan Nyonya, perjalan kita terhenti sebentar dan aku akan bicara terlebih dahulu dengan tetua yang cantik ini.)
“Hhmmm ….” Nyai Kasambi mendeham. Matanya sesekali melirik ke arah Hanan, lalu berganti menatap Mang Dirman, seperti merasa belum memercayai akan ucapan laki-laki tua tersebut sepenuhnya. “Kali ini, akan kubiarkan kau pergi, Dirman. Tapi kalau sampai mengelabuiku, kau tentu tahu apa yang akan kau terima kelak, heh?”
“Terima kasih, Nyai. Saya paham apa yang Nyai maksud,” ucap Mang Dirman merasa sedikit lega kini. Dia berpikir, Nyai Kasambi akan segera melepaskan mereka untuk pergi saat itu juga.
“Hi-hi-hi,” cekikik sosok tua berbadan bongkok tersebut, menyeramkan. “Aku menyukai tamunya Tuan Guus itu. Hi-hi-hi.”
‘Astaghfirullah,’membatin Mang Dirman cemas. ‘Ini salah satu pertanda yang tidak baik untuk Den Hanan nanti.’
“Parasnya mengingatkan aku pada seseorang. Hi-hi-hi!” imbuh Nyai Kasambi disertai cekikiknya yang panjang, hingga perlahan meninggalkan mereka bertiga.
“Mang, mengapa kita belum bergerak juga?” tanya Bunga berbisik. “Nyai Kasambi sudah pergi.”
__ADS_1
“Sssttt ….” Mang Dirman meminta Bunga untuk diam. “Jangan mengeluarkan sepatah katapun sampai semuanya benar-benar aman. Biar urusan saya saja yang berbicara jika sampai dia muncul kembali.”
“Ya, Allah … keadaannya sungguh genting seperti inikah? Sampai-sampai Mang Dirman melarang aku dan Bunga mengeluarkan sepatah kata pun,’ ucap Hanan di dalam hati. ‘Astaghfirullah, apa sebenarnya yang sedang terjadi di wilayah perkampungan ini?’
Beberapa saat mereka bertiga terdiam, hingga akhirnya Mang Dirman pun mengentak tali kekang kuda dan sado pun mulai kembali melaju.
“Tetaplah terdiam dan saling membisu seperti ini, sampai kita tiba nanti di rumah,” ucap Mang Dirman mewanti-wanti. “Semoga saja kita bisa sampai lebih cepat sebelum gelap senja turun.”
Untungnya, baik Hanan maupun Bunga sama-sama mematuhi apa yang dimintakan oleh Mang Dirman. Dengan benak masing-masing dipenuhi tanya, sepasang kekasih tersebut tidak lagi mengumbar canda sebagaimana sebelumnya. Malah tampak kini seperti kedua insan asing yang baru bersua.
“Alhamdulillah … akhirnya mereka pulang juga,” sambut Sumiarsih begitu sado baru saja menjejak pekarangan rumah. Dia lekas memburu dan memanggil-manggil. “Hanan! Bunga! Cepatlah masuk ke dalam rumah!”
Hanan terlebih dahulu membantu Bunga menuruni badan sado, lantas menghampiri ibunya yang tampak memendam rasa cemas. “Assalaamu’alaikum, Bu,” sapanya seraya menyalami dan menciumi tangan sosok yang sangat dia kasihi tersebut. Diikuti oleh Bunga.
“Ibu sangat mengkhawatirkan kalian berdua,” ujar Sumiarsih. “Ayo, lekas masuk. Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.”
“Ibu dan Néng Bunga masuklah terlebih dahulu. Hanan ingin berbicara sebentar dengan Mang Dirman, Bu.”
“Ya, sudah, tapi jangan berlama-lama di luar menjelang petang, Nak. Ini sudah sareupna,” ujar Sumiarsih mewanti-wanti putra semata wayangnya tersebut.
Bunga dan Sumiarsih cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Sementara Hanan sendiri menghampiri Mang Dirman yang tengah melepaskan tali temali dari badan kuda.
“Saya tahu apa yang ingin Aden bicarakan,” ucap Mang Dirman sebelum anak majikannya itu mengajukan pertanyaan. “Ini akan menjadi cerita panjang dan tidak akan habis diungkap hanya dalam sehari semalam.”
Hanan membantu pekerjaan Mang Dirman agar cepat-cepat bisa mengandangkan hewan tersebut ke tempat biasanya.
“Mamang sepertinya tahu banyak tentang situasi yang sedang terjadi di sini.” Hanan mulai menduga-duga. “Tapi, sejauh ini Mamang belum juga bercerita apapun.”
Mang Dirman melirik anak muda tersebut di balik punggung kuda. “Nanti akan saya ceritakan satu per satu, Den. Termasuk, mengapa tadi saya melarang Aden dan Néng Bunga berbicara tentang sesuatu yang tidak boleh diungkapkan secara sembarangan. Apalagi di luar sana,” ujarnya dan langsung menuntun kuda memasuki kandang begitu seluruh tali pengikat dilepas dari badan sado. “Nah, kamu istirahatlah dulu di sini, Jalu. Seharian ini, kamu telah mendapatkan kehormatan menjemput dan mengantarkan Den Hanan. Kamu pasti mengenalnya, ‘kan?”
“Jalu?” Kening Hanan mengernyit.
Jawab Mang Dirman diiringi senyumannya, “Iya, Den. Karena dia adalah kuda jantan.”
“Mamang sendiri yang memberinya nama?”
Sosok tua itu terkekeh-kekeh. “Saya hanya ingin memanggilnya dengan nama yang tidak begitu sulit untuk saya ingat, Den. Maklumlah orangtua. He-he-he.”
__ADS_1
“Ooohhh.”
“Tapi, Mamang kira kuda ini senang sekali dengan nama itu. Jalu, yang artinya jantan. Sosok yang kuat, tangguh, dan sekaligus memiliki tanggungjawab yang baik.”
“Hhmmm.”
“Buktinya, kuda ini sepertinya paham dengan apa yang saya perintahkan, Den.”
“Coba buktikan,” tantang Hanan penasaran, sekaligus bermaksud mencandai sosok tua tersebut.
Mang Dirman mesem-mesem, ujarnya, “Jalu, geura saré siah!”
Ditunggu sekian waktu dan diperintahkan berulang-ulang, kuda itu tetap berdiri di tempatnya. Kemudian Mang Dirman pun beralasan, “Mungkin karena belum waktunya tidur, Den. Belum merasa mengantuk.”
“Halah, Mamang.”
“He-he-he!”
...BERSAMBUNG...
Keterangan kata :
Sareupna : Waktu menjelang Maghrib dan berkenaan dengan mitos sandekala.
Muhun : Iya (bahasa halus).
__ADS_1