GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
59. Papa, Aku Menyayangimu


__ADS_3

"Kapan kita pulang?" tanyaku pada Ken, setelah kami selesai sarapan di kamar dengan menu super lengkap yang disediakan oleh hotel sesuai pesanan Ken.


"Pulang? Oh, kamu sudah enggak sabar ke rumah?" tanya Ken, sambil berbaring di pangkuanku, sesuatu hal yang sebenarnya membuatku agak risih, tetapi ia tetap saja melakukannya.


"Iya."


"Nanti, aku masih ingin di sini berdua dengan kamu saja."


"Tapi ...."


"Pstt, enggak ada tapi-tapi."


"Kita kan juga harus masuk kerja, Ken. Apalagi aku sudah cuti cukup lama." aku memang sudah mengambil cuti sepekan sebelum pernikahan sebab banyak hal yang harus dilakukan, salah satunya menjalani perawatan juga proses pingitan yang diwajibkan oleh mama


"Kerja? Ya ampun sayangku Rara, kamu masih mikirin pekerjaan dan kantor? Kamu benar-benar loyal sekali ya dengan pekerjaan kamu. Sejak awal kita kenal, totalitas kamu dalam bekerja itu patut diacungi jempol, lain kali aku akan pikirkan untuk memberi reward lebih atas hasil usahamu. Tetapi kamu enggak lupa kan siapa pemilik sekaligus direktur di perusahaan tempat kami bekerja?"


"Ya, aku ingat. Kamu, Ken. Suamiku."


"Suami apa kataku tadi?"


"Suami tercinta."


"Nah, itu baru istriku. Tapi Rara, kita masih cuti, jadi lupakan kantor dan segalanya. Ingat, hanya aku yang harus kamu pikirkan. Paham?"


"Berapa lama?"


"Maunya sih selamanya. Berdua saja, enggak ketemu siapapun. Tapi kasihan juga orang-orang yang merindukan kita. Iya, kan?"


"Kamu jayus juga ya, Ken."


"Ini fakta, Ra. Oh ya, kamu punya negara impian yang ingin dikunjungi?"


"Kenapa?"


"Aku mau ngajak kamu liburan."


"Mekkah."


"Baiklah."


"Tapi ajak papa, mama, Tante Wira dan Dinda ya."


"Hahaha, sekalian ajak pak RT, tetangga kiri kanan, juga sahabat-sahabat kamu, Ra."

__ADS_1


"Kak Gita juga?"


"Iya Rara. Ajak Bu Gita juga. Sudah, siapa lagi. Aku kan punya banyak uang, nggak masalah ngongkosin sebanyak itu."


"Astagfirullah, jangan sombong Ken. Harta benda yang kita punya adalah titipan dari Allah, kapanpun bisa diambil oleh-Nya."


"Astagfirullan. Iya, aku salah. Hanya kesal saja. Lagian kamu aneh sekali, mau bulan madu malah ajak-ajak orang lain. Lalu kapan waktu untuk berdua kalau semua orang ikut? Boro-boro berdua, pasti kamu lebih memilih bersama keluarga ataupun teman-teman kamu. Iya, kan?"


"Tapi aku memang punya impian mau memberangkatkan orang tua ke Mekkah, Ken."


"Baiklah. Setelah kita bulan madu. Bagaimana?"


"Baik!"


"Ngomong-ngomong, ada titipan surat untukmu."


Ken memberikan sebuah surat yang diambilnya dari laci meja yang berada di sebelah tempat tidur.


"Dari papa?" tanyaku, saat membaca ada nama papa di sana.


"Iya. Kemarin malam dititipkan padaku sebelum pamit pulang." jawab Ken.


"Kenapa baru diberikan sekarang?"


"Apa surat ini penting, Ra? Dibandingkan ...."


"Tapi kamu cinta, kan?"


"Siapa peduli!"


"Nanti kita lihat, apa kamu peduli atau tidak?" Ken tersenyum misterius. "Aku keluar sebentar, mau menemui klien. Kamu di sini dulu, ya."


"Iya."


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Nggak lama kok, palingan tiga puluh menitan."


Ken menutup pintu kamar. Aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membaca surat dari papa, sebab Ken sedang pergi. Kalau ada dia, pasti akan penuh gangguan dengan sikapnya yang sejak semalam berubah drastis jadi manja dan selalu ingin diperhatikan.


