GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
50. Terlambat


__ADS_3

Aku masih setia duduk di samping tempat tidur mama, menanti Mama sadar kembali. Tetapi kedua mata Mama masih terpejam.


"Ken," panggilku, saat terdengar pintu kamar mama dibuka.


"Ken? Bukan. Ini Dinda, Kak!" kata Dinda, sambil masuk ke dalam.


"Oh, kamu Din. Sudah pulang sekolahnya?"


"Sudah. Kakak kok nggak ngabarin dari tadi tentang kondisi Mama. Dinda kan bisa minta izin pulang cepat."


"Kakak nggak mau ganggu waktu belajar kamu. Mama juga nggak akan suka kalau kamu bolos sekolah."


"Tapi ini kan beda masalah, kak. Lagian, kok manggil Ken. Memang mas Ken ada di sini?"


"Iya, tapi lagi ke musholla, salat."


"Oh. Tadi juga ada yang datang ke rumah, kak."


"Siapa?"


"Mas Rangga."


"Hah, Rangga? Ngapain?"


"Dinda nggak tahu. Datangnya bareng kedua orang tua dan seorang perempuan."


"Perempuan?"


"Iya, kalau nggak salah, mas Rangga-nya manggil dengan panggilan mbak Yuni."


"Oalah, itu kakaknya. Yang jadi narasumber untuk rubrik kakak."


"Memang kalau orang lain, kenapa kak?"


"Nggak apa-apa."


"Hem, Assalamualaikum." sapa Ken, sambil masuk ke kamar mama.


"Wa'alaikumussalam." jawabku dan Dinda bersamaan.


"Ini pasti Dinda, ya? Adiknya Rara?" tanya Ken.


"Kalau yang ini pasti mas Ken ya? Yang senang sama kak Rara?" Dinda ikut-ikutan bertanya. Tetapi pertanyaannya membuatku tidak enak hati, seolah sering membicarakan Ken padanya. Meskipun Ken hanya tersenyum simpul.


"Apasih, Din." aku pura-pura cemberut.


"Memang kak Rara sering ceritain saya, ya?" tanya Ken, dengan tampang penasaran.

__ADS_1


"Nggak sering-sering banget, tapi pernahlah." Dinda pura-pura misterius.


"Memang Rara nyeritain saya tentang apa?" Ken langsung ingin tahu.


"Katanya, mas Ken itu direktur dingin yang sok cool sama bawahannya. Tapi perhatian banget sama kak Rara." cerita Dinda.


"Hahaha, bukan sok cool. Tapi saya memang cool." ungkap Ken dengan penuh percaya diri.


"Dih jayus!" aku mencibir. "Siapa yang percaya kamu itu cool. Yang ada galak!"


Ken dan Dinda langsung akrab berbincang-bincang. Lelaki yang kalau di kantor selalu cool itu ternyata sangat pintar sekali menaklukkan anggota keluargaku. Mulai dari mama, papa, ibu tiriku hingga Dinda.


"Kamu nggak pulang?" tanyaku pada Ken.


"Kamu ngusir?" Ken balik bertanya.


"Ya, mau ngapain lagi di sini. Kan sudah ada Dinda yang menemani aku." kataku, membela diri.


"Ihhhhhh kak Rara nggak sopan." kata Dinda.


"Dia memang begitu kalau sama saya, Din. Suka galak dan sok-sok cuek. Tapi, itu juga yang membuat saya penasaran sama dia." Ken nyengir disambut tawa kecil Dinda, kemudian ia pamit pulang dan berjanji akan kembali membesuk mama.


"Jadi, kakak sudah tentukan, pilih siapa?" tanya Dinda, sambil mengambil kursi, lalu duduk di sampingku.


"Pilih apa, sih?" aku pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Dinda.


"Halah, basi tau kak. Udah, ngaku saja."


"Nggak tahu atau malu?"


"Hahaha," aku memukul pelan lengan Dinda. Anak ini ternyata sudah berani mencandai kakaknya. "Awas saja kamu Din, kalau nanti berada di posisi kakak, akan kakak balas!"


***


Sudah dua puluh empat jam mama di rumah sakit. Tiga jam lalu, mama sudah sadarkan diri. Mama terlihat lebih baikan, meski wajahnya masih pucat. Papa dan istrinya juga sudah menyatakan akan datang membesuk mama besok meskipun mama mengatakan kondisinya sudah membaik, jadi tidak perlu repot-repot datang ke sini.


