Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 27


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 27...


...—---- o0o —----...


Brak!


Tuan Guus menggebrak meja dengan keras. Mengejutkan dua orang yang ada di depannya, Ki Praja dan Gert, duduk terdiam dengan kepala menunduk. Giginya sampai gemeretak menahan amarah disertai kilatan mata memerah.


"Verdomme! Ini sangat memalukan!" umpat laki-laki bertubuh tinggi besar itu seraya memelototi sosok Ki Praja. "Bagaimana kamu orang bisa berbuat hal bodoh semacam itu, Praja? Tidak bisakah kamu orang berpikir? Berpikir … kamu orang tahu itu berpikir, heh?" Telunjuknya mendorong batok kepala orang tua dengan kasar. "Apa yang kamu orang perbuat tadi, membuat saya merasa sungguh malu en tidak tahu harus berkata apa pada itu Roos anak saya!"


(Sialan!)


"M-maafkan saya kebodohan saya itu, Tuan," ujar Ki Praja seraya menghaturkan sembah. "S-saya benar-benar khilaf."


"Khilaf? Wat is dat khilaf?" tanya Tuan Guus dengan nada keras.


"Maksud saya … lupa, Tuan," jawab Ki Praja sambil kembali menghaturkan sembah. "Itu sama sekali tidak saya rencanakan sebelumnya. Tapi saat melihat orang itu (Dirman), tiba-tiba saya jadi ingin …."


Brak!


"Verdorie!" bentak Tuan Guus —lagi-lagi— mengejutkan sambil menggebrak meja untuk kali kedua. "Saya tidak ingin mendengar kamu orang punya alasan, heh! Onzin!"


(Bedebah!)


(Omong kosong!)


"Maafkan saya, Tuan Guus terhormat."


Gert melirik-lirik Ki Praja. Sebagai orang baru, dia belum begitu memahami apa sebenarnya yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Terlebih karena merasa tidak memiliki masalah, dia hanya terdiam mendengarkan kemarahan Tuan Guus.


"Gert!"


"Siap, Tuan!" sahut laki-laki muda tersebut langsung berdiri dan memberi hormat.


Tuan Guus menyorongkan badan, mendekat pada Gert, lantas berkata pelan-pelan, "Kamu orang pastikan, Roos tidak sedang berada di sekitar ruangan ini. Saya tidak ingin itu anak saya, ikut mendengarkan saya akan berbicara dengan ini orang Aki Praja. Kamu mengerti, Gert?"


"Siap, Tuan!" sahut Gert.


"Lakukan sekarang!" ucap kembali Tuan Guus perlahan. "En panggil Dasimah untuk menemui saya, heh!"


"Siap! Laksanakan, Tuan!"


Dengan langkah sigap, Gert langsung keluar dari ruangan kerja Tuan Guus dan menutup kembali pintu rapat-rapat.


Setelah diperkirakan aman, Tuan Guus mendekati sosok Ki Praja. Laki-laki berkulit putih kemerahan itu tersenyum-senyum seraya memperhatikan wajah orang tua tersebut. "Hhmmm, payah sekali kamu orang, Ki," katanya seperti mengejek. "Kamu orang masih belum mampu melawan itu orang tua, heh? Ha-ha."


Ki Praja melenguh. "Aahhh, maafkan saya, Tuan," katanya sambil meringis kesakitan. "Saya sudah berusaha melukai Bedebah tua itu. T-tapi … rupanya kemampuan dia masih sama seperti dulu."


"Ha-ha-ha!" Tawa Tuan Guus semakin kencang. "Lalu … bagaimana mungkin kamu orang bisa membalaskan dendam, kalau kemampuan kamu orang pun masih kalah jauh dari dia orang, heh?"


Ki Praja merengut.


"Suatu saat, pasti saya akan mampu melakukannya, Tuan."


"Ha-ha-ha, tapi … wel, saya senang sekali. Kamu orang sudah membuat saya punya alasan khusus untuk sebuah rencana."


