GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
26. Mencari Mbak Yuni


__ADS_3

Entah apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak bisa berpikir. Bahkan tanganku sampai gemetaran karena mendengar pengakuan seseorang yang meski tidak kukenal, hendak bunuh diri. Ia akan mengakhiri hidupnya.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Ken, ia seperti menyadari tingkahku yang begitu resah.


"Ada yang mau bunuh diri. Bagaimana ini?" aku benar-benar bingung.


"Tenang. Cerita pelan-pelan supaya aku bisa ikut mikir."


Aku bercerita pelan-pelan tentang apa yang barusan terjadi. "Aku enggak tahu dia siapa, tinggalnya dimana, nomor teleponnya berapa." kataku.


"Sekarang pinjam komputer kami." ia mengambil alih komputer milikku. Lalu mulai memeriksa satu-persatu email yang masuk. "Dapat!" ia langsung mencatat identitas yang ada dalam email tersebut.


Yuni Juliana. Nomor telepon 0813xxxxx. Alamatnya di perumahan pondok bambu, Jakarta Selatan.


"Ya Allah, kenapa aku bisa enggak terpikir seperti ini." kataku, sambil memukul pelan keningku.


Semua email permohonan untuk curhat dari pembaca, biasanya sudah mencantumkan identitas dirinya secara lengkap. Mulai dari nama lengkap, nomor telepon, alamat juga identitas tambahannya.


Kalau biodatanya sudah lengkap, barulah aku akan memberikan nomor telepon kantor, lengkap dengan exstentionnya agar bisa terhubung denganku.


"Mau berangkat sekarang atau diam bengong di situ?" Ken membuyarkan lamunanku.


"Hah, ya mau berangkat lah." aku buru-buru keluar, setelah menyambar tas.


Sampai di parkiran baru sadar kalau hari ini enggak bawa motor. Kalau harus naik taksi rasanya enggak mungkin, sebab masih harus mencari-cari alamat. Makanya kuputuskan untuk kembali masuk meminjam motor Aya. Tapi belum jadi masuk, Ken sudah menghadang langkahku.


"Mau kemana lagi, Ra?" tanya Ken.


"Tadi pagi aku enggak bawa motor. Mau minjam motor Aya dulu." kataku.


"Enggak usah, naik mobil aku saja!"


Tanpa basa-basi, Ken menarik ujung tasku sehingga membuatku harus mengikutinya. Tapi di depan pintu masuk lagi-lagi aku hanya diam bengong. Masa harus satu kendaraan sama lelaki yang bukan mahram.


"Kenapa? Oh iya, aku paham. Kita belum mahram. Kamu duduk di belakang saja. Kalau masih khawatir, buka saya jendelanya." tiba-tiba secara otomatis pintu belakang mobil Ken langsung terbuka.


Aku segera masuk karena tidak punya pilihan lain. Semoga saja ini masuk dalam kategori terdesak, sehingga tidak dosa.


Aroma kopi langsung tercium di hidungku begitu memasuki mobil Ken. Mobil sport yang aku taksir harganya di atas satu milliar. Mobil dengan mesin yang sangat halus sekali.


"Berasa kayak supir dan majikan ya Ra." kata Ken.


"Ya maaf sih," ucapku.

__ADS_1


"Hahaha, enggak apa-apa kok. Semoga besok enggak begini lagi."


"Iya ... iya. Besok enggak akan numpang lagi!" aku mendengus kesal.


"Siapa juga yang melarang kamu numpang Ra. Anggap mobil sendiri juga tidak apa-apa."


"Serius? Mobil ini pasti mahal. Enggak boleh sembarangan ngasih-ngasih ke orang lain. Lagipula aku ini siapa?"


"Rara ... Rara. Kamu itu benar-benar menggemaskan ya." Ken geleng-geleng kepala. Sempat aku menangkap senyum yang muncul di bibirnya. Senyum yang jarang terlihat karena aku mengira Ken adalah jenis lelaki cool.


"Udah, fokus nyari alamat saja!" aku bicara tegas. Lalu mulai beralih ke google map supaya tidak salah alamat.


Berkat kecanggihan teknologi, aku akhirnya bisa menemukan alamat mbak Yuni yang rupanya tidak terlalu jauh dari rumahku. Begitu sampai di halaman rumahnya, aku langsung meloncat turun.


"Assalamualaikum. Mbak Yuni. Mbak Yuni!" panggilku.


"Ra, datang ke rumah orang juga ada adabnya. Jangan main teriak-teriak seperti itu." Ken mengingatkan.


