
"Kenapa diam? Kamu nggak bisa jawab, Ken? Oh, jadi kamu cuma mau becandain aku. Iya, kan? Enggak lucu! Kamu benar-benar jahat! Aku tahu kok, aku memang bukan tipe perempuan yang kamu suka, seperti Monika atau Binaca, kan? Tapi enggak perlu mencandai seperti ini. Jahat!" aku nyaris menangis, andai di sini tidak ada orang lain selain kami berdua, mungkin air mata itu sudah luruh.
Kenapa, Ken? Kenapa kamu diam saja?
”Sudah ngomel-ngomelnya?" tanya Ken. "Kalau saja kamu sudah halal, pasti kedua pipimu itu sudah aku cubit Ra. Kamu benar-benar menggemaskan. Setelah mengajukan pertanyaan, bukannya memberikan kesempatan orang yang ditanya untuk menjawab, malah terus diberondong dengan tuduhan -tuduhan yang tidak masuk akal.
Siapa bilang perempuan idamanku seperti Monika atau siapa tadi? Bianca? Ya Tuhan, wajahnya saja aku tidak ingat. Ada-ada saja kamu, Ra.
Kamu ingat, beberapa hari lalu, saat aku mengajakmu mampir ke rumahku, itu ada tujuannya. Aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Ialah ibuku. Sekaligus supaya kamu tahu, ibuku orang yang seperti apa.
Rara, kamu tahu, dari dulu aku selalu berharap bisa merajut pernikahan seperti rumah tangga ayah dan ibuku.
Ayahku adalah seorang lelaki yang beruntung, begitu menurut pengakuannya dan yang aku lihat sendiri. Kau tahu, sumber keberuntungan dan kebahagiannya adalah ibuku. Gadis sederhana, saliha, tapi sangat cerdas seperti kamu. Ibuku adalah orang yang selalu ada di samping, belakang bahkan kadang kalau dibutuhkan ada di depan ayah.
Kau tahu, saat pertama kita bertemu, aku merasa sudah ada getaran-getaran di sini. Di dadaku. Saat kau mengatakan tidak suka bergosip, apalagi tentang atasanmu. Kau juga yang dengan begitu lugas membantuku memahami beberapa hal yang sulit kunengerti meskipun pak Pras sudah berusaha menerangkan sedetail mungkin.
Rara, kalau kau tanya mengapa aku mencintaimu? Aku juga tidak tahu alasan pastinya apa. Tapi yang jelas, saat kau ada di sampingku, aku merasa begitu nyaman. Rasanya aku juga akan aman bila berlayar bersamamu dalam mengarungi biduk rumah tangga.
Aku yakin, kau akan jadi benteng yang kokoh untuk melindungi hatiku dari cinta yang tidak halal. Tentang Monika ataupun perempuan lain, aku tak peduli pada mereka Ra. Ini pertama kali aku menyatakan cinta dan ingin langsung menikah dengan sangat yakin sekali pada seorang perempuan. Sebelum-sebelumnya, mereka yang datang mengemis cinta padaku, Ra.
__ADS_1
Hubunganku dengan Monika sudah berakhir beberapa bulan lalu. Aku tak tertarik untuk membahas apapun tentangnya, Ra. Sebab ia bukan seseorang yang spesial. Apalah guna cantik wajah jika tak bisa menjaga akhlak. Aku ingin punya istri yang baik, agar hak anakku mendapatkan ibu yang baik bisa kupenuhi. Aku tahu aku bukan lelaki sempurna, tapi aku yakin hidupku akan sempurna sempurna dengan kamu, Ra. Apa alasan itu sudah cukup?"
Kini aku yang terdiam, mencerna kembali pengakuan Ken barusan. Apa benar ini? Aku tak salah dengarkan, atau ini benar nyata kah, atau hanya mimpi belaka? Lagi-lagi aku dibuat bingung. Seorang Arif yang biasa saja memilih Bianca, kenapa Ken yang jauh di atas Arif malah memilih aku?
