GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
36. Curhat Arif


__ADS_3

Baru saja motor hendak melaju meninggalkan kantor, tiba-tiba terhenti sebab seseorang yang berusaha mencegatnya. Ia tiba-tiba muncul di hadapanku, hingga aku harus rem mendadak. Untung saja aku tidak jatuh terjungkal oleh perbuatanya. Pelakunya orang yanh tidak ingin aku temui lagi seumur hidupku. Siapa lagi kalau bukan Arif.


"Mau apa sih kamu, pakai acara nyegat-nyegat motor orang. Kalau ketabrak bagaimana?" tanyaku dengan kesalnya.


"Hehehe, kamu khawatir sama aku, ya Ra, takut aku kenapa-napa ya? Tenang Ra, aku nggak apa-apa kok." ia cengengesan.


"Siapa yang khawatir? Aku cuma nggak mau berurusan dengan polisi. Kalau nabrak orang nggak bisa bikin di penjara, sudah aku tabrak kamu Rif!"


"Astagfirullah Ra. Kok begitu amat sih. Padahal aku sudah nungguin kamu sejak tadi lho. Melihat satu-persatu karyawan, khawatir kamu kelewatan. Lagipula jangan galak-galak amat lah Ra, bagaimanapun kita pernah punya kisah."


"Kisah?"


"Iya, kita kan pernah hampir nikah."


"Aku sudah lupa."


"Masa?"


"Mau ngapain kamu di situ? Pakai acara nyegat-nyegat segala? Sudah bosan hidup kamu?"


"Rara ... Rara. Galaknya nggak ketolongan. Tapi itu yang membuat penasaran." lagi-lagi ia tertawa.


"Astagfirullah, kamu itu ya, bukannya taubat. Ingat anak istri kamu. Jaga sikap, Rif!"


"Anak? Itu bukan anakku, Ra."


"Astagfirullah. Bicara kamu itu memang nggak pakai sopan santun ya sekarang."


"Aku nggak bohong, Ra. Memang bayi itu bukan anakku, kok. Kami saja baru menikah tiga bulanan, masa aku sudah punya anak saja. Ajaib sekali dong bayi bisa lahir hanya dalam tiga bulan. Monika tuh main gila. Zina dia Ra!"


"Terserah, aku nggak mau dengar!"


"Ra, aku sebenarnya nyegat kamu karena sesuatu hal."


"Apa lagi?"


"Ra, tolong aku."


"Enggak."


"Kamu belum tahu aku mau minta tolong apa sudah nolak saja."


"Karena aku nggak minat bantuin kamu, Rif."


"Benci boleh Ra, tapi jangan menolak orang yang sedang butuh pertolongan. Apa kamu nggak kasihan sama aku, Ra?"


"Fiuff. Aku sibuk Rif."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Kamu kan sekarang manajer."


"Sudah tahu, kan? Makanya minggir!"


"Ra, aku ini dijebak. Hidupku sekarang sengsara, Ra."


"Itu pilihan hidup kamu. Bukan urusanku."


"Ra, sebenarnya aku masih mencintaimu."


"Apa-apaan ini? Ingat lho, kamu sudah menikah dan punya anak. Lagipula aku bukan tipe perempuan yang suka merusak rumah tangga orang lain. Aku masih punya otak dan hati, Rif."


"Iya, aku mengerti, Ra. Tapi ini jujur. Pernikahan antara aku dan Monika adalah sebuah jebakan."


"Terserah kamu mau bilang apa, aku nggak peduli, Rif. Aku mau pulang dulu."


"Ra, aku mohon dengarkan aku duku. Bagaimanapun juga kamu pernah hampir menjadi orang terdekatku. Pernikahanku dengan Monika juga ada kaitannya dengan kamu. Jadi tolong dengarkan aku, Ra!"


"Aku nggak ada waktu, Rif. Apalagi mendengarkan curhatan rumah tangga kamu."


"Ra!"


"Astagfirullah, Rif. Aku bisa marah lho!"


"Kalau kamu nggak mau dengerian, aku akan bunuh diri, Ra. Sungguh. Aku nggak hanya cuma ngancam. Aku benar-benar akan menabrakkan diriku ke kendaraan yang lalu-lalang. Biar semua berakhir. Tapi aku juga akan tulis surat kalau penyebabnya adalah kamu, Ra. Biar kita hancur bersama!"


"Karena aku mencintai kamu, Ra!"


"Astagfirullah. Kenapa aku harus mengenal manusia seperti kamu. Semoga orang kayak kamu cuma satu saja di dunia Rif, sungguh pusing menghadapi manusia seperti kamu!"


