GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
42. DESAKAN MAMA


__ADS_3

"Berarti tuduhan Arif tidak benar, kan Ra?" pertanyaan Mama membuyarkan lamunanku. "Nah, sekarang bagaimana, Ra. Kamu mau menerima lamaran nak Ken atau tidak?"


"Hah?" aku masih bingung, apalagi kini mata Mama dan Ken tertuju padaku.


"Iya, bagaimana Ra?" Ken ikut bertanya. Ia melihatku dengan penuh harap.


"Aku nggak tahu." jawaban itu sesuai dengan isi hatiku sekarang, sebab aku masih bimbang. Harus menerima, atau tidak? Satu sisi tidak kupungkiri bahwa virus merah jambu itu sudah menyerang hati, tetapi di sisi lain masih trauma dan itu tidak bisa hilang begitu saja.


"Lalu siapa yang tahu, Ra?" Mama ikut mempertanyakan.


"Beri Rara waktu, Ma. Setidaknya, biarkan Rara untuk istikharah dulu agar pilihan Rara bukan hanya karena keinginan pribadi saja. Rara ingin melibatkan Allah di setiap langkah Rara." ucapku.


"Kalau begitu baiklah, Ra. Kamu butuh waktu berapa lama untuk istikharah? Satu atau dua pekan? Aku tidak masalah. Aku akan menanti dengan sabar. Tapi tolong, jangan dekat-dekat dengan polisi yang berfoto dengan kamu ya. Aku pencemburu, Ra. Paling tidak tahan jika Perempuanku didekati oleh lelaki lain." kata Ken.


"Iya." aku menjawab pasrah agar Ken mau segera pulang.


Baru saja mobil Ken hilang dari pandangan kamu, mama sudah memburu dengan berbagai pandangan yang intinya adalah agar aku segera menerima lamaran Ken.


"Ma, kan sudah Rara katakan, Rara belum mengenal Ken dengan baik. Di awal perkenalan kami, Rara mengenalnya sebagai orang lain. Tetapi ternyata ia adalah atasan Rara. Pasti tidak akan mudah beradaptasi dengan keluarganya. Mama tidak tahu saja betapa besarnya rumah Ken. Ia pasti sangat kaya raya, ma. Biasanya, orang kaya enggak mau sembarang bergaul dengan orang biasa seperti kita. Ken mungkin tidak mempermasalahkan siapa Rara, tapi bagaimana dengan orang tuanya?" kataku, mencoba menjelaskan salah satu hal yang membuatku ragu-ragu.


"Lalu sekarang harus bagaimana, Ra? Mama memang merasa sangat cocok dengan Ken. Anaknya sangat sopan dan begitu perhatian."


"Mama sabar dulu ya. Bantu Rara dengan doa sebanyak-banyaknya agar Allah memberikan kita petunjuk."


"Iya Ra, insyaAllah doa mama selalu untuk kamu. Mama ingin mengobati segala kekecewaan kita sebab kegagalan pernikahan kamu yang pertama."


Lagi-lagi aku melihat banyak harapan di kedua netra mama. Sebuah harapan agar aku bisa merasakan kebahagiaan dengan pasangan hidupku nantinya.


***


"Assalamualaikum, selamat pagi mbak Rara!" sapa seseorang dari belakang saat aku baru masuk ke ruangan. Kedatangannya yang begitu tiba-tiba membuatku nyaris melonjak.


"Astagfirullah!" aku langsung mengusap dada saking kagetnya. "Wa'alaikumussalam. Bianca?" kataku.


"Apa kabar mbak Rara? Oh ya, ini, aku ada sesuatu untuk mbak Rara." Bianca mengukurkan bag paper yang tadi ditentengnya. Cukup besar, entah apa isinya.


"Apa ini?"


"Itu oleh-oleh dari aku. Kemarin kan baru liburan ke Itali."


"Buat aku?"


"Iyalah, masa untuk pak Ken."


"Terimakasih Bi." aku memaksakan senyum meski sebenarnya agak kurang suka sebab ia menyebut-nyebut Ken.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan permintaan aku, mbak?"


"Permintaan apa?"


"Duh, mbak Rara lupa ya? Aku kan minta tolong supaya mbak Rara nyomblangin aku sama pak Ken. Sudah disampaikan belum salam aku untuk pak Ken, mbak?"


Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku langsung jadi tidak enak hati sebab teringat permintaan Bianca agar nyomblangin dia dengan pak Ken. Sebenarnya aku sudah berusaha bicara tetapi Ken menikah mentah-mentah. Lalu sekarang aku harus bilang apa?