"Assalamualaikum," sebuah suara membuat aku dan Dinda saling pandang. Tidak lama melongok Rangga dari pintu. "Ra. Boleh aku masuk? Mau membesuk mama kamu?"


"Oh ya, silakan Ngga." kataku, lalu bangkit dari duduk, mempersilakan Rangga mendekat ke arah Rangga. "Ma, ini Rangga, adiknya mbak Yuni yang Rara ceritain tempo hari." kataku pada mama.


"Terimakasih nak Rangga, sudah datang membesuk." kata mama, mencoba beramah tamah dengan Rangga.


Tidak jauh berbeda dengan Ken, Rangga juga ternyata supel. Ia malah pintar mencandai mama hingga beberapa kali kami dibuat tertawa.


"Tante tahu, dulu pertama kali saya bertemu dengan Rara itu, saat saya mau menilangnya!" tukas Rangga. "Tapi karena dia nangis, akhirnya gagal ditilang. Padahal kan lumayan Tante, kalau saya berhasil menilang Rara, bisa dapat seratus ribu. Apalagi kejadiannya dua kali. Iya, kan Ra?"


Kali ini, tidak ada yang tertawa dengan candaan Rangga. Aku mencoba tersenyum, sementara Mama dan Dinda menatapku penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Kejadian waktu itu, ma. Saat Rara baru diputuskan sama Arif." kataku, menjelaskan pada mama dan Dinda.


"Putus?" tanya Rangga. "Oh, maaf Ra."


"Bukan putus cinta ala-ala ABG yang pacaran, mas. Tapi diputuskan, dibatalkan pernikahannya!" celetuk Dinda yang terbawa suasana.


"Maaf Ra, aku nggak bermaksud membuka luka lama kamu."


"Hehehe, enggak apa-apa mas. Kak Rara sekarang sudah move on. Iya, kan kak?" celetuk Dinda lagi.


Aku sudah berusaha menyuruhnya diam lewat isyarat, tetapi Dinda terus saja berkomentar sehingga membuat kepalaku pusing. Malu, karena akhirnya Rangga tahu semuanya.


"Kita keluar saja ya Ngga." kataku.


"Tante, saya nunggu di luar sama Rara ya." kata Rangga.


Aku dan Rangga keluar dari kamar tempat Mama di rawat. Kami duduk di teras depan kamar mama. Ken memang memesan kamar VVIP, katanya supaya mama nyaman, ia juga yang langsung membayarkan tambahan uang mukanya meski aku sudah mengatakan akan membayar sendiri, tapi terhambat sebab kemarin cukup riweh menemani Mama.


"Pasti berat untuk kamu ya Ra, saat rencana pernikahan batal." Rangga membuka pembicaraan.


"Dulu sih memang sempat sedih. Ya layaknya orang-orang yang gagal nikah lah. Tapi itu dulu, sekarang aku sudah santai." kataku.


"Karena kamu sudah move on?"


"Seharusnya memang seperti itu, kan Ngga? Ngapain nangisin mantan lama-lama. Apalagi kalau sampai nyakitin kita. Sayang sekali air matanya. Lebih baik dipakai untuk nangisin dosa."


"Kamu sudah punya penggantinya, Ra?"


"Hah?"


"Sudah ada penggantinya?"


"Alhamdulillah sudah."


"Oh, Alhamdulillah."


"Kenapa Ngga?"


"Nggak apa-apa. Kemarin aku datang ke rumah, sama bapak ibu juga mbak Yuni."


"Iya, Dinda kemarin cerita."


"Aku mau melamar kamu, Ra."


"Hah?"


"Mungkin ini lucu, tapi aku sungguh-sungguh jatuh cinta sama kamu Ra. Sejak pertama melihat kamu nangis di atas motor. Aku selalu berharap kita berjodoh dan bertekad akan jadi lelaki yang menghapus air mata kamu. Tapi ternyata kamu sudah punya calon. Mau nikung di sepertiga malam juga kayaknya enggak mungkin, ya Ra. Kan nggak boleh melamar di atas lamaran saudaranya sendiri." Rangga mencoba melucu, tapi terdengar garing di telingaku.

__ADS_1


"Aku hanya perempuan biasa, Ngga. Bahkan pernah ditinggalkan. Kamu pasti bisa mendapatkan yang terbaik!" kataku, menyemangati Rangga.


Siapa sangka, pertemuan yang tidak terduga, menghadirkan cinta dalam hati Rangga. Aku ini siapa, tidak layak untuk diperebutkan.


__ADS_2