
"Kamu mau kemana?" panggil Ken, saat aku hendak beranjak masuk ke rumahan mama. Ia membuatku jadi merasa tidak nyaman.
"Aku mau ke ruangan mama." jawabku. Berusaha menghindari tatapan menyelidik tersebut.
"Jelaskan dulu, apa yang terjadi? Kenapa ada polisi itu di sini? Juga si Arif?"
"Katanya kamu percaya padaku?"
"Ra,"
"Apa? Jadi, kamu percaya atau sebenarnya curiga? Jangan lain di mulut sama hati lho. Kalau nggak percaya bilang Ken, kalau percaya ya sudah jangan dipertanyakan!"
"Masa kamu nggak faham sih, Ra."
"Apa?"
"Aku cemburu!"
"Hah?" aku langsung tertawa mendengar pengakuan Ken barusan. "Kamu ada-ada saja, Ken."
"Makanya, jangan buat aku jengkel dengan kamu dekat-dekat sama laki-laki lain!"
"Iya ... iya. Aku akan berusaha jaga jarak kok. Tadi dia ke sini cuma ingin membesuk mama. Kalau melamarnya sudah kemarin."
"Maksudnya apa, Ra?" Ken tampak panik. Ekspresinya itu sukses membuatku ingin tertawa.
"Enggak apa-apa. Cuma bercanda."
"Sama sekali nggak lucu, Ra!"
Sebelum Ken melakukan hal yang aneh, aku segera masuk ke dalam ruangan mama. Tentunya diikuti oleh Ken.
Mama dan Dinda yang melihat kehadiran Ken langsung berubah segar. Bahkan mama berusaha menahan Ken agar selalu berada di sini dengan berbagai trik yang tidak dibantah sama sekali oleh Ken.
"Ra, kamu harus menentukan pilihan!" begitu kata mama dengan sangat tegas padaku. Setelah Ken pulang.
__ADS_1
"Iya, ma. Rara tahu." jawabku.
"Mama juga yakin, sebenarnya Rangga anak yang baik. Tapi kamu sudah memberi harapan pada Ken, jangan sampai ia kecewa. Lihat bagaimana Arif sekarang, terlunta-lunta, kan? Itulah akibat mempermainkan hati orang lain. Jangan sampai itu terjadi pada kita. Nauzubillah.
Pokoknya mama nggak mau kamu terlalu banyak komunikasi dengan nak Rangga lagi. Biarkan ia melangkah mencari penggantimu tanpa diberi harapan palsu."
"Rara tidak memberikan harapan pada Rangga, ma. Rara sudah tegaskan kalau Rara sudah punya calon suami, yaitu Ken. Mereka juga sudah saling kenal."
"Syukurlah. Kamu tahu kan Ra, setan itu selalu memanfaatkan sedikit saja celah untuk menjebak manusia. Jangan sampai kita terkena tipu dayanya. Apalagi nak Ken begitu berharap dan sudah memperjuangkan kamu, Ra.
Sedangkan nak Rangga, ia anak yang baik. Sangat kasihan sekali kalau harus merasakan kekecewaan karena kita.
Tapi namanya perempuan, hanya boleh memiliki satu orang pasangan. Jadi kamu harus tegas, memilih satu saja, jangan memberikan angan-angan lada orang lain." kata mama, memberikan wejangan untukku.
Sejak Ken berhasil mendatangkan papa ke rumah, sebenarnya hatiku sudah sangat mantab memilihnya. Hanya ada sedikit ragu tentang keluarganya Ken. Status sosial kami sangatlah berbeda. Ia orang kaya yang terpandang, sementara aku berasal dari keluarga sederhana. Apakah orang tuanya bisa menerimaku seperti Ken yang tak mempermasalahkan kami.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Satu jam lagi, Ken dan kedua orang tuanya akan datang untuk melamar. Sementara aku, mama, Dinda, papa dan Tante Wira sudah bersiap menyambut kedatangan tamu yang akan jadi calon anggota keluarga baru kami.
"Ma, apa makanan ini tidak terlalu banyak?" tanyaku pada mama, sambil menata panganan beraneka ragam di atas meja khusus makanan kecil. Belum lagi bakso dan juga nasi dengan berbagai lauk-pauknya. "Itu, Dinda dan Tante Wira juga masih menambah es dan juga tiga macam buah. Ini kebanyakan banget lho, ma. Sudah seperti orang mau menikah saja."
"Enggak apa-apa, Ra. Mama senang kok melakukannya." kata mama, sambil memperbaiki letak bunga-bunga di atas meja.
