GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
80. Berdebat Dengan Elsa


__ADS_3

Dua orang gadis remaja yang usianya lebih muda dariku sedang menunggu di ruang tamu. Ialah Elsa dan Qiya. Elsa adalah anak dari pernikahan terdahulu Tante Wira, usianya selisih satu tahunan dibawahku, sementara Qiya anak kandung papa dan Tante Wira.


Ku tak menyangka mereka akan datang ke rumah kami. Tidak ada kabar juga sebelumnya dari papa ataupun Tante Wira. Tetapi kedatangan mereka cukup membuatku risih. Sebab aku sendiri masih kesal dengan apa yang dilakukan oleh papa dan istri barunya pada mama dan Ken secara diam-diam di belakangku.


"Kok nggak ngabarin dulu?" tanyaku, sambil memaksakan senyum. Mungkin karena aku merasa tidak nyaman sebab sejak awal datang, Elsa terus mempertanyakan keberadaan Ken.


"Kata bunda, palingan kak Rara ada di rumah." jawab Qiya yang masih duduk di bangku SMP.


"Oh, begitu." aku menganggukkan kepala.


"Mas Ken kok nggak turun-turun, kak?" tanya Elsa, sambil terus melirik ke dalam.


"Lagi kerja, nggak bakalan keluar. Memang kenapa?" tanyaku.


"Itu, bunda suruh aku nanyain, lowongannya sudah ada belum?" dia bertanya dengan entengnya.


"Enggak ada." jawabku. "Lagian kalau ada, biasanya diumumkan di websitenya. Kamu lihat saja."


"Yaelah kak, untuk apa punya orang dalam kalau harus mengandalkan tes." ia terkekeh, membuatku makin kesal.


"Kalau di perusahaan mas Ken, nggak ada yang namanya jalur khusus. Mau masuk sana harus tes. Sama kayak aku." kataku.


"Kak Rara kan masuk sana sebelum kenal mas Ken."


"Saudaranya yang lain juga pada di tes semua."


"Aku tahu kok, bunda sudah cerita." jawabnya.


"Terus apa lagi yang diceritakan Tante Wira?" aku jadi penasaran, sebenarnya berharap ia mengungkit tentang apa yang sudah diminta papa pada Ken.


"Ya banyak. Salah satunya tentang saudara sepupunya mas Ken." Elsa berbisik. "Aku nyesal lho kak nggak hadir di acara nikahan kakak. Secara saudara-saudaranya mas Ken pasti datang semuanya kan. Mereka pasti cakep-cakep dan kaya. Iya kan, kak?"

__ADS_1


Aku langsung mengerutkan kening, apalagi saat Elsa menunjukkan salah satu foto sepupunya Ken. Brian, saudara Ken dari garis ayahnya.


"Dapat darimana fotonya?" tanyaku.


"Di medsosnya. Aku kan stalking ig mas Ken dan saudaranya yang masih single dan pastinya cakep-cakep." tanpa rasa malu Elsa mengakui apa yang sudah dilakukannya, bahkan ia menyimpan beberapa foto mereka di dalam hp. Elsa menunjukkan padaku.


"Ya ampun!" aku geleng-geleng kepala. "Kamu nggak malu, bagaimana kalau mas Ken tahu?"


"Ya nggak apa-apa, toh aku nggak ngerebut suami orang. Tadi kakak jutek pasti karena takut aku mau ngerebut mas Ken? Tenang kak, aku nggak suka suami orang kok. Tapi kalau saudaranya yang single, boleh dong." ia tertawa genit.


Elsa masih belum menyerah. Ia terus meminta bahkan mulai memaksa agar aku memberikan nomor telepon Brian. Sesuatu hal yang menurutku cukup lancang. Meskipun aku sudah menjadi istri Ken yang berarti adalah ipar sepupunya, tapi tetap saja ada privasinya yang harus aku jaga, apalagi yang aku tahu Brian sudah punya calon. Saat pesta pernikahan kamu, ia datang bersama calonnya.


"Brian tinggal di Australia." kataku.


"Iya, aku tahu kok." Jawab Elsa.


"Terus?"


"Hah, ngajakin kamu jalan-jalan ke Australia? Kamu kira ke sana murah? Harus pakai visa, ongkos pesawatnya juga nggak murah."


"Yaelah kak, berapasih harganya. Lagian kata bunda, mas Ken kan anak orang kaya, ayahnya pengusaha sukses dan sekarang mas Ken adalah direktur R grup. Iya, kan?"