"Ra, kamu sendiri kan yang bilang tidak suka gosip? Lalu apa kita harus membahas aib orang lain di sini? Aku cuma ingin menekankan kalau aku suka padamu, aku berniat menikahi kamu, Ra. Sekarang, biarkan aku mencari cara agar bisa bicara dengan kedua orang tuamu untuk mendapatkan izin menikahi kamu. Tidak perlu memikirkan apapun yang tak perlu dipikirkan, Ra. Tugas kamu hanyalah berusaha untuk menumbuhkan cinta untukku. Yang lainnya, lupakan!" tambah Ken.
Ken, apa kamu tahu, aku tak perlu usaha apapun untuk menumbuhkan cinta padamu, sebab dengan sendirinya ia sudah datang, masuk ke hati ini tanpa seizinku. Tapi semua seperti mimpi, Ken. Apa semudah ini, setelah apa yang aku rasakan selama ini. Benarkah ini nyata, Ken? Benarkah? Atau jangan-jangan ini hanya ilusiku saja?
Perlahan, netra yang semula berkaca-kaca mulai retak. Lalu buliran bening itu mengalir deras di pipi. Aku tak tahu kenapa ia harus mengalir, padahal harusnya hati ini bahagia. Bukankah akupun punya perasaan yang sama dengan Ken. Ahhhh, mengapa aneh sekali yang namanya cinta.
"Ra, kenapa menangis? Kamu marah, atau tidak suka mendengarkan pengakuanku tadi? Ra, percayalah, aku bicara jujur dari hatiku. Aku akan berusaha belajar jadi yang terbaik untuk kamu. Boleh, kan Ra? Jangan menangis lagi, aku minta Ra. Aku tidak bisa melihat kamu menangis. Cukup laki-laki lain saja yang sudah membuatmu menangis. Aku tidak mau jadi bagian seperti mereka. Aku ingin jadi orang yang membawa kebahagiaan untukmu, Ra. Bisa, kan?" Ken tampak panik, berusaha untuk mendiamkan aku.
Ken langsung berjalan mengikutiku dari belakang. Wajahnya mengguratkan penyesalan. Mungkin ia takut sebab sudah membuatku menangis. Tetapi air mata ini bukan karena kamu, Ken. Aku hanya bingung bagaimana dengan perasaanku sendiri, bukan karena aku tidak suka atau tidak yakin tapi aku merasa ini seperti mimpi.
Bayangkan saja. Baru beberapa bulan dicampakkan oleh seorang lelaki biasa, kemudian jadi bulan-bulanan kemarahan papa. Tiba-tiba sekarang, seseorang yang secara perekonomian jauh di atas Arif datang menyatakan cintanya. Apakah aku pantas?
"Ken, berhenti di sini ya." kataku.
"Kenapa Ra?" tanya Ken, sambil meminggirkan mobilnya.
__ADS_1
"Aku mau makan di situ dulu sambil menenangkan diri."
"Aku temani ya?"
"Enggak usah. Lagipula kantinnya dekat sekali dengan kantor. Pasti banyak anak-anak kantor yang juga makan di sana."
"Ya sudah. Tapi jangan menangis lagi ya Ra. Kalau ada apa-apa, bicara sama aku ya Ra."
"Iya." aku bergegas turun, lalu masuk ke kedai yang kumaksut.
Suasananya sudah sepi. Mungkin karena jam makan siang sudah mau berakhir. Aku memesan segelas jus alpukat. Lalu duduk sambil menatap jalanan yang masih ramai dilalui kendaraan, baik itu motor ataupun mobil.
"Ya Tuhan, aku harus jawab apa?" aku benar-benar bingung.
Ken, apakah aku benar-benar pantas untuk kamu? Secara status sosial kita berbeda. Lalu kedua orang tua kamu. Apa benar mereka bisa menerimaku? Aku takut, setelah memberimu kesempatan, ternyata kedua orang tuamu tidak setuju. Sementara Mama sudah begitu berharap. Aku tidak bisa melihat mama kecewa untuk kedua kalinya.
Ken, apakah kamu tahu, mama sudah sering merasakan kekecewaan dalam hidupnya. Aku tak mau menjadi penyumbang kekecewaan lagi. Aku hanya ingin memberi kebahagiaan. Cukuplah kemarin saja aku membuta mama menangis, tidak ada boleh yang kedua kalinya.
Maafkan aku Ken. Maaf
__ADS_1