
Jam makan siang. Aku dan Ken sebenarnya sudah punya janji akan makan di luar, tetapi karena Tante Wira menghubungi, mengajak ketemuan di resto dekat kantor, akhirnya aku menerima ajakan Tante Wira.
"Maaf ya mas, aku harus ketemu Tante Wira dulu." kataku, sambil mencium punggung tangannya.
"Perlu aku temani, nggak?" tanya Ken.
"Nggak usah. Aku sendiri saja. Toh tempatnya dekat, jalan kaki nggak sampai lima menit."
"Memang belum selesai juga, Ra?"
"Ya gitu, seperti yang mas baca. Tante tetap ngotot agar aku membuyarkan semuanya. Tapi kan itu nggak kecil, mas. Lagian kalau mas ikut, yang ada Tante Wira malah bertambah drama dengan terus merongrong mas. Jadi mending nggak usah ketemu sajalah dulu."
"Ya sudah, mana yang terbaik menurut kamu saja. Yang penting jangan banyak pikiran. Oke!"
"Ya mas!" aku buru-buru keluar dari kantor menuju resto yang dimaksud karena Tante Wira terus saja mengirim pesan apakah aku sudah jalan atau belum, sudah dimana, masih jauh atau nggak. Pesan yang isinya menunjukkan ketidak sabaran. Padahal dia yang membuta janji dadakan.
Tante Wira memang memberiku waktu berpikir, aku kira masih ada beberapa hari, ternyata ia hanya memberiku waktu semalam. Semuanya harus segera aku putuskan.
Untuk masalah ini, Ken tahu. Aku menceritakan semuanya. Sebab kami sepakat tidak ada rahasia antara aku dan dia. Tetapi Ken tidak ikut campur sebab nominal yang diminta Tante Wira tidaklah kecil. Meskipun Ken seorang direktur, tetapi ia juga masih terbatas. Selama ini Ken bekerja pada ayahnya, apalagi Ken baru saja mengeluarkan uang untuk membelikan papa dan mama ruko.
"Akhirnya kamu datang juga, Ra." sambut Tante Wira. Rupanya ia tidak datang sendiri, tetapi bersama Qiya.
"Kenapa Qiya dibawa Tante? Dia nggak sekolah?" tanyaku.
"Tante suruh libur, soalnya sekolah nagih SPP Qiya yang sudah nunggak enam bulan."
__ADS_1
"Ya Allah ...."
"Begitulah Ra, susahnya hidup kami. Makanya Tante mendesak kamu sebab Tante sendiri juga didesak oleh keadaan. Sejak awal menikah, Tante sudah merasa dibebani oleh papa kamu. Dia hanya bisa menghabiskan tabungan Tante. Bahkan uang dari ayah kandungnya Elsa juga dihabiskan papa kamu untuk usaha barunya yang nggak pernah berhasil.
Tante nggak usah menjabarkan panjang lebar lagi. Garis besarnya sudah Tante ceritakan di pesan yang Tante kirim. Tante mendesak kamu karena pusing, Ra. Terakhir, papa kamu janji, setelah pernikahan kamu dengan Ken maka semua hutangnya akan dilunasi oleh kamu. Papa kamu juga janji kalau kamu yang akan menanggung biaya hidup kami sebab Tante sudah nggak kuat kerja keras.
Tante nggak mungkin meminta Elsa untuk membiayai kami, kan. Bagaimanapun juga, Elsa bukan anak papa kamu. Dia hanya anak tiri. Kamulah yang bertanggung jawab, Ra!".
"Rara nggak tahu harus bicara apa Tante."
"Kamu bantu kami saja, itu sudah cukup."
"Rara akan bantu biaya hidup papa, dua juta sebulan. Bagaimana Tan?"
"Ya sudah, tiga juta. Cukup segitu Tante karena mama saja tidak pernah Rara kasih."
"Ya bedalah, mama kamu kan masih punya rukonya tiga. Pasti lebih dari cukup."
"InsyaAllah tiap tanggal satu akan Rara transfer ke rekening papa, ya Tante."
"Lalu bagaimana dengan hutang papa kamu?"
"Rara belum tahu jalannya, Tan."
"Kan bisa minta sama Ken, Ra."
