
Arif baru saja hilang dari pandangan kami, tinggal kembali kami berlima. Saat hendak masuk, tiba-tiba papa mengucap istighfar berulang kali.
"Papa kenapa?" tanya Dinda, yang berdiri di samping papa.
"Astagfirullah, Papa banyak dosa sama Rara." kata Papa dengan nada suara bergetar, seperti hendak menangis.
"Dosa apa, Pa?" aku mendekati papa.
"Ra, Papa menyadari, ternyata beban kamu berat sekali. Ya Allah, astagfirullah. Papa benar-benar jahat, ya Ra.
Pasti berat sekali saat rencana pernikahan kamu dengan laki-laki tadi batal. Apalagi dengan karakternya yang menyebalkan seperti itu. Papa yang baru sekali menghadapinya berulah saja sudah kesal sekali. Kalau tidak ingat ini negara hukum, sudah papa pukuli dia. Sedangkan kamu, tiap hari Ra, harus menghadapinya karena kalian satu kantor.
Nak Ken cerita pada papa bagaimana kacaunya kamu kala itu. Laki-laki pecundang itu seenaknya mempermainkan hidup kamu. Sudah meninggalkan, tidak bertanggung jawab sedikitpun atas masalah yang ia tunjukkan, lalu sekarang muncul dengan berbagai ulahnya. Ya Allah ... ingin sekali papa menghajarnya.
Tapi, sekesal-kesalnya papa padanya. Papa lebih kesal pada diri sendiri yang tidak pernah ada untuk kamu kala itu, Ra. Papa sungguh menyesali segala keegoisan dan sikap papa yang terlalu cuek pada kalian.
Harusnya, papa yang berdiri paling depan untuk melindungi kamu. Papa yang menghajarnya ketika ia membatalkan pernikahan sepihak. Papa juga yang memberinya pelajaran sebab berani mengganggu saat kalian sudah berpisah. Tapi papa tidak ada, Ra. Papa benar-benar menyesal. Papa malu, Ra. Papa sangat bersalah sekali. Dosa papa begitu banyak, iya kan Ra?" Papa bicara sambil menahan emosinya. "Juga, harusnya papa menyediakan pundak ini untuk menampung keluh kesah kamu. Papa juga yang harusnya menghapus air mata kamu. Maaf nak, maafkan papa!"
"Pa!" aku tak kuasa mendengar penyesalan papa. Mendengar papa mengatakan itu semua saja rasanya hatiku sudah sangat senang. Segala kesedihan dan masalah di masa lalu dengan papa kini terkikis dengan sedikit perhatian yang papa berikan. "Papa ada saat ini saja Rara sudah senang, Pa. Rara sudah merelakan semua yang telah terjadi sebelumnya. Rara hanya ingin hari ini dan seterusnya papa ada untuk kami. Kita baik-baik lagi, jadi keluarga besar, dengan Tante Wira juga. Begitu saja Rara sudah sangat senang Ra. Rasanya bersyukur sekali!".
Aku memeluk erat papa. Sosok yang sudah lama aku rindukan. Di depan sana, bayangan seorang remaja SMP yang sedang menatap iri saat teman-temannya datang ke sekolah untuk menjemput rapor bersama ayahnya, kini sudah hilang. Juga remaja SMA yang kebingungan saat ada teman lelaki yang jatuh cinta padanya. Sosok papa memang pernah hilang dari masa itu, tapi sekarang papa telah kembali dan semua kesedihan itu sudah dilupakan oleh Rara.
"Ra, maafin Tante juga ya." pinta Tante Wira, iapun memelukku. Begitu juga dengan Dinda.
__ADS_1
"Rara, karena sebentar lagi acaranya dimulai, boleh tidak sekarang kamu siap-siap nak?" kata mama, usai menghapus air matanya.
"Nah iya, jangan sampai kita terlambat. Rara belum ganti pakaian dan berhias." ungkap Tante Wira.
"Iya ma." kataku.
"Cuci muka dulu ya, Ra, supaya matanya tidak merah habis nangis. Setelah itu Tante dandanin kamu." untuk acara saat ini, memang Tante Wira yang akan mendadani ku sesuai permintaan mama dan juga permintaan Tante Wira sendiri. Tante Wira memang jago urusan dandan sebab ia adalah seorang perias untuk kalangan atas. "Tante akan bikin kamu cantik sehingga Ken akan pangling nantinya."
