
Pulang kerja, Ken datang ke rumah mama. Ia tampak lelah, namun menyempatkan diri langsung menjemputku. Melihatnya seperti itu tentu saja membuatku langsung luluh, padahal tadi awalnya pengen nginab dulu, setidaknya sampai aku bisa mengontrol keinginan-keinginan yang muncul tiba-tiba.
Sungguh, aku tidak mengada-ada seperti tuduhan Dinda. Sebab Dinda berkilah, mama saja tidak pernah ngidam yang aneh-aneh. Justru anteng sekali saat hamil, berbeda sekali denganku yang banyak maunya.
"Maaf ya mas, sudah menyusahkan kamu." aku berbisik ketika kamu dalam perjalanan pulang.
"Enggak apa-apa sayang, aku yang minta maaf karena tadi meninggalkan kamu begitu saja. Pasti tidak nyaman sekali untuk kamu dan bayi kita, ya?" Ken melirik perutku yang sudah mulai terlihat, mungkin efek keseringan makan.
"Enggak apa-apa kok. InsyaAllah bayinya juga ngerti. Mulai sekarang aku akan mendidiknya agar tahan banting. Nggak semua keinginannya harus dituruti."
***
Berbeda dengan orang kebanyakan yang biasanya mengadakan syukuran di bulan ketujuh kehamilan, memasuki usai satu bulan, ibu kembali mengadakan syukuran di rumah kami. Lebih tepatnya menyiapkan makanan dan juga sembako untuk dibagikan ke orang-orang sekitar.
Kami hanya tahu beres sebab semua sudah disiapkan oleh ibu. Sementara Ken membantu membagikan ke beberapa panti asuhan, sementara aku dan khadimat yang bekerja di rumah membagikan di depan rumah. Ada posko kecil yang sengaja kami sediakan.
Rasa-rasanya aku mengenal sosok yang berada tidak jauh dari hadapanku. Dengan sedikit memicingkan mata, aku mencoba mengingat, sosok tersebut.
Ibunya Arif! Iya benar, aku sangat yakin bahwa itu adalah dia. Meskipun aku gagal jadi menantunya, tetapi pernah berkomunikasi tiga kali. Sehingga cukup mengenalinya. Tapi untuk apa ia ada di sini? Dari tadi yang lalu-lalang memiliki nya nasi kotak dan sembako adalah pemulung, gelandangan dan pengemis yang ada di sekitaran lampu merah dekat rumah kami.
"Ibu ibunya Arif, kan?" aku bertanya.
"Eh, iya. Nak Rara?" ia gelagapan, mencoba menutupi sebagian wajahnya, tetapi jarak kami sudah begitu dekat, akan sangat sulit baginya untuk mengelak dariku.
__ADS_1
"Ibu kenapa di sini?"
Ia tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaanku. Semula, aku ingin mengabaikan saja. Rasanya juga tidak tega jika membuatnya tidak nyaman. Kami memang pernah punya cerita tidak mengenakkan di masa lalu, tetapi aku sudah mendapatkan ganti yang jauh lebih baik, jadi rasanya tidak perlu juga untuk membalasnya.
Dengan ibunya Arif berada di sini, sebenarnya aku sudah bisa menyimpulkan bahwa perekonomian mereka pasti sedang tidak baik-baik saja. Terakhir bertemu dengan Arif pun aku melihatnya menjadi seorang tukang ojek online.
"Kalau begitu saya masuk dulu ya Bu," aku hendak pamit ke dalam agar memberikan jarak dengan ibu tersebut agar ia nyaman.
"Nak Rara, tunggu dulu." ibunya Arif menggapai lenganku. Saat aku melihat, ia buru-buru minta maaf sambil melepaskan tangannya. "Maafkan ibu nak Rara, maaf sekali. Ibu tidak bermaksud kurang ajar. Maaf ya." ia menautkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala, seperti menunjukkan sikap penyesalan atas apa yang dilakukannya barusan.
"Enggak apa-apa Bu." Aku tersenyum, berusaha bersikap ramah agar ia tidak merasa terus-menerus sungkan.
"Nak Rara, maafkan ibu, juga anak ibu ya."
