GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
21. Sabar Rara!


__ADS_3

Aku tidak akan pernah membiarkan Arif merusak semuanya. Ia ada ataupun tidak di sisiku, tak berpengaruh apapun untukku. Arif adalah orang asing yang tak berarti apa-apa untukku. Menolaknya bukan berarti aku belum bisa move on darinya, tapi karena aku memang tidak membutuhkannya dalam tim, jadi kenapa harus melibatkannya juga?


"Kamu terlalu sombong, Ra!" ucap Arif, dengan tatapan penuh kemarahan. "Kelak kamu akan menyesal!" tambahnya.


"Kenapa Rara yang menyesal? Kamu yang akan menyesal Rif. Yang namanya zalim pasti akan mendapatkan karmanya." cetus Aya.


"Iya, pakai ngancam-ngancam Rara. Sadar diri dong Rif, semua orang juga tahu kalau kamu yang salah!" Dini ikut terpancing.


"Tuh kan, kalian masih menautkannya dengan masalah pribadi. Katanya Rara profesional, mana buktinya? Ternyata cuma di mulut saja." Arif mengejekku.


"Rara menang sudah tidak mempedulikan masalah yang kemarin, aku yang belum bisa lupa karena sikap kamu sungguh keterlaluan. Eh sekarang malah datang ke sini, maksa Rara menerima kamu gabung di timnya dia. Ya mana mau. Rara itu bukan orang bodoh yang akan membiarkan dirinya jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Adab kamu itu jelek Rif, siapa juga yang mau jadi tim kamu!" kata Dini.


"Benar. Jadi mending mundur saja dan jangan muncul lagi di hadapan Rara kalau kamu masih punya malu. Mending taubat sebelum kamu dapat hukuman dari Allah. Karma itu biasanya lebih sakit dari pada kedzaliman kita!" tambah Aya.


"Halah, tau apa kalian semua tentang karma? Kita lihat saja nanti, Rara yang akan menyesal!" Arif masih percaya diri dengan pendapatnya.


"Kata siapa Rara yang akan menyesal? Dalam proyek ini, semua pimpinan mendukungnya. Memangnya kamu, tidak punya karir dan terancam akan di PHK karena jobnya enggak beres." Ken ikut berkomentar, entah kapan ia datang, gara-gara Arif, kami enggak menyadari situasi di sekeliling.


"Siapa kamu?" tanya Arif pada Ken.


"Ken, anak baru dan juga tergabung dalam proyek Rara." celetuk Aya.


"Hahaha, anak baru sok tahu!" Arif geleng-geleng kepala. "Sudah sana. Mending banyak-banyak belajar supaya kamu bisa sepadan dengan kejeniusan Rara." ejek Arif.


"Ken itu meski anak batu tapi dia kepercayaan GM kita. Berani kamu sama dia?" cibir Dini. "Apapun yang dikatakan Ken, pasti bakal di dengarkan pimpinan kita. Termasuk kalau Ken minta memecat kamu!"

__ADS_1


"Kamu mau menyangkal kalau sebentar lagi bakal di PHK karena tugas kamu nggak ada yang beres kan? Makanya sekarang memaksa ingin gabung dengan tim Rara sebab kamu tahu hanya ini satu-satunya jalan supaya tetap bisa bertahan di kantor ini. Iya, kan?" ungkap Ken lagi.


Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ken. Tapi entah kenapa rasanya semua benar. Adalah sebuah rahasia umum kalau Arif memang termasuk pegawai yang berada di garis kuning. Sudah sering terdengar isu bahwa ia akan diberhentikan untuk menghemat keuangan perusahaan, sebab pekerjaannya tidak beres. Padahal perusahaan sudah memberikan banyak kesempatan padanya, bahkan sampai dipindah tugaskan sebagai supir kantor, tetap saja ia tidak beres.


Itu juga sebenarnya salah satu hal yang membuat kak Gita awalnya ragu untuk mentaarufkan aku dan Arif. Tetapi atas diskusi dengan suaminya dan aku sendiri tidak mempermasalahkan pekerjaan calon suamiku, akhirnya perkenalan singkat yang berujung pada rencana pernikahan itu pun berlangsung. Lalu beginilah hasilnya, pembatalan secara sepihak.


"Juga tentang pernikahan kamu ... apa harus aku bongkar semuanya?" tantang Ken lagi.