Ki Praja mendeham. "Hhmmm, masih seperti dulu, Tuan?" tanyanya seraya mengusap-usap pipinya yang sakit.


"Apalagi?" timpal Tuan Guus disertai kekehannya. "Saya pikir, ada cara lain untuk bisa kembali mendekati itu orang perempuan, setelah saya merasa semua yang kita lakukan itu masih belum berjalan baik."


"Apa Tuan yakin, kali ini akan berhasil?" tanya Ki Praja merasa ragu. "Nyatanya, dia masih bersikukuh untuk bertahan seperti yang sebelum-sebelum Tuan lakukan dulu." Sosok tua itu mendongak sedikit, melirik Tuan Guus. "Apalagi sekarang, anak muda itu sudah kembali bersamanya, Tuan."

__ADS_1


"Onzin! Saya tidak peduli itu!" ungkap Tuan Guus. "Justru karena itu anak muda pula, saya mempunyai rencana lain."


Ki Praja mengerutkan dahinya.


"Apa itu, Tuan?"


Jawab Tuan Guus, "Karena dia orang—"


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Tuan!"


Seseorang bersuara di balik pintu.


"Aahhh … tunggu sebentar, Dasimah!" seru Tuan Guus begitu mengenali pemilik suara di luar. Kemudian langsung merogoh saku bajunya. "Ini untuk kamu orang berobat, Ki. Saya tidak suka melihat itu darah kering di muka kamu orang. Terserah, setelah itu bersenang-senanglah di luar."


Raut wajah Ki Praja spontan ceria. Tuan Guus memberinya sekantung uang yang cukup banyak. Terlihat dari besarnya tergenggam penuh di tangan laki-laki berkulit bule kemerahan tersebut.


"Aahhh, perkara berobat, itu hal yang sepele, Tuan," ujar Ki Praja seraya tersenyum-senyum senang. "Nyai Kasambi mampu mengobati saya dengan mudah. He-he."


"O, iya … sampaikan juga pesanku pada itu perempuan Nyai Kasambi," kata Tuan Guus tiba-tiba. "Sudah lama saya tidak lagi berkunjung dengan itu orang perempuan setelah kematian …." Laki-laki itu melirik sejenak ke arah pintu ruangan. Lantas lanjut berbisik, " … Si Juanda."


"He-he-he." Ki Praja terkekeh.


Imbuh Tuan Guus kembali masih dengan suara pelan, "Nanti, saya punya ini rencana, mau minta lagi bantuan itu orang Nyai Kasambi. Tapi tidak dalam waktu-waktu dekat ini."


"Nanti saya sampaikan, Juragan. Dengan senang hati," timpal Ki Praja dengan nada suara yang sama.


"He-he-he. Kamu orang pasti mengerti ini maksud saya, bukan?'


"Tentu saja, Tuan," jawab sosok tua tersebut ikut terkekeh. "Tuan Guus yang terhormat ini, tidak perlu khawatir. Kalau untuk urusan seperti yang Tuan inginkan itu, Nyai Kasambi memang ahlinya."


"He-he-he." Tuan Guus manggut-manggut. "Mooi zo! goed! Saya suka kerja kamu orang, Ki!" pujinya merasa senang. "En sekarang … kamu orang pergilah. Pastikan Roos tidak menghadap saya untuk saat ini. Katakan, saya sedang sibuk dengan pekerjaan. Kamu orang mengertikah saya, Ki?"


Walaupun masih merasakan sakit bekas terkena pukulan Mang Dirman tadi, Sosok tua Ki Praja terkekeh-kekeh sambil mengangguk-angguk. "Saya paham sekali, Tuan. Tenang saja, apapun yang Tuan akan lakukan, saya pastikan Nona Roos tidak akan tahu."


"Ahaa … goed! Saya suka itu!"


Usai menghaturkan sembah, Ki Praja lekas bergegas keluar ruangan. Di balik pintu dia melihat sosok Dasimah tengah berdiri menunggui dengan raut wajah risau.


