GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
86. Pertemuan


__ADS_3

Sekarang akhirnya mama dapatkan balasan untuk kesabaran tersebut.


"Kamu tahu Ra, mama tidak punya anak laki-laki, tapi setelah punya menantu Ken, mama bisa merasakan bagaimana senangnya punya anak laki-laki yang berbakti pada ibunya. Ken tidak hanya menempatkan diri sebagai seorang menantu, tapi juga berperan layaknya seorang anak pada ibunya.


Kamu tahu bagaimana baiknya Ken, juga keluarganya. Mereka memperlakukan mama layaknya keluarga sendiri. Orang tua Ken meski tidak mengunjungi mama sebab masih di Australia mengurus cucunya yang juga sakit, tapi mereka selalu menanyakan kabar mama.


Ken juga, hampir tiap hari menghubungi bahkan mengunjungi mama dengan membawakan berbagai macam hal yang sederhana tapi bisa jadi bukti kalau ia menganggap mama sebagai ibunya sendiri.


Semua itu terasa luar biasa untuk mama Ra dan membuat mama bahagia hingga mama berpikir mungkin inilah buah kesabaran mama saat papa berbuat jahat pada mama. Tidak semua kejahatan harus kita balas, nak, kadang Tuhan yang membalasnya." kata mama.


***


Seperti dugaaanku dan Ken, pihak papa dan keluarganya tidak tinggal diam begitu saja. Mereka masih memperjuangkan uang dan barang-barang yang kami sita. Kami menyadari, yang namanya masalah memang harus dihadapi, tidak boleh terus dielakkan, makanya kami kembali bertemu di rumah mama, sebab itu permintaan mama yang ingin ikut terlibat menyelesaikan masalah ini. Mama merasa semua terjadi juga berkaitan dengan dirinya.


Pagi-pagi mereka sudah datang ke rumah mama, untung saja kami datang lebih dulu. Dari raut wajahnya aku tahu papa, Tante Wira dan Elsa masih menyimpan kemarahan. Wajar, uang dan barang-barangnya kami tahan.


Sebenarnya aku sudah mengatakan pada Ken untuk mengembalikan saja barang-barangnya, sebab kami juga tidak tahu harus diapakan. Tapi mama melarang sebab kata Mama mereka harus dapat efek jera. Enak sekali berfoya-foya dengan uang orang lain.


"Kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum kalau Ken tidak mengembalikan uang dan barang-barang kami!" kata Tante Wira dengan tegas.

__ADS_1


"Silakan Tante laporkan, saya siap untuk bertemu di meja hijau!" kata Ken dengan nada tegas. "Papa nggak lupa kan , dengan dokumen yang sudah papa tandatangani, tentang perjanjian bahwa tak akan menjual barang-barang yang saya berikan. Masih ingat kan Pa? Nanti kita tinggal total semuanya. Bagaimana?"


Ungkapan Ken tadi membuat papa dan istrinya terdiam. Mereka saling pandang.


"Lalu bagaimana?" tanya papa. "masa kami harus pulang tanpa apa-apa, kalian benar-benar nggak punya perasaan. Uang itu milik istri saya, juga untuk biaya hidupnya kami. Gara-gara disita sama Ken, kami jadi mengalami kesulitan perekonomian." ungkap papa.


Aku dan Ken hendak menjawab, tapi mama yang sejak awal menyimak kini memintaku dan Ken untuk diam.


"Ra, nak Ken ... biarkan mama yang bicara. Semua masalah ini bermula karena mama nggak menyelesaikan masalah kami yang lalu, sehingga sekarang semuanya jadi ribet seperti ini." ungkap Mama. "Mas, mbak Wira ... saya sangat tidak suka dengan sikap kalian terhadap anak dan mantu saya."


"Eh Rahayu, Rara dan Ken itu juga anak mantu saya!" kata papa, dengan nada tinggi, membuat kami semua terkejut, bahkan Dinda yang duduk menanti di dalam langsung keluar.