"Apa maumu?" Arif hendak mencengkeram leher baju Ken, tapi dengan gesit Ken menghindar. "Anak baru jangan sombong ya!"


"Sudah cukup. Apapun itu aku tidak mau dengar. Kalau kalian mau berdebat apalagi bertengkar, di luar saja. Ini kantor, bukan ring tinju atau arena debat.


Apapun itu aibnya Arif, aku enggak mau tahu. Aku enggak peduli sama sekali. Dia mau di PHK sekalipun bukan urusanku.


Untuk penolakan dia yang ingin gabung dalam timku, juga bukan karena aku belum bisa move on. Maaf maaf ya, aku sudah menghapus semuanya. Terserah kamu mau percaya atau enggak. Tapi karena aku memang enggak butuh tambahan orang. Kalaupun harus menambah, aku ingin menyeleksi dengan sangat ketat orang-orang yang berkompeten." kataku.


"Terserah lah Rif." aku berlalu, meninggalkan ruangan sebab Arif tidak kunjung pergi.


Sabar Rara, menghadapi orang seperti Arif memang harus banyak sabarnya. Yang terpenting adalah kamu harus mensyukuri bahwa ternyata banyak sifatnya yang tidak sesuai denganmu! Aku terus membatin.


***


"O, jadi itu calon suami kamu yang gagal itu Ra?" tanya Ken, saat jam istirahat sudah berakhir dan kami berada di depan komputer masing-masing. Ia memang duduk di meja yang berada di sebelahku sebab selain gabung dalam satu tim, aku yang ditugaskan untuk membina Ken.


"Tidak usah dibahas lagi!" pintaku, sambil terus menatap layar komputer. "Tapi tunggu dulu, dari mana kamu tahu kalau Arif akan di PHK?" kini aku menatapnya dengan penuh curiga. "Jangan-jangan kamu ...." apa yang muncul di pikiranku bukan tanpa sebab, Ken kan anak baru, ia juga terlihat jarang atau mungkin tidak pernah bergabung dengan pegawai lain. Setiap jam makan siang biasanya ia menghilang ke ruang rapat, jarang juga kulihat ia ke pantry. Bahkan sekedar berbincang dengan pegawai lain juga tidak pernah. Ia seperti membangun benteng yang begitu tinggi. Padahal kan sama-sama pegawai.

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu ...."


"Ra, jangan terlalu maju. Sudah cukup segitu saja. Biarkan semuanya berjalan sesuai prosesnya. Kamu tahu, kadang kalau kita mengetahui sesuatu hal yang seharusnya tidak kita ketahui malah membuta jadi tidak nyaman. Apa kamu mau begitu?"


"Maksudnya?"


"Tidak ada maksud apa-apa."


"Lalu kenapa bicara seperti itu?"


"Ra, kerja saja!" Ken kembali beralih pada komputernya.


"Ken!" panggilku, tapi ia tidak menyahut sama sekali, seolah aku hanyalah angin lalu. "Ken, tapi aku benar-benar penasaran!"


"Pst!" ia memberikan isyarat agar aku diam dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Aghhhhh, kenapa ini? Apakah yang ada di pikiranku salah? Tapi rasanya benar. Jujur saja, saat ini naluri detektifku langsung hidup. Tapi masih ada sedikit ketakutan kalau-kalau aku salah berpikir. Kan enggak lucu kalau salah nebak orang.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ken, saat menyadari bahwa tatapanku tertuju padanya. "Kamu lupa Ra, aku bukan mahram kamu!" ia menunjukku dengan ujung penanya.


"Astagfirullah, iya ... iya, maaf." kataku, sambil menautkan kedua tangan.


"Hati-hati Ra, kalau kamu terlalu banyak memikirkan aku nanti bisa-bisa kamu beralih suka padaku. Orang yang baru patah hati biasanya mudah tersentuh oleh cinta yang baru!" seru Ken.

__ADS_1


"Apa sih," aku membuang muka.


Duh, kamu mikir apa sih Ra. Sudahlah, jadilah seperti Rara yang dulu. Rara yang enggak pernah mau ribet dengan urusan pribadi orang lain. Rara yang cuek. Toh kalaupun ia adalah orang yang seperti aku pikirkan, tidak berpengaruh apa-apa juga padaku sebab aku adalah Rara, staf biasa di kantor ini yang sedang berproses dengan karirku.


__ADS_2