GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
83. Datang Tiba-tiba


__ADS_3

Aku melangkah gontai ke ruangan Ken. Dia yang sedang asyik menatap layar monitor langsung menghampiri aku.


"Kenapa sayang? Sepertinya pertemuan dengan Tante Wira membuat kamu kesal. Kenapa?" tanya Ken, sambil memberikan pelukan untuk menenangkan perasaanku yang tidak karuan.


"Bingung." kataku.


"Kenapa bingung?"


"Tante Wira ngancam mau pisah sama papa."


"Terus kamu percaya?"


"Entahlah mas, aku takut saja."


"Takut kenapa?"


"Mas tahu, kalau papa berpisah dengan Tante Wira di usia segini, apa baik untuk kesehatan dan emosi papa? Mas nggak tahu bagaimana papa."


"Aku tahu kok."


"Maksudnya?"


"Istriku sayang, maafkan kalau aku membuat kamu dalam masalah. Aku yang salah sebab di awal sudah memberikan angin pada papa dan Tante Wira, tapi aku nggak sebodoh itu sayang. Aku hanya sedang mengumpulkan bukti-bukti."


"Maksudnya?"


"Awalnya aku mau bongkar semua di awal pernikahan kita. Tapi saat melihat kamu nangis membaca surat dari papa, aku nggak tega. Hanya saja, aku kembali berpikir, kalau ku biarkan, nanti yang ada kamu malah terluka lebih dalam lagi."


"Maksudnya mas?"


Ken menarik tanganku menuju laptopnya. Ia mengingatkan agar aku jangan terpancing emosi dulu.


"Aku mencari semua bukti, apa yang papa dan Tante Wira katakan itu benar? Ternyata nggak. Mereka bohong, sayang." ungkap Ken.


Ken memutar beberapa video yang sengaja diambil seseorang, kwalutasnya tidak terlalu bagus, tapi suaranya cukup jelas. Tampak papa, Tante Wira dan Elsa mengatur rencana. Bagaimana caranya agar bisa mengambil keuntungan dariku. Jika dengan cara keras tidak bisa, mereka akan memerasku dengan dalih hutang dan perceraian. Papa yakin, aku akan sangat iba.


"Ya Tuhan, papa tega sekali." aku tak tahu harus bicara apa. "Memang dari awal tidak beres sih. Harusnya papa mengambil pelajaran dari perpisahan dengan mama, malah nggak berubah-ubah."


"Sayang, manusia itu ada yang memang bisa berubah, ada yang sudah mendarah daging. Makanya nggak berubah-ubah."


"Lalu kenapa mas diam saja, apalagi ternyata mereka merencanakan mau neror mama juga."


"Aku sudah bicara dengan mama dan Dinda. Sekarang di rumah mama juga sudah ada yang menamani. InsyaAllah mama nggak akan ngambil hati."

__ADS_1


"Entahlah, aku sakit hati. Tapi mas dapat informasi ini dari mana? Siapa yang merekamnya?"


"Kamu benar-benar mau tahu?"


"Ya."


"Aku sengaja menyogok pembantunya. Memberikan bayaran dua kali lipat. Juga membayar dua orang mata-mata untuk mengetahui apa saja yang mereka lakukan. Kamu mau tahu kemana ibu tirinya sekarang dan bersama siapa?"


"Dimana? Sama Qiya, kan?"


"Nggak hanya sama Qiya, tapi ada papa dan Elsa juga." Ken menunjukkan foto yang dikirim mata-matanya padaku lewat Hp. Tampak Tante Wira dan Qiya menghampiri papa dan Elsa di lobi mall Pondok Indah.


"Ughhhh, mereka mau apa ke sana?"


"Ya shopping dong sayang, memangnya kamu, diberi uang banyak malah disimpan saja. Hahahaha."


"Mas!" aku pura-pura cemberut. "Itu kan aku lagi nabung untuk masa depan kita."


"Iya, aku cuma bercanda. Uang dua milliaran itu nggak sedikit sayang, mereka pasti puas foya-foya, tapi ini hanya sementara. Hari ini kita akhiri acara senang-senangnya. Kemarin aku terlalu sibuk, jadi belum bisa menyelesaikan masalah ini."


"Tapi bagaimana kalau Tante dan papa menemui ayah dan ibu mas?"