Mas itu sudah memanfaatkan anak dan mantu saya, memeras mereka sejadi-jadinya. Sudah itu, mengatai mereka dengan kata-kata keji dan kasar. Saya yang ibu kandungnya saja tidak akan tega mengatakan hal tersebut padanya, kenapa kalian yang orang tua tidak bertanggung jawab malah seenak hati mengatakan putri saya.


Mbak Wira ... kenapa harus menyumpahi Rara segala? Apakah kesalahan mbak pada saya di masa lalu tidak bisa mbak ambil pelajaran? Kenapa mbak nggak berubah juga padahal mbak sudah punya dua anak. Mau mereka meniru sifat mbak? Apa nggak malu?


Lagi pula, jika mas beralibi bahwa uang yang disita oleh nak Ken untuk kehidupan kalian, pakai logika juga, kalau mau buat alasan jangan mengada-ada. Anak dan mantu saya mungkin kasihan sama mas dan keluarga mas, tapi mereka nggak bodoh. Uang itu untuk biaya hidup atau untuk membeli perhiasan? Katakan yang jujur, mas? Lagipula dari informasi yang kami dapatkan, katanya mbak Wira juga pengen beli lebih banyak lagi, berarti uangnya juga banyak dong? Apa yang disita nak Ken adalah haknya, jadi jangan dipermasalahkan lagi.


Saya peringatkan, untuk pertama dan terakhir kali. Kalau kalian tetap mengganggu anak dan mantu saya, maka kami akan temouh jalur hukum seperti yang mbak Wira ancamkan. Bagaimana?" tantang mama.

__ADS_1


Papa dan Tante Wira kembali saling pandang. Dari cara mereka menelan ludah, terlihat betul bahwa mereka ketakutan.


Jangan pernah sepelekan orang-orang yang tidak suka marah sebab biasanya sekali ia marah maka akan cukup keras dan tidak bisa ditawar-tawar.


"Sudah jelaskan?" kata mama lagi.


"Ra, bagaimana ini?" papa menatapku dengan raut wajah mengiba. "Papa sudah tidak punya apa-apa. Kamu mau Tante kamu menceraikan papa? Kalau kami berpisah, siapa yang ngurus papa?"


"Astagfirullah, papa. Dulu waktu papa dan mama berpisah, mama juga mengurus semuanya sendiri, pa. Bahkan bawa dua orang anak yang masih kecil. Masa papa mau kalah sama mama? Lagipula jangan menikah hanya karena ada yang membiayai kita. Papa itu laki-laki, mau sampai kapan bergantung terus sama perempuan?" kataku.


"Rara!" Papa tidak terima dengan jawabanku.


"Jangan bentak-bentak putriku, mas!" kata mama.


"Rara itu juga putriku!" ungkap papa.


"Putrimu? Kenapa selama ini nggak kamu urus? Kamu lho yang harusnya paling bertanggung jawab atas anak-anak, kewajiban kamu untuk membiayai dan membersamai mereka. Tapi kamu nggak ada. Mana tanggung jawab kamu? Jangan kayak lelaki nggak bertanggung jawab, setelah anaknya berhasil, lalu kamu kembali datang hanya untuk mengambil keuntungan dari mereka." kata mama.


"Yaelah mbak, kenapa harus mengungkit-ungkit masa lalu? Kayak mbak nggak punya aib saja. Kalau mbak bisa jadi istri yang baik, suami saya juga nggak bakalan beralih. Tapi ini semua terjadi karena mbak juga nggak bisa melayani suami dengan baik." sindir Tante Wira.

__ADS_1


"Astagfirullah, kamu masih bisa menyalahkan saya? Tanya sama suami kamu Wira, bagaimana saya berusaha melayaninya sepenuh hati saya. Tapi suami kamu saja yang nggak tahu diri. Kamu juga ikut andil dalam masalah rumah tangga kami di masa lalu. Kamu yang berselingkuh, iya kan?" kata mama dengan suara bergetar sebab menahan sesak.


__ADS_2