
Kami tak pernah menyangka, tiba-tiba Arif berdiri dari duduknya, lalu menjatuhkan badannya tepat di hadapan Mama. Ia berlutut dengan raut wajah memelas.
"Tante, saya mohon, tolong maafkan saya!" pinta Arif.
"Lho, apa ini. Enggak perlu berlutut segala." Mama yang semula marah, langsung berubah tidak enak hati. Mama berusaha meminta Arif agar segera bangkit, tetapi lelaki itu tidak mau, ia masih saja berlutut. Sehingga membuat Mama bingung, mau ikutan berlutut tapi kutahan.
"Salah saya sudah begitu banyak pada Tante dan Rara. Saya benar-benar menyesal Tante. Mohon maafkan saya!" pinta Arif. "Rasanya saya sudah mendapatkan karmanya atas kejahatan saya."
"I ... iya. Tapi berdiri dulu." Mama melirik padaku dan Dinda, meminta bantuan lewat isyarat agar Arif mau berdiri kembali.
Aku dan Dinda memilih untuk menonton saja. Melihat, sejauh mana Arif bertindak. Sementara Mama mulai terbawa suasana, dengan mudahnya tersentuh oleh rayuan Arif.
"Ya ampun Rif, Rif. Kemarin-kemarin kamu sangar sekali bicara padaku, sekarang kenapa jadi lembek begini? Kamu kira aku lupa atas apa yang kamu lakukan?" aku berbisik dalam hati.
"Maafkan saya Tante, sungguh saya minta maaf." Arif masih memelas. Ia sampai bersujud berulang kali hingga mama makin tidak nyaman dibuatnya. Aku akui, Arif memang total sekali untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Iya nak Arif, Tante sudah memaafkan nak Arif." kata maaf itu akhirnya terlepas dari mulutnya mama.
"Benarkah Tante?" tanya Arif dengan mata masih menangis.
"Iya, tapi bangkit dulu sekarang." pinta Mama.
"Tante, sebenarnya saya mau mengaku, saya meninggalkan Rara karena terpaksa." kata Arif.
"Terpaksa bagaimana nak Arif?" tanya mama.
__ADS_1
"Tante tahu kan, keadaan keluarga saya pas-pasan. Bahkan kedua orang tua saya bergantung pada saya. Untuk segala kebutuhan mereka meminta pada saya. Sementara saya hanyalah seorang karyawan biasa yang bahkan pendapatannya jauh dari Rara.
Saya tidak tega memberatkan Rara Tante. Makanya saya terpaksa meninggalkan Rara. Saya memilih menikah dengan Monika sebab ia berjanji akan memberi saya uang, rencana saya jika sudah mendapatkan uang tersebut untuk melamar Rara kembali." ungkap Arif hingga membuat aku dan Dinda saling pandang, sementara Mama mulai merasa janggal, hingga mengerutkan keningnya.
Drama apalagi ini Arif? Aku masih sabar nyimak, lho. Aku hanya bisa membatin.
Sekarang aku baru menyadari betapa pintarnya Arif memainkan peran. Baru beberapa bulan ia dengan sinisnya mengatakan bahwa tidak memilih aku sebab ia tergoda dengan Monika yang secara fisik lebih menarik, sekarang malah menyatakan bahwa melakukan ini semua untukku. Ia ingin melamarku? Rasanya benar-benar ingin mencak-mencak, tapi aku tahan sebab masih ingin menyimak drama lelaki yang berhasil memerankan Ikhwan palsu saat menjalani masa taaruf denganku.
"Maksud nak Arif apa?" tanya Mama.
"Tante, jika Tante benar-benar memaafkan saya. Bisakah Tante merestui kembali hubungan saya dengan Rara? Saya janji Tante, akan membahagiakan putri Tante." Pinta Arif sambil menautkan kedua tangan di depan dada.
"Lho, nak Arif kan sudah menikah. Masa masih ngincar Rara juga?"
"Tante tenang saja, demi Rara saya akan ceraikan istri saya."
"Jangan nak Arif. Saya tidak mau kalau anak saya menjadi penyebab kerusakan rumah tangga orang lain!" kata mama dengan tegas.