__ADS_1
"Tan, tolong dipahami juga, Ken baru saja membelikan papa ruko, harganya nggak murah. Dia juga baru menjabat jadi direktur, usahanya belum membuahkan hasil. Apa yang dimiliki Ken selama ini adalah milik orang tuanya. Rara nggak mau meminta sama mas Ken lagi."
"Ya ya ya deh, kalau begitu kenapa nggak minta sama mama kamu saja?"
"Mama? Mama bukan pengusaha kaya, Tan. Pendapatannya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan sekolah Dinda. Tante kira dari jualan bunga hasilnya banyak? Pas-pasan. Hanya karena mama bekerja keras makanya kebutuhan kami terpenuhi dan bisa hidup layak."
"Yah kan mama kamu punya ruko yang dikasih sama Ken. Bisalah dijual atau kalau nggak mau kan bisa surat-suratnya digadaikan ke bank!"
"Astagfirullah Tante. Yang berhutang itu papa dan Tante, kenapa harus mama yang nanggung? Mama kan nggak tahu apa-apa Tan. Apa Tante nggak malu minta sama mama?"
"Ra, yang ngutang itu kan papa kamu, bukan Tante. Lagian kan kamu anaknya papa dan mama kamu. Kalau kamu punya tanggungan harusnya Mama kamu kalau punya hati ya bantuin anaknya lah. Untuk apa punya harta banyak kalau hidup anaknya nggak tenang. Nggak berkah, Ra. Harta itu nggak dibawa mati!"
"Astagfirullah, Tante itu lama-lama nyebelin juga ya. Rara kan sudah katakan, mau yang bikin hutang itu papa ataupun Tante, yang jelas papa dan Tante terikat hubungan pernikahan. Kalau pasangannya berhutang ya dibantu sama pasangannya, bukan sama mantannya. Lagipula Rara yakin kok, papa berhutang sebanyak itu bukan untuk kepentingan papa pribadi, pasti untuk kebutuhan sama-sama keluarga Tante, bukan keluarga mama!
Lagipula ya Tan, harusnya Mama yang nuntut papa, bukan sebaliknya. Kami itu dulu adalah tanggung jawab papa, tapi papa lepas tangan begitu saja setelah menikah dengan Tante. Entah apa penyebabnya.
Rara selama ini nahan-nahan semuanya karena Rara berharap kita benar-benar jadi satu keluarga, tapi Tante malah bersikap seperti ini.
Rara bisa tahan kalau yang Tante serang adalah diri Rara sendiri, tapi nggak kalau yang Tante serang adalah mama. Sedikit banyak kami juga tahu bagaimana gaya hidup Tante yang kelewat glamor, bisa saja kan itulah yang menjadi asal mula kenapa akhirnya papa berani berhutang sebanyak itu."
"Rara, kamu lancang sekali ya. Jangan mentang-mentang sudah kaya raya kamu jadi sombong seperti ini!"
"Rara nggak sombong, Tan. Lagipula nggak ada yang harus Rara sombong kan. Rara cuma nggak terima dengan sikap Tante yang masih ngincar harta mama."
"Siapa yang ngincar harta mama kamu? Nggak ada. Tante kan cuma ngatain agar mama kamu mau berbagi dengan papa kamu. Itu saja. Kok kamu malah jadi nuduh Tante seperti itu? Sakit tahu Ra. Sudahkah, terserah kamu, mau bayar atau nggak hutang papa kamu. Yang jelas Tante sudah memberi tahu. Ingat ya, kalau ada apa-apa sama papa kamu jangan salahi Tante. Sudah, Tante pergi dulu. Jangan lupa tiap tanggal satu transferannya. Jangan sampai telat!" Tante Wira bangkit dari tempat duduknya. "Oh ya, satu lagi, tolong bayarin makanan dan minuman Qiya, dia kan adik kamu juga. Jangan pilih kasih, mentang-mentang bukan dari rahim ibu kamu makanya kamu pilih kasih!" Tante Wira memberikan isyarat pada Qiya agar segera meninggalkan tempat ini. Setelah mereka benar-benar pergi dari hadapanku, aku hanya bisa menarik nafas panjang. Rasanya benar-benar lelah dibuat oleh Tante Wira.
__ADS_1