Tanpa berkata apapun, laki-laki tua itu hanya melirik sejenak seraya melempar senyum tipis. Seakan-akan dia sudah memahami, apa yang akan terjadi pada perempuan itu di dalam ruangan kerja majikannya sebentar lagi.


"Permisi, Tuan," ucap Dasimah sebelum melewati ambang pintu yang terbuka.


Tuan Guus menoleh.


"Aahhh, masuklah, Dasimah," pinta laki-laki tersebut di belakang meja kerjanya. "Tutuplah kembali pintunya dan kunci rapat."


"Baik, Tuan," jawab Dasimah patuh. Lantas masuk secara perlahan-lahan dan merapatkan kembali daun pintu ruangan kerja Tuan Guus. Setelah itu, dengan wajah tertunduk, perempuan muda itu mendekat. Tepat berhadap-hadapan di bekas kursi yang digunakan oleh Ki Praja dan Gert sebelumnya. "Maaf, Tuan … " ucapnya begitu menunggu majikannya belum juga kunjung berkata-kata. "Tuan memanggil saya?"


Tuan Guus yang tengah menghitung pecahan logam di dalam laci meja, mengangkat kepala. Menatap sesaat Dasimah dan tersenyum penuh arti.


"Aahhh, tunggu sebentar, Dasimah. Saya sedang mempersiapkan sesuatu untuk kamu orang," kata laki-laki tersebut seraya kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, menyodorkan sebuah kantong berisikan pecahan uang tadi ke hadapan Dasimah. "Ini hadiah untuk kamu orang, Dasimah."


"H-hadiah apa itu, Tuan?" tanya perempuan itu terperanjat.


Laki-laki itu terkekeh-kekeh.


"Tentu saja hadiah untuk kamu orang, Dasimah," ucap Tuan Guus kembali menegaskan. "Karena kamu orang sudah berhasil membawa itu anak muda menemui saya di perkebunan melalui Roos."


Dasimah mengernyit, lantas berungkap jujur, "S-saya tidak merasa mengajak Nona Roos bertemu dengan Den Hanan, Tuan. Sewaktu berkeliling-keliling tadi, secara kebetulan kami hanya—"


"Tapi setidaknya, kamu orang telah memberikan saya kabar tentang rencana kunjungan itu anak muda menemui Ki Panca, heh? Ha-ha," tukas Tuan Guus menjelaskan. "Ayolah, Dasimah. Saya sedang bersenang hati hari ini." Laki-laki itu mulai bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Dasimah dan berdiri merapat persis di belakang perempuan tersebut.


"Tuan …." desah Dasimah begitu pinggangnya mulai disentuh Tuan Guus.

__ADS_1


"Rencana saya untuk mempertemukan si Praja dengan itu si Dirman, akhirnya terlaksana sudah," bisik ayahnya Roosje dekat sekali di telinga Dasimah. "Mereka bertarung, walaupun si Praja masih cukup kepayahan menghadapi itu orang tua."


"Jadi … kejadian di perkebunan tadi memang sudah direncanakan oleh Tuan?" tanya Dasimah kaget.


Tuan Guus terkekeh. Lantas menjawab perlahan-lahan seraya menciumi tengkuk perempuan itu, "Tentu saja, Dasimah." Kemudian menarik rapat tubuh Dasimah ke belakang. "Saya sudah memberi perintah pada si Praja, jika sampai kusir keluarga Sumiarsih itu datang, buatlah sebuah keributan kecil di sana …."


"U-untuk a-apa, T-tuan?" tanya Dasimah seraya menggelinjang kegelian akibat perlakuan majikannya tersebut.


"He-he-he, saya mempunyai rencana besar pada keluarga itu, Dasimah," bisik Tuan Guus. Kali ini sembari memutar pinggang perempuan itu agar berdiri berhadapan. Tidak setara. Hanya sebatas dada, Dasimah bisa mengimbangi tinggi badan Tuan Guus.


