GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
64. Hadiah Dari Ibu Mertua


__ADS_3

Usai acara makan malam, semua orang berbincang-bincang santai sambil menikmati hidangan kecil yang disajikan oleh para khadimat di rumah ini. Seperti yang dikatakan oleh Ken, saudara-saudaranya cukup ramah, hanya satu orang yang menurutku cukup mengganggu, ialah Rafi.


"Rara dulu ketemu Ken dimana?" Gina menghampiriku bersama Rafi. Aku menduga mereka cukup dekat karena dari tadi selalu bersama.


"Di kantor." jawabku, masih dengan sangat tidak nyaman sebab baju kami sama.


"Oh, kamu pegawainya Ken?" tanya Rafi.


"Iya." kataku, berharap Ken segera menghampiri agar aku tak perlu berbincang dengan mereka.


"Pantas." jawab Rafi.


"Hehehe, kamu jangan curigaan Fi." cetus Gina. Aku langsung mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang mereka katakan. "Sebentar, aku ambilkan minuman dulu." Gina berlalu menuju meja tempat makanan dan minuman.


"Kamu tahu siapa Gina, Ra?" tanya Rafi.


"Tetangga Ken di Australia." jawabku.


"Ken sudah cerita banyak?"


"Lumayan."


"Tahu juga dong kalau dulu Gina mantan pacarnya Ken."


"Hah, oh ya."


"Rara, Rafi. Sedang apa kalian di sini?" tanya Ken, ia menghampiri kami. "Kamu nggak lupa kan Fi, kalau Rara itu istriku, dia bukan mahram kamu, jadi jangan dekat-dekat seperti ini, apalagi berduaan. Sudah sana, pergi!" Ken mengusir Rafi hingga pria itu menjauh.


"Ken, Gina mantan pacar kamu, ya?" tanyaku pada Ken, berharap ia membantahnya.


"Ya." Ken menjawab singkat.


"Kok kamu enggak bilang dari awal?"

__ADS_1


"Cuma cinta monyet, Ra. Pacaran juga nggak lama. Lagipula itu kan aib, Ra. Masa harus dibeberkan. Apa penting, untuk kamu yang sudah jadi bagian hidupku saat ini dan insyaAllah untuk masa depanku juga. Pasti yang ngomong si Rafi, kan? Seperti yang kukatakan tadi padanya, kamu juga harus jaga jarak, meskipun ia saudaraku, tapi kami banyak nggak cocoknya. Tidak tertutup kemungkinan ia bisa melukai kamu entah dengan sikap atau perkataannya."


"Ken, aku merasa malu."


"Malu kenapa?"


"Lihat apa yang dia pakai? Kenapa bisa sama seperti ini?" aku memberikan isyarat agar Ken melihat penampilan Gina serta baju yang kupakai.


"Sudahlah Ra, enggak usah dipikirin mending kita ke atas. Ibu nungguin kamu."


"Kenapa?"


"Entah. Tadi ibu cuma bilang supaya aku ngajak kamu ke kamar ibu." Ken menggandeng tanganku dengan erat, melewati saudara-saudaranya yang sedang berkumpul-kumpul.


"Dih mas Ken, dalam rumah pakai acara gandeng-gandengan." salah seorang saudaranya mencandai kami.


"Cie, pengantin baru mesra sekali." tambah kakaknya Ken.


"Iya dong. Harus itu, tapi insyaAllah nggak saat masih baru aja kan Ra, tapi untuk selamanya." Ken kembali menarik pekan tanganku. Aku yang berada di belakangnya hanya bisa mengikuti saja.


"Kemarilah Ra." panggil ibu, sementara ayah mengajak Ken ke kamar kerjanya yang berada di sebelah kamar tidur.


Aku langsung duduk di samping ibunya Ken. Ia melempar senyum padaku sehingga membuta rasa canggung ini perlahan hilang sebab nyaman dengan sikap ibu yang begitu hangat.


"Bagaimana, setelah tiga hari menjadi istri Ken. Apa merasa kaget atau malah bingung dengan sikapnya?" tanya ibu, memulai perbincangan.


"Semuanya masih baik-baik saja, Bu." jawabku, mengungkapkan apa yang kurasakan secara jujur bahwa aku nyaman berada di sisi Ken.


"Dalam rumah tangga, akan ada naik turunnya. Yang namanya ujian pastu ada. Entah itu batu besar yang mencoba menjatuhkan, atau terkadang kerikil kecil. Apapun itu, asalkan nak Rara dan Ken bisa seiya sekata, insyaAllah semuanya akan baik-baik saja."


