
Pagi ini, ibu kembali mengingatkan aku tentang janji kami tadi malam. Tetapi sebelum berangkat pergi, ibu mengajakku olahraga. Salah satu hal yang tak pernah aku lakukan selepas lulus SMA. Aku ingat betul, hanya berolahraga karena ada jam pelajaran olahraga di sekolah, selebihnya benar-benar tidak pernah berolahraga, meski hanya sekedar jogging sekeliling komplek perumahan.
Ternyata di keluarga Ken, olahraga merupakan salah satu kebiasaan yang selalu mereka lakukan setiap harinya.
Kalau untuk Ken, aku memang sering melihatnya berolah raga ringan tiap pagi sebelum beraktivitas. Sekedar lari sekeliling rumah, treadmill atau sekedar fitness mandiri di rumah. Bahkan Ken punya alat-alatnya yang sampai detik ini aku tak paham nama serta kegunaannya.
Yang membuatku terkejut adalah pengakuan ibunya yang menyatakan selalu rutin olahraga. Pantas saja ibu terlihat segar meskipun usianya sudah memasuki kepala enam.
Sebenarnya Ken juga sudah mengajakku supaya ikut berolahraga saat pekan pertama kami menikah. Tetapi gara-gara aku selalu menolak, akhirnya ia menyerah juga.
"Nak Rara sebaiknya mulai rutin berolahraga. Sekedar jalan pagi mengelilingi rumah, atau kalau malas keluar bisa treadmill, yoga atau senam. Percaya deh, dengan nak Rara rutin berolahraga maka kesehatan nak Rara akan terjaga. Bonusnya, bisa lebih cerah dan tampil awet muda sebab tubuhnua fit." ungkap ibu.
"Iya Bu, Rara akan coba." aku mengiyakan ajakan ibu.
Kami berdua mulai keluar dari rumah. Rencananya mau jogging keliling lapangan yang ada di taman komplek. Tetapi rupanya aku salah perhitungan, sebab lapangannya tidak sekecil yang aku bayangkan.
Baru lari seperempat lapangan saja rasanya kaki sudah pegal. Rasa gatal menjalar di seluruh kaki. Mungkin efek tidak pernah berolahraga sebelumnya, dan saat mulai langsung diporsir tanpa pemanasan sehingga tenagaku langsung terkuras.
Tetapi aku tak bisa mengarah begitu saja, apalagi minta istirahat sebab segan melihat ibu yang masih semangat, bahkan sudah hampir satu keliling lapangan. Dengan semangat empat puluh lima, aku memaksakan diri untuk terus berlalu.
"Huh hah huh hah!" nafasku mulai ngos-ngosan, padahal batu setengah lapangan. Dengan mata yang setengah terpejam sebab begitu lelah, aku melihat ibu masih berlari, memasuki dua putaran. "Nggak, aku nggak boleh kalah. Pokoknya aku harus lari semaksimal mungkin. Ibu nggak boleh melihat aku lemah. Aku harus kuat. Ayo Rara, perlihatkan pada ibu, buat mertuamu terpukau. Meski kamu nggak suka olah raga, tapi kamu bisa lari beberapa putaran seperti ibu!" kataku, memberi semangat pada diri sendiri.
"Nak Rara, masih mau lari?" tanya ibu, sambil menyeimbangi langkahku.
"Hah, iya Bu. Rara juga mau lari tiga putaran seperti ibu." kataku, dengan nafas ngos-ngosan.
"Kalau nggak kuat jangan dipaksa."
"Enggak kok bu. insyaAllah Rara kuat. Rara bisa kok."
"Ya udah kalau begitu. Lanjutkan larinya. Ibu mau menyelesaikan sedikit pekerjaan sebelum kita berangkat shopping."
"Iya Bu."
"Ibu suruh mbak Tati menemani nak Rara ya." ibu memberikan isyarat pada mbak Tati yang duduk di pinggir lapangan untuk menemaniku lari pagi. Ia memang diminta ibu mengikuti kamu dengan mobil.
__ADS_1
"Mbak Rara ternyata kuat juga larinya " Ungkap mbak Tati.
"Iya dong." kataku. "Please mbak, nanti cerita juga sama ibu ya, bagaimana aku semangat banget nyelesaiin lari ini." Pintaku dari dalam hati, meski nggak akan mungkin terdengar oleh mbak Tati.
