
"Kok diam?" tanya Ken, setelah mobil yang dikendarainya melaju cukup jauh dari rumah papa.
"Aku sedang berpikir." kataku.
"Tentang apa?"
"Kata-kata terakhir Tante Wira?"
"Sumpah serapahnya?"
"Juga perselingkuhan. Apakah itu benar? Kalau ya, kenapa aku nggak pernah tahu?"
" Istriku sayang, mau dengar satu cerita?" Ken menatapku sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan sebab ia juga harus mengemudi. "Ada seorang perempuan, ia menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tahun pertama pernikahan ia merasa semuanya sempurna, tak ada cacat sedikitpun hingga pujian demi pujian sering diucapnya pada keluarganya tentang suaminya tersebut. Hingga keluarganya menilai bahwa suaminya adalah lelaki yang sangat baik.
Lalu, memasuki tahun kedua, suaminya mulai berubah total. Cuek, kasar dan pemalas. Sikap yang sangat berbeda sebelum mereka punya anak. Bahkan suaminya tidak mau bekerja, terus merongrong istrinya agar memberikan uang untuknya.
Istrinya sebenarnya sudah tidak tahan, tetapi tak tahu harus mengadu pada siapa sebab seluruh keluarganya tahu bahwa suaminya adalah lelaki baik sesuai dengan pengakuan istrinya. Ia takut justru nanti akan dituduh balik bahwa ialah yang tidak beres, apalagi suaminya pandai bersandiwara. Menjadi suami sempurna di hadapan orang-orang tapi sebenarnya kasar dan tidak punya perasaan pada istrinya.
Perasaan ingin menyerah, bahkan hendak bunuh diri sempat singgah apalagi saat ia tahu bahwa suaminya ternyata sudah menduakan sejak awal mereka menikah.
Pasti kamu bertanya, kenapa suaminya mau menikah dengan perempuan itu jika ternyata tak cinta? Jawabnya, sebab lelaki itu adalah parasit yang ingin hidup enak dengan menempel pada inangnya. Begitulah ia, ingin punya uang tanpa kerja keras, makanya mengandalkan istrinya agar bekerja keras memenuhi kebutuhannya dan juga perempuan simpanannya.
Sementara perempuan itu hidup dalam nelangsa. Setiap hari ia merasa tertekan, tapi tak berani bicara sebab ia yakin dunia akan mengadilinya, belum lagi tak ingin anaknya kehilangan kasih sayang seorang ayah.
Segala usaha sudah dilakukan oleh perempuan itu agar bisa lepas. Ia sempat merasa punya harapan ketika akhirnya kembali hamil anak kedua, tetapi ternyata suaminya tetaplah lelaki tak bertanggung jawab yang tidak mencintainya dan hanya mengambil manfaat darinya.
__ADS_1
Ia tak tahu harus melakukan apa lagi selain berdoa. Hingga akhirnya, dalam putus asa, sebelum memutuskan kembali hendak melakukan bunuh diri untuk kedua kalinya dengan mengajak kedua anaknya yang masih kecil, akhirnya semua harta yang dimilikinya disumbangkan, termasuk rumah mereka, tentu saja suaminya murka dan menceraikan. Suaminya menuduh ia gila, tetapi itulah jalannya untuk mendapatkan kebebasan meski akhirnya ia harus kehilangan harta dan juga Keluarga yang ikut-ikutan menuduhnya gila. Bahkan ia hampir dipisahkan dari kedua anaknya.
Perempuan itu tetap tegar, ia berusaha bangkit. Membuktikan bahwa dirinya waras. Perjuangan yang sangat sulit, tapi ia tak menyerah sebab kebebasan baru didapatinya dan masih banyak tantangan ke depannya, salah satunya untuk membuat anak-anaknya tidak membenci ayah mereka.
Yah, begitu baiknya perempuan itu Ra, bahkan meski sudah disakiti bertubi-tubi, ia tetap tak ingin anak-anaknya membenci ayahnya. Sakit itu ia simpan sendiri, ia selalu yakin bahwa kelak kejahatan pasti akan terbuka sendiri tanpa perlu dibukakan, dan hari ini terjadi Ra.