"Iya, Bu."


"Mungkin saat ini, yang kalian lihat dari pasangan baru hal-hal baik saja, nanti mungkin akan ada hal-hal buruk. Jika kita bisa menerima kelebihannya, belajar juga menerima kekurangannya. Ibu selalu berdoa semoga kalian bisa saling melengkapi sehingga jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah."

__ADS_1


"Aamiin."


"Sebelum mengenal nak Rara, Ken pernah punya masa lalu. Tetapi, ibu sebagai orang yang melahirkan Ken tahu betul kalau Ken sudah menutup semua lembaran di masa lalu. Jadi nanti, jika ada suara-suara sumbang yang mencoba menggoyahkan kepercayaan nak Rara pada Ken, jangan langsung dipercayai begitu saja. Ibaratnya, jika memang dua orang tersebut saling cinta, apapun yang terjadi pasti akan mencoba mempertahankan, bukan hanya satu orang saja yang memperjuangkan. Iya, kan?"


"Iya Bu." Entah benar atau salah, aku merasa ibu ingin memberikan penyemangat sekaligus mempertegas bahwa perempuan-perempuan di masa lalu Ken sudah tidak ada lagi di hati Ken. Apakah yang dimaksud adalah Gina? Sebenarnya ingin sekali bertanya banyak tentang gadis berwajah jelita tersebut, tetapi aku takut salah bicara, apalagi hubungan kami belum terlalu akrab.


"Ken juga pernah mengatakan pada ibu tentang keresahan nak Rara, perihal kecantikan. Nak, ibu paling tahu bagaimana tipikal perempuan yang disukai Ken. Ia selalu melihat dari kecerdasan dan hatinya. Kalau ada yang bisa dekat dengan Ken tetapi perempuan itu tidak baik hati atau tidak terlalu cerdas, itu hanya karena topeng dan peranan yang ia bawakan. Tetapi lambat laun, hal itu akan terungkap juga. Waktu yang akan menjawab semuanya.


Nak Rara tidak perlu khawatir, nak Rara sangat cantik dengan hati yang juga cantik. Jadi harus selalu percaya diri, jangan minder apalagi berkecil hati. Jangan juga sampai memaksakan diri agar terlihat cantik di hadapan Ken, ia paling tidak suka perempuan yang terlalu berlebihan.


Paling penting nak Rara ketahui, ibu dan ayah selalu mendukung nak Rara dalam pernikahan kalian. Sejak Ken bercerita tentang nak Rara untuk pertama kalinya, ibupun sudah jatuh hati sebab ibu tahu betul, Ken tidak pernah sembarang menilai orang, ia tak mudah untuk jatuh hati. Nak Rara adalah perempuan pertama yang diceritakan Ken pada ibu, berarti nak Rara sangat spesial di hatinya.


Ibu dan ayah, hanya tahu bahwa menantu perempuan kami satu-satunya adalah nak Rara. Tidak ada yang lain. Paham, kan?"


"Iya, Rara mengerti Bu."


Ibu menepuk pelan pundakku, lalu mengambil kotak yang ada di sampingnya. Sebuah kotak berwarna gold, berukuran sedang, diberikan padaku.


"Ambillah. Ini sebagai tanda kalau nak Rara sudah diterima di keluarga ini, mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga ini." ibu menyerahkan kotak tersebut padaku.


Pelan aku membukanya. Kilau cahaya di dalamnya membuatku terperangah. Isinya adalah perhiasan. Bukan hanya sekedar emas, tetapi didominasi oleh berlian.


"Ibu, ini ...."


"Ini hadiah pernikahan dari ayah dan ibu untuk kamu nak."


"Tapi ini pasti mahal sekali."


"Tidak lebih mahal dari mendapatkan seorang putri baru yang shalihah."


"Ya Allah bu."


Rasanya benar-benar beruntung. Usai ujian yang beruntun di sebelumnya, sekarang Allah berikan aku seorang suami yang baik, tampan dan kaya. Juga keluarga baru yang begitu menyayangimu.

__ADS_1


Ayah dan ibu mertua yang benar-benar tulus. Padahal sebelumnya sempat takut kalau-kalau tidak akan diterima sebab status sosial kami berbeda.


Terimakasih ya Allah, terimakasih untuk semuanya.


__ADS_2