
Suara langkah seseorang membuatku langsung menghapus sisa air mata. Ternyata Ken, ia kaget melihat mataku yang memerah, makanya langsung datang menghampiri.
"Kenapa sayang, matanya sampai merah begitu? Kamu nangis?" Ken memegang kedua pipiku hingga membuatku mendadak kaku sebab jarak kami begitu dekat saat ini. "Apa yang terjadi, katakanlah. Apa aku ada salah?"
"Enggak Ken, aku nggak apa-apa. Aku baru nelpon papa." jawabku, sambil mendorong pelan tangan Ken.
"Baru tiga puluh menit meninggalkan kamu kenapa jadi kangen sekali, ya?"
"Ken!" Ken terhenti sebab suara bel kamar dibunyikan.
"Siapa itu?"
"Enggak tahu."
"Kamu mesan makanan?"
"Enggak."
"Lalu siapa?"
"Kalau mau tahu, makanya buka."
Ken tampak ogah-ogahan keluar, sementara aku langsung menyambar kerudung. Khawatir terlihat dari luar sebab aku sedang duduk di sofa yang tepat berada sejajar dengan pintu.
"Ada tamu." kata Ken.
"Siapa?"
"Entah. Mau ditemui atau enggak?"
"Temui saja."
"Kok begitu?"
"Ya namanya tamu."
"Tapi kan kita ...."
"Sudah, ayo temui. Siapa tahu itu teman-temanku." aku duluan melangkah keluar, sementara Ken mengekor dengan begitu malasnya. Dalam hati, aku terus bertanya-tanya, apa benar itu ketiga sahabatku. Tapi untuk apa? Kemarin, saat resepsi kami sudah bersama seharian.
Kami turun ke lobi hotel, dimana tamunya berada. Rupanya Rangga. Ia tahu kami di sini dari Dinda.
"Assalamualaikum." sapa Rangga.
"Wa'alaikumussalam." jawabku, sementara Ken masih ogah-ogahan, sehingga membuatku tidak enak hati pada Rangga.
"Maaf ya mengganggu waktu kalian." katanya, sambil menjabat tangan Ken yang masih saja cuek bebek. Aku saja sampai gemas oleh sikapnya. Persis seperti anak kecil yang sedang asyik bermain sesuatu lalu diajak pindah melakukan hal lain yang tidak ia suka.
"Enggak ganggu kok, Ngga. Ada apa?" tanyaku
"Itu, maaf ya Ra, pak Ken ... baru bisa datang sekarang karena kemarin saya piket terakhir di Jakarta." ungkap Rangga. Ia juga memberikan kado untuk kami berdua.
"Kamu jadi pindah, Ngga?" tanyaku.
"Iya Ra." jawab Rangga.
__ADS_1
"Pindah? Kemana?" Ken menyerobot.
"Ke Jogja." jawabku.
"Kamu tahu?" Ken menatap curiga.
"Iya, kan sebelumnya sudah pernah cerita-cerita." kataku.
"Oh," Ken malah membuang muka. "Baguslah, kalau memang mau pindah."
"Ken?" aku mengerutkan kening, merasa aneh dengan kata-kata terakhir Ken.
"Maksud saya, kalau mau berkarir sebagai polisi memang sebaiknya di Jogja ketimbang di Jakarta." ungkap Ken.
"Kenapa?" aku semakin bingung.
"Karena Jogja itu nyaman. Kalau Jakarta kan sumpek, kamu pasti pusing di sini, iya kan?" Ken tersenyum aneh. "Makanya ke Jogja saja. Enggak usah di Jakarta lagi. Yakin deh, kamu pasti lebih menikmati kalau di Jogja. Harga juga murah-murah di sana. Ditambah orangnya baik-baik juga."
"Lalu kenapa kamu enggak pindah ke Jogja juga, Ken?" tanyaku lagi.
"Perusahaanku di Jakarta, Ra." jawab Ken, enteng.
"Iya, saya memang merasa lebih nyaman di Jogja." jelas Ken.
"Nah, itu bagus." Ken mengacungkan ibu jarinya.
"Lalu, mbak Yuni, bapak dan ibu bagaimana, Ngga?" aku memikirkan mbak Yuni yang terakhir kali berhubungan bercerita bahwa kondisinya sudah semakin membaik.