"Bukan, mas Ken hanya direktur di bagian penerbitan dan majalah."


"Yah sama saja kak, toh cepat atau lambat mas Ken juga bakalan jadi direktur. Apalagi dia anak laki-laki satu-satunya, kan?"


"Mas Ken bukan tipe orang yang mau nerima saja dari orang tuanya. Ia punya passion sendiri dan juga suka berjuang. Kalau mau apa-apa nggak asal minta."


"Ya udah deh, terserah kak Rara saja bagaimana caranya agar aku bisa ketemu sama Brian. Lagian ya kak, kalau aku jadi sama Brian, kakak juga bakal kecipratan senangnya. Kita bisa jadi satu keluarga besar."


Mendengar kata-kata Elsa, sebenarnya aku sudah sangat kesal. Dia terlalu percaya diri. Meskipun aku menikah dengan Ken, aku tak akan berani untuk mengatur-atur agar sepupunya mau dengan adik tiri ku.

__ADS_1


"Saya, lebih baik kamu nggak berharap sama Brian, yang aku tahu dia itu sudah punya calon istri. Mungkin dalam waktu dekat akan menikah." kataku.


"Ya sudah, enggak apa-apa kak. Kan masih banyak laki-laki tampan yang juga tajir di sekeliling kak Rara. Sebagai kakak, kak Rara wajib bantuin aku supaya mendapatkan jodoh yang kaya dan setampan mas Ken!" kata Elsa, masih dengan rasa percaya dirinya.


"Hah? Kamu itu nggak ngerti-ngerti juga ya? Kamu kira aku ngoleksi nama-nama cowok-cowok kaya? Ya nggaklah. Aku nggak bisa bergaul sembarangan Sa."


"Duh kak Rara ini kenapa begitu pelit sih. Oh, aku tahu, kakak takut tersaingi sama aku, kan?"


"Astagfirullah, nggak sama sekali. Aku nggak sepicik itu. Nggak ngaruh sama sekali di hidupku, kamu dapat jodoh yang tampan, kaya atau selebriti sekalipun."


"Hihihi, kak Rara ini sensian ya. Ngomong-ngomong, boleh dong kakak bagi resep supaya dapatin mas Ken? Peletnya apaan, kak?"


"Astagfirullah, Elsa, kamu kalau bicara hati-hati ya!" aku mulai kesal dengan sikapnya, apalagi tuduhan terakhirnya tadi. Bagaimana mungkin dia mengatakan aku menggunakan pelet untuk mendapatkan Ken, padahal hal-hal seperti itu jauh dari hidupku. Bahkan aku sama sekali tidak paham soal pelet-peletan.


"Kak Rara, aku cuma bercanda."


"Kalau sama aku, nggak boleh bercanda seperti itu. Aku nggak suka."


"Iya iya kak Rara. Terus bagaimana nih soal pekerjaan aku? Pekan depan aku udah berhenti lho, kak."


"Kan sudah aku katakan, kalau kamu mau kerja di perusahaan mas Ken, lihat saja infonya di website, kalau ada lowongan pasti diumumin di sana, kalau nggak ada ya sudah!" entah mengapa, rasanya tidak sabar menghadapinya yang masih saja kecentilan dan kadang ngotot terhadap permintaannya.


Kadang kita di kelilingi oleh orang-orang yang berubah jadi parasit untuk hidup kita. Mama dan Dinda yang benar-benar dekat denganku saja tak berani meminta apapun, tetapi dia yang baru bertemu kembali denganku setelah belasan tahun kini malah berani.


Tetapi aku sudah memutuskan bersikap tegas. Menolak saat ia meminta nomor Brian, juga lowongan pekerjaan.


Mungkin karena sikapku yang tidak terlalu bersahabat membuat Elsa memutuskan untuk pamit pulang. Aku tak menahan kepulangan mereka. Tidak membekali apapun juga meski Elsa beberapa kali secara langsung maupun tidak langsung menyiratkan bahwa uangnya terbatas untuk pulang.


Lagi-lagi aku tidak menggubris Elsa, membiarkannya pulang tanpa menahan ataupun memberikan tambahan uang saku. Ia sudah dewasa, bahkan sudah bekerja, aku merasa ia sudah bisa mengandalkan diri sendiri.


Lagipula saat ia memutuskan datang ke sini, aku sangat yakin kalau Tante Wira juga sudah membekalinya dengan uang yang cukup.

__ADS_1


__ADS_2