GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
38. Sebuah Tamparan Untuk Arif


__ADS_3

Bulir bening itu sudah tidak bisa tertahankan lagi. Aku benar-benar sedih setelah mendengar cerita rumit mbak Yuni. Ada banyak luka di dalam hatinya. Tentang beban yang akan ditanggungnya.


Lelaki itu, yang jadi cinta pertama dan ia yakini akan jadi cinta terakhirnya, ternyata adalah seseorang yang akhirnya akan jadi orang yang paling dibencinya juga.


Bayangkan saja, saat kamu begitu mengagumi seseorang, berharap agar ia bisa menjadi teman hidupmu, yang akan menghabiskan waktu dan menua bersama. Ternyata adalah seorang lelaki pengecut.


Sebab perbuatan lelaki itu akhirnya mbak Yuni memberanikan diri meminta pada ayah dan ibunya agar mau melamarkan Reno. Sebab lelaki itu telah mengambil sesuatu hal yang bukan haknya. Ia memanfaatkan kepolosan mbak Yuni. Tetapi setelah mendapatkannya, lelaki itu malah tidak berani bertanggung jawab, lalu ia mengakhiri hidupnya. Kini tinggallah seorang mbak Yuni dengan janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


"Ya Allah!" aku menjerit di dalam hati, menyesali perbuatan bejat lelaki itu.


"Aku tahu Ra, perbuatan itu salah. Tetapi aku dibutakan Ra, sungguh Ra. Aku menyesal saat ia meminta sesuatu hal yang seharusnya aku jaga sebaik mungkin.


Setelah kejadian itu aku terus-menerus dibayangi ketakutan, aku tahu dosanya begitu besar. Makanya aku minta pertanggungjawaban Reno. Tetapi ia malah mengelak Ra, dengan alasan tidak pantas bersanding denganku sebab kami beda status sosial.


Aku meminta izin ayah dan ibu untuk melamarkan Reno, ternyata ayah dan ibu tidak masalah. Ku kira semua masalah kami selesai, Ra. Ternyata tidak. Reno menangis, semalam sebelum ia memutuskan mau bunuh diri. Ia mengaku tidak siap dan tidak yakin bisa mencintaiku, Ra. Sebab sudah ada gadis lain yang dicintainya.


Aku tak tahu harus berkata apa. Saat itu, yang aku rasakan adalah duniaku hancur lebur berkeping-keping. Aku tak punya harapan apapun lagi selain menunggu sanksi atas dosa yang sudah aku lakukan.


Tetapi ternyata esoknya aku dikejutkan dengan berita Reno yang mati bunuh diri. Bayangkan Ra, ia mengakhiri hidupnya padahal ia masih punya tanggung jawab. Ia memberiku semua beban itu untuk dipikul sendiri.


Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa, Ra. Anak ini, sekarang ada ia yang juga harus aku pertanggungjawabkan." ungkap mbak Yuni.


Beruntung, kedua orang tua mbak Yuni sudah tahu kejadian tersebut dari dokter yang kemarin memeriksa mbak Yuni. Ayah dan ibunya menerima meski sebenarnya mereka juga merasa malu sebab harus menanggung malu dua kali.


Aku tak habis pikir, kenapa ada orang seperti Reno. Ia sudah menghancurkan masa depan seorang perempuan, lalu menghabisi dirinya sendiri sebab tidak berani menghadapi semuanya. Benar-benar memalukan, sekaligus membuat emosi orang-orang yang mendengarnya.


***


Aku melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit. Tiba-tiba langkahku terhenti saat berhadapan dengan Arif. Kenapa sehari ini harus bertemu dengannya sampai dua kali?


"Ra," panggil Arif dengan suara pelan. "Tadi itu siapa?"


"Apa?" aku menjawab dengan ogah-ogahan sebab sudah tidak punya tenaga untuk menghadapinya lagi. Emosiku sudah terkuras karena menyimak cerita mbak Yuni.


"Polisi itu?"

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!"


"Akan jadi urusanku, Ra!"


"Apa lagi Rif? Aku sedang tidak ingin berdebat. Kalau kamu tetap cari gara-gara akan kuteriaki maling supaya semua orang menghajar kamu!"


"Kamu nggak lagi selingkuh, kan Ra?"


"Astagfirullah, Arif!"


"Tadi Ken mengaku bahwa ia adalah calon suami kamu, apa itu benar Ra?"


"Lihat saja nanti!"


"Berarti benar kamu selingkuh. Ayo mengaku, Ra!"


"Bukan urusan kamu. Lagian ngapain kamu di sini? Kamu ngikutin aku? Kamu mau aku adukan sama Ken supaya diberi pelajaran. Mau?"


"Aku memang masih suka sama kamu, Ra. Tapi nggak segitunya juga ngikutin kamu. Aku cuma lagi cari cara untuk bisa mendapatkan DNA bayinya Monika. Dia kan lahiran di sini."


"Suka? Aku tahu kok Rif, kamu sedang nyari mangsa, kan? Kamu kira aku bodoh? Setelah di depak oleh Monika, kemungkinan kamu nggak akan dapat apa-apa, makanya kamu mau balikan sama aku supaya kamu punya tempat bernaung. Iya, kan?"


