
Acara penyambutan direktur baru yang menegangkan akhirnya berakhir juga. Bagaimana tidak tegang, ternyata direktur tersebut pernah sangat dekat dengan kami semua. Mengaku sebagai seorang karyawan baru sehingga orang-orang memperlakukannya secara biasa. Termasuk aku yang agak tidak sopan sebab sampai suka pada atasan sendiri.
"Astagfirullah!" lagi-lagi aku membatin. Berharap setelah ini semua akan baik-baik saja.
"Ra!" Arif mengejar langkahku. "Benar Ken itu direktur kita?" tanyanya. Ada guratan tidak percaya terlihat jelas. Mungkin ia khawatir sebab pernah berdebat sampai menarik kerah baju Ken.
"Tadi sudah lihat sendiri, kan? Kenapa masih nanya?" jawabku, santai.
"Harusnya kamu ngomong dong, Ra!" seru Arif.
"Kenapa harus aku yang ngomong?"
"Ya kan kamu bisa memberitahu, supaya tidak timbul kesalah pahaman."
"Bagaimana aku bisa ngomong, lha aku saja ...." tangan Aya dengan sigap menutup mulutku.
"Kenapa juga Rara harus ngasih tahu kamu? Memangnya kamu siapa?" ungkap Aya. "Lagipula, ini bagus untuk mengajarkan adab pada kamu. Apapun posisi seseorang, jangan bersikap sembarangan!"
"Fiuff, kalian benar-benar keterlaluan. Awas saja kalau aku Samoja dapat masalah gara-gara perdebatan kemarin!" ia menatap kami sinis.
"Lha, salahnya sendiri, jadi orang sok-sokan, ternyata yang dilawan direktur yang ngegajinya." Aya terkekeh sebab merasa puas sudah membuat Arif berlalu dengan raut wajah kesal. "Akhirnya kena juga itu anak. Semoga saja Ken tidak melupakan perdebatan mereka dan menendang Arif dari kantor ini!" ucap Aya, menjadikannya sebagai doa.
"Enggak baik mendoakan yang buruk untuk orang lain. Siapa tahu Ken juga tidak senang dengan sikap kita selama ini. Terus kalau dia menendang kita dari perusahaan ini bagaimana?" tanyaku.
"Ya mau bagaimana lagi, tinggal pindah atau lanjut ngurus usaha orang tua." jawab Aya dengan entengnya.
"Iya ya, kita mah enak, orang tua kita kan punya usaha sendiri-sendiri, kalau si Arif kan enggak, hehehe." Dini ikut menimpali.
"Astagfirullah, udahlah. Jangan ngomongin orang lain terus. Mending lanjut kerja sebelum kita dimarahi oleh direktur kita." kataku, lalu segera kembali ke ruanganku.
Ada yang aneh rasanya. Saat bangku di sebelahku kosong. Biasanya ada Ken di sana yang sesekali akan bertanya denganku tentang jobnya, bahkan tentang perusahaan ini.
Senyumku terkembang. Mengingat proses perkenalan kami pertama kalinya hingga akhirnya pak Pras mengumumkan bahwa direktur utama di perusahaan ini adalah Ken.
__ADS_1
Lucu sekali, siapa sangka bahwa Ken yang aku kenal cool, tidak mau beradaptasi dengan orang lain, tetapi bisa begitu akrab dengan mama ternyata adalah seorang direktur, atasanku langsung. Betapa tidak sopannya aku selama ini, hanya memanggil namanya, kadang marah saat ia butuh penjelasan dua kali terhadap materi yang sama. Semoga saja tidak jadi masalah untukku.
Sedang asyik merenung, tiba-tiba datang seseorang menghampiri mejaku. Gadis itu adalah Bianca, model baru yang sama-sama masuk dengan Ken.
"Mbak Rara, aku boleh minta tolong nggak?" tanya Bianca.
"Apa Bi?" tanyaku.
Bianca mengajakku jalan ke pantry. Kebetulan di sana sedang kosong. Lalu ia mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya padaku.
"Please mbak Rara, bantuin aku supaya bisa dekat dengan Ken ya, eh maksudku pak Ken." kata Bianca.
