GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
78. Habibati


__ADS_3

"Hem!" suara Dinda berdehem membuat aku dan Ken buru-buru melepaskan pelukan kami. "Dih kakak, katanya mau beli makanan. Ditungguin malah enak-enakan pacaran sama mas Ken. Tadi aja marah-marahan, nggak mau ketemu, sampai ngusir. Sudah kayak mau perang dunia ketiga saja, ternyata endingnya seperti ini." sindir Dinda sambil geleng-geleng kepala.


"Hehehe, kamu ini bisa saja." aku menggaruk kepala, untuk mengalihkan rasa malu sebab tertangkap basah oleh Dinda. Tapi, setelah kupikir-pikur, kayaknya nggak dosa pelukan dengan Ken. Kan kami sudah menikah, tapi karena di tempat umum, makanya terasa agak kurang etis.


"Jadi mau beli makan, nggak?" tanya Dinda lagi.


"Iya ... iya. Kamu nggak sabaran amat sih, Din." kataku, sambil merapikan tas kecil yang kubawa.


"Masalahnya perut Dinda sudah lapar banget, kak. Emang kakak nggak lapar?" tanya Dinda.


"Sudah nggak, mungkin karena ada Ken." aku tersenyum malu-malu.


"Ganjen!" Dinda mencibir.


"Biarin!" aku membalasnya. "Udah yuk Ken, temani aku ke depan, mau nyari makan untuk adik ipar kamu. Dia belum tahu cinta, makanya nggak faham kalau cinta bisa bikin kenyang." kataku, sembarangan.


"Hahaha, Rara ... Rara!" Ken membelai kepalaku.


Sebelum Dinda kembali protes sebab kami yang masih asyik saling meledek, aku langsung menarik tangan Ken, mengajaknya pergi ke depan rumah sakit sebab aku menyadari bahwa ternyata perutku juga keroncongan.


"Ternyata cinta nggak bikin kenyang juga, ya." kataku, sambil terkekeh.


"Untung Dinda nggak dengar, kalau nggak, bisa-bisa balik dia yang ngeledekin kita." jawab Ken.


"Iya juga sih, Ken."


"Ra,"


"Ya,"


"Kenapa kamu masih manggil aku Ken."


"Karena nama kamu Ken."


"Tapi kan kita sudah menikah. Coba panggil aku mas, Abang, aa atau sayang juga nggak apa-apa. Jangan panggil Ken dong."


"Hm," aku berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Ken benar juga, aku baru menyadari kalau selama ini hanya memanggilnya dengan nama, harusnya kan ada panggilan juga, selain karena ia suamiku, usianya pun lebih tua dariku. "Mas Ken?"

__ADS_1


"Lumayan,"


"Abang Ken?"


"Agak aneh ya kedengarannya?"


"Aa Ken?"


"Kok nggak pas!"


"Hm, kalau sayang? Suamiku sayang?"


"Dipelankan sedikit, istriku sayang."


"Suamiku tersayang."


"Nah, begitu pas sekali terdengar di telinga. Seperti nyanyian merdu sehingga membuat dadaku berdebar kencang."


"Hehehe, bisa saja,"


Ken meraih tanganku, meletakkan di dadanya. Aku yang semula senyum-senyum jadi kaku. Meskipun sudah menikah, tetapi terkadang berada di posisi yang begitu dekat dengan Ken membuat jantungku berdetak lebih kencang.


"Mas Ken sayang," kataku.


"Ya," ia menatap kedua mataku.


Baru hendak mengungkapkan kembali rasa cinta, tiba-tiba seberat sinar, yang ternyata adalah senter membuta kami langsung berjarak sebab sinar senter tersebut diarahkan tepat ke mata kami.


"Hem," Ken berdehem.


"Maaf, mas dan mbak sedang apa di situ?" tanya seorang berpakaian security tersebut.


"Pak, sinar senternya jangan di arahkan ke mata dong!" Ken protes, sebab selain merasa tidak nyaman di matanya, ia juga kesal karena sinar tersebut juga membuatku tak nyaman.


"Mohon maaf, ini sudah malam, mas dan mbak sedang apa di tempat sepi seperti ini? Saya adalah petugas keamanan di rumah sakit ini, segala hal yang berhubungan dengan ketertiban di sini adalah tanggung jawab saya!" ujar bapak security tersebut.


"Tenang saja pak, kami nggak melakukan hal-hal terlarang." jawab Ken.