"Enggak punya malu kamu, Rif. Sungguh aku menyesal pernah mengenal kamu. Laki-laki bebal!"


"Kamu juga ngincar Ken karena tahu ia anak orang kaya, kan?"


"Maaf, aku tidak serendah itu."


"Masa? Oh ya Ra, apa kamu tahu, ternyata dulu Monika dan Ken ada hubungan spesial, bahkan sampai detik ini, semua kenangan bersama Ken masih disimpan dengan rapi oleh Monika. Nanti deh kalau aku bisa masuk ke rumahnya lagi, akan aku perlihatkan semuanya padamu."


"Itu bukan urusanku!"


"Bahkan kamu nggak akan peduli kalau ternyata ... Ahhhh aku jadi ragu mengatakannya, Ra. Tapi aku kepikiran terus."


"Apa?"

__ADS_1


"Sebelum menikah denganku, Monika menjalin hubungan spesial dengan Ken, tetapi ia hamil, makanya menikah denganku. Bisa saja kan Ra kalau anak itu adalah anaknya Ken."


"Astagfirullah. Kamu jahat sekali, berani menuduh Ken seperti itu."


"Aku akan buktikan Ra, bahwa kata-kataku benar. Lagipula kamu seyakin apa pada Ken? Kamu yakin Ken laki-laki baik? Memang kamu sudah kenal dia berapa lama? Aku cuma kasihan Ra, jangan sampai kamu terjebak sama seperti aku."


"Ken nggak mungkin seperti itu."


"Apa dulu kamu juga mikir, bahwa aku seperti ini?"


Aku terdiam. Apa benar yang dikatakan oleh Arif. Memang benar, dahulu saat menjalani masa taaruf dengan Arif, tidak pernah terpikirkan olehku bahwa ia punya karakter yang bebal dan menyebalkan seperti ini. Ia tampil dengan sikap yang baik sehingga membuatku tidak ragu.


Lalu Ken, bagaimana kalau yang dikatakan oleh Arif itu benar? Ya Allah ... aku benar-benar takut sekali.


"Ra, bagaimana? Kamu masih ragu dengan kata-kataku? Baiklah, begini saja. Aku akan cari tahu semuanya tentang Monika dan Ken. Sebanyak mungkin. Tapi kamu tahan dulu. Jangan menikah dengannya. Ini demi kebaikan kamu, Ra. Atau kita balas mereka?"


"Membalas bagaimana maksud kamu?"


"Ra, sekarang ini Monika dan Ken sedang mempermainkan hidup kita. Entah apa yang terjadi pada mereka. Monika pura-pura mencintai aku, supaya aku mau menikah dengannya. Bisa juga Ken begitu, pura-pura suka sama kamu, lalu mengaku ingin menikah dengan kamu. Padahal kita tidak tahu dosa apa yang sedang mereka sembunyikan. Iya, kan?


Nah, kita kerjain balik saja mereka. Kita balas perbuatan mereka. Caranya, kamu pura-pura terima Ken, baik-baik saja sama dia seolah-olah kamu juga suka. Buat dia yakin kalau kamu juga siap menikah dengannya. Setelah itu kamu kuras hartanya. Porotin dia sebanyak mungkin. Setelah kita mendapatkan apa yang kita mau, baru deh kita lepaskan mereka. Kita menikah. Bagaimana?"


Plak. Sebuah tamparan kulayangkan ke pipi Arif. Tamparan yang cukup keras hingga menyisakan bekas merah di sana.


"Ra!" Arif tampak terkejut, mendapatkan tamparan tersebut.


"Ini masih sangat bagus, Rif. Kalau aku mengikuti amarahku, sudah aku pukuli kamu semampuku, Rif. Bisa-bisa masuk IGD kamu!


Kamu kira aku selicik kamu? Jahat dan tamak seperti kamu? Yang otaknya cuma uang dan uang. Sehingga tanpa rasa malu kamu memberiku ide yang menjijikkan seperti itu. Tidak Rif, aku masih tahu batasan.


Aku memang bukan orang kaya raya, Rif. Tapi aku tidak tamak dan tergiur dengan harta benda orang lain. Aku hanya akan mengambil apa yang jadi hakku.


Kalau kamu kira aku mau menjalankan rencana jahatmu itu, kamu salah Rif. Aku masih punya hati dan rasa malu. Bagiku harga diri juga penting. Catat itu baik-baik!"


"Kamu akan menyesal, Ra!" cetus Arif.

__ADS_1


"Justru aku akan menyesal mengikuti ide gila kamu itu!" kataku, sambil berlalu meninggalkannya.


Ya Tuhan ... terimakasih, kini aku benar-benar bersyukur rencana pernikahan kami gagal. Ternyata ia begitu mengerikan dengan sikapnya yang tidak tahu malu itu. Aku kira manusia seperti itu hanya dapat di sinetron-sinetron, ternyata aku mengenal satu orang yang menyebalkan sepertinya.


__ADS_2