"Rencana apalagi, Tuan?" tanya Dasimah seraya mendongak. "Belum cukupkah penolakan Juragan Sumiarsih sejak lalu itu Tuan terima? Setidaknya, ada seorang perempuan lain yang selalu berharap bisa menjadi pendamping hidup Tuan Guus."


"Siapa? Kamu orang, Dasimah?"


"Siapa lagi, Tuan?"


Tuan Guus tersenyum tipis. "Kamu orang terlalu baik untuk saya, Dasimah," bisiknya seraya menaikkan tangan, mulai membuka kancing-kancing tindik kebaya di bagian dada perempuan tersebut. "Suatu saat, kamu orang pasti akan menemukan orang lain yang lebih baik dari saya."


"J-jangan, T-tuan …." elak Dasimah mencoba menepis jemari tangan lelaki itu.


"Tolong berikan apa yang saya inginkan ini, Dasimah. Saya membutuhkan kamu orang."


Dasimah tetap berusaha menolak.


"T-tidak, T-tuan. A-ada Nona Roos di luar bersama Gert," ungkap perempuan itu was-was. "S-saya takut Nona Roos tahu tentang apa yang kita lakukan, selama ini."


Lelaki itu tersenyum tipis.


"Tenang saja, Dasimah," ujar Tuan Guus tetap memaksa melucuti kain kebaya Dasimah. "Roos tidak akan datang ke ruangan ini jika tidak saya pinta."


"T-tapi … ah, j-jangan, T-tuan," pinta Dasimah memohon. Dia segera menutupi bagian dada yang kini sudah terbuka. Hanya tertinggal balutan kemban serta lilitan kain batik poleng memanjang menutupi pinggang hingga pertengahan betis.


Tuan Guus terkekeh-kekeh. Dia melepaskan cekalannya pada bahu Dasimah. Lantas melangkah mendekati meja, membuka laci untuk mengambil sebuah benda mirip pecut dengan rumbai tali-tali pendek, seukuran setengah panjang tangan.


(Pecut : sejenis cambuk)


"J-jangan, T-tuan!" seru Dasimah seraya mundur ketakutan.


"Ssttt …." Tuan Guus menempelkan jari telunjuk di bibir. "Diamlah. Jangan berteriak apapun. Nanti orang-orang di luar itu mendengar suara kamu orang."


"T-tapi … j-jangan sakiti saya, Tuan," pinta Dasimah lirih. "Lakukan saja kalau memang Tuan menginginkan saya. T-tapi … j-jangan disertai yang satu itu."


"Ssttt … nanti kamu orang akan saya beri hadiah yang jauh lebih besar, Dasimah."


"T-tidak, Tuan. J-jangan—"


Srep!


"Aahhh …." Dasimah mendesah lirih. Mulai merasakan perih yang menghujam bagian pahanya. "J-jangan, T-tuan!" Dia tidak berani berteriak kencang, karena dikhawatirkan suaranya akan menembus hingga ke luar ruangan. Disamping itu, deraan pecut itu akan bertambah kian menyakitkan jika sampai berani menjerit.


Srep!


"Aahhh … s-sakit, Tuan."


"Diamlah, Dasimah!" seru Tuan Guus tertahan. Wajahnya kian terlihat beringas disertai dengkusan napas memburu liar. "Semakin kamu orang memohon untuk dikasihani, makin tinggi saya ingin memuaskan saya seorang! He-he!"


Berkali-kali dia layangkan pecut tadi ke tubuh Dasimah, diselingi renggutan kasar jemarinya melucuti kain penutup hingga benar-benar terlepas semua.


Srep! Srep! Srep!


Di saat Dasimah sudah tampak tidak berdaya, barulah Tuan Guus menghampiri. Mendekap, membopong, dan lantas membaringkan tubuh perempuan itu di atas meja kerjanya.


Sambil terkekeh-kekeh, lelaki tinggi besar itu mulai membuka ikat pinggang dan seterusnya ... serta selanjutnya ....


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2