GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
65. Perjalanan Ke Paris


__ADS_3

Kini aku dan Ken berada di dalam mobil menuju rumah kami. Rasanya begitu haru mendapatkan sambutan dan penerimaan hangat dari keluarga mertua.


"Benar kata kamu, Ken. Keluarga kamu, terutama ayah dan ibu begitu baik. Aku benar-benar terharu dengan sikap mereka." kataku. "Sikap mereka padaku benar-benar seperti saudara kandung sendiri. Bahkan aku baru merasakan hangatnya sayang seorang ayah." ucapku, dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu pantas mendapatkannya, Ra. Kamu perempuan baik, pantas untuk disayang." Ken mengusap pelan kepalaku.


"Terimakasih Ken, kamu begitu menghargaiku."


"Tadi ibu memberikan wejangan apa saja?" kini kembali fokus menyetir.


"Banyak. Salah satunya bahwa kamu adalah lelaki yang setia."


"Hahaha, itu benar sekali. Sekarang kamu percaya kan padaku?"


"Aku percaya kok."


"Tidak akan manyun lagi kalau bajunya samaan?"


"Ken!" aku langsung memasang wajah cemberut. Tetap saja, meskipun Ken mencintaiku, pasti perasaan jeoleus kalau bertemu dengan mantannya suami, apalagi kalau mantannya sok kenal dan sok baik.


"Jadi kamu cemburu karena dia? Rara ... Rara. Kelak kamu akan menyadari karakter aku seperti apa dan kamu nggak akan pernah khawatir lagi jika aku bertemu dengan perempuan manapun. Kamu tahu Ra, Gina sengaja melakukan itu, dia memang sengaja mengikutimu dan Rafi akan selalu melakukan apapun untuk membuat kamu cemburu, bahkan ia akan meyakini kamu bahwa aku mencintai Gina.


Tapi aku minta, kamu tak boleh percaya sedikitpun. Cukup ingat apa yang dikatakan oleh ibu sebab ibu paling tahu segala hal tentang anaknya. Kamu bisa kan melakukan hal itu? Demi hati kamu tetap tenang. Aku pun janji, akan berusaha tidak membuat kamu kecewa."


Ken, aku memegang janji itu. Meskipun banyak bunga-bunga yang bertebaran di samping kamu, aku sangat yakin bahwa kamu tak akan pernah melakukan hal terlarang. Bukankah salah satu sebab rumah tangga bisa harmonis adalah kepercayaan. Dan sekarang, kamu memiliki kepercayaanku seratus persen.


***


Pagi ini rasanya benar-benar tidak ingin melaluinya. Hari dimana Ken akan berangkat ke Paris. Ia memang sudah mengatakannya beberapa pekan sebelum keberangkatan, tetapi tetap saja, aku merasa tidak siap untuk ditinggalkan.


Ken sebenarnya juga mengajakku pergi, tetapi ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan sehingga tidak bisa mendampingi Ken.


"Kenapa wajahnya masih ditekuk seperti itu?" Ken mencubit pelan daguku.

__ADS_1


"Berat!" kataku. Bagaimana enggak berat, kalau Ken berangkat bersama Bianca juga. Memang perjalanannya tidak hanya berdua, ada tim lainnya, tetapi kemarin saat melihat Bianca begitu berbinar-binar bercerita pada temannya sesama anak model, akan terbang bersama Ken membuat hatiku terbakar cemburu. Sah-sah saja kan, aku istrinya Ken, tentu tidak nyaman mendengar ada perempuan lain yang senang akan bepergian dengan suamiku.


"Apa perlu aku batalkan keberangkatannya?"


"Kenapa?"


"Supaya nyonya Ken tidak cemberut seperti ini."


"Jangan, aku baik-baik saja. Nih, masih bisa tersenyum." kataku, sambil memaksakan senyum. "Aku hanya takut saja."


"Takut apa?"


"Takut kalau kamu tidak merindukanku."


"Hahaha, tidak Ra, aku pasti akan sangat rindu."


"Kalau begitu jangan putus memberi kabar. Oke!"


"InsyaAllah."


"Terimakasih ya Ra."


"Untuk apa?"


"Karena kamu sudah mendukungku."


"Aku tidak melakukan apapun."


"Tidak benar Ra, kamulah orang yang paling berperan besar dalam proses ini."


