GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
23. Bertemu Papa


__ADS_3

Aku sudah tidak sabar bertemu Mama dan Dinda untuk mengabari prestasi yang baru kuraih. Rencananya malam ini akan kyajak mereka berdua makan di luar untuk merayakan sebab aku naik pangkat. Mama pasti akan bangga sekali.


Senyum terkembang mendadak hilang saat melihat sosok papa di rumah. Ya, papa datang ke rumah, sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan papa setelah bercerai dengan mama.


Harusnya aku bahagia, bukankah itu yang kuinginkan, meski papa dan mama sudah berpisah, aku berharap komunikasi mereka tetap lancar secara dua arah, bukan hanya mama yang menghubungi papa terus untuk urusan kami, sebab mereka punya aku dan Dinda, anak-anak papa dan mama yang sama-sama membutuhkan kasih sayang lengkap kedua orang tuanya, bukan hanya kasih sayang mama saja meski sebenarnya Mama berusaha melimpahkan kasih sayang untuk kami. Tetapi tetap saja berbeda kan? Setiap anak, terutama anak perempuan pasti selalu berharap tumbuh dengan perhatian ayahnya juga.


Papa terlihat melotot ke hadapan Mama yang menundukkan kepalanya. Dari nada suara papa yang cukup tinggi, sudah jelas kalau perbincangan ini bukanlah sesuatu yang baik.


Papa marah pada mama. Aku butuh sedikit waktu untuk mencerna, alasan kemarahan papa. Dari beberapa potong kalimat yang keluar dari papa, akhirnya bisa ku simpulkan bahwa papa masih marah karena pernikahanku yang batal. Ya, akulah penyebab kemarahan papa pada mama saat ini.


"Saya benar-benar malu, sampai detik ini, keluarga besar saya dan teman-teman yang sempat diundang masih mempertanyakan tentang pernikahan Rara yang batal. Sebenarnya kamu itu bagaimana sih cara mendidik anak-anak. Kenapa semua jadi berantakan seperti ini? Rara jadi seenaknya saja. Pernikahan itu tidak main-main. Harusnya dia mikir dulu sebelum mengajukan keinginan untuk menikah. Harusnya dia pikir matang-matang, sudah siap nikah atau belum?


Jangan sampai sudah dipersiapkan sebaik mungkin. Saya sudah gembar-gembor kesemua orang, taunya gagal. Pusing kepala saya. Apa kamu tahu itu?" kata papa dengan nada suara tinggi.


"Maaf mas," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Mama.


"Ma." terdengar suara Dinda hendak menyangkal, tapi ia tidak melanjutkan. Aku tahu pasti, Mama pasti melarang Dinda. Bagi Mama, adab pada orang tua adalah salah satu hal utama yang harus dijaga. Dilarang keras menyangkal perkataan orang tua sebab tidak sopan, dan tidak baik juga.

__ADS_1


"Sekarang begini saja, kamu beritahu Rara nanti. Saya punya calon untuknya. Anaknya si Rusdi, dia sudah siap menikah. Kita jodohkan dengan Rara saja." kata papa.


"Anaknya Rusdi, temannya mas yang dulu sama-sama di perusahaan Jakarta?" tanya mama.


"Iya, memangnya saya punya berapa teman lagi yang namanya Rusdi." jawab papa dengan nada ketus.


"Mas ... maaf sekali. Seingat saya, anaknya Rusdi itu kan putus sekolah. Hanya lulusan SMP. Suka tawuran juga waktu itu. Apa mas yakin mau dijodohkan dengan Rara? Bagaimana akhlaknya sekarang, apa sudah baik. Lalu pekerjaannya? Apa ia akan bertanggung jawab pada Rara dan anak-anaknya kelak. Jangan sembarang menjodohkan mas, biarkan Rara menentukan sendiri jodohnya. Kasihan kalau nantinya ternyata tidak cocok. Apalagi kita tahu bagaimana jejak masa lalu anaknya Rusdi."


