
"Dia siapa?" tanyaku, setelah gadis itu menghilang dari pandangan kami.
"Namanya Gina." jawab Ken yang mulai beralih kembali memilih baju untukku.
"Iya, aku tahu namanya Gina, tadi kan sudah nyebutin nama. Tapi kamu kenal di mana?"
"Dulu tetangga waktu masih di Australia."
"Oh, dekat berarti?"
"Lumayan."
"Pantaslah canggung."
"Siapa yang canggung?"
"Kamu. Kelihatan banget lho. Suka ya?"
"Hah? Kok nuduh sih?"
"Aku nggak nuduh, cuma bicara sesuai fakta!"
"Kamu cemburu, Ra?"
"Enggak."
"Masa?"
"Ken, kamu pernah marah-marah hanya gara-gara aku tahu banyak hal tentang Rangga. Sekarang perasaanku juga sama saat kamu canggung bertemu dengan Gina."
"Berarti cemburu, dong?"
"Enggak. Kok balik nuduh sih?"
"Hahaha, Rara, jelas-jelas aku cemburu karena kamu paham tentang Rangga. Kalau perasaannya sama berarti aku benar?"
"Ya sudah, kalau begitu aku juga cemburu."
"Beneran?"
"Iya!"
__ADS_1
"Berarti kamu cinta, dong?"
"Enggak tahu."
"Kok begitu sih? Tanya lagi dong hatinya. Cemburu atau enggak?"
"Ken, jawab aku, apa ia juga akan datang ke acara makan malam nanti?"
"Sepertinya iya, soalnya ibu sudah nganggap Gina seperti putri kandungnya sendiri. Lagian dia sering main ke rumah kalau lagi ke Jakarta."
"Ken, berarti kalian sering ketemu sebelumnya?"
"Sudah lama Ra, kami enggak ketemu. Mungkin sudah dua tahunan. Aku sibuk di Australia dan dia mulai berkarir di Mesir sambil belajar. Saat dia ke Indonesia, aku sedang tidak di rumah, begitu juga sebaliknya, saat aku main ke tempatnya, dia sedang tidak di rumah."
"Jadi kamu juga sering main ke rumahnya?"
"Ya namanya juga tetangga. Apalagi dia punya saudara laki-laki yang usianya tidak beda jauh denganku."
"Ihhhhhh, kalau begitu kita beli baju yang ini!" kataku, sambil mengambil baju berwarna pink dusty dengan harga hampir dua juta rupiah.
Maaf Ken, aku terlalu cemburu. Kenapa rasanya panas sekali saat tahu kalau kamu sering main ke rumahnya, ataupun sebaliknya. Sekarang aku hanya berharap antara kalian tidak ada apa-apanya di waktu lampau.
***
"Masih belum selesai juga?" tanya Ken, sebab aku sudah hampir satu jam mematut diri di depan kaca.
"Sebentar." jawabku, sambil membaca ulang petunjuk dari Tante Wira, khawatir kalau cara makeup salah.
"Ra, ini sudah setengah delapan. Bisa-bisa makan malamnya berakhir. Padahal janjiannya ba'da Isya. Kamu mau membuat semua orang di rumah menunggu berapa lama lagI? Aku juga sudah lapar nih!"
"Enggak, aku nggak mau membuat semua orang menunggu, aku hanya mau membuat kamu pangling denganku!" tentu saja hanya kuungkapkan dalam hati.
"Rara sayang," Ken menarik lenganku. "Apa ini semua?" tanya Ken padaku. Tiba-tiba ia mengambil kapas pembersih, lalu menghapus bedak, hingga foundation di wajah. Lalu menyeka lipstikku juga yang sudah dipoles sedemikian rupa.
"Ken, kenapa dihapus!" aku protes. Sudah susah payah membuatnya, dia dengan seenaknya menghapus tanpa sisa hingga wajahku kembali polos.
"Kan sudah kukatakan, jangan dandan keluar rumah. Cukup di hadapanku saja. Apalagi nanti saat makan malam ada iparku, serta sepupu lainnya."
"Tapi kan?"
