GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
39. Gosip Tentang Rara


__ADS_3

Sudah pukul satu dini hari, tetapi mata ini belum juga mau terpejam sebab memikirkan banyak hal. Salah satunya tentang mbak Yuni. Entah mengapa hatiku masih saja sedih memikirkan bagaimana mbak Yuni kedepannya mengingat bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar. Saat kami membawa mbak Yuni ke rumah sakit, terdengar ocehan-ocehan pedas dari mulut orang-orang, apalagi jika nanti mereka tahu bahwa mbak Yuni hamil di luar nikah. Ya Allah .


Lalu tiba-tiba teringat perkataan Arif tadi sore saat kami bertemu di rumah sakit, tentang Monika yang hamil di luar nikah.


Apa benar bahwa itu adalah anak Ken?


Tanganku langsung bergerak cepat menghidupkan Hp. Mencari media sosial Monika, di sana ada foto bayinya yang ditandai oleh salah seorang saudaranya.


Bayi itu berwajah keturunan. Memang belum jelas betul. Tetapi perawakannya rupawan, persis seperti Ken. Hidungnya sama-sama mancung, rambut hitam dan tebal, juga wajah yang lancip.


"Ya Tuhan, apa arti semua ini?" kepalaku berdenyut pelan, segera kumatikan Hp. Entahlah, aku tak berani membayangkan. Bagaimana kalau semua ini adalah akal-akalan Arif, mengingat betapa usilnya ia, termasuk idenya yang licik.


Tapi bagaimana jika bayi itu anak Ken. Yang terakhir menjalin hubungan dengan Monika adalah Ken.


Ughhhh, aku tidak mau dibuat pusing. Tetapi tetap saja kepikiran. Bagaimana ini?


[Ken,] akhirnya hal bodoh itu kulakukan, mengirim pesan ke nomornya.


[Ra, kamu sudah bangun?] Ken membalas cepat. Itu tandanya ia sedang terbangun.


[Kamu sedang apa?]


[Mau salat. Kenapa?]


[Oh, nggak apa-apa.]


[Kamu mau bangunin aku, Ra? Kalau sekarang enggak perlu Ra. Tetaplah jadi Rara yang menjaga pergaulannya. InsyaAllah ada alarm yang membangunkan kok Ra. Tapi kalau sudah menikah, baru aku mau.]


[Enggak, siapa juga yang mau bangunin kamu. Aku saja malah belum tidur.]


[Lho, kenapa Ra?]


Ihhhhhh, kenapa malah jadi saling berkirim pesan. Harusnya aku tanyakan langsung, apakah bayi Monika itu bayinya Ken. Tapi apa Ken separah itu, sekarang saja dia salat malam. Harusnya dia itu baik dong. Saat di kantor pun ia menjaga salatnya. Kalau azan berkumandang langsung lari ke mushalla.


Yallah ... aku benar-benar pusing dibuatnya.


[Ra, kenapa belum tidur? Tidur dulu sana. Atau besok enggak perlu masuk kerja. Kamu butuh istirahat. Aku enggak mau kamu sakit.] pesan baru masuk dari Ken. [Cuma dibaca, tapi enggak dibalas. Kamu kenapa Ra? Kepikiran aku? Sabar ya, makanya kalau diajak nikah jangan undur-undur.]


Ken ... bisa nggak, sikapnya jangan manis seperti itu? Aku juga manusia biasa. Bisa dengan mudah jatuh cinta kalau kamu perhatiannya berlebihan!


Hp langsung kumatikan. Aku tidak mau terus memikirkan dia lagi, sekarang bukan waktunya jatuh cinta, setidaknya sampai aku yakin bahwa bayi itu bukan anak Ken. Kalau ternyata benar, bagaimana? Ya Allah ...


***


"Kak Rara, sudah jam enam. Ayo bangun, salat Subuh!" suara Dinda menggedor pintu kamar.

__ADS_1


Mata ini rasanya masih mengantuk sekali. Entah jam berapa tepatnya aku tertidur, tetapi saat mendengar kata jam enam dan salat Subuh, aku langsung meloncat dari tempat tidur, lalu lari terbirit-birit ke kamar mandi.


"Ya Allah ... maafkan aku!" pintaku berulang-ulang. Bagaimana ini, gara-gara mikirin Ken, semalaman mataku tidak bisa terpejam hingga terlambat bangun dan juga salat Subuh.


Selesai salat, aku segera mandi, lalu keluar kamar untuk sarapan. Di meja makan sudah ada mama dan Dinda yang sedang menikmati segelas susu dan roti bakar.