"Mbak," Bianca menyolek lenganku. "Kalau aku minta tolong lagi, bisa kan mbak?"


"Apa Bi?"


"Jadi akhir pekan ini aku ulang tahun, mbak. Bisa kan bujukin pak Ken supaya datang ke ulang tahunku."


"Duh, ngomongnya bagaimana ya Bi?"


"Mbak Rara ikut aja sekalian. Mau ya mbak."


"Aku nggak biasa pergi ke pesta ulang tahun, Bi."


"Bukan pesta besar kok Mbak. Mau ya, ajak pak Ken sekalian."


Inilah salah satu kelemahan ku, saat ada yang meminta tolong dan ia memulainya dengan melakukan sebuah kebaikan padaku.


"Bisa ya mbak? Aku sangat berharap banget lho. Pokoknya aku tunggu kedatangan mbak Rara dan pak Ken!" tanpa ada pertimbangan lainnya, Bianca langsung pergi dari hadapanku. Kini aku benar-benar dihadapkan pada dilema. Bagaimana caranya memberitahu Bianca bahwa aku dan Ken sedang menjalani masa taaruf?


***


Kini tatapanku tertuju pada bag paper pemberian Bianca yang berisi parfum merek terkenal, coklat serta beberapa macam makanan kecil lainnya yang aku yakin harganya tidak murah.


[Ada yang bisa temani aku, enggak?] sebuah pesan ku kirim ke grup yang diisi oleh Aya, Dini dan Risa.


[Kemana, Ra?] Aya membalas duluan.


[Ulang tahun Bianca. Please temanin ya At.] pintaku, atau kita berempat datang semua.


Tidak ada balasan lagi. Lima menit kemudian barulah Aya menyetujui dengan berbagai macam persyaratan.


[Aku ikut karena tahu pak Ken mau datang. Aku penasaran, bagaimana sih dia sebenarnya sampai bisa membuat sahabatku ini jadi bimbang.] ungkap Aya sambil mengirim emoticon tertawa.


Ken. Iya, aku belum memberitahunya. Padahal yang utama diundang oleh Bianca adalah Ken. Tapi bagaimana caranya memberitahunya?


Untuk keenam kalinya aku mengetik pesan pada Ken, tetapi bukannya dikirim malah kehapus berulangkali sebab khawatir memilih kata-kata yang tidak pas. Saat aku menjatuhkan diri di kasur, tiba-tiba Hp berbunyi. Pesan dari Ken.


[Assalamualaikum, maaf sebelumnya Ra. Tidak bermaksud mengganggu. Aku cuma mau tanya, apa perlu aku hubungi papamu sekarang?] pesan dari Ken.

__ADS_1


[Untuk apa?] jawabku. [Tuh kan, sampai lupa menjawab salam. Wa'alaikumussalam.]


[Enggak usah grogi, Ra.] ia menyelipkan emoticon tersenyum dengan pipi merona.


[Siapa yang grogi? Aku cuma mau ngasih tahu, hari Ahad ada undangan.]


[Undangan apa?]


[Bianca ulang tahun.]


[Lalu?]


[Masa masih nanya juga. Dia ngundang kamu, Ken!]


[Oh.]


[Kok cuma oh? Kamu bisa datang, kan?]


[Kamu mau datang?]


[InsyaAllah.]


[Kalau begitu aku datang. Bilang dong kalau mau ngajak jalan bareng. Tapi kita nggak berduaan kan, Ra? Takut yang ketiga adalah setan.]


[Enak saja. Yang ketiga adalah Aya.]


[Baik kalau begitu. Hari Ahad aku jemput di rumah kamu.]


[Enggak perlu.]


[Kenapa?]


[Aku dan Aya bisa berangkat sendiri.]


[Kalau begitu aku nggak datang.]


[Lho, ya jangan.]


[Kenapa?]


[Itu permintaan Bianca.]


[Ya sudah, kamu dan Aya aku jemput atau aku nggak berangkat?]


[Iya ... iya. Terserah kamulah!]

__ADS_1


Hp kumatikan. Tidak mau membaca pesan yang isinya perdebatan dengan Ken. Tapi ada perasaan yang aneh saat membayangkan Ken hadir di ulang tahun Bianca. Apakah aku sanggup melihatnya? Tetapi Ken harus memutuskan, apakah ia akan menerima Bianca atau tidak agar hubungan ini menjadi jelas.


__ADS_2