"Ini dalam keadaan darurat Ken. Kalau biasanya juga aku tahu adab kok."


"Iya deh, iya."


"Mbak Yuni! Permisi!"


"Maaf, apa benar ini rumahnya mbak Yuni?" tanyaku.


"Iya. Ini rumahnya neng Yuni. Mbak ini siapa?" tanya perempuan tersebut.


"Saya Rara. Kalau ibu ini?"


"Saya mbok Jum, pembantu di rumah ini."


"Oh begitu. Saya Rara mbok. Tadi saya ditelepon oleh mbak Yuni."


"Oh begitu. Dari pagi saya malah belum ketemu neng Yuni." kata mbok Jum.


"Memangnya mbak Yuni kemana ya mbok?" aku bertanya-tanya.


"Ada di rumah ini juga. Tapi dari kemarin enggak keluar-kekuar dari kamarnya. Sudah tahu kan tentang berita yang menimpa calon suami neng Yuni?"


"Sudah ... sudah mbok. Sekarang bisa mbok lihatin mbak Yuni. Apa ia baik-baik saja."


"Lho, memangnya kenapa mbak?"

__ADS_1


"Udah, lihat saja mbok. Tolong ya!"


Mungkin karena masih heran, tetapi karena terus kudesak, akhirnya mbok Jum masuk juga. Tidak berapa lama ia keluar.


"Neng Yuni enggak menjawab mbak." kata mbok Jum.


"Ya Allah ... kalau begitu saya izin masuk ya mbok." tanpa perlu menunggu izin dari mbok Jum, aku langsung nyelonong masuk ke dalam diikuti oleh mbok Jum yang masih terheran-heran, juga Ken.


Aku tahu masuk ke rumah orang tanpa izin adalah perbuatan yang tidak sopan. Tapi lagi-lagi ini urgent, aku tidak punya pilihan lain.


"Mbak Yuni ... Mbak Yuni. Ini Rara mbak. Tolong buka pintunya!" pintaku. Tidak ada jawaban. Aku memberikan isyarat pada Ken, ia mengerti, lalu maju ke depan.


"Bismillahirrahmanirrahim." Bukkk ... bukkk ... bukkk.


"Apa-apaan ini, mbak Rara kok pintunya didobrak?" mbok Jum langsung protes dengan apa yang dilakukan oleh Ken. "Mbak Rara ini siapa? Kenapa merusak pintu kamar neng Yuni? Nanti majikan saya bisa marah, mbak!"


Bukkk ... bukkk ... bukkk. Pintu langsung copot. Kami bertiga terpana melihat sosok perempuan yang terbaring di lantai dengan mulut penuh busa.


"Mbak Yuni!" aku berteriak histeris.


"Neng Yuni ... astagfirullah, apa yang terjadi neng? Kenapa jadi begini. Mbak Rara, neng Yuni kenapa ini? Ya Allah Gusti, aku harus ngomong apa sama bapak ibu. Mana mereka lagi ke Bogor. Ya Allah." mbok Jum menangis histeris.


"Mbok, saya akan bawa mbak Yuni ke rumah sakit terdekat. Tolong kabari ayah dan ibunya ya." kataku. Dibantu oleh Ken, aku membopong tubuh mbak Yuni menuju mobil.


Di halaman depan sudah berkumpul tetangga yang kebingungan mendengar suara-suara ribut mbok Jum yang tadi berteriak untuk menghalangi Ken mendobrak pintu.


"Lho, itu kan neng Yuni!"


"Kenapa dengan Yuni?"


"Kok mulutnya berbusa?"


"Jangan-jangan dia bunuh diri seperti Reno?"


"Ya Tuhan, ada-ada saja. Apa ini yang namanya karma. Setelah memaksa orang lain, akhiratnya dia sendiri yang bunuh diri."


"Kalau ujung-ujungnya mau mati kenapa memaksa orang lain segala?"


"Dasar enggak kuat iman. Anak manja sih, gara-gara cinta sampai nekat seperti itu."


"Kasihan sekali bapak dan ibu Heru, putri yang paling disayanginya akhirnya seperti ini. Setelah ditinggal mati kekasihnya, malah memilih bunuh diri."


Kalimat-kalimat miring itu tertangkap jelas di telingaku. Aku yang bukan siapa-siapa mbak Yuni saja panas mendengarnya. Kenapa masih banyak orang-orang yang seperti itu, suka sekali mengadili orang lain. Kalaupun ada kesalahan, bukan tugas kita untuk mengadili, apalagi dengan cara yang amat keras seperti itu!

__ADS_1


__ADS_2