"Kalau kamu mau bahagia, bahagia sama aku. Kalau kamu nolak aku, kita hancur sama-sama."


"Ingat anak kamu, Rif!"


"Itu bukan anakku, Ra. Kan sudah aku katakan tadi Monika menjebak aku. Dia sudah hamil duluan. Pernikahan itu tujuannya untuk menutupi rasa malu keluarganya. Kamu tahu, setelah bayi itu lahir, dia malah mengatakan ke semua orang bahwa aku memperkosa dia, Ra. Kedua orang tuanya marah besar, aku jadi sasaran amukan mereka. Aku diusir dari rumah mereka. Bahkan mau dipenjarakan oleh ayahnya. Jahat banget nggak tuh?


Padahal aku yang nolongin dia dari aibnya, tapi sekarang tuduhan itu ditujukan padaku, Ra. Salahku apa coba? Aku sudah tanya Monika baik-baik, siapa ayah bayinya, dia tetap nggak mau jawab, malah mengatakan akulah pelakunya. Padahal sembilan bulan lalu kami belum saling kenal, Ra. Sudah begitu, semua barang-barang yang mereka berikan diambil kembali. Aku benar-benar jatuh miskin, Ra. Enggak punya apa-apa lagi."


"Kan kamu bisa tes DNA."


"Nggak segampang itu, Ra. Tahu kan kalau keluarga Monika itu punya kekuasaan dan kekayaan."


"Ya sudah. Hadapi saja. Buktikan di pengadilan."


"Nggak segampang itu, Ra."


"Ya terserah lah Rif, itu bukan urusanku. Lagian kenapa kamu mau nikah sama dia?"

__ADS_1


"Kan sudah aku katakan, Ra. Aku nggak tahu kalau Monika hamil duluan. Pantas saja dari dulu ia nggak mau aku sentuh. Aku menikahinya karena ia bilang suka sama aku, Ra."


"Terus kamu percaya begitu saja, lalu membatalkan rencana pernikahan kita?"


"Ra, maafkan aku."


"Sudahlah, Rif. Aku sudah melupakannya kok."


"Ra, bisakah kita kembali seperti dulu?"


"Maksud kamu?"


"Ra, aku mengaku salah. Aku tergiur dengan kecantikan dan kekayaan Monika. Tapi aku lupa satu hal bahwa aku terlalu bodoh sehingga bisa di mainkan oleh Monika.


Aku sampai menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu, Ra. Tolong maafkan aku. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal, Ra."


"Mulai apa?"


"Menikahlah denganku, Ra."


"Kamu nggak salah ngomong?"


"Nggak Ra. Aku juga yakin kamu belum bisa melupakan aku. Iya, kan?"


"Sok tahu kamu, Rif."


"Aku yakin Ra. Buktinya, kamu membuat konten yang isinya curhatan kamu dengan memakai nama samaran. Kamu juga belum mau menerima proposal taaruf dari siapapun. Iya, kan Ra?"


"Benar-benar sok tahu!"


"Aku tahu, kamu masih gengsi saja. Iya kan Ra? Kamu marah sama aku. Aku siap minta maaf Ra. Bila perlu, setelah perceraianku dengan Monika selesai, kita menikah di bawah tangan duku supaya kamu percaya bahwa aku benar-benar serius sama kamu."


"Nggak perlu, Rif. Aku memang akan menikah, tapi bukan dengan kamu."


"Lalu dengan siapa, Ra?"


Aku terdiam. Entah mengapa berat untuk menyebut nama Ken. Aku takut akan jadi bahan tertawaan Arif.


"Kenapa, enggak bisa jawab Ra? Sudahlah, jangan memenangkan ego, Ra. Jujur saja!"


"Rara akan menikah dengan saya!" ucap Ken, yang muncul tiba-tiba dari belakangku.


"Pak Ken!" ucap Arif.


"Iya, saya. Tadi saya sudah mengakhitbah Rara. Sebentar lagi kami akan menikah. Jadi tolong jangan ganggu lagi calon istri saya atau kamu akan berurusan dengan saya. Lagipula kamu tahu kan bagaimana hukumnya melamar perempuan yang sudah dilamar oleh orang lain? Atau jangan-jangan kamu enggak tahu? Kamu bukan Ikhwan gadungan, kan?


Oh ya, satu lagi Rif, besok pagi tolong ke ruangan saya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada kamu. Ingat ya, besok pagi langsung ketemu saya!"

__ADS_1


Dengan wajah pucat Arif langsung meninggalkan aku dan Ken. Sementara aku masih terdiam, memikirkan, apa yang akan disampaikan oleh Ken pada Arif besok.


__ADS_2