"Alhamdulillah semua baik, walaupun mbak masih ngurung diri di kamar, belum berani keluar rumah atau bertemu orang asing. Tapi sudah lebih dekat dengan ibu. Kini keluarga kami fokus pada kelahiran calon bayi mbak Yuni saja." cerita Rangga.
"Terimakasih banyak ya Ra. Kamu banyak berjasa untuk keluarga kami." tutur Rangga.
Kami berbincang singkat, Rangga buru-buru pamit, mungkin karena ia tak nyaman dengan sikap Ken yang uring-uringan.
Setelah Rangga pergi, aku dan Ken kembali menuju kamar. Di perjalanan, aku menegur sikapnya barusan.
"Kamu kenapa sih, Ken? Kayak anak kecil." kataku.
"Lha, kamu kenapa harus tahu segala hal tentang polisi itu."
"Bukan tentang Rangga, tapi tentang mbak Yuni."
"Yang pindah ke Jogja?"
"Itu sebenarnya yang mau pindah mbak Yuni dan orang tuanya, makanya Rangga cerita. Kalau dianya sih awalnya nggak mau pindah."
"Tadi katanya mau pindah."
"Ya gara-gara dia baru ditolak, makanya pengen ikutan sekalian pindah."
"Ahh, masa?"
"Sungguh. Aku nggak tahu semua tentang dia kok. Itu hanya kebetulan saja karena awalnya dia dan keluarganya datang ke rumah, tapi karena ditolak makanya dia berpikir untuk pindah."
"Tunggu sebentar, maksud kamu apa?"
__ADS_1
Astagfirullah. Aku langsung menggigit bibir, kenapa jadi keceplosan begini. Jadinya salah tingkah sebab Ken menatapku curiga.
"Kok nggak jawab?" tanya Ken. "Rara. Mau apa Rangga ke rumah kamu."
"Bukan sesuatu hal yang penting." kataku.
"Penting atau enggak penting, nanti aku yang tentukan. Sekarang jawab dulu."
"Enggak mau."
"Kamu membantah suami?"
"Ken, nanti kamu sendiri yang bakalan sakit hati."
"Udah, jawab saja!"
"Dia mau melamar aku. Puas?"
"Apa? Enak saja dia mau melamar kamu." Ken langsung mencak-mencak.
"Itu karena Rangga enggak tahu kalau aku sudah punya calon suami. Setelah dia tahu, Rangga sangat gentle kok, langsung mundur dan jaga jarak. Makanya dia mau pindah ke Jogja."
"Kok kamu muji dia?"
"Ken, ini kenyataan."
"Oh, baguslah. Semoga dia nggak kembali lagi ke Jakarta."
"Kenapa?"
"Ya mau ngapain ke Jakarta lagi?"
"Ahhhh sudahlah, aku nggak mau berdebat lagi!" aku segera masuk ke dalam kamar diikuti oleh Ken yang terus saja membahas Rangga.
***
Kehidupan sebenarnya dalam rumah tangga kami akan dimulai. Aku dan Ken bersiap pulang ke rumah. Ken mengatakan kalau ia sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kami tempati berdua. Kami memutuskan tidak tinggal dengan salah satu orang tua kami sebab begitulah yang lebih baik menurut pertimbangan kami.
"Lalu bagaimana dengan barang-barangku?" tanyaku pada Ken, saat mobil mulai melaju menuju tempat tinggal baru kami.
"Tenang saja, semua sudah dikirim mama kamu ke rumah. Kemarin aku yang minta." kata Ken, sambil tetap fokus menatap ke depan.
Mobil memasuki halaman rumah yang pagarnya tiba-tiba terbuka lebar, Ken mengatakan kalau ia menggunakan pembuka dan penutup otomatis untuk gerbang depan sebab belum punya satpam.
"Ayo turun!" ajak Ken, sambil membukakan pintu untukku yang masih bengong di dalam mobil.
Pertunjukan kemewahan itupun dimulai. Setelah menikah dengan pesta yang sangat mewah dan meriah, lalu menginap di hotel yang tak kalah mewah, kemudian pulang dengan mobil yang juga mewah, kini aku dibawa ke rumah yang lebih tepatnya disebut istana yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya akan tinggal di tempat seperti ini.
"Ini rumahnya?" tanyaku.
"Iya, rumah kita. Bagaimana, kamu suka?" tanya Ken.
"Ini terlalu besar."
"Lalu maunya yang seperti apa?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala. Ken, kenapa rasanya gamang. Berada di sisimu penuh dengan kemewahan. Apakah aku bisa?