GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
46. Bertemu


__ADS_3

"Ke ... kena ... pa, mbak Rara menyuruh mas Ken ke sini?" tanya Bianca dengan tergagap sebab ia tak sanggup jika harus dipertemukan lagi. Kejadian kemarin di acara ulang tahun Bianca sudah membuat gadis itu malu. Ia sebenarnya sudah faham bahwa Ken tak memilihnya, Bianca melakukan itu semua karena ia tak terima bahwa dirinya dikalahkan oleh seorang Rara yang sangat biasa dimatanya. "Kenapa mbak Rara?"


"Supaya semuanya jelas Bi. Aku nggak mau kamu salah faham lagi, menuduhku sebagai tukang tikung. Aku tidak seperti itu, Bi. Aku pernah merasakan ditikung orang lain makanya nggak akan mau melakukan hal yang sama pada orang lain!" kataku.


"Ta ... tapi enggak perlu juga manggil mas Ken. Atau sebenarnya mbak Rara memang ingin mempermalukan aku lagi? Apa yang kemarin belum cukup, mbak?"


"Nggak ada niatan seperti itu sama sekali, Bi. Aku sudah bicara baik-baik sebelumnya, tapi kamu tetap keras kepala. Makanya lebih baik biar Ken yang menjelaskan sendiri. Sebab rasanya percuma jika aku yang menjelaskan. Ujung-ujungnya aku lagi yang salah."


"Oh, aku mengerti, mbak memang ingin mencari masalah denganku, kan? Mbak merasa lebih baik dari aku?"


"Enggak Bi,"


"Ra, ada apa?" panggilan Ken menghentikan pembicaraan kami.


"Ken, aku sudah jelaskan pada Bianca apa yang sebenarnya terjadi. Bisa kamu bantu jelaskan lagi padanya tentang hubungan kita?" aku sendiri sebenarnya tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Hubungan kita? Oh Tuhan, semoga saja Ken tidak benar-benar mendengarnya.


"Bianca, saya sudah melamar Rara, kami sedang menjalani masa penjajakan. Sesegera mungkin kami akan menikah. Saya yang mencinta Rara terlebih dahulu, saya juga yang memintanya menjadi istri saya. Jadi mulai sekarang, tolong jangan ganggu atau melakukan hal-hal yang membuatnya kesal apalagi sedih. Saya paling tidak suka jika perempuan saya diganggu atau disakiti orang lain. Saya pasti akan melakukan apapun untuk membuatnya nyaman di sisi saya." ungkap Ken, sehingga membuat Bianca tak bisa berkutik. "Oh ya, satu lagi, kalau kamu masih mau bekerja di sini, tolong hormati hubungan saya dan Rara. Perlakukan Rara layak ya calon istri saya sebab setelah kami menikah, perusahaan inipun akan jadi miliknya. Tetapi kalau kamu masih nekat mengganggunya, maka segera angkat kaki dari perusahaan ini. Saya juga akan mengirimkan surat kepada perusahaan-perusahaan rekanan saya agar kamu tidak bisa bekerja di sana. Kamu tidak mau kan itu semua terjadi? Jadi pikir-pikir sebaik mungkin apapun yang ingin kamu katakan pada Rara. Jangan sampai ia sakit hati. Paham!"


"Iya pak, saya paham." Bianca menunduk lesu, lalu ia berlalu meninggalkan kami berdua.


Aku menatap punggung gadis itu hingga ia hilang dari pandangan. Pasti ia begitu sedih ditolak mentah-mentah oleh Ken, apalagi sampai diancam. Pastilah bukan perkara yang membuatnya nyaman.


"Ken, kamu nggak perlu melakukan itu semua juga!" aku langsung protes atas sikap Ken barusan pada Bianca.

__ADS_1


"Itu belum seberapa, kalau dia berani macam-macam lagu, akan aku depak dia dari perusahaan ini!" kata Ken.


"Hah? Janganlah. Aku juga nggak akan sampai hati membuatnya kehilangan pekerjaan."