"Ra, tumben kamu bangun terlambat." kata mama. "Lembur?"


"Enggak ma," jawabku, sambil mengusapkan selai pada roti.


"Terus kenapa?" tanya mama lagi.


"Paling masih mikirin si Arif, ma." celetuk Rara.


"Enak saja. Sudah enggak kok!" aku menjawab jutek.


"Kalau enggak, kenapa kak Rara bisa telat bangunnya?" Dinda memperhatikanku dengan seksama.


"Adadeh, anak kecil mau tahu saja!" kataku. "Ma, Rara berangkat dulu ya, takut terlambat!" aku mencium punggung tangan mama, lalu berlalu dengan mulut masih penuh berisi roti.


Bismillahirrahmanirrahim. Semoga hari ini menyenangkan. Tidak ada gangguan, terutama dari Arif!


Aku mulai menjalankan motor, melaju menuju kantor. Jalanan sudah mulai padat, jadi harus hati-hati. Ketika melewati pos polisi di dekat lampu merah, aku melihat Rangga sedang sibuk mengatur jalan raya. Ia sempat melambaikan tangannya saat kami beradu pandang.


Hebat juga dia, bisa mengenaliku di antara banyaknya pengendara motor lainnya. Tanpa sadar aku langsung tersenyum.


"Selamat pagi Rara!" sapa Arif. "Aku baru dari ruangan Ken lho, eh, pak Ken maksudku!" ia terkekeh. Menyebalkan. Semoga ini bukan pertanda bahwa hatiku akan buruk. "Kamu enggak mau dengar kami membicarakan apa?"


"Enggak!" jawabku, sambil berlalu.


"Rara!" tiba-tiba Anita menghampiri. "Ra, beneran kamu sudah punya calon?"


"Calon apa?"


"Calon suami."


"Enggak."


"Udahlah Ra, ngaku saja. Sudah tersebar kok fotonya."


"Foto apa?"


"Itu, ada di grup media sosial kantor kita. Arif yang memajangnya."


"Apa?"

__ADS_1


Ughhhh, aku melihat ke arah Arif yang tersenyum penuh kemenangan. Benar-benar anak ini, pagi-pagi sudah membuatku kesal. Awas saja kalau ia menyebarkan hal yang tidak-tidak. Benar-benar tidak kapok dia.


"Rara, ya ampun, aku benar-benar senang melihatnya, akhirnya kamu mendapatkan pengganti Arif. Sampai dia legowo begitu."


"Ra, yang ini lumayan juga. Cocoklah dengan kamu. Kalian sama-sama imut. Mukanya juga mirip sekali."


"Ra, biasanya kalau wajahnya mirip, itu tandanya jodoh lho."


"Udah Ra, jangan lama-lama. Segerakan saja ya."


"Ra, aku benar-benar berdoa semoga yang ini enggak gagal lagi seperti sebelumnya. Kamu itu orang baik, pantas dapat yang terbaik juga."


"MasyaAllah Rara, kapan undangannya? Jangan lama-lama lho, Ra."


"Ternyata diam-diam Rara gerak cepat juga. Selamat ya Ra!"


Entah ada berapa banyak teman-teman kantor yang mencegat untuk mengucapkan selamat atas sesuatu hal yang tidak aku mengerti.


Aku segera berlalu menuju ruanganku, tetapi di depan ruang rapat, aku berpapasan dengan Ken. Sikapnya yang biasanya manis sekarang berubah dingin, seperti es di freezer.


"Oh jadi karena itu kamu tidak bisa tidur semalaman?" kata Ken.


"Apa?" aku menatapnya bingung.


"Kamu benar-benar membuat aku marah, Ra!"


"Kamu bicara apa Ken?"


"Ken? Pak Ken!"


"Oh, iya. Pak Ken! Maaf pak, saya lupa karena biasanya bapak tidak suka dipanggil bapak."


"Tolong jaga sikap Ra. Aku adalah pimpinan kamu. Walaupun aku suka sama kamu, bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya. Mengerti!"


"Iya pak Ken! Sekarang aku boleh ke ruanganku?"


"Siapa yang melarang?"


"Ya sudah."


"Ra,"


"Apa?"


"Jam makan siang aku tunggu kamu di parkiran. Kita harus bicara!"

__ADS_1


Apalagi ulahnya Arif sehingga membuat Ken yang biasanya penuh perhatian jadi galak seperti itu. Ya Tuhan ... sampai kapan orang menyebalkan seperti Arif itu akan jadi cobaan dalam hidupku?


__ADS_2