"Penasaran ... kira-kira kak Rara bakalan seperti apa, ya?" celoteh Dinda.
"InsyaAllah bakalan cantik. Mama percaya Tante Wira bisa merubah Rara jadi manglingin." tutur mama.
"Kita lihat nanti hasilnya ya. Rara sebenarnya cantik, semua serba imut-imut. Hanya karena tidak mau dandan saja. Setelah ini Tante akan ajari Rara caranya bersolek. Flawles saja supaya tidak mencolok dari biasanya." tambah Tante Wira.
Kini aku sudah berada di depan meja rias. Tante Wira bekerja dengan cepat. Menyapu beberapa riasan ke wajahku. Entah apa-apa saja namanya. Aku sendiri belum tahu. Tapi ketika lapisan demi lapisan menyentuh wajah, aku merasa berubah. Dari itik buruk rupa, jadi angsa yang cantik.
Selesai!" teriak Tante Wira sambil tersenyum bangga melihat hasil kerjanya.
"Ini Rara?" aku membuka kedua mata yang sejak tadi sengaja kupejamkan sebab rasanya malah ngantuk saat Tante memoleh wajahku. "Hah?" aku terperanjat melihat bayangan yang memantul dari kaca. Itu Rara, Tante?" tanyaku.
"Iya dong Rara, itu kamu. Tuh kan, seperti yang Tante katakan, kamu itu cantik. Hanya saja mungkin karena kami benar-benar enggak makai apapun di wajah makanya kelihatan agak lusuh. Maaf ya sayang, Tante harus jujur. Demi kebaikan kamu!"
"Tidak apa-apa, Tante. Rara senang kok dengan penilaian Tante yang apa adanya."
__ADS_1
"Selesai acara ini, Tante janji akan merubah sedikit penampilan kamu serta mengajarkan bagaimana caranya make up meskipun flawles. Paling tidak kamu harus pakai alas bedak atau tabir Surya, Ra. Supaya wajahnya nggak hitam sebab sebenarnya kulit kamu itu kuning atau cenderung putih. Sayang saja kalau tidak dirawat. Oke!"
"Siap Tante. Terimakasih banyak ya Tante!" aku memeluk erat Tante Wira. Jadi begini rasanya punya ibu tiri? Dahulu, awal ketemu, aku begitu tidak nyaman dengannya sebab ia tak pernah sedikitpun mau bicara dengan kami, bahkan tega membiarkan kami terbangun hingga dini hari karena Tante Wira tidak menyiapkan kamar untuk kami. Tetapi, apapun masalah di masa lalu, aku sudah melupakannya.
"Kak Rara!" Dinda masuk ke kamar, ia yang semula berniat menyampaikan pesan Mama kini malah kaget melihatku. "Ya Allah, ini kak Rara atau bidadari?"
"Halah, mulai lebai deh." aku melempar bantal kursi ke wajahnya.
"Sungguh, kak Rara cantik sekali. Kok kayak artis siapa ya. Cantik banget. Beda dengan biasanya." Tambah Dinda lagi sehingga membuatku terpesona.
"Sudah. Mau apa kamu ke sini, Din?" Tanyaku, sambil mematut diri di depan kaca.
"Mama nyuruh Dinda nyampeiin ke kak Rara, mas Ken sudah jalan atau belum?" kata Dinda.
"Oh ya, ini kakak mau hubungi dulu." dengan cepat aku memencet nomor Ken, mengiriminya pesan.
Satu menit, dua menit hingga sepuluh menit. Tidak ada balasan dari Ken. Kuputuskan untuk menelepon, tetapi sama saja. Aneh sekali, Ken yang biasanya selalu standby dengan Hpnya kini tak ada kabar. Bahkan pada keterangan yang terdapat di layar Hp, tertulis kalau Ken online kemarin, sekitar dua puluh enam jam lalu. Kemana dia?
"Bagaimana kak?" tanya Dinda, mengusik kegalauanku.
"Hah, ya. Ini lagi ditelepon. Mungkin sedang di jalan, makanya enggak bisa dihubungi." kataku, pura-pura tenang meski sebenarnya hatiku deg-degan.
Ken, kamu kemana? Kenapa tiba-tiba menghilang sejak semalam? Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah ini pertanda bahwa Ken tak akan pernah datang pada acara ini?
__ADS_1