"Sudah. Ayo kita berangkat. Kamu cantik hanya boleh untukku. Kalau di hadapan orang lain biasa saja!" Ken masih menggandeng tanganku hingga sampai di depan mobil, setelah membukakan pintu mobil, lalu aku masuk, baru ia pindah ke sebelah, di depan kemudi. "Begini saja sudah cantik, masa mau ditambah lagi, keenakan orang-orang yang melihat kamu!" ia masih ngomel.
__ADS_1
Ken bagaimana sih, masa dia nggak ngerti, aku ingin tampil cantik sebab ada perempuan itu di sana. Seseorang yang aku yakini pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup Ken, buktinya mereka sama-sama canggung, hanya saja Ken menutupi semuanya dariku.
Mobil memasuki rumah orang tua Ken, setelah berhenti, dengan sigap ia membukakan pintunya, lalu mempersilakan aku turun. Sebenarnya, aku bisa turun sendiri, tapi Ken selalu saja melakukannya.
Benar saja, ada banyak orang yang hadir di rumah Ken. Mataku masih awas memperhatikan satu-persatu tamu yang hadir, tetapi sosok itu tidak ada.
"Jadi ini istri kamu, Ken?" tanya seorang lelaki, yang usianya mungkin tidak jauh beda dengan kami. "Saya Rafi, sepupunya Ken." ia mengulurkan tangannya. "Maaf waktu akad dan resepsi tidak datang karena saya lagi di Australia."
"Rara." kataku, sambil menautkan tangan di depan.
"Oh oke. Kamu nggak salaman." Rafi menganggukkan kepalanya. "Nah, itu Gina!" serunya.
Semua orang menatap Gina yang baru datang. Lalu melirikku. Mereka melakukannya beberapa kali, sehingga membuatku salah tingkah.
Ken, aku mau pulang!
Ingin sekali berteriak seperti itu. Malu. Bayangkan saja, gaun yang dipakai Gina sama persis dengan yang kupakai. Bedanya, ia terlihat anggun bak putri raja, sementara aku biasa saja, mungkin lebih patut disebut khadimat.
"Ya ampun, baju kalian sama."
"Iya, kok bisa."
"Wah, sehati nih."
"Ken, ternyata ...."
Begitu komentar saudara-saudara Ken. Di antara komentar itu, ada juga satu yang nyelekit, mengatakan kalau gaunnya lebih cocok dipakai oleh Gina. Apa itu penting disebutkan?
"Sudah, ayo kita makan." kata Ibu, sambil membimbingku ke meja makan diikuti saudara yang lain. "Acara makan malam kali ini sebagai pesta penyambutan untuk anggota baru di keluarga kami, yaitu Rara. Bagi saya dan ayahnya Ken, Rara tak hanya menantu, tetapi ia sudah seperti putri kami sendiri. Jadi saya harap seluruh anggota keluarga bisa menerima dan memperlakukan Rara dengan baik."
Apa yang diucapkan ibu barusan membuatku begitu terharu. Entah mengapa aku merasa nyaman berada di sisi ibu. Aku yakin, ibu adalah mertua yang baik dan aku sangat beruntung punya ibu mertua seperti ini.
"Ayo Ra, duduk di sini." kata ibu, sambil mempersilakan aku duduk di samping tempat duduknya, sementara Ken duduk di sisiku yang lain.
Selama berada di meja makan, ibu benar-benar memperhatikan kenyamananku. Saat piringku mulai kosong, ibu menawarkan makanan tambahan.
"Makannya yang banyak, Ra. Supaya sehat." kata ibu. "Mulai sekarang Rara tidak hanya mengurus diri sendiri, tapi juga jadi teman untuk Ken. Rara harus banyak sabar ya menghadapi Ken yang mungkin akan banyak ulah."
"Lho, kok bilangnya begitu sih bu. Memang Ken nyusahin Ibu?" tanya Ken.
"Kamu nggak sadar, Ken. Sikap kamu yang selalu ingin perfek dalam segala hal itu nyusahin ibu, lho." ungkap kakak kedua Ken.
__ADS_1
"Hah, iya kah mbak?" Ken pura-pura tidak tahu sehingga menimbulkan perdebatan antara dua saudara, sedangkan ayah dan ibu hanya geleng-geleng kepala.