Aku langsung terdiam. Entah mengapa ada perasaan tidak senang mendengar permintaan Bianca tersebut. Ia ingin aku jadi perantara antaranya dengan Ken. Apa aku bisa? Dengan hati yang selalu bergetar bila ingat nama Ken?
"Mbak Rara," panggil Bianca, membuyarkan lamunanku.
"Hah, iya. Kenapa Bi?" aku menatap bingung gadis berparas ayu tersebut.
"Mau kan mbak, bantuin aku?"
"Please mbak. Aku janji akan balas kebaikan mbak Rara! Aku benar-benar suka sama pak Ken. Sejak pertama kami masuk. Tapi aku nggak berani mengatakannya."
"Kenapa enggak minta tolong saat Ken belum mengumumkan bahwa ia adalah direktur dan anak dari pemilik perusahaan ini?"
"Ada banyak pertimbangan, mbak. Tapi percaya deh, aku suka pak Ken bukan hanya karena ia seorang direktur. Tapi memang karena dia baik. Mbak Rara pasti tahu kan bagaimana pak Ken begitu menjaga ibadahnya."
"Tapi bagaimana caranya?".
"Mbak Rara kan pernah dekat dengan pak Ken, pasti punya nomor Hpnya, kan. Mbak Rara bisa mulai dengan tanya-tanya apakah ia sudah punya teman perempuan yang dekat atau belum. Kalau pak Ken mengatakan belum, bisa tawarkan namaku. Begitu mbak Rara."
"Begitu ya?" aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Entah mengapa kali ini rasanya berat sekali membantu Bianca.
"Mau ya mbak Rara."
__ADS_1
"Tapi enggak untuk pacaran, kan?"
"Kalau pak Ken mau langsung menikah, aku siap kok mbak Rara."
"Begitu ya."
"Iya mbak Rara."
"Ya sudah, insyaAllah nanti aku ngomong." Ya Allah Rara, apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu harus mengiyakan permintaan yang tidak ingin kamu lakukan!
Aku langsung menyesali sudah menyanggupinya. Harusnya kalau tidak suka ya jangan mau.
***
Pukul lima sore. Jam kerja baru saja berakhir. Ketika aku hendak pulang, tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Pesan dari Ken, aku nyaris melonjak saat melihat namanya muncul di layar utama.
[Ra, aku boleh mampir ke rumah?] kata Ken.
Balas, enggak. Balas, enggak. Balas, enggak. Akhirnya kuputuskan untuk mengabaikan pesan tersebut meski sebenarnya hatiku sudah meronta-ronta memerintahkan agar aku membalasnya.
Ingat Ra, jangan main api. Lagi pula kamu sudah menyanggupi jadi perantara antara Ken dan Bianca.
Kamu harus sadar. Bianca lebih cocok bersama Ken. Ia cantik, berasal dari keluarga berada dan juga sangat cantik. Sangat serasi dengan Ken!
Motor segera melaju menuju rumah. Di sepanjang jalan aku terus berpikir, kalau Bianca jadi dengan Ken, apakah aku bisa menerima dengan lapang dada? Sebelum itu semua terjadi, mulai sekarang aku harus menata kembali hatiku agar tidak lagi memikirkan Ken.
Lupakan dia ... lupakan ... lupakan.
Aku akan memulai kembali semuanya dari nol. Menjadi Rara yang dahulu. Rara yang tidak gampang suka dengan sembarang lelaki. Rara yang selalu mengunci rapat hatinya agar tidak sembarang orang bisa singgah.
Mungkin memang benar, kemarin aku bisa merasakan debaran aneh saat bersama Ken sebab aku berada di posisi yang sangat kesal dan lelah menghadapi gangguan-gangguan dari Arif, sehingga sedikit kebaikan Ken saja sudah membuatku luluh.
Perjalanan dari kantor menuju rumah aku pergunakan untuk merenung dan mengingat kembali bagaimana Rara yang dulu. Cuek, tidak mudah dekat dengan sembarang lelaki dan selalu tertutup bila ada yang coba-coba mendekat.
__ADS_1
Mungkin beberapa waktu ke depan aku akan bersikap seperti itu. Bukan karena tidak bisa melupakan Arif, tetapi aku ingin menata kembali hati ini agar jika sosok yang benar-benar tepat, pilihan Allah itu sudah datang, maka aku siap menerimanya.