
"Nak Ken, ini semua untuk acara lamaran?" Papa yang sudah berpindah di antara kami berdua berbisik pada Ken.
"Iya om. Maaf ya jadi heboh begini. Sejak kemarin keluarga ibu memaksa, soalnya ibu asli Betawi, kalau ayah saya campuran Indonesia Thailand, tapi sudah rasa orang Indonesia asli, untuk masalah bahasa dan pemahaman tentang adat saja malahan ibu saya kalah pengetahuannya." Ken balas berbisik. "Dari dulu ibu dan saudaranya ingin sekali mengadakan acara pernikahan dengan ada Betawi, tapi di keluarga saya satu-satunya anak laki-laki. Jadi mereka baru bisa melampiaskan sekarang."
"Nggak apa-apa nak Ken. Cuma kami kaget saja, kirain yang datang cuma keluarga inti." ungkap papa. "Semoga saja kami bisa menjamu dengan baik. Maklumlah, keluarga kami sederhana, mungkin akan berbeda dengan nak Ken."
"Ini lamaran atau nikahan?" celetuk mbak Gita. "Kalau lamaran seheboh ini, kira-kira nikahan nanti bagaimana ya?"
Kehebohan yang dikhawatirkan Ken ternyata benar juga. Saat rombongan sudah berada di depan rumah kami, tiba-tiba ada suara petasan yang sengaja dibakar oleh rombongan. Aku dan keluarga hanya bisa tercengang-cengang. Tetangga semakin banyak yang keluar, semua orang ingin melihat petasan dan ondel-ondel.
"Tuh kan Ra, untung saja mama nyiapin makanan banyak, kalau enggak bisa malu kita." Kini giliran mama yang berbisik padaku.
"Masa calon besar datang cuma dikasih hidangan tersebut tas."
"Iya ma. Tapi mama nggak risih dengan rombongan yang dibawa Ken."
"Sebenarnya memang agak berlebihan, tapi karena sama-sama senang, mama nggak masalah. Yang mama takutkan cuma mereka enggak berkenan di rumah kita yang sederhana ini." kata mama.
"Iya ya ma. Kayak mau pesta nikahan saja." aku balas berbisik.
"Mungkin karena orang kaya, Ra. Ya sudahlah, maklumi saja. Yang penting kamu nyaman. Kira-kira ibunya bagaimana ya Ra? Baik nggak ya? Mama kok jadi khawatir, Ra. Lihatin mobil-mobil mewah yang berjejer itu semakin membuat nyali mama ciut."
"Mama jangan begitu, Rara jadi ikutan takut nih."
"Jangan Ra, kamu harus PD."
"Bukan hanya Rara, ma. Mama juga. Kalau mama enggak nyaman, Rara juga nggak mau."
"Iya Ra. Kita semua!"
Dua orang utusan langsung menyampaikan maksud kedatangannya, untung saja tidak ada yang membacakan pantun sebab aku dan keluarga tidak terlalu paham dengan acara berbalas pantun, papa dan mama aslinya Jawa Barat yang memang sudah merantau sejak mereka baru menikah.
Setelah papa mempersilakan masuk, kedua orang tua Ken langsung maju. Dengan begitu hangat ibunya Ken memelukku, kami seperti ibu dan anak, tanpa canggung saling rangkul masuk ke dalam.
__ADS_1
Persis seperti yang diceritakan oleh Ken bahwa ibunya adalah perempuan sederhana tetapi sangat bersahaja. Bahkan tanpa sungkan langsung akrab denganku. Penampilannya sangat sederhana, tetapi terlihat anggun dan elegan.
"Ternyata calon menantu ibu sangat cantik sekali. Pantas saja Ken jatuh cinta. Ibu harap, akhlaknya jauh lebih baik dari wajahnya." kata ibunya Ken.
"Tante juga cantik." kataku.
"Panggil ibu saja. insyaAllah sebentar lagi kita akan jadi keluarga." ibunya Ken memegang daguku.
Lagi-lagi aku terkagum-kagum dengan sikap ibunya yang humble, begitu juga dengan kedua kakaknya Ken dan juga saudara-saudaranya yang lain. Tanpa canggung mereka bergabung dengan keluargaku, padahal strata sosial kami berbeda jauh. Mereka semua tampak akrab, tidak seperti orang yang baru kenal.
"Baiklah, izinkan kami menyampaikan maksud dan tujuan datang ke sini." kata salah satu kerabat Ken, menyampaikan maksud mereka ke sini. "Silakan mas Ken, sampaikan apa yang ingin mas Ken katakan pada keluarga ini."
Ken berdiri, ia menghadap ke arahku yang duduk di apit mama dan ibunya. Lalu dengan lantang Ken mengatakan bahwa ia ingin melamarku.
