
Suara itu tak asing di telingaku. Dinda. Benar, itu suaranya. Aku dan Tante Wira yang sedang asyik ngobrol spontan lari keluar. Benar saja, di sana ada; Dinda, papa dan Ken. Mereka bertiga nampak tegang, bahkan Dinda meneteskan air mata. Orang-orang di sekitar melihat ke arah Dinda.
"Din, kenapa?" tanyaku. Sambil mendekati Dinda.
"Dinda pergi sebentar kak." Dinda segera berlalu, ia benar-benar tidak mau menjelaskan apapun padaku.
"Pa, Dinda kenapa?" tanyaku pada papa.
"Itu, si Dinda, kayaknya dia ngambek sama papa." ungkap papa.
"Ngambek kenapa?" tanyaku lagi.
"Entahlah. Papa juga bingung." Papa menggaruk kepalanya.
"Namanya juga ABG, Ra, pasti pengen diperhatikan papanya. Makanya mas, harus sering-sering hubungi Dinda. Iya kan Ra?" cetus Tante Wira.
Sikap Dinda barusan tidak seperti Dinda biasanya. Ia tak pernah semeledak ini sebelumnya, apalagi untuk alasan yang menurutku bukan Dinda banget.
Aku sangat hafal bagaimana adikku. Kalau hanya sekedar permasalahan perhatian, kamu sudah lama kehilangan kasih sayang dan perhatian papa. Dia nggak akan sejarah itu. Apa yang terjadi hari ini semakin membuatku sadar kalau ada sesuatu antara papa dan Dinda. Entah apapun itu, aku harus segera tahu!
***
Mama masih belum juga sadar. Papa dan Tante Wira sudah pamit sejak satu jam lalu. Sementara Dinda masih menghilang. Entah dimana dia. Tadi Ken mengatakan melihat Dinda di mushalla rumah sakit.
"Ken, sebenarnya apa yang papa dan Dinda bicarakan tadi? Kenapa Dibawa sampai histeris seperti itu?" tanyaku pada Ken.
"Aku juga nggak tau, Ra. Saat papa dan Dinda bicara, aku ke kantin membelikan minuman. Begitu aku kembali, Dinda sudah menangis. Kamu lihat kan, aku memegang botol minuman dingin?" jawab Ken.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan, ya?"
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar tempat Mama dirawat terbuka, Dinda masuk ke dalam. Untuk sesaat kami saling diam. Lalu aku memberi isyarat pada Ken agar ia meninggalkan kami berdua sebab aku harus bicara dengan Dinda.
Ken mengikuti apa yang aku pinta. Ia keluar. Lalu tinggallah aku, Dinda dan mama yang masih tertidur.
"Kakak nggak akan maksa kamu bicara apapun, Din. Kakak yakin, kalau kamu masih nganggap kakak seperti dulu, sebagai kakak, teman, sahabat dan juga saudara terdekat maka kamu pasti akan menceritakan semuanya pada kakak. Nggak akan ada rahasia antara kita. Iya, kan?" aku bicara dengan nada suara pelan. Sudah kuputuskan untuk tidak lagi mendesak Dinda. Aku akan menantinya hingga siap bicara seperti dulu.
"Kamu masih ingat kan, bagaimana sulitnya kehidupan kita dahulu. Tapi atas izin Allah, kita bisa menjalaninya. Kita saling bahu membahu. Berdua saja. Kakak sungguh rindu momen-momen seperti dulu. Saat tak ada beban yang terasa berat meskipun ujian yang kita lalui tidaklah ringan. Sebab kita selalu bersama. Kakak dan kamu, kita berdua saling menopang, saling menguatkan satu sama lain. Ingat juga, kan, saat kamu memeluk kakak dan kakak menghapus air mata kamu. Percayalah Din, kakak masih seperti dulu. Kakak akui, belakangan ini terlalu sibuk dengan urusan pribadi, tapi di hati kakak, kamu dan mama juga punya tempat istimewa yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kakak ...."
"Kakak ...." tiba-tiba Dinda menghambur dalam pelukanku. Ia menangis sampai sesenggukan, membuatku yakin, betapa berat beban yang kini di pikulnya.
