Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 73


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 73...


...—---- o0o —----...


Hanan makin dibuat bingung dan sampai menggaruk-garuk kepala sendiri, padahal tidak merasa gatal sama sekali. Kemudian kembali membalas, "I-iya, Nona. Ada keperluan apa? Kalau di luar urusan tugas dan medis, mohon maaf, aku tidak bisa. Karena saat ini kami sekeluarga sedang—"


"Dasimah membutuhkan bantuanmu, Hanan. Kamu masih bersedia untuk menolak?" tukas Roosje buru-buru memotong ucapan laki-laki tersebut. Karena dia tidak ingin mendengar alasan, jika ketidakbersediaannya itu menyangkut urusan dengan sosok Bunga.


"Dasimah? Ya, Allah! Ada apalagi dengan Nèng Imah, Nona?" Kali ini semua yang ada di sana turut terkejut dan bertanya sendiri-sendiri. "Apakah dia jatuh sakit kembali?"


Roosje mengangguk, lalu menjawab lirih dibuat-buat agar Hanan jatuh kasihan serta bersedia untuk datang secepatnya, "Benar, Hanan. Dasimah tidak sadarkan diri sekarang."


"Apa? Astaghfirullaahal'adziim!" seru Hanan kembali terkaget-kaget. Diikuti oleh semuanya sambil mengelus dada. "Astaghfirullah …."


Kemudian lelaki itu pun buru-buru meminta izin kepada ibunya untuk pergi.


Jawab Sumiarsih bijaksana, "Pergilah, Nak. Ini sudah tugasmu. Tapi … temani oleh Mang Dirman dan usahakan, jangan pulang larut malam."


Mang Dirman langsung merespons, "Baik, Juragan. Saya akan—"


"Tidak perlu, Mama Hanan," tukas Roosje kembali mematahkan ucapan orang. "Saya sudah menjemput Hanan ke sini dan akan kembali mengantarkan Hanan pulang nanti. Itu sudah merupakan kewajiban dan tanggungjawab saya. Bagaimana, Mama Hanan?"


"Aahhh …." Juragan Sumiarsih tampak bimbang untuk memutuskan. "Tapi … ini sudah menjadi—"


"Saya bisa menjamin keselamatan Hanan. Itu akan saya pastikan, Mama Hanan," tukas Roosje untuk yang ketiga kalinya. "Dokter Hanan akan kembali pulang sesuai waktunya. Bukankah begitu, Hanan?" tanyanya pada lelaki muda tersebut.

__ADS_1


Juragan Sumiarsih melirik pada anaknya.


Hanan semakin bingung. Namun dia mencoba untuk menengahi dan mengurai kekerasan hati seorang Roosje. Ucapnya, "Begini saja, Nona. Silakan Nona kembali ke rumah, sebentar lagi aku akan menyusul. Karena aku harus—"


"Kamu pikir ini bukan masalah serius, Hanan? Itu perkara jiwa dan nyawa manusia. Apakah kamu orang tidak pernah belajar tentang aturan, hukum, dan etika seorang dokter?" Suara Roosje sedikit meninggi.


Hanan mengangguk. "I-iya, aku paham itu, Nona. Tapi … ada baiknya juga, aku pergi bersama Mang Dirman. Beliau orang kepercayaan keluarga kami," timpal lelaki tersebut setengah hati.


"Membawa kendaraan sendiri-sendiri?" tanya Roosje keras. "Kamu pikir kita akan mengikuti sayembara pacuan kuda, heh? Lalu untuk apa aku bersusah payah datang ke sini, kalau kamu pun berangkat secara terpisah?"


Keadaan semakin dirasa memanas, hanya karena perihal sepele. Akhirnya Hanan mengalah dan meminta izin sebentar untuk mempersiapkan peralatan medisnya.


"Mang, tolong bantu saya ke kamar sebentar," ajak Hanan seraya melambaikan tangan kepada Mang Dirman.


Lelaki tua itu pun langsung menurut, mengikuti langkah Hanan memasuki rumah. Sementara Roosje memilih untuk menunggu di luar bersama Bunga, Juragan Sumiarsih, serta ketiga Euceu-euceu tersebut.


"Den, sumpah! Saya kesal sekali dengan sikap Nona Roos itu!" gerutu Mang Dirman saat berada di dalam kamar anak majikannya. "Angkuh dan keras hati sekali perempuan itu!"


"Tapi saya kesal sekali, Den!" ujar Mang Dirman kembali dengan bibir sampai meruncing ke depan.


"Sssttt … setiap orang memiliki karakternya masing-masing, Mang," ucap Hanan menasihati. "Jika kita menilai seseorang itu buruk, buatlah pelajaran untuk diri kita sendiri. Minimal, jangan sampai turut bersikap seperti itu."


