GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
70. Perdebatan


__ADS_3

Mendengar nyinyiran Monika, sebenarnya membuat telingaku sedikit sakit. Baru juga menikah dengan Ken, dia sudah mempertanyakan apakah aku tidak bermasalah untuk mendapatkan keturunan atau tidak. Sebuah pertanyaan yang tidak sopan menurutku.


Bagi pengantin baru, pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu saja membuat tidak nyaman. Meskipun aku dan Ken sama-sama sepakat tidak menunda jika Allah memberikan kami anak secepat mungkin. Tetapi kembali lagi, semua sesuai dengan kehendak Allah.


"Oh ya, Monika, kabar anaknya bagaimana? Maaf ya, ibu belum sempat membesuk. Maklumlah, sejak kejadian waktu itu, kami sekeluarga sedang sibuk-sibuknya, apalagi saat tahu Ken punya calon baru yaitu Rara. Ibu dan ayahnya Ken, yang paling semangat memberikan dukungan untuk Ken agar cepat-cepat memperistri nak Rara. Kakak dan iparnya juga sebenarnya sama, pengen cepat-cepat Ken sah. Orang tua mana coba yang nggak kepengen punya mantu yang bagus agamanya dan bisa menjaga diri. Masalah anak, itu urusan Allah, mau dikasih cepat atau lambat, kami serahkan saja pada yang di atas. Iya, kan nak Rara?" ungkap Ibu, sambil mengusap punggungku.


Entah mengapa, perasaan tidak enak yang tadi sempat muncul jadi berubah biasa saja dengan sikapnya ibu. Ternyata apa yang dikatakan Monika tidak mempengaruhi ibu, meskipun kadang hal tersebut jadi isu sensitif untuk mertua dan menantu.


"Iya Bu." aku memberikan senyum terbaik pada ibu sambil berdoa semoga nanti tak mengecewakan ibu dan ayah Ken.


"Nanti insyaAllah kalau kami sudah punya waktu luang, ibu sama nak Rara mau mampir membesuk anaknya Monika. Kita kan belum pernah ketemu. Berapa sekarang usianya?" tanya ibu.


Senyum penuh kemenangan di wajah Monika saat mempertanyakan apakah aku bisa memberikan keturunan untuk Ken mendadak hilang, ia justru bersikap sebaliknya, berubah masam dan memperlihatkan sikap tidak nyaman. Aku sudah tahu tentang aibnya sebelum ini, beritanya sempat menghebohkan kantor saat itu.


"Iya Bu, enggak apa-apa. Lagipula anaknya enggak tinggal sama Monika. Sekarang diasuh sama mama, sementara Monika tinggal di apartemen sendiri." ungkap Monika.


"Lho, memangnya usia anaknya sudah berapa bulan?" ibu masih mengejar Monika dengan pertanyaan balasan.


"Sekitar empat atau lima bulan, Bu." jawab Monika, dengan menunjukkan jari-jarinya.


"Baru empat atau lima bulanan sudah enggak tinggal dengan ibu kandungnya? Lalu ASI-nya bagaimana? Pasti kondisi darurat ya, makanya harus pisah." ibu geleng-geleng kepala, menunjukkan keprihatinan.

__ADS_1


"Itu Bu, Monika harus ngurus kerjaan. Makanya ditinggal sama mama. Sekarang sudah enggak asi, sebenarnya sejak lahir enggak pernah asi. Dikasih Sudirman saja, kata dokter juga enggak apa-apa, bayinya sehat."


"Ckckck, kasihan sekali. Sayang lho Monika, masa usia segitu bayinya dititipkan. Memang Monika tinggal di apartemen sama siapa?"


"Sendiri saja Bu. Monika sudah cerai."


"Lho lho lho, maaf lho Monika, bukannya ibu ikut campur, ibu hanya memberikan nasihat saja, syukur-syukur diterima, supaya tidak terjadi kesalahan untuk kedua kalinya. Apa Monika nggak takut terjadi lagi hal seperti dulu. Lebih baik tinggal sama kedua orang tua saja. Toh ada di kota yang sama, kan? Bukannya kita disuruh waspada dari pada menyesal dikemudian hari."


"Iya sih Bu. Nanti akan Monika pikirkan lagi."


"Ibu ngasih nasihat begini bukan karena pengen nyinyirin nak Monika, kamu tahu sendiri kan, ibu berusaha peduli kok dengan kamu."