Dengan cepat aku mengeluarkan dua lembar kertas tulisan tangan papa. Tulisan yang aku hafal betul sebab dahulu saat papa dan mama masih bersama, ketika ada tugas sekolah maka papa yang akan mengerjakan jika aku kelupaan atau sudah bosan mengerjakannya. Papa selalu ada untukku kala itu hingga akhirnya perceraian memisahkan kami, membuat kami seperti dua orang asing yang tak saling sapa ataupun sekedar peduli.


*Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu


Putriku Rara,

__ADS_1


Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupmu, di mana akhirnya engkau menemukan pelabuhan hatimu. Papa berdoa, kamu selalu bahagia selamanya.


Ra, papa melihat betul betapa kamu bahagia. Senyummu begitu penuh cinta untuk suamimu. Papa berharap Ken pun begitu terhadapmu.


Rara, selama proses akad hingga resepsi, tidak pernah pandangan papa teralih darimu. Dengan sekuat hati papa berusaha menegakkan kepala agar tidak jatuh air mata, saat akhirnya papa harus melepasmu, nak.


Papa tahu, banyak salah dan kurang papa. Mungkin kamu akan beranggapan, sebenarnya papa sudah melepasnya dari kamu masih kecil. Papa tak ada saat kamu remaja hingga dewasa dan menemukan cinta.


Rara, papa menyesali untuk hari-hari yang kamu lalui tanpa papa. Papa menyadari, ternyata tidak hanya pernikahan papa dan mama yang papa hancurkan, tetapi juga kamu dan Dinda. Maafkan papa, nak.


Sekarang mungkin sudah terlambat, sebab sudah ada lelaki baik yang menjadi pendamping hidupmu. Papa harap ia bisa jauh lebih baik dari papa yang gagal ini. Maafkan papa, nak. Jangan benci papa. Maafkan untuk kegagalan papa, semoga Rara selalu bahagia. Doa papa selalu untuk kamu dan Dinda.


Salam,


Papa*


Air mata ini sudah berlinang membaca surat yang papa tuliskan. Kegagalan yang papa maksud memang sempat membuatku berada di posisi takut untuk merasakan cinta. Aku menutup rapat pintu hatiku, hingga akhirnya merasakan kecewa pada lelaki untuk kedua kalinya. Tetapi kini tak ada lagi kebencian pada papa. Aku menyayanginya apa adanya.


Dengan tangan bergetar, aku memencet nomor Hp papa. Nomor yang pernah aku hapus karena kesalahpahaman saat pembatalan nikah dengan Arif. Ketika papa mengadili kami, menganggap semua kegagalan itu karena salah mama dalam mendidikku.


[Ra,] suara papa diseberang sana.


[Papa ....] panggilku.


[Lho, Rara nangis? Kenapa Ra? Rara baik-baik saja? Apa Ken memperlakukan kamu dengan buruk? Ra, jawab papa. Katakan ada apa? Apa perlu papa ke sana untuk menjemput Rara? Jangan takut, papa akan selalu ada bersama kamu, Ra!]


Air mataku semakin deras sehingga membuatku sulit untuk bicara. Cara papa menjawab telepon, sudah membuatku yakin bahwa papa sangat menyayangiku.


[Ra, kok diam saja? Ada apa, nak? Bicaralah ....] kata papa lagi masih dengan nada panik.


[Rara enggak apa-apa.] jawabku, setelah menyapu air mata, lalu berusaha bernafas beberapa kali agar sesak ini hilang.


[Lalu kenapa nangis?]


[Rara baru baca surat papa.]


[Oalah. Maaf ya nak, di hari bahagia kamu, papa malah membuat kamu nangis.]


[Enggak apa-apa, pa. Terima kasih sudah sayang sama Rara.]


[Ra,]


[Pa, Rara enggak pernah benci sama papa. Rara sayang papa.]

__ADS_1


[Papa juga sayang sama kalian. Baik-baik dengan Ken ya.]


Panggilan dimatikan setelah perbincangan kami selesai. Kini, aku jadi semakin rindu pada papa. Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Meskipun papa pernah membuatku kecewa, tetapi aku tetap menyayangi papa.


__ADS_2