"Nggak masalah. Orang tuaku sudah tahu semuanya, Ra. Kamu kira orang tuaku akan lepas saja saat aku mengambil uang milliaran rupiah? Nggak Rara sayang. Kami memang punya uang cukup banyak, tapi semua dipantau ibu. Jadi keluar masuknya jelas. Kecuali pendapatan aku sekarang, itu semua hak kita berdua." Ken tersenyum.


"Bagaimana kalau kita adakan kunjungan dadakan."


"Kunjungan dadakan?"


"Ya, aku sudah punya rencana. Kamu ikuti saja." Ken tersenyum misterius, ia hanya minta agar aku mengikuti apa yang akan dilakukannya. Selanjutnya biar Ken yang mengatur semuanya sehingga membuat aku jadi penasaran, apa yang akan Ken lakukan?


"Bocorkan sedikit saja apa yang akan kamu lakukan?" pintaku.


"Sabar sayang, kamu pasti akan suka. Semoga saja papa dan Tante kapok!"


***


Kami benar-benar jalan menuju puncak, dimana mama dan papa tinggal. Sampai di rumah papa dan Tante Wira, Ken memarkir mobil agak jauh, kata Ken supaya papa dan Tante tidak menyadari kedatangan kami dan agar tidak ada drama lagi. Setelah itu, seorang pembantu rumah tangga langsung membukakan pintu. Ia memberi hormat pada Ken sebagai tanda mereka sudah berkomunikasi sebelumnya.


"Bapak sama ibu masih jalan-jalan, pak." kata pembantu tersebut.


Kami berdua benar-benar menunggu. Aku paling berdebar, antara takut, geram dan juga penasaran dengan apa yang akan Ken lakukan.


"Mas, kita sudah di sini, apa nggak mau ngasih tahu aku tentang rencana mas?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Psssttt, sabar dulu." ujar Ken, sambil meletakkan jarinya di depan bibirku.


Cukup lama kami menunggu, aku benar-benar bosan. Sementara Ken sibuk dengan Hpnya. Ia masih harus menyelesaikan beberapa kerjaan kantor. Untung saja ia yang jadi direkturnya, kalau nggak bakalan sudah memberikan kejutan untuk keluarga papa.


Sebuah mobil parkir di depan rumah, turun seorang perempuan berpenampilan glamor. Ia temannya Tante Wira.


"Ini Bu Heru bukan?" tanya Ken, dengan mengerutkan keningnya, seolah ia mengingat sesuatu.


"Iya. Ini mas Ken kan? Anaknya Bu Intan?" tanya Bu Heru.


"Iya Bu."


"Ya ampun, kebetulan sekali. Saya sudah tahu kalau mas Ken menikah sama anaknya Bu Wira, makanya saya mau nganterin berlian pesanan Bu Wira ke sini. Katanya sih mau langganan sama saya."


"Oh ya?" tanyaku.


"Tante Wira pesan apa, Bu?" tanya Ken, sambil memberikan isyarat agar aku diam saja.


"Kalung sama cincin untuk Bu Wira dan Elsa. Sudah transfer sih, sepertinya Bu Wira baru dapat rezeki gede, belinya mborong loh pak Ken, belanja sampai satu koma delapan em."


"Oke!" Ken menganggukkan kepalanya. "Ibu bisa bantu saya?"


"Bantu apa?"


Ken meminta kerja sama dari Bu Heru agar menahan uang Tante Wira sebab kami menduga itu adalah uang dari penjualan ruko yang dihadiahkan Ken.


"Terbukti, kan?" kata Ken padaku. "Papa nggak sakit kok. Uangnya ada, untuk foya-foya!"


"Ngomong-ngomong, berarti ibu sudah janjian sama Tante Wira?" tanya Ken, untuk mencairkan suasana.


"Iya pak Ken. Saya sudah janjian sama Bu Wira. Siangan sih, cuma saya takut kena macet makanya datang di awal. Sebentar ya, saya hubungi dulu."


Bu Heru menghubungi Tante Wira, ia sengaja memperbesar volume suara Hpnya agar kami mendengarkan.


Posisi kali ini kami benar-benar beruntung sebab Bu Heru mau diajak kerjasama meskipun Ken mengimingi akan mengajukannya pada ibu sebagai langganan untuk membeli berlian.


"Lima menitan lagi sampai." Bu Heru mengulangi informasi yang sudah kami dengar.


"Kamu siap?" tanya Ken.


"Entah. Aku deg-degan." Jawabku.


"Lebih deg-degan mana dibandingkan saat mau dilamar?"

__ADS_1


"Mas!" Aku pura-pura cemberut, sementara Ken tertawa.


__ADS_2