"Enggak apa-apa Tante. Bagi saya Rara memang lebih berharga dibanding istri saya." kata Arif lagi.
"Nak Arif,Tante sudah memaafkan nak Arif, tapi Tante minta maaf, tidak bisa lagi menerima nak Arif sebagai bagian keluarga kami."
"Tapi ...." tiba-tiba Arif menangis. Lama-lama sedu sedannya berubah jadi raungan yang membuat aku dan Dinda saling cibir.
"Air mata buaya!" kata-kata itu keluar dari mulut Dinda. Ia geleng-geleng kepala. "Mas Arif itu selain nggak punya hati juga nggak punya malu, ya!" cetusnya.
__ADS_1
"Sudah nak Arif, jangan begini. Nanti tetangga pada dengar. Tante enggak enak. Sebaiknya sekarang nak Arif pulang saja. Kasihan anak istrinya. Tante sudah tidak marah." kata mama, sambil memberikan isyarat agar Arif bangkit dan pergi.
Tetapi bukannya menurut, Arif makin menjadi-jadi. Sehingga kuputuskan untuk turun tangan sebab mama sudah memperlihatkan sikap tidak nyaman. Sementara Dinda sudah gelisah, ia pasti tidak sabar memberi Arif pelajaran.
"Arif, nggak usah berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya. Kamu kan sudah digugat Monika, makanya berani datang ke sini sebab sebentar lagi tidak punya tempat berteduh, kan?
Rif, harusnya kamu punya malu. Jangan seperti benalu yang kemana-mana nempel lalu mengusap inangnya." kataku. "Lagipula kamu lupa bahwa aku dan Ken akan segera menikah. Kamu nggak mau kan aku memberitahu Ken tentang kejadian hari ini sehingga kamu bisa dipecat dari perusahaan. Aku tahu kok Rif, kamu sudah dua kali dapat teguran. Kalau sekali lagi kami berulah, aku sangat yakin kamu akan dipecat. Jadi sebelum itu semua terjadi, sebaiknya jangan dekat-dekat denganku lagi. Kamu faham, kan?"
"Rara, kamu bicara apa? Sungguh Ra, dari dulu cuma kamu gadis yang aku cintai? Aku juga tahu bahwa kamu masih mencintai aku? Ayolah Ra, mengakulah." kata Arif.
"Nak Arif, kalau masalah perasaan Rara, seratus persen Tante yakin sekali kalau Rara tidak lagi suka sama nak Arif. Putri Tante sudah lama melupakan nak Arif. Jadi sebelum kami semua marah, tolong ikuti perkataan Rara, silakan pergi dari rumah ini." kata mama lagi.
"Tapi Tante?"
"Sudah nak Arif. Kalau nak Arif tetap memaksakan, Tante panggil satpam lho."
Ancaman mama membuat nyali Arif ciut. Ia bangkit, lalu pergi dari rumah. Kami bertiga kini bisa bernafas dengan lega.
"Kak Rara, kok bisa sih suka sama laki-laki kayak gitu?" tanya Dinda.
"Namanya tertipu!" jawabku, asal-asalan. Teringat saat kak Gita menawarkan proposal taaruf untuk kesekian kalinya. Karena merasa tidak enak, akhirnya aku menerima. Dengan harapan saat perkenalan nanti bisa menggagalkan sebab aku sendiri saat itu belum berniat untuk menikah karena masih takut dengan kegagalan pernikahan mama dan papa
Ternyata Arif begitu pintar mengambil hati Mama. Dengan rangkaian kata-kata indah, ia meyakinkan bahwa ialah calon suami terbaik untukku, sehingga akhirnya akupun luluh.
"Tertipu tapi sampai jatuh cinta ya."
__ADS_1
"Enak saja!" aku geleng-geleng kepala. "Bukannya kamu juga tertipu, Din? Sampai mau belajar foto juga kan kalau benar-benar jadi adik iparnya."
"Hiiiii." kata kami berdua, diikuti gelak tawa sebab merasa begitu ceroboh bisa suka pada lelaki seperti Arif.