"Ma, enggak baik lho berlebih-lebihan. Mama ingat kan kejadian saat rencana pernikahan Rara dan Arif batal. Berapa banyak kerugian yang kita alami? Itu karena mama memesan makanannya terlalu banyak!"
"Ra, mama itu sangat senang sekali mau nyambut calon besan. Lagian enggak ada yang namanya mubasir, kan nanti makanannya mau mama bagi-bagikan sama tetangga dan juga panti asuhan. Mama mau semua orang hari ini merasakan kesenangan yang kita rasakan juga."
"Ma,"
"Udah, kamu siap-siap saja di sana. Pakai pakaian yang mama belikan, ya. Jangan lupa tanyakan Ken, jam berapa pasnya dari rumahnya. Kira-kira sampai di rumah kita jam berapa?"
"Iya." baru saja aku hendak masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar suara teriakan pala dari luar. Aku, mama, Dinda dan Tante Wira buru-buru keluar. Arif, ngapain dia di sini. Bersama kedua orang tuanya.
"Rara!" panggil Arif.
__ADS_1
Ibunya Arif langsung maju. Menghampiriku yang masih bengong, sebab tak percaya ia kembali muncul. Bagaimana lagi caranya agar dia tak muncul di hidupku?
"Nak Rara, apa kabar sayang?" tanya ibunya Arif, ia memelukku erat. Tak lama terdengar suara Isak tangis. "Ibu kangen sekali sama nak Rara." ucap ibunya Arif.
"Eh maaf, ada apa ya ini?" tanya mama.
"Tante sudah sehat? Kemarin saya besuk Tante lho." ungkap Arif, dengan gayanya yang sok dekat.
"Kamu masih berani datang ke rumah Rara?" tanya papa dengan nada tinggi. "Kamu sudah meninggalkan anak saya, sekarang mau apalagi?" Papa langsung maju, menarik Arif agar menjauh dari mama.
"Sabar om, saya bisa jelaskan semuanya." ungkap Arif.
"Tidak perlu. Kami tak butuh penjelasan apapun dari kamu. Sekarang pergilah!" Papa kembali mengusir Arif.
"Pak, Sebelumnya kami minta maaf. Kami bisa luruskan semua kesalah fahaman ini. Arif tidak bermaksud meninggalkan Rara. Kedatangan kami ke sini adalah sebagai bukti bahwa kami ingin memperbaiki kembali hubungan yang sempat putus." ungkap ayahnya Arif.
"Tidak perlu, pak!" kata papa tegas.
"Pak, sekarang ayo kita bicarakan baik-baik. Apa bapak nggak kasian pada putri bapak. Ia pernah gagal menikah, pasti punya trauma untuk membangun kembali hubungan dengan lelaki lain. Nah, kami datang ke sini untuk membantu nak Rara. Arif yang membuatnya terluka, kini izinkan Arif untuk memperbaiki semuanya lagi. Agar Rara bisa melanjutkan kehidupannya." sambung ibunya Rara.
"Maaf Tante, memangnya mas Arif nggak ngomong kalau kak Rara sudah punya calon suami? Hari ini kakak saya mau lamaran. Namanya mas Ken, direktur di perusahaan tempat kak Rara dan mas Arif bekerja." Dinda yang sejak tadi panas ikut berbicara.
"Arif sudah dipecat, Din." kataku.
"Hah, maksudnya?" tanya ayah dan ibu Arif serentak.
"Ya, Rara sudah dilamar bos besar. Calon menantu kami anak orang kaya, punya jabatan dan yang penting salih serta bertanggung jawab. Berani saingan sama dia?" tambah papa.
"Rif, bagaimana sih? Kamu bilang Rara trauma?" ibunya melirik Arif dengan tajam.
"I ... itu, Bu." Arif gugup. "Arif, maunya sama Rara, Bu. Arif cinta mati sama Rara! Arif ingin menikah dengan Rara, pak Bu."
"Kamu mau mempermalukan bapak sama ibu ya?" sebuah pukulan di daratkan ayahnya di kepala Arif sehingga membuatnya meringis menahan sakit. "Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak ayahnya, diikuti ibunya. Sementara Arif masih bertahan.
"Ra, enggak bisa kah aku mendapatkan kesempatan itu?" pinta Arif dengan memelas.
__ADS_1
"Enggak!" jawabku. "Kamu tetap aja di sini, sebentar lagi Ken akan datang, kalau dia melihat kamu, tahu sendiri akibatnya, kan?" Arif langsung lari terbirit-birit, mendengar nama Ken.