Proyek ini begitu diandalkan oleh Ken sebab akan jadi pembuktian kalau ia juga bisa memimpin perusahaan tanpa embel-embel nama besar ayahnya. Sudah sejak awal masuk perusahaan, Ken membincangkannya baik secara langsung ataupun secara tersirat padaku. Kala itu aku yang belum tahu bahwa ialah putra pemilik perusahaan ini, mencoba memberikan masukan untuk Ken tentang proyeknya tersebut dengan tujuan agar ia punya banyak ide dan gambaran secara garis besar untuk dipresentasikan pada direktur kami.


Ternyata semua masukan yang aku berikan benar-benar dicatat oleh Ken. Ia mendalaminya sedemikian rupa hingga akhirnya jadilah proyek ini.

__ADS_1


Ken akan menjadikan fashion pakaian muslimah sebagai awal penanda ia bergabung di perusahaan ini. Konsep yang benar-benar berbeda dengan apa yang diusung oleh ayahnya selama ini. Sebab ayah lebih fokus pada naskah fiksi dan non fiksi sebagai andalan dari perusahaan.


"Aku benar-benar bangga punya istri secerdas kamu, Ra. Pantaslah kata bahwa di balik kesuksesan seorang suami, ada doa dan dukungan istri. Kamu benar-benar berperan besar untuk semua ini. Entah bagaimana jika kita tidak bertemu. Mungkin aku tak akan sepercaya diri ini, sejujurnya aku memang masih ragu-ragu, antara maju atau tidak. Ide ini benar-benar masih baru. Iya, kan?" ungkap Ken sambil memegang kedua tanganku. "Sekali lagi terimakasih Ra, doakan aku berhasil, agar aku bisa buktikan pada semua orang bahwa akupun pantas memimpin perusahaan tidak hanya karena aku anak pemilik perusahaan tetapi karena aku punya kemampuan!"


"Tentu saja Ken, aku akan selalu mendukungmu." kataku, membalas jabatan tangan Ken.


***


Pagi ini aku dan Ken sudah membuat kesepakatan kalau aku akan ikut mengantar Ken ke bandara, ini adalah permintaan Ken. Kami diantar oleh mbak Tati, ia memang kadang menjadi supir jika Ken tidak bisa mengantarku.


Sepanjang perjalanan menuju bandara,.aku dan Ken tidak berbincang sepatah katapun. Ken sibuk dengan Ipad-nya, sementara aku memikirkan banyak hal tentang Bianca.


Perempuan seperti dia, sudah tahu bahwa lelakinya punya istri tetapi kenapa masih saya mau mengganggu? Padahal secara fisik, finansial ataupun pergaulan ia cukup bagus. Kenapa harus merendahkan diri? Menggoda lelaki beristri? Apa untungnya? Parahnya, perempuan dengan tipikal seperti itu saat ini semakin banyak, bahkan ada yang bangga merusak rumah tangga orang lain padahal dosanya tidak main-main.


"Aha!" aku menjentikkan tangan, teringat sesuatu hal.


"Kamu kenapa Ra?" Ken menatapku heran sebab tiba-tiba bersuara.


"Oh itu, aku ingat sesuatu hal."


"Apa?"


"Nanti kalau kamu sudah kembali dari Paris, akan aku ceritakan. Oke!"


"Baiklah. Padahal sekarang aku sudah penasaran."


"Sabar."


Perbincangan kami terhenti sebab mobil sudah memasuki bandara. Aku dan Ken turun di dekat pintu keberangkatan luar negeri, sementara mbak Tati menunggu di parkiran terdekat, nanti kalau Ken sudah berangkat barulah ia kembali menjemputku ke sini.


"Pak Ken!" suara itu tak asing di telingaku, siapa lagi kalau bukan Bianca.


Bianca yang semula tersenyum sumringah langsung cemberut saat melihatku keluar dari balik tembok yang menghalangi, padahal aku berdiri di samping Ken.

__ADS_1


"Mbak Rara." ia menyapaku, diikuti oleh tiga orang model lainnya.


Sikap Bianca barusan sebenarnya cukup menyedihkan di mataku, harusnya ia bisa menjaga harga dirinya, jika ia benar-benar bisa memposisikan diri bukan sebagai perempuan penggoda pasti tidak sedikit lelaki yang mau dengannya sebab tak hanya cantik fisik tetapi juga cantik hatinya.


__ADS_2