GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
58. Malam Penuh Cinta


__ADS_3

Mama memelukku erat, sebelum berpamitan pulang usai acara pernikahan berakhir. Begitu juga dengan papa dan Tante Wira. Mereka menolak untuk menginap lagi sebab ingin menjamu tamu di rumah masing-masing.


"Ra, ingat nasihat Mama. Patuhi Ken, ia adalah imammu saat ini. Kamu harus mendahulukan dia ketimbang siapapun. Termasuk mama dan papa sebab tanggung jawab kami sebagai orang tua terhadap kamu sudah beralih padanya." kata mama.


Nasihat itu sukses membuat air mataku mengalir deras. Hanya dengan satu kali ijab kabul saja, aku telah menjadi tanggung jawab Ken. Aku bukan lagi milik kedua orang tuaku, tetapi Ken, ialah yang harus aku dahulukan dibandingkan siapapun, termasuk orang tuaku.


"Ma," aku memeluk Mama erat.


"Ini." Mama memberikan sebuah bukti transaksi bank.


"Apa ini, ma?"


"Ini dari papamu. Diberikan pada mama satu pekan sebelum kamu menikah. Papamu sebenarnya ingin memberikan lebih, tetapi rezekinya baru segini, Ra. Kamu gunakan baik-baik ya. Kemarin mama meminta Dinda untuk menyetorkannya ke rekening kamu."


"Ma, enggak perlu."


"Ra, mama tahu Ken sangat kaya raya. Uang segini mungkin tidak ada artinya untuk dia. Tetapi kamu punya ayah dan ibu. Bagi kami kamu adalah harta berharga. Tidak ada yang boleh mengatakan atau sekedar berpikir kalau kami menikahkan kamu hanya karena harta, tetapi karena Ken adalah jodoh kamu. Makanya uang ini mama bekalkan untuk kamu. Semoga suatu saat bermanfaat."


"Mama!" lagi-lagi aku memeluk Mama.


"InsyaAllah Ken akan jadi imam yang baik. Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, nak."


Aku dan mama beriringan, berjalan menuju keluar kamar tempat kami menginap semalam. Di sana juga sudah ada papa, Tante Wira dan Dinda yang sedang berbincang dengan Ken.


"Kami titip Rara, ya nak Ken." pesan papa pada Ken.


"Baik, pak." kata Ken.


Papa, Tante Wira, Mama dan Dinda meninggalkan kami berdua di lorong kamar hotel. Entah mengapa, hatiku begitu sesak melihat mereka menjauh. Ada perasaan resah di hati.


Apakah aku akan jadi orang asing nantinya, jika kembali ke rumah?


Pertanyaan itu terus menuntut jawaban dari diriku sendiri. Rasanya ingin berlari dan mengejar mereka, apalagi saat-saat terakhir menjelang pernikahan, aku baru menemukan sosok papa Kembali. Kebersamaan itu rasanya masih kurang.


Apakah semua anak perempuan seperti ini saat menikah, lalu meninggalkan rumah orang tuanya?


"Pa ... Ma ...." aku tak bisa lagi menahan langkah ini.


"Mau kemana, Ra?" tanya Ken, sambil menarik lenganku.


"Ihhhhhh, apaan sih?"


"Astagfirullah, Ra. Aku ini suami kamu lho. Kok masih saja digalakin!"


"Ya kamu ngapain megangin aku!"

__ADS_1


"Memang kamu mau kemana?"


"Ngejar mama dan papa."


"Terus."


"Aku mau ikut pulang. Kok rasanya sedih ditinggal seperti ini."


"Enak saja. Kamu itu istriku, mulai hari ini akulah satu-satunya orang yang harus kamu dampingi. Jadi jangan berpikir kemana-mana tanpa aku!"


"Posesif, ih."


"Biarin. Sudah yuk, ngapain bertengkar di lorong hotel, bisa-bisa tamu yang lain marah karena suara kita berisik."


Aku hendak menuju kamar tempat menginap tadi malam, tetapi Ken menarik lenganku. "Bukan disitu kamarnya."


"Iya, disitu. Semalam aku tidur di sana."