"Jangan Ken, kan sudah ibu bilang, harus ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Nanti kamu belajar sama Rara saja di rumah ibu. Enggak apa-apa, kok. Bagaimana nak Rara?"


"Hah, iya Bu, insyaAllah." aku menganggukkan kepala, menyanggupi permintaan ibu. Sambil menyimak pembicaraan ibu dan Monika. Lagipula bagaimana aku bisa rela, dia berduaan dengan suamiku, apalagi aku tahu ia masih punya perasaan cinta, meski Monika mengaku kalau ia ingin belajar agama dari Ken. Di luar sana ada banyak ustadzah yang bisa didapatnya, jadi ini bukan dalam kondisi darurat.


"Jadi bagaimana Monika? Mau mulai belajar ngaji kapan?" ibu bertanya ulang.


"Aduh, bagaimana ya Bu," Monika tampak bingung.


"Ibu juga sudah nggak sabar melihat kalian belajar bersama." ungkap ibu.

__ADS_1


"Sekarang kayaknya Monika pamit dulu deh Bu, sudah siang, masih ada janji sama teman. Lagipula Rara sudah sadar, sudah bisa ditinggal bersama ibu." sebelum ibu menjawab, Monika buru-buru pergi, saking tergesa-gesanya, ia sampai lupa bersalaman dengan aku dan ibu.


"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah." kata ibu, setelah Monika berlalu dari pandangan kami, sambil mengelus dada.


"Ibu nggak apa-apa?" tanyaku, aku khawatir terjadi sesuatu pada ibu sebab tiba-tiba mengucap istighfar beberapa kali secara berulang.


"Duh, ibu itu nyesak nak Rara. Sebenarnya ibu paling nggak suka membahas aib orang lain, apalagi sampai membuat lawan bicara enggak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi, ibu sudah terlanjur kesal dengan sikap Monika tadi yang sepertinya sengaja membuat nak Rara enggak nyaman. Harusnya dia berkaca pada diri sendiri. Untuk apa melakukan semua itu. Sejak awal ketemu sengaja memojokkan nak Rara. Dia kira ibu suka atau bakalan terpancing? Justru sebenarnya dia sedang menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan ibu. Untung saja dulu Ken nggak jadi sama dia. Menyesal ibu pernah membujuk Ken agar mau menjalani ta'aruf dengannya sebab ibu kasihan pada Monika, tapi kami malah dapat balasan yang nggak mengenakkan hati. Sudah begitu, bukannya memperlihatkan penyesalan dengan berubah, atau malah malu bertemu lagi sebab kesalahannya enggak enteng menurut ibu, tapi ini sikapnya malah sebaliknya. Kayak nggak ada dosa, muncul-muncul malah nyindir mantu orang, sengaja memojokkan dan membuat enggak nyaman nak Rara. Makanya ibu balas saja karena ibu tahu nak Rara pasti nggak akan melawannya.


Maaf juga ya nak Rara, tadi ibu agak maksa nak Rara supaya mau mengajari Monika. Tapi percaya deh, Monika nggak akan mau belajar sama nak Rara. Dia palingan cuma mau nyari kesempatan dekat sama Ken.


Orang seperti itu, menurut ibu enggak bagus. Sudah tahu orang sudah menikah, masih saja berusaha mencari tahu apalagi mendekati. Katak nggak punya malu.


Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Tuh kan, jadi ngomongin dia lagi. Sudahlah, ibu nggak mau nambah dosa makin banyak. Kita lupakan saja dia, jangan diambil hati ya nak Rara. Yang jelas ibu akan selalu ada untuk nak Rara kalau menghadapi Monika ataupun siapa saja yang mencoba mengganggu bahtera rumah tangga kalian." kata ibu dengan tegas.


"Ibu, terimakasih ya sudah menerima Rara dengan begitu baik. Ibu sudah seperti ibu Rara sendiri. Rara sungguh-sungguh berterima kasih sama ibu serta bersyukur sama Allah diberikan keluarga baru yang begitu baik."


"Ibu juga bersyukur punya menantu seperti kamu, Ra."


"Semoga Rara nggak ngecewakan ibu ya."


Setelah agak mendingan, aku dan ibu segera pulang. Kami tidak melanjutkan acara shopping lagi.

__ADS_1


__ADS_2