__ADS_1


"Lalu kenapa berduaan di sini?" bapak tersebut masih belum melepaskan kami.


"Sudah mas," kataku. Laki-laki biasanya akan naik emosinya jika yang terusik adalah wanitanya. Aku nggak mau terjadi pertengkaran dengan bapak tersebut sebab ia sebenarnya tidak salah, kami saja yang tidak bisa menempatkan diri.


"Lagi nyari makan. Ini istri saya. Tadi kami lewat, terus terbawa suasana sebab di sini bagus sekali karena ada sinar bulan purnama ya." kata Ken, sambil menarik tanganku ke hadapan bapak tersebut, menunjukkan cincin nikah kami.


"Oh, kalau mau nyari makan di luar pak, jangan disitu. Saya kira mau mesum. Lagian bagaimana bisa dibilang bagus, di sini kan gelap!" Kata bapak tersebut.


"Astagfirullah!" kataku dan Ken bersamaan.


"Mas, ayo kita pergi." aku menarik tangan Ken, merasa malu dengan tuduhan tersebut.


Memang sebenarnya bapak tersebut tidak salah, banyak sekali pasangan muda-mudi yang belum halal melakukan hal terlarang di tempat-tempat sepi seperti tadi. Tetapi kami bukan termasuk bagian tersebut.


"Duh, malu banget. Lain kali kita harus bisa jaga diri ya, mas." Kataku, sambil mengibas-ngibaskan tangan ke wajah untuk mengurangi rasa grogi.


"Bagaimana caranya bisa nahan diri, soalnya rindu banget. Kita kan baru ketemu lagi, yang." Ungkap Ken.


"Iya juga sih. Tapi tetap harus jaga sikap!" kataku, sambil mendorong pelan tubuh Ken agar berjarak denganku sebelum mendapatkan teguran untuk kedua kalinya.


***


Hari ini mama pulang. Aku dan Ken menjemput. Sebenarnya Ken sudah menyatakan agar mama dan Dinda dibawa ke rumah kami saja. Rumah itu cukup besar, jadi bisa ditinggali banyak orang. Kalau mama dan Dinda di sana, rumah tidak akan terasa sepi lagi. Apalagi sebentar lagi aku berhenti kerja. Dengan mama tinggal bersama kami, memudahkan kami juga untuk mengontrol kesehatan mama.


Tetapi mama menolak dengan alasan tidak ada yang menjaga rumah, meski sebenarnya aku faham, mama sungkan pada orang tua Ken. Bagaimanapun juga rumah tersebut adalah pemberian orang tua Ken, mama tak ingin masuk ke sana sebab merasa tidak berhak.


"Ayah dan ibu nggak akan keberatan kok, ma. Rara yakin itu. Mereka orang yang sangat baik. Rara yang biasanya kaku dengan orang baru saja langsung nyaman sebab kedua orang tua Ken memperlakukan Rara seperti anak kandung sendiri." kataku, masih dalam upaya membujuk mama, meski kami sudah mengantar ke rumah mama.


"Mama juga yakin, ayah dan ibu nak Ken orang yang baik. Tapi kita juga harus menjaga, Ra. Jangan mentang-mentang sudah diperlakukan baik, malah ngelunjak. Kita juga harus tahu diri, Ra. Mama nggak mau ada masalah. Persaudaraan kamu dan keluarga Ken nggak hanya setahun dua tahun, tapi mama harapkan selamanya, Ra. Hingga ke surga Allah." ungkap Mama.


"Ya Allah ma ...." aku memeluk Mama. "Terimakasih sudah mendoakan Rara, ma. Rara juga berharap agar mama bahagia!"


Memang, yang namanya hubungan dengan pihak besan sebaiknya dijaga baik-baik. Suatu keberuntungan bila punya besan yang baik, sama-sama saling mengerti. Tetapi namanya manusia, kalau diperlakukan tidak baik maka bisa berubah juga. Apalagi kalau kita seenaknya.


"Sudah, sekarang kamu pulang saja dulu. Mama sudah enggak apa-apa. Lagi pula ada Dinda juga yang menjaga mama. Kasihan nak Ken, sejak pulang dari Paris, harus bolak-balik ke rumah sakit, ikut menjaga mama." kata Mama. "Kamu benar-benar nggak memperhatikannya. Iya, kan?"


"Tapi kan, Rara masih kangen mama. Toh Ken nggak masalah kok, ma." aku memeluk erat lengan mama.

__ADS_1


__ADS_2