
"Kamu tahu tidak, Ra. Bapak, Ibu dan Mbakku benar-benar berharap agar aku bisa mempersunting kamu." kata Rangga, membuta pengakuan.
"Ngga, kalau kamu mau menikah dengan orang lain, pastikan juga hari kamu memilihnya. Kasihan kamu dan calon kamu nantinya kalau menjalani pernikahan yang dijalani seumur hidup tanpa ada perasaan sedikitpun. Hanya karena menjalankan permintaan keluarga.
Memang, menikah tanpa cinta tidak apa-apa. Tapi juga harus yakin, setelah menikah bisa mencintai pasangan kita agar ibadah seumur hidup tersebut bisa kita jalankan dengan penuh keridhaan." kataku.
"Kalau orang itu adalah kamu, insyaAllah aku yakin, Ra." untuk sesaat kami sama-sama diam. "Ra, kalau seandainya belum ada yang melamar kamu, apa kamu bersedia menikah denganku?" pertanyaan Rangga membuatku tertegun.
"Jangan berandai-andai Ngga, aku nggak mau memikirkan sesuatu yang hanya ada di angan-angan saja. Dalam agama juga dilarang. Kenyataannya, aku sudah dilamar orang dan aku ingin setia padanya."
"MasyaAllah Ra, aku semakin salut padamu." puji Rangga. "Astagfirullah. Yakin deh Ra, lama-lama bicara sama kamu nanti aku malah enggak bisa-bisa move on. Masa aku berharap pada calon istri orang." ia terkekeh, sehingga membuatku lega, tak ada luka atas penolakan ini, aku yakin Rangga bisa menerimanya dengan hati lapang.
Aku dan Rangga mengalihkan perbincangan, kami membahas perkembangan mbak Yuni, kakaknya Rangga. Ia mengabarkan kalau mereka sekeluarga berencana pindah ke Jogja, ke kampung halaman kedua orang tua Rangga agar mbak Yuni bisa mengobati luka hatinya setelah ditinggal oleh mas Reno. Apalagi sekarang ada bayi dalam kandungannya. Tidak mudah jika berada dalam lingkungan yang rata-rata orang-orangnya masih mencibir dan selalu kepo. Luka itu tak akan pernah sembuh, sebab terus diungkit.
Itu juga yang jadi alasan kunjungan Rangga dan keluarganya kemarin. Meskipun kami belum kenal dekat, mereka sudah sangat yakin untuk memilihku sebagai bagian dari anggota keluarganya. Makanya kedua orang tua Rangga meminta segera melamarku sebelum mereka pindah ke Jogja.
"Sebelumnya aku nggak mau ikut pindah, Ra. Masih ingin berkarir di Jakarta. Tapi gara-gara kamu tolak, aku mau ikut pindah sajalah." kata Rangga, sambil berkelakar.
"Lho, kenapa?" tanyaku, sambil mengerutkan kening.
"Soalnya aku takut nanti saat mau nilang, eh kamunya dalam kondisi nangis."
"Ih, nggak lucu tau. Harusnya kamu doakan yang baik dong untuk aku. Jangan sampai ditinggal nikah lagi."
"InsyaAllah, Ra. Meski kamu menolakku, aku tetap mendoakan yang terbaik kok untuk kamu. Aku nggak mau melihat kamu nangis di jalanan lagi, Ra. Kok ya rasanya nggak tego." tutur Rangga dengan logat Jogja.
"MasyaAllah, terimakasih ya Rif. Aku juga berdoa semoga kamu bisa segera menemukan tulang rusukmu."
Baru saja Rangga ingin pamit pulang, tiba-tiba Arif sudah muncul di hadapan kami dengan lagak yang begitu menyebalkan, seakan-akan ia sedang menangkap basah aku yang berselingkuh.
"Rara, sekarang kamu nggak bisa ngelak lagi. Aku lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kalian begitu mesranya tadi!" tuduh Arif.
"Dia siapa, Ra?" Rangga bertanya padaku.
"Lelaki yang membuatku hampir kamu tilang." aku menjawab dengan malas.
__ADS_1
"Oh ini tho orangnya. Kok masih berani muncul di sini? Anda masih punya malu?" tanya Rangga.
"Harusnya saya yang tanya, kamu siapa? Kenapa selalu ada di rumah sakit bersama Rara? Kamu selingkuhan Rara ya?" tuduh Arif.
"Astagfirullah. Sini!" Rangga menarik Arif ke pojokan, memberikan jarak antara kami sehingga aku nggak tahu apa yang mereka katakan, tapi dari raut wajahnya, tampak betul bahwa Arif ketakutan.
"Ra," panggil Ken.
Astagfirullah. Kini aku yang gelisah, berharap bahwa itu hanya halusinasi, bukan Ken yang sesungguhnya. Bukan karena aku berselingkuh dengan Rangga seperti tuduhan Arif, tapi karena ada Arif, simulut besar yang bisa saja memutar balikkan fakta seenak perutnya.
"Sedang apa kamu di luar? Kok nggak masuk?" tanya Ken.
