GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
74. Permintaan Tante Wira


__ADS_3

Pertengkaran antara aku dan Dinda tidak bisa dielakkan lagi, ia tetap tidak terima dengan apa yang aku katakan meski aku yakin bahwa aku benar. Sikap seperti itu seperti bukan Dinda. selama tujuh belas tahun kami menjadi saudara, baru sekali ini ia membantah ucapanku. Kami memang pernah beberapa kali selisih paham, tapi tidak sampai saking bantah-bantahan.


Meskipun papa dan mama sudah bercerai, tapi mereka punya aku dan Dinda sehingga komunikasi tidak boleh diputuskan. Meskipun ada mantan suami dan mantan istri, tapi nggak ada yang namanya mantan anak.


"Nggak semua hal tenrang orang lain harus tahu, kak." kata Dinda. Jadi nggak perlu sok dekat dengan siapapun."


"Orang lain? Papa itu ayah kita, Din. Sedangkan Tante Wira adalah ibu tiri kita." ungkapku. "Lagipula apa masalahnya kakak dekat dengannya."


"Ibu tiri? Mungkin ibu tiri kakak, bukan aku!"


"Din, kamu kenapa sih? Kamu benar-benar aneh, Din. Pasti ada sesuatu kan?"


"Harusnya aku yang tanya, kakak kenapa care banget sama papa dan Tante Wira? Oh iya, Dinda ingat, papa dan Tante Wira kan sekarang selalu ada untuk kakak. Semoga saja mereka tulus, ya. Bukan karena ada sesuatu hal sebab aku kasihan sama kakak. Bagaimana pun kita saudara, kak!".


"Astagfirullah Dinda. Kamu kenapa sih? Saat seperti ini kenapa hal-hal yang sepele malah kamu besar-besarkan. Kamu juga berprasangka buruk sama papa dan ibu tiri kita. Pernikahan papa dan Tante Wira kan terjadi setelah mama berpisah, jadi bukan salah Tante Wira juga kalau kedua orang tua kita bercerai."


"Kakak nggak akan ngerti."


"Din, kamu mau kemana?" aku mencoba mencekal lengan Dinda saat ia hendak pergi. "Sebenarnya kamu kenapa? Pasti ada sesuatu yang kakak nggak tahu, kan?".


Dinda menatapku, dari kedua netranya, aku yakin ada sesuatu hal yang ia coba sembunyikan. Tapi apa?


Tidak mungkin Dinda bersikap dingin pada papa dan Tante Wira hanya gara-gara luka di masa lalu yang pernah ditoreh oleh papa dan Tante Wira pada kami saat masih kecil. Aku sangat hafal Dinda, meskipun ia tegas Isa orang-orang yang yang mencoba menyakitinya ataupun anggota keluarga, tapi Dinda bukan anak pendendam. Ketika seseorang yang sudah melakukan kesalahan padanya meminta maaf, maka Dinda pasti akan memaafkannya.


Saat akan menikah, kami sudah berdamai dengan papa dan Tante Wira. Rasanya hal-hal yang sudah berlalu pasti sudah dilupakan oleh Dinda.


"Kalau kamu masih nganggap kakak sebagai kakak kamu, tolong cerita, Din!" pintaku.


Dinda tetap membisu, ia meninggalkan aku dengan seribu tanda tanya yang sungguh-sungguh menyiksaku.


"Ya Tuhan ... Dinda kenapa, sih?" aku jadi menggerutu. "Kenapa dia jadi susah untuk bicara? Apakah benar yang namanya anak perempuan kalau sudah menikah maka akan berasa asing saat kembali ke rumahnya lagi?


***

__ADS_1


Sore harinya, papa dan Tante Wira benar-benar datang. Yang membuatku bertambah heran adalah sikap Dinda yang Kubilai tidak sopan. Saat papa dan Tante Wira masuk ke kamar mama, ia cepat-cepat pergi tanpa menyapa apalagi bersalaman dengan papa dan Tante Wira.


"Apa yang terjadi, Ra?" tanya papa.


"Rara juga nggak tahu, pa. Tadi Dinda ngabarin Rara kalau mama masuk rumah sakit, lalu terjadi seperti ini." kataku, menceritakan apa yang kuketaghui, sementara sumber beritanya menghilang entah kemana.