"Pilihan ada di dia sendiri. Kalau tidak mau dipecat, ya harusnya dia tidak mencari gara-gara dengan kamu."


"Tapi ...."


"Nggak ada tapi-tapi, Ra. Aku akan melakukan apapun agar membuat kamu nyaman di sisiku!"


"Iya ... iya. Terserah kamu saja. Orang kaya seperti kamu mana tahu rasanya kehilangan pekerjaan." aku berlalu dengan raut wajah ditekuk


***


Sampai di rumah, ingin rasanya mandi air hangat, makan masakan Mama, lalu segera tidur agar besok pagi kembali fresh ketika bekerja, apalagi kan di kantor ada Ken. Tiba-tiba aku mengiyakan pelan kepala sendiri sebab merasa sikapku mulai aneh. Kenapa malah setiap ingat Ken jadi senyum-senyum sendiri. Ya Allah, virus merah jambu ini benar-benar membuatku asing dengan diri sendiri.


"Ma, Rara pulang!" kataku, sambil membuka pintu yang tidak dikunci. Baru hendak mengunci kembali pintu rumah, tiba-tiba terasa seseorang menahannya. "Arif!" seruku. "Mau apa kamu di sini?" aku benar-benar tidak percaya, ia berani datang ke sini. Tapi untuk apa? Berarti tadi aku tidak salah lihat, saat hendak masuk gang, aku melihat seseorang yang mirip Arif, tapi aku abaikan sebab rasanya tidak mungkin ia berani ke sini.


Sebelumnya Arif memang pernah ke sini, tetapi sejak pernikahan. Kamu batal, ia tak berani lagi datang atau sekedar berkabar dengan mama.


"Mau apa kamu ke sini?" aku mengulang kembali pertanyaan yang tak dijawabnya.


"Ra, aku mau bicara sama mama kamu." jawab Arif, sambil menahan pintu agar tidak kututup dengan sebelah tangannya.

__ADS_1


"Enggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sekarang pergilah!"


"Enggak Ra, aku mau bicara sama Tante."


"Sudah kukatakan tidak ada yang perlu dibicarakan. Kamu jangan buat aku kesal, Rif. Kalau kamu maksa, aku bisa panggil pak RT supaya kamu disisir dari sini. Mau?"


"Enggak Ra. Aku datang baik-baik. Bukan mau cari masalah."


"Datang baik-baik? Ya ampun, Rif. Kalau orang datang baik-baik nggak akan nahan pintu seperti ini."


"Rara, ada apa? Kok ribut-ribut?" tanya mama dari dalam.


Mama dan Dinda keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Begitu melihat ada Arif di pintu, raut wajah Mama dan Dinda langsung berubah, mereka memperlihatkan ketidak sukaan. Bahkan Dinda siaga untuk menerjang Arif, kalau saja mama tidak melarangnya, mungkin Arif sudah kena tonjok.


Aku, mama dan Dinda sebenarnya sama-sama terkejut dengan kedatangan Arif. Kami benar-benar tidak menyangka bahwa Arif berani datang ke sini. Entah untuk apa tujuannya. Setelah perbuatannya membatalkan pernikahan secara sepihak, ternyata ia masih punya nyali kembali datang ke sini.


"Beri saya waktu untuk bicara Tante." pinta Arif dengan wajah memelas.


"Mama diam, ia masih menatap Arif dengan raut tidak suka. Tetapi karena aku tak berhasil mengusir Arif, akhirnya mama mengizinkannya untuk bicara.


Kini; Arif, aku, maka dan Dinda sudah duduk di ruang tamu. Kami bertiga duduk di kursi panjang menghadap ke Arif yang duduk sendiri sambil menundukkan wajahnya. Mau apa lagi kamu, Rif? Masalah apalagi yang akan kamu buat? Tidakkah kamu lelah memainkan drama ini? Aku yang awalnya sempat memiliki rasa untuknya, kini berubah jadi sangat membencinya.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š

__ADS_1


Dear pembaca yang baik, terimakasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komen agar author semangat menyelesaikan ceritanya sampai ending. Untuk yang sudah like dan komen, terimakasih banyakπŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2