"Malam ini tidak disana lagi, Rara sayang."


Ken menarik tanganku, ia menuntun menuju kamar utama yang ada di ujung lorong. Saat kami masuk, ruangan yang semula gelap berubah menjadi terang dan terlihat sekali pemandangan indah yang membuatku kembali terkagum-kagum.


Kamar dengan nuansa putih dan gold akan menjadi kamar pengantin kami. Ada taburan mawar merah di lantainya. Mendekati ke arah tempat tidur, ada satu cara mawar merah yang wanginya begitu harum.


"Ra," panggil Ken.


"Boleh aku mendoakan kamu?"


"Ya."


"Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." Ken memegang ubun-ubun ku dengan tangan kanannya.


"Aamiin."


"Kita salat dulu, ya."


Aku dan Ken melaksanakan salat Sunnah dua rakaat. Salat yang dilakukan hanya oleh sepasang pengantin yang baru menikah.


Sepanjang rakaat, air mata ini tak hentinya menetes. Perjalanan menuju pelabuhan akhir benar-benar menyisakan banyak kisah. Aku berharap, akhirnya pun akan bahagia.


"Ra," panggil Ken lagi, usai berdoa untuk pernikahan kami.


"Apa?" kataku.


"Kamu, adalah prioritas utama dihidupkan saat ini dan aku ingin kamu selalu membersamai setiap langkah di hidupku.

__ADS_1


Jika kamu bahagia, akupun merasa bahagia. Jika kamu sedih, aku jauh lebih sedih lagi. Jika kamu mencintaiku, maka aku akan merasa jadi manusia paling bahagia di dunia ini."


"Ken."


"Ra, kamu sudah siap berlayar bersamaku?"


"Hm,"


"Bolehkah aku merasakan nyanyian indah dari pernikahan yang halal ini, agar keberkahan itu semakin bertambah-tambah untuk kita?"


"Hm,"


"Kamu siap menjadi milikku selamanya?"


"Hm."


Jakarta malam ini terasa lebih indah sebab dua orang yang telah sah di hadapan Allah akhirnya memadu kasih karena Allah. Mereka telah sama-sama berjanji, bersama karena Allah, dan berpisahpun kelak hanya karena Allah.


***


Pukul empat lewat tiga puluh. Ketika akhirnya suara azan Subuh dari Hp membangunkanku dari tidur. Rasanya masih sangat mengantuk sekali, tetapi panggilan cinta dari Sang pemilik cinta membuat kami sadar bahwa Dua harus didahulukan dari pada kepentingan semata.


Aku tak mendapati Ken di sampingku. Sepertinya ia sudah bangun duluan. Dari suara gemericik air di kamar mandi, ku tebak ia sedang mandi.


Buru-buru aku bersiap sebab tak ingin terlambat salat. Menanti giliran ke kamar mandi. Begitu Ken keluar, aku tidak kuasa untuk marah sebab ia dengan santainya keluar hanya dengan handuk di separuh badan.


"Apa yang kamu lakukan?" kataku dengan agak kesal, sambil membuang muka.


"Kenapa? Aku baru mandi? Oh, aku nggak tahu kalau kamu sudah bangun, kalau tahu sekalian tadi ngajak mandi bareng. Lagian, kenapa enggak masuk saja, pintu kamar mandi juga tidak kukunci." jawabnya santai.


"Ken!"


"Apa sayang?"


"Ihhhhhh, sayang?"


"Iya, sayang banget sama Rara. Tapi enggak peluk dulu karena aku sudah wudhu."


"Ahhhh, siapa juga yang mau dipeluk."


"Kenapa sih Ra, masih Subuh sudah marah-marah? Kurang?"


"Ken! Kamu itu ya, bisa nggak sih bersikap biasa-biasa saja?"


"Bagaimana aku bisa biasa setelah mendapatkan kamu seutuhnya dan semoga selamanya. Aamiin."

__ADS_1


"Ken!"


Lelaki yang baru satu hari itu menjadi suamiku tertawa terbahak-bahak, sementara aku masuk ke kamar mandi sambil mengomel.


__ADS_2