Sedikit lagi sampai di garis finis putaran pertama. Tetapi semuanya sudah berubah gelap dan aku jatuh ke tanah.
***
Masih gelap. Perlahan, saat mata terbuka, aku melihat bayangan samar-samar. Mbak Tita, ia berada di sampingku.
"Mbak Rara, mbak sudah bangun? Alhamdulillah, saya benar-benar takut mbak kenapa-napa. Mau pulang minta bantuan tapi nggak berani juga meninggalkan mbak sendiri, saya takut mbak kenapa-napa." ungkap mbak Tati. "Mana nggak ada orang yang lewat dari tadi."
"Duh, pusing." aku memegang keningku. "Ada apa mbak, kenapa aku tidur di sini?" tanyaku, sambil berusaha duduk.
"Tadi mbak Rara pingsan."
"Hah, pingsan?"
"Iya. Mbak Rara lupa? Tadi kan mbak Rara lagi lari, lalu tiba-tiba jatuh. Saya langsung ngejar mbak Rara, kemudian berusaha memindahkan mbak ke sini."
"Mbak Rara sakit, ya?"
"Enggak. Aku cuma nggak terbiasa saja lari pagi. Apalagi sampai sejauh ini."
"Oalah. Harusnya mbak Rara ngomong dong, jangan memaksakan diri. Enggak perlu harus menuruti semua yang ibu lakukan. Kalau Keluarga mas Ken kan memang hobinya olahraga. Atau kalau mbak Rara mau olahraga, bisa mulai dari yang ringan dulu, jangan langsung digas. Sehingga saya nggak merasakan seperti ini dua kali."
"Dua kali? Kapan? Aku kan baru sekali ini pingsan."
"Satu kali lagi bukan mbak Rara, tapi mbak Monika."
"Oh."
"Aduh, maaf ya mbak Rara. Saya cuma keingat saja."
"Ya, nggak apa-apa." kataku, sambil berusaha bangkit meski kepala masih berkunang-kunang.
__ADS_1
"Mbak Rara mau kemana?"
"Pulang dong."
"Oh ya sudah."
"Eh, tunggu dulu. Mbak Tati harus janji nggak akan ceritakan kejadian saat aku pingsan pada siapapun, ya!" pintaku. Rasanya malu saja jika ibu ataupun yang lain tahu tentang kejadian barusan.
"Tapi nggak akan ada masalah yang muncul belakangan kan mbak?" mbak Tati tampak ragu-ragu.
"InsyaAllah nggak ada mbak. Tadi aku cuma kelelahan saja, maklum, belum pernah olahraga, ternyata langsung porsir. Makanya langsung drop." aku menjelaskan apa yang tadi kurasakan. "Kalaupun ada masalah nantinya, mbak Tati tenang saja, aku nggak akan membuat mbak Tati dalam masalah."
"Siap mbak Rara. Semoga saja tidak ada masalah ke depannya ya. Sekarang ayo kita pulang mbak, supaya ibu nggak nunggu lama." ajak mbak Tati.
"Iya mbak."
Meski masih lemas, aku segera naik ke mobil dengan dituntun oleh mbak Tati, setelah itu kami meluncur menuju rumah.
Sampai di rumah, ternyata ibu sudah siap berangkat shopping, sementara aku rasanya masih lemas.
"Bagaimana Rara, kita berangkat sekarang ya? Ibu tunggu di mobil." kata ibu, sambil menunjuk mobil. "Mbak Tati, nanti antara kami ya."
"Iya Bu." aku segera masuk ke rumah dengan perasaan harap-harap cemas.
"Mbak Rara, kalau masih lemas sebaiknya ngomong saja sama ibu supaya enggak kenapa-napa nantinya." usul mbak Tati.
"Enggak, aku nggak mau. Biarkan saja. Sekarang siap-siap berangkat. Aku nggak mau membuat ibu kecewa. Kita jalan sekarang mbak."
Buru-buru aku segera ke kamar, mengambil gamis warna krem dengan jilbab warna senada. Lalu segera berganti pakaian.
"Pegel banget." aku cuma bisa mengeluh dalam hati. Hanya mbak Tati yang tahu peristiwa saat aku pingsan tadi.
"Mbak Rara yakin nggak apa-apa?" tanya mbak Tati, saat kami berjalan menuju mobil setelah berganti pakaian.
"Iya, nggak apa-apa." jawabku, sambil berlalu ke depan menemui ibu yang sudah menanti di dalam mobil.
__ADS_1