"Ceritakan semuanya Din, kakak ada untuk kamu. Seberat apapun, kakak akan mensupport kamu." bisikku, sambil mengusap punggungnya.
Dinda masih menangis. Ia sesenggukan. Adikku yang dahulu begitu tegar tampak menyimpan kepedihan yang mendalam.
"Katakan Din, katakan ...." pintaku. Mendengarnya menangis, hatiku pun ikut sedih, seperti tersayat sembilu.
"Kak ... maafkan Dinda," pinta Dinda, dengan suara terbata-bata.
"Papa dan mama bertengkar."
"Kenapa?"
"Semalam, sebelum mama masuk rumah sakit, papa kembali meneror mama. Sebenarnya mama melarang Dinda untuk menceritakan semuanya."
"Kenapa?"
"Mama nggak mau merusak kebahagiaan kak Rara. Mama nggak mau melihat kak Rara bersedih lagi."
"Justru kalau kamu dan mama sedih, kakak akan merasakan hal yang sama."
__ADS_1
"Kak, kalau Dinda mengatakan papa nggak benar-benar sayang pada kita, apa kakak akan terluka?"
"Maksud kamu apa, Din?" perih. Entahlah, itu yang kurasakan saat Dinda menyatakan bila ternyata papa tak menyayangi kami. Rasanya baru kemarin merasa memiliki papa kembali, tapi sekarang Dinda menyatakan hal tersebut padaku.
Aku tak bisa memungkiri kalau aku terlalu bahagia mendapatkan kembali sosok papa, meskipun di usia yang sudah dewasa.
Lalu, apa aku harus kehilangan papa lagi?
Bagiku, apapun yang dikatakan Dinda dan mama adalah kebenaran. Mereka adalah dua orang yang tulus dalam hidupku. Kami bertiga selalu berusaha membahagiakan satu sama lain saat orang-orang yang kami anggap kekuarga meninggalkan kami.
"Kak, apa kakak yakin kalau papa benar-benar tulus? Juga Tante Wira? Dinda bingung, tidak tahu harus bercerita dari mana sebab banyak hal yang tidak boleh Dinda katakan. Begitu kata mama. Tapi Dinda sudah tidak tahan lagi. Dinda muak dengan semua kepalsuan ini.
Kita semua berhak bahagia. Tapi bukan kebahagiaan palsu. Bukan begitu, kak?
Semenjak papa dan mama berpisah, tidak ada komunikasi yang dijalin oleh pihak papa dan keluarganya. Padahal mama selalu berusaha agar kita tidak putus komunikasi. Kakak juga masih ingat kan bagaimana saat kita berkunjung ke rumah papa? Begitu dinginnya Tante Wira.
Lalu bimsalabin, tiba-tiba papa dan Tante Wira datang. Mereka berubah jadi hangat. Benar-benar membuat kita merubah penilaian pada papa dan Tante Wira. Tapi kak, apa kakak yakin. Itu semua benar-benar dari hati papa dan tante, atau?"
"Atau apa Din?"
"Kak, ayo kita sama-sama berpikir. Dinda nggak bisa ceritakan semuanya. Tapi kakak juga berhak tahu sebelum semua jadi terlambat. Intinya, papa dan Tante Wira tak benar-benar sayang sama kita. Jadi tolong jangan pernah minta mama ataupun Dinda untuk menerima mereka. Kakak juga harus jaga jarak dengan papa."
"Din!"
"Dinda tahu berat kak. Tapi ini demi kebaikan Kakak. Suatu hari nanti, semoga kakak bisa tahu semuanya."
"Tapi Din," berat, benar-benar berat jika harus menjaga jarak dengan papa. Apa kalian bisa bayangkan, lelaki yang amat kalian rindukan sosoknya, ketika ia datang, membasuh keringnya rindu selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba saat kamu benar-benar merasa bahagia dengan hadirnya, mau tidak mau harus menjaga jarak dengannya. "Kakak nggak bisa."
"Demi mama, kak!"
__ADS_1
"Tapi ...."
Ujian apa lagi ini ya Allah? Apakah aku memang belum benar-benar pantas untuk naik kelas? Mengapa untuk mencapai bahagia itu rasanya teramat sulit.