"Ah, Aden mah terlalu baik sih jadi orang. Makanya sering dikira kalah terus."


"Ada kalanya kita pun harus keras, jika sudah terkait masalah harga diri serta prinsip pribadi," ucap Hanan mencoba menenangkan kusir kuda tersebut. "Tapi untuk kebaikan bersama, tidak ada salahnya kita berada di pihak yang mengalah. Daripada sama-sama bersikeras dan sulit untuk mencapai kata sepakat. Yang rugi, pasti semuanya tanpa terkecuali. Sedangkan orang lain yang akan menjadi korbannya."


Mang Dirman mendengkus kesal. "Ah, saya tidak paham apa yang Aden maksud baru saja," katanya masih terdengar menggerutu tiada henti.


"Kadang-kadang, saya juga sering tidak memahami apa yang saya sendiri pikirkan, Mang," tandas Hanan disertai gelaknya berdua bersama sosok lelaki tua tersebut.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Hanan pun segera kembali ke beranda rumah dan berpamitan pada ibunya.


"Hati-hati ya, Nak. Tolong jaga diri kamu baik-baik," ucap Juragan Sumiarsih agak keberatan dengan pilihan anaknya untuk berangkat bersama Roosje.


"Doakan yang terbaik untuk Hanan, Bu. Apapun yang Ibu ucapkan, itu adalah sebuah permintaan pada Allah. Jadi, usahakan untuk tidak sampai terucap, jika hati berbisik lain," timpal Hanan seraya mencium tangan ibunya dengan takzim. "Assalamu'alaikum semuanya …."


"Wa'alaikumussalaamussalaam!" jawab orang-orang di depan rumah.


Tidak lupa juga, Hanan meminta Bunga untuk tetap bersikap sabar dan tenang. "Insyaa Allah, hatiku hanya tertuju pada Enèng seorang. Jangan khawatir. Lebih baik doakan saja ya, Nèng," ucap lelaki muda berparas menawan tersebut sebelum melangkah pergi.


Tentu saja sikap kedua sejoli ini tidak luput dari perhatian sosok Roosje.


Diam-diam gadis berketurunan Belanda tersebut berkata-kata di dalam hati, 'Hhmmm, semakin jelas sekarang. Mereka berdua memang bukan kakak-beradik, melainkan sepasang kekasih.' Dia menyipitkan mata dan terus memperhatikan sosok Bunga. 'Benar kata Ki Praja, mereka berdua memang telah dijodohkan dan hingga kini, belum resmi menikah. Tapi, mengapa perempuan keparat itu tinggal bersama di rumah Hanan? Bukankah adat warga di sini melarang demikian? Terus, maksud Hanan tadi mengaku dia sebagai adiknya tadi pagi, untuk apa? Apakah karena menghendaki agar aku tahu, bahwa Hanan masih belum mempunyai kekasih? Atau mungkin saja … Hanan juga menyukaiku? Hi-hi-hi. Betapa senang sekali rasanya jika—'


"Nona Roos, ayo kita berangkat," ujar Hanan membuyarkan lamunan sesaat Roosje.


"O, iya … aku sampai lupa, Hanan," ucap gadis tersebut manja. "Mungkin karena aku merasa kagum dengan suasana di rumah ini, terutama kehangatan keluarga kamu orang, Hanan."


"Ah, biasa saja, Nona. Kami memang terbiasa dengan sikap seperti itu."


Roosje mengulas sebaris senyum, lalu berkata, "Waaahhh, sungguh indah sekali kalau begitu. Rasanya, aku pun ingin menjadi bagian dari keluargamu orang, Hanan."


"Maksud kamu?" Hanan berusaha mencerna kalimat Roosje yang terakhir baru saja.


Gadis bertubuh tinggi semampai dan hampir sepantar dengan Hanan tersebut malah terkikik-kikik sendiri. "Hi-hi, kamu pasti paham apa yang aku maksudkan ini 'kan, Hanan? Ayolah, kamu itu lelaki pintar, tapi kamu sering berpura-pura karena ingin lebih memperpanjang obrolanmu dengan aku saja, bukan? Hi-hi."


Hanan malah mendeham beberapa kali seraya menoleh ke belakang. Tepatnya pada sosok Bunga serta Juragan Sumiarsih, ibunya.


Kemudian sebelum menaiki badan sado, Roosje sengaja melempar senyum tipis pada Bunga, tanpa sepengetahuan Hanan tentunya. Sehingga membuat gadis Kampung Sundawenang tersebut semakin dibuat risau atau gundah gulana.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2