
Pukul sebelas malam. Aku tersentak dari tidur. Bersamaan dengan Dinda yang mengaku kelaparan. Mungkin karena sejak siang kami tidak makan apapun.
"Kalau begitu kakak carikan makanan dulu, ya." kataku, sambil bangkit dari sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur mama. Tidak lupa kubawa tas jinjing kecil berisi uang dan Hp.
"Mau nyari dimana, kak?" tanya Dinda, usai menguap.
"Di kantin atau depan rumah sakit. Biasanya ada yang jual nasi goreng dan sate. Kamu mau pesan apa, Din?"
"Dinda minta teh hangat dan nasi goreng aja, kak. Kalau nggak ada, mie atau roti yang di kantin juga nggak apa-apa. Yang penting ada untuk mengganjal perut."
"Ya udah, kakak keluar dulu ya. Kamu jaga mama. Ingat, kalau ada apa-apa langsung telepon kakak ya Din."
"Iya, kak."
Aku segera keluar dari kamar tempat Mama di rawat. Tetapi di pintu keluar langkahku terhenti sebab melihat seseorang sedang duduk dengan mata terpejam di kursi pengunjung yang berada tepat di depan kamar mama.
"Ken!" kataku. Ngapain dia di sini? Bukannya tadi sudah kusurh pulang, ternyata Ken nggak menuruti apa yang aku katakan, ia malah memilih tidur di sini, di teras kamar, padahal udara cukup dingin dan juga banyak nyamuknya. Apalagi Ken hanya memakai baju lengan pendek, tanpa jaket ataupun selimut untuk mengusir dingin.
Semula aku ingin berlalu begitu saja. Membiarkan Ken tertidur di luar seperti pilihannya. Tetapi saat melihat wajahnya, aku jadi tidak tega. Ditanbah caranya duduk yang menandakan bahwa ia begitu kedinginan. Makanya kubangunkan Ken perlahan, meski sebenarnya hatiku masih kesal atas apa yang ia lakukan.
"Ken ... Ken ... Ken " Panggilku, sambil mengguncang pelan lengannya. "Ken!" aku agak mengeraskan suara.
"Hah," Ken membuka pelan matanya, lalu mengusap wajahnya. Ra." katanya.
"Kamu ngapain di sini?"
"Nungguin kamu."
"Kan sudah kukatakan, jangan ganggu aku!"
__ADS_1
"Aku nggak ganggu kamu kok Ra, aku kan nunggu di luar. Apa ini masih mengganggu?"
"Bukan begitu maksudku."
"Terus apa lagi, Ra?"
"Aku kan minta kamu untuk pulang. Kamu bisa tidur di rumah. Tapi kenapa malah tidur di sini? Kan dingin, banyak nyamuk juga."
"Ra, bagaimana aku bisa meninggalkan kamu sendiri sedangkan aku tahu kamu masih marah. Aku takut kamu kenapa-napa. Apalagi kondisi Mama masih belum sehat. Aku hanya ingin menjaga kamu. Jadi maaf kalau aku enggak bisa menuruti keinginan kamu. Lagipula kan aku suaminya, harusnya kamu yang nurut sama aku, lho. Bukan sebaliknya." Ken memencet hidungku.
"Tapi kan kamu yang bikin aku kesal!"
"Ya sudah, aku minta maaf. Dimaafin, nggak?"
"Enggak!"
"Kok begitu sih? Suaminya sudah minta maaf masa nggak dimaafin. Kamu nggak kasihan sama aku?"
"Astagfirullah, aku minta maaf Ra. Aku nggak mengira semuanya akan begini. Aku sudah berniat, akan terus berbagi nasihat dengan papa agar papa benar-benar menyayangi kamu kayaknya seorang ayah pada putrinya.
Tetapi karena kesibukan, akhirnya semua itu belum bisa terealisasi. Tapi aku benar-benar sudah berniat kok, Ra. Aku mengira, lama-lama rasa sayang itu akan ada. Apalagi antara kamu dan papa ada hubungan darah. Sekeras apapun, insyaAllah bisa diluluhkan."