"Kalau untuk kesalahan di masa lalu, saya sudah melupakannya kok Bu. Saya sudah ikhlas. Semua ada hikmahnya."
"Astagfirullah, saya turut bersedih Bu."
"Sejak di pecat, lalu bercerai dari Monika, Arif mencoba mencari pekerjaan yang layak. Tapi enggak dapat-dapat juga hingga akhirnya Arif menjadi tukang ojek keliling sambil terus mencari kerja. Sayangnya, ia kembali berurusan dengan Monika hingga kehilangan pekerjaannya sebagai tukang ojek.
Kami benar-benar sedih, apalagi sekarang bapaknya sakit-sakitan. Tapi Arif tidak punya pekerjaan padahal dia Sarjana. Sudah banyak lowongan yang dilamarnya tapi nggak ada juga yang diterima.
Mungkin karena Monika menghubungi koneksinya agar Arif tidak diterima dimanapun. Ibu benar-benar sedih dengan sikap Monika yang benar-benar jahat. Padahal Arif sudah menolongnya menutupi malu karena aib hamil di luar nikah, bahkan putra semata wayang ibu harus membatalkan pernikahan dengan nak Rara. Sungguh jahat Monika, ia membalas kebaikan kami dengan memutus semua pintu rezeki hingga untuk makan dan nyewa rumah pun kami nggak bisa." kata ibunya Arif, menjelaskan keadaan mereka saat ini sebagai pemulung.
__ADS_1
"Semua adalah takdir Allah, Bu." kataku.
"Nak Rara, jika ibu boleh minta tolong, bisakah nak Rara membantu memasukkan kembali Arif ke kantor suaminya nak Rara? Kan nak Rara ini istri orang kaya, sebentar lagi juga akan punya anak, ibu berdoa semoga kebaikan nak Rara dibalas oleh Allah dengan kebahagiaan yang berlimpah. Bisa kah mbak?"
"Duh, bagaimana ya Bu."
"Tolonglah nak Rara. Selama tiga bulan ini kami hidup menggelandang, bertahan di bawah jembatan layang sana. Kami sudah benar-benar nggak kuat. Tapi nggak punya uang untuk makan apalagi ngontrak. Kasihanilah kami nak Rara."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya masih berat merekomendasikan Arif agar diterima kembali bekerja di kantor Ken. Selain karena sikap Arif yang benar-benar tidak baik, juga secara pekerjaan Arif juga tidak berkompeten. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Semua job desk nya tidak ada yang beres.
"Nak Rara, setidaknya kasihanilah bapak dan ibu yang sudah jompo ini." pinta ibu Arif lagi membuatku tersadar dari lamunan. "Tolonglah nak Rara."
"Saya belum bisa menjanjikan apa-apa Bu. Urusan kantor adalah hak mutlak suami saya yang nggak akan pernah saya campuri." ungkapku.
"Ya Allah, entah siapa yang bisa membantu kami." Air mata ibunya Arif menetes. Aku jadi merasa tidak enak hati, tetapi tetap saja tidak bisa membantu banyak.
Hubungan di masa lalu kami tidaklah baik. Di mataku, Arif adalah pribadi yang kurang baik. Jika aku memberinya kesempatan, aku khawatir ia akan membuat ulah kembali mengingat beberapa kali ia melakukan hal-hal yang tidak enak padaku.
"Maaf Bu, Saya tidak bisa bantu sebab urusan kantor adalah hak Ken. Saya tidak mau mencampuri." aku buru-buru beranjak meninggalkan ibunya Arif, berharap ia memahamiku.
Terkadang, memilih menjaga jarak dengan orang-orang yang pernah menyakiti merupakan salah satu cara untuk membuta hati tetap nyaman sebab tidak ada jaminan orang-orang yang pernah menyakiti tersebut sudah benar-benar berubah. Bisa saja ia melakukan kesalahan yang sama. Aku hanya tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Itulah sebabnya aku memutuskan rantai hubungan dengan orang-orang yang tidak baik padaku.
____END____
__ADS_1
๐๐๐
Dear pembaca, terimakasih sudah membaca cerita GARA-GARA NGGA CANTIK, mohon maaf untuk segala kekurangan๐