"Lho kok sekarang kamu ngomong tanggung jawab? Apa Rara bertanggung jawab atas gagalnya pernikahan dia? Saya sangat yakin Rara biasa saja. Karena dia juga tidak belajar apa itu tanggung jawab. Lebih tepatnya kamu tidak mengajari Rara arti tanggung jawab sehingga ia tumbuh jadi anak yang seenaknya sendiri. Merasa tidak cocok ya sudah, batalkan. Padahal efeknya sangat besar.


Kalau masalah anaknya si Rusdi bagaimana sekarang ya mana saya tahu. Saya juga belum ketemu. Hanya saja, sudah dua kali si Rusdi datang ke rumah saya untuk menawarkan perjodohan ini dan menurut saya mungkin inilah jawaban doa saya untuk jodoh Rara.


"Harus kan bukan berarti sudah berubah mas." kata mama. "Kasihan Rara, mas."


"Kamu itu ya, membantah saya terus. Kapan sih kamu bisa benar-benar nurut? Kenapa jadi perempuan suka sekali membangkang! Harusnya kamu sadar diri, instrospeksi, malah tetap saja seperti itu. Apa kamu pernah mikir, mungkin sikap kamu yang suka membangkang itulah yang membuat anak-anak jadi tidak terarah. Sadar nggak kamu itu!"


"Pa," aku memanggil pelan papa, berdiri di depan pintu masuk dengan dada yang terasa amat sakit. Kalau kita bisa bicara baik tanpa melukai perasaan orang lain, kenapa harus memilih untuk melukai? Apalagi orang-orang yang kita lukai tersebut pernah berarti dalam hidup kita.

__ADS_1


"Rara!" Panggil Mama.


"Pa, boleh Rara bicara?" aku meminta izin pada papa. "Pa, Rara senang sekali, pada akhirnya apa yang Rara dan Dinda harapkan terwujud, ketika papa mau datang ke tempat kami. Tapi pa ... Ada sedikit kecewa. Di sini." aku menunjukkan dadaku sendiri yang sudah sesak menahan sedih.


"Kenapa lagi Ra, kamu masih menganggap Papa yang salah? Papa juga memikirkan kamu dan Dinda. Buktinya dengan perjodohan kamu dengan anak teman papa. Itu tandanya papa juga berusaha hadir untuk kamu. Jangan terus menerus melihat sudut negatif papa, dong Ra. Kamu lihat juga tentang usaha papa. Lagipula memang kamu tahu apa papa memikirkan kamu atau tidak? Mikir kok Ra." Kata papa.


"Iya pa. Rara berterima kasih." Jawabku. "Pa, bisakah papa memahami kami? Rara minta maaf karena Rara sudah membuat papa kecewa. Papa pasti marah, iya kan? Sampai membuat Mama berlinang air mata dengan tuduhan-tuduhan papa yang sebenarnya tidak berdasar.


Papa, apa benar ini semua salah Rara? Sehingga akhirnya papa memuntahkan kemarahan papa pada mama.


Pa, Rara sudah cerita kepada Papa, bagaimana proses ta'aruf, lamaran hingga pada akhirnya Arif membatalkan pernikahannya dengan Rara. Pa, Arif itu teman sekantor Rara. Setiap hari Rara bertemu dengannya. Tadi, saat pulang juga kami bertemu, Papa tahu dia masih mengganggu Rara, membuat hidup Rara tidak nyaman." kataku.


"Kalau kamu tidak nyaman, tinggal pindah kerja Ra. Gampang, kan? Jangan persulit diri sendiri." Kata papa lagi.


Andai semua semudah yang papa katakan, mungkin aku tak akan sepusing ini.


Kenapa kadang untuk memahamkan orang-orang yang seharusnya mengerti kita jauh lebih sulit dari memahamkan orang lain.

__ADS_1


"Lagipula dia juga pasti merasa hal yang sama. Iya, kan? Tapi dia biasa saja. Berarti yang ada masalah itu kamu,Ra!" tuduh papa.


__ADS_2