"Tapi nyatanya nggak bisa. Papa semakin menjadi-jadi. Aku juga baru menyadari dari permintaan Tante Wira. Jelas sekali mereka memanfaatkan kamu, Ken!"
"Semua sudah terjadi, Ra. Lalu bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan aku? Apa yang harus aku lakukan?"
Aku tidak tahu bagaimana caranya menanggapi pertanyaan Ken. Semua sudah terjadi, papa sudah melangkah memanfaatkan kami.
Sebenarnya kalau yang dimanfaatkan papa hanyalah aku, rasanya tidak akan seberat ibu. Tetapi papa sudah sampai pada tahapan meneror mama, bahkan meminta cukup banyak pada Ken. Bayangkan, ruko tiga pintu. Harganya pasti tidaklah murah.
__ADS_1
Selain itu, setelah mendapatkan satu permintaannya, papa tidak berhenti, tetapi meminta yang lainnya juga. Jelas sekali memanfaatkannya.
Aku agak khawatir, bagaimana jika akhirnya kedua orang tua Ken tahu sebab uang yang dikeluarkannya tidaklah sedikit. Ratusan bahkan mungkin mencapai satu milliar. Lalu apakah mereka bisa terima? Rasanya jadi takut jika kemudian hak tersebut membuat ayah dan ibu berubah padaku.
"Kalau ayah dan ibu kamu tahu bagaimana?" aku mengungkapkan kekhawatiran atas tanggapan keluarga Ken nantinya. Bagaimanapun juga, harta yang dimiliki Ken saat ini, semuanya bukan milik Ken pribadi. Mungkin tak sampai separuh yang berasal dari kerja kerasnya Ken. Lainnya adalah milik ayah dan ibu. "Ini akan jadi masalah baru."
"InsyaAllah nggak, Ra. Aku yang akan bertanggung jawab kalau ayah dan ibu tahu." kata Ken, mencoba menenangkan aku.
"Ken, kenapa sih harus begini?"
"Sebab aku terlalu mencintai kamu, Ra. Sejak awal aku hanya ingin membuat kamu bahagia. Apapun itu, akan kulakukan. Saat tahu bahwa kembalinya papa kamu bisa membuat kamu bahagia, maka aku sudah bertekad akan membuat papa kamu kembali menyayangimu, Ra."
"Tapi kenyataannya, papa nggak sayang sama aku. Papa kembali karena ada maunya, Ken."
"Itu kesalahan aku, Ra. Kamu boleh marah, tapi kamu juga harus tahu, aku melakukannya karena cinta pada kamu. Aku nggak mau melihat kamu bersedih lagi, Ra. Semua hal yang membuat kamu sedih, akan aku singkirkan."
"Ken!" secara spontan, aku langsung menghambur dalam pelukannya. "Maaf Ken, maaf ...."
"Nggak apa-apa, Ra. Ini salahku. Aku hanya nggak sanggup saja jika harus bertengkar sama kamu."
"Saat papa kembali pada kami, rasanya aku bahagia sekali. Makanya, ketika tahu semuanya palsu, hati ini rasanya sangat kecewa. Tadi aku benar-benar marah, tetapi barusan aku menyadari bahwa apa yang kamu lakukan adalah bukti bahwa kamu ingin membahagiakan aku. Terimakasih banyak Ken, aku benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti kamu."
"Aku juga begitu, Ra!" Ken membalas pelukanku. "Kita hadapi ini sama-sama ya. Jangan pernah lagi memintaku untuk pergi dari hidup kamu, aku nggak akan mampu, Ra. Aku kan laki-laki bucin." Ken mencairkan suasana dengan bercanda.
"Ihhhhhh jayus!" aku pura-pura ngambek. "Tapi kamu juga harus janji, Ken. Apapun yang terjadi, kamu harus cerita kalau papa minta sesuatu pada kamu. Ngerti."
"Iya tuan putri!" Ken membungkukkan tubuhnya. "Sekarang kamu mau kemana?"
"Aku mau cari makanan, aku dan Dinda kelaparan. Kamu sendiri sudah makan belum, Ken?"
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa makan kalau sejak Ashar kamu ngurung diri. Nggak ngomong ataupun balas whats app aku."
"Ya Allah, maaf Ken." aku kembali memeluk Ken.