Kamu tak perlu risau dengan sumpah dari papa ataupun Tante Wira. Kamu tidak salah, Ra. Sejak awal yang bersalah adalah papa. Kini, ia sendiri yang membuka aibnya. Mama hanya menceritakan semua ini padaku saat aku mengunjungi mama tanpa sepengetahuan kamu sebab aku perlu yakin bahwa keadaan mama baik-baik saja." Ken meminggirkan mobilnya, lelaki itu menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Tolong kuat dan tegar demi mama. Kamu tahu betapa besar cintanya untuk kamu. Betapa banyak beban yang ia tanggung selama ini. Sekarang mama baru merasakan bahagia, jangan biarkan mendung kesedihan menyelimuti hati Mama lagi." pinta Ken sambil membelai lembut kepalaku
"Mas ...." aku tak bisa untuk tidak menangis. "Kenapa aku tak tahu."
"Sebab mama tak suka anak-anaknya membenci. Mama hanya ingin anak-anaknya penuh cinta. Tapi tidak bodoh, apalagi lemah!"
"Tapi kenapa mama cuma cerita sama mas?"
"Aku merasa mama masih trauma, Ra. Alasan terbesar papa masih berhubungan dengan Tante Wira meski papa sudah menikah dengan mama adalah karena cinta. Sejatinya papa tidak mencintai mama sebab merasa mama tidak secantik Tante Wira. Tapi papa lupa, hati Mama jauh lebih cantik dari rupanya dan Tante Wira tidak punya semua itu."
"Sepertinya begitu. Tapi aku sudah yakinkan bahwa aku memilih kamu sebab kelebihan kamu jauh lebih banyak dan itu bisa menutupi satu kekurangan meski menurutku itu bukan kurangnya, Ra. Kamu itu cantik, istimewa dengan rupa kamu sendiri."
"Mas," aku tak tahu harus bicara apa, hanya bisa memeluk Ken. Beruntungnya aku punya suami sepertinya. "Bisakah kita mampir ke rumah mama?"
"Boleh, kita ke tempat Mama sekarang."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan? Ini kan masih jam kantor?"
"Tidak apa-apa sesekali bolos, aku juga sedang suntuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Pengen makan mie goreng buatan mama." kata Ken sambil memperlihatkan senyumnya.
__ADS_1
***
Kami sampai di rumah mama bertepatan dengan Dinda yang baru sampai di rumah. Ia agak kaget dengan kedatangan kami.
"Ada apa, kak?" tanya Dinda.
"Nggak apa-apa, cuma kangen mama." aku langsung nyelonong masuk, sempat terdengar Ken minta mie goreng pada khadimat baru yang dipekerjakan Ke , sepertinya ia benar-benar lapar.
"Rara?" Mama tampak bingung. "Ada apa?"
"Rara baru dari rumah papa." kataku.
"Ada masalah apa, Ra? Papa dan Tante Wira kenapa lagi?"
"Enggak apa-apa ma, semua sudah dibereskan oleh mas Ken. Rara cuma kangen mama. Boleh Rara peluk mama?"
"Tentu saja, nak." Mama merentangkan tangannya, aku langsung berlabuh di pelukan mama.
"Ma, Rara berharap sesabar mama, meski disakiti tapi tetap bisa memaafkan. Tante sudah mengatakan sendiri kalau ia dan papa berselingkuh saat mama masih menikah."
"Astagfirullah,"
"Pantas sampai sekarang tidak ada satu keluarga mama yang mau dekat dengan kita. Papa memang keterlaluan."
"Cepat atau lambat semuanya akan ketahuan, Ra. Kita hanya perlu bersabar, tapi jangan mau diperalat lagi." kata mama.
__ADS_1
"Kenapa mama bisa sesabar itu?"
"Ra, tidak selamanya orang punya kekuatan untuk membalas. Mama hanya berharap apa yang mama lakukan bisa jadi jalan kebaikan untuk kalian, mereka mungkin sudah membuat Mama menderita, tapi semua pasti ada balasannya. Cepat atau lambat, di dunia atau di akhirat." kata mama, sambil membelai lembut punggungku.