"Nah itu pak Ken. Pak ... Pak ... Pak Ken!" panggil Arif. Ia yang semula memucat setelah diseret paksa oleh Rangga, kini tersenyum licik, penuh kemenangan.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Ken dengan ekspresi tidak suka. "Sedang apa dia ke sini, Ra?" Ken kini bertanya padaku.
"Harusnya bapak nanya sama orang ini. Bapak ingat dia, kan?" tanya Arif, sambil menunjuk Rangga.
Kini tatapan Ken tertuju pada Rangga. Sesaat ia diam sambil mengerutkan keningnya, mungkin ia tengah mencoba mengingat Rangga. Sedangkan aku berharap Ken tak ingat apa-apa, sayangnya harapanku tidak terkabul, ia sepertinya ingat, dengan ekspresi dan telunjuknya.
"Iya." jawab Rangga.
"Sudah lama saya ingin bertemu. Akhirnya ketemu juga di sini." kata Ken.
"Nah, rasakan lo. Akhirnya kena getahnya juga!" seru Arif dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu, ngapain ke sini?" Ken bertanya pada Arif. "Sudah saya ingatkan untuk tidak dekat-dekat apalagi mengganggu calon istri saya. Kenapa masih muncul di sekitar dia? Kamu nggak mengindahkan peringatan saya ya?" Ken terlihat geram.
"Bukan begitu, pak." Arif mengelak.
"Bukan apa? Kehadiran kamu di sini sudah membuktikan kalau kamu tidak mendengarkan perintah saya. Besok, kamu tanda tangani surat pemecatan!" kata Ken dengan tegas.
"Pak, jangan begitu dong pak. Saya sudah digugat oleh Monika. Sebentar lagi kami akan diusir dari rumahnya. Dengan apa saya memberi makan kedua orang tua saya. Mereka sudah tua, pak. Tolonglah pak." pinta Arif.
"Saya tidak akan memelihara ular dalam hidup saya. Apalagi kalau dia sudah sangat menggangu orang yang sangat saya cintai!" ungkap Ken, membuatku jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Pak ... asal bapak tahu. Rara, calon istri yang bapak bangga-banggakan itu, sudah berani berhubungan dengan lelaki lain. Dia ini orangnya. Saya hanya membantu bapak untuk mengungkapkan perselingkuhan Rara.
Itu juga pak yang jadi alasan saya membatalkan pernikahan dengannya sebab saya yakin Rara bukan perempuan baik-baik!" ungkap Arif dengan penuh percaya diri.
"Astagfirullah!" aku langsung meradang, tega-teganya dia menuduhku seperti itu. Sudah jelas Arif lah yang main belakang, kenapa sekarang malah menunjukku? Dia benar-benar berbisa!
"Sudah tuduhannya?" Rangga tak tinggal diam, ia menarik kerah baju Arif.
"Maaf bro, ini urusan saya. Rara calon istri saya, biar saya yang menyelesaikan parasit ini." Ken menarik lengan Arif dengan kuat. "Kamu tahu, saya ini atlit karate, sekali banting, bisa remuk semua tulang-tulang kamu. Jadi sebaiknya cabut dari pada kamu saya habisi."
"Pak, sungguh saya hanya ingin membantu bapak!" Arif memelas.
"Membantu apa? Kamu sudah menuduh Rara yang bukan-bukan. Kamu pikir saya lebih percaya kamu ketimbang Rara? Dia perempuan baik-baik, tidak akan melakukan hal yang dikarang agama. Saya sangat percaya padanya!" ungkap Ken.
"Tapi saya punya buktinya, pak!" Arif masih tidak mau menyerah.
"Simpan saja bukti-bukti kamu itu, tak akan mampan bagi saya!" kata Ken lagi. "Saya tahu, itu adalah Rangga, adiknya narasumber Rara. Saya yang mengantarkannya, jadi jangan sembarangan tuduh!"
"Ahhhh, sial!" Arif mengumpat. Lalu ia cepat-cepat berlalu dari hadapan kami sebab khawatir diamuk secara bersamaan oleh Ken dan Rangga
Kini hanya ada kami bertiga. Aku, Ken dan Rangga. Sesaat kami saling diam, lalu Rangga pamit, tentunya setelah menjabat tangan Ken.
"Saya yakin, kamu lelaki baik-baik. Tidak akan mengganggu calon istri orang." ungkap Ken pada Rangga.
"Hahaha, insyaAllah enggak. Tetapi kalau anda membuat Rara menangis di jalan raya, mungkin saya akan berpikir untuk merebutnya dari anda sebab saya paling tidak suka jika ada perempuan disakiti!" ucap Rangga dengan tegas.
"Kalau begitu kamu harus cari calon lain sebab itu tak akan terjadi. Saya pastikan Rara akan bahagia di sisi saya. Iya kan calon istri?" Ken melirik ke arahku.
Apa-apaan ini? Kenapa mereka mengadakan kesepakatan tentangku di hadapanku? Tetapi aku hanya bisa memaksakan senyum sebab Rangga pamit pulang.
"Salam pada Tante ya Ra?" kata Rangga. Lalu ia berlalu meninggalkan kami.
"Ingat Ra, kamu punya hutang menjelaskan ini semua padaku!" bisik Ken dengan nada mengintimidasi. Habislah aku!
__ADS_1