"Rara, kita sudah kenal selama lima bulan terakhir, waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain. Sekarang, izinkan aku untuk melamarmu. Menjadikan kamu sebagai pelabuhan hidupku. Teman dalam mengarungi samudera kehidupan. Menjadi sahabat di dunia hingga ke surga nanti. Ibu untuk anak-anakku. Perempuan yang amat aku cintai. Apakah kamu mau menerimaku, Ra?" tanya Ken.
"Ayo nak, jawab." kata semua orang, saat aku masih bungkam sebab meresapi tiap perkataan Ken barusan.
"Iya, aku mau." jawabku.
"Kalau menikah sekarang, bagaimana?" tanya Ken lagi, secara spontan.
"Ken!" semua orang meneriaki Ken sambil geleng-geleng kepala, sementara Ken nyengir, meskipun ia merasa apa yang diungkapkan barusan serius.
Aku berdiri di hadapan ibunya, Ken. Ia memasukkan sebuah cincin berlian di jari manisku. Cincin yang sangat cantik dan pas di tangan.
Usai acara lamaran, semua orang dipersilakan untuk menikmati hidangan sembari beramah tamah. Sementara aku memilih buru-buru ke kamar untuk menenangkan diri setelah rangkaian acara yang membuatku deg-degan.
"Rara!" seru ketiga sahabatku yang langsung menyusul ke kamar.
"Ya ampun Ra, berlian!" ungkap Aya, sambil menarik tanganku.
"Ra, ini harganya mahal banget lho. Ratusan juga!" tambah Dini.
__ADS_1
"Ih, kenapa jadi kalian yang ngitungin harga cincin tunangan Rara?" Risa geleng-geleng kepala mendengar omongan ketiga temannya.
"Kak Rara, dipanggil mas Ken!" Dinda melongok dari pintu.
"Dih pak Ken, ngapain sih ganggu saja. Kita kan mau ngomongin cincin Rara dulu." tukas Dini.
Di teras rumah, Ken duduk sendiri. Ia tersenyum saat aku datang, tetapi senyumnya sirna saat melihat tiga sahabatku juga mengikuti dari belakang.
"Kok bawa pasukan, sih Ra." cetus Ken.
"Oh pak Ken, jangan begitu dong. Kan belum halal, makanya harus tetap kami kawal!" ungkap Risa.
"Iya deh, lagian juga enggak mau ngapa-ngapain." tukas Ken.
"Setan itu ada dimana-mana, Pak. Kalau berduaan, jangan sampai yang ketiga setan!" kata Risa.
"Itu, tadi matanya kenapa merah?" tanya Ken.
"Oh itu, Rara nangisin pak Ken!" Dini langsung menjawab tanpa diminta.
"Nangisin saya?" Ken mengerutkan keningnya.
"Iya pak. Rara mengira bapak menghilang, soalnya bapak nggak balas wa dan nggak jawab telepon Rara. Ditambah nomor bapak terakhir aktif kemarin. Mungkin karena Rara takut kehilangan bapak!" jelas Dini dengan kesimpulan akhir sesuka hatinya.
"Enak saja. Bukan takut kehilangan, tapi karena aku nggak mau mama kecewa lagi untuk kedua kalinya " Jawabku, sambil menundukkan kepala.
"Astagfirullah, maaf ya Ra. Kamu pasti takut sekali, iya, kan? Aku memang terakhir online kemarin, Ra. Soalnya di rumah pada heboh dengan ide-ide seperti tadi. Keluarga mama ngotot harus ada ondel-ondel, tanjidor, rebana, petasan dan lainnya. Padahal sudah kujelaskan kalau ini baru tahap lamaran.
Aku benar-benar enggak bisa mengangkat Hp, Ra. Ditambah hatiku juga deg-degan. Rasanya panas dingin, enggak sabar pengen cepat-cepat melamar kamu. Jangankan megangi Hp, tidur saja enggak bisa Ra. Enggak ada ngantuk sedikitpun. Rasanya cuma pengen cepat-cepat hari. Tapi sekarang malah pengennya cepat-cepat menikah." ungkap Ken.
"Oalah, jadi gara-gara grogi tho. Sampai-sampai Rara nangis, padahal sudah didandani." ungkap Aya.
"Terus sekarang bagaimana, pak?" tanya Dini.
__ADS_1
"Sekarang deg-degan, nggak sabar pengen nikah." jawab Ken, membuat pipiku merona karena malu.
"Duhhh, pak Ken dan Rara romantis banget, sih. So sweet, jadi pengen cepat-cepat dapat direktur juga." timpal Dini, sehingga membuat kami tertawa. "Pak, kalau ada teman bapak yang juga direktur muda, kenalin ya!" tak lupa ia berpesan, sementara kami geleng-geleng kepala.