"Padahal kayanya mbak Rahayu sehat-sehat saja." ungkap Tante Wira.


"Itulah Tante, Rara juga bingung. Selepas pernikahan kami, mama baik-baik saja. Sudah nggak beraktivitas yang berat seperti dulu. Ken sudah menyiapkan orang yang bekerja menghandle toko bunga Mama, untuk pekerjaan rumah juga diupahkan pada pekerja harian. Jadi kayaknya nggak ada penyebab mama bisa porsir tenaga.


Satu-satunya penyebab berarti dari pikiran. Seperti yang dikatakan oleh dokter, tapi entah apa penyebabnya, Rara juga kurang tahu." kataku.


"Namanya orang tua, Ra. Pasti banyak yang dipikirkannya." kata Tante Wira.


"Oh ya nak Ken, mumpung kita bertemu di sini, bagaimana kalau kita ngobrol di luar sebentar." papa mengajak Ken keluar, sehingga tinggal aku dan Tante Wira.


"Jadi sekarang Rara tinggal di mana?" tanya Tante Wira.


"Masih di Jakarta Selatan juga, Tante. Nggak jauh dari rumah orang tua Ken. Palingan cuma sepuluh menitan, masih bisalah ditempuh dengan jalan kaki." aku memberikan alamatku pada Tante Wira agar bisa bersilaturahim nantinya.


"Alhamdulillah Tante. Nanti main-main saja."


"Iya, pasti."


Aku dan Tante Wira melanjutkan perbincangan ringan tentang anak-anak papa dan Tante Wira yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta.


"Tante bingung sama si Elsa itu, Ra." kata


Tante, bercerita tentang saudara tiriku.


"Memang Elsa kenapa, Tante?" tanyaku.


"Sampai sekarang kerjanya belum tetap, Ra. Gajinya juga kecil banget. Padahal dia kan harus mulai mempersiapkan masa depannya. Tante itu selalu saja dibutakan pusing oleh sikapnya."

__ADS_1


"Sabar ya Tante."


"Maunya sih begitu, Ra. Tapi ya namanya orang tua pasti kepikiran juga. Apalagi papa kamu. Kalau sudah membahas Elsa, pasti langsung pusing. Masa gaji sebulan kurang, Tante sama papa sampai harus nombok biaya hidupnya dia. Apalagi Elsa di Jakarta juga ngekos. Tambah lagi kan biayanya. Soalnya kalau berulang dari Bogor ke Jakarta rasanya enggak mungkin. Lama di jalan."


"Memangnya Elsa kerja di bagian apa, Tante?"


"Keuangan, Ra."


"Oh begitu ya."


"Iya, tapi gajinya ngenes sekali. Cuma satu setengah juta. Kecil banget, kan?"


"Ya syukuri saja Tante."


"Kamu bisa bantu Tante nggak Ra?"


"Bantu apa, Tante?"


"Barangkali kamu bisa memasukkan Elsa ke perusahaan nak Ken atau perusahaan keluarganya. Kan banyak tuh, Ra. Siapa tahu cocok untuk Elsa."


"Hm, bagaimana ya Tan, urusan perusahaan, Rara nggak ikut campur."


"Iya Ra, tapi kan kamu bisa ngobrol sama Ken. Kasih masukan sama Ken untuk menerima Elsa. Adik kamu itu sebenarnya berprestasi, tapi ya begitu, belum ketemu perusahaan yang tepat saja. Makanya kamu bantuin dong Ra. Kalau sama Tante nggak apa-apa nggak kasihan, tapi lihat itu papa kamu, Ra, sudah pusing sekali ngelihat adik kamu.


Bayangkan saja, gaji satu juta setengah, boro-boro mau kasih orang tua, untuk biaya hidupnya saja harus kamu tambahi. Apa nggak rekor itu namanya? Sudah lelah fisik, minim finansial juga. Iya kan Ra?"


"Iya Tante."


"Jadi bagaimana? Kamu mau kan Ra?"


"Nanti Rara coba bantu ngomong ya Tante. Barangkali ada lowongan. Kalau ada kan lumayan."


"Iya sih Ra. Tapi usahakan ya Ra, sekalian bujukin."

__ADS_1


"Iya Tante."


__ADS_2