GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
44. Perempuan-perempuan Di Sekeliling Ken


__ADS_3

Iya, benar. Aku suka pada Ken. Nggak salah, kan? Aku berhak menyukai siapapun, apalagi kalau perasaan itu juga berbalas. Kata-kata itu terus kuingat, juga sebuah mantra ajaib dari Ken, bahwa ia aman dan nyaman bersamaku.


Mungkin inilah yang namanya cinta. Hatiku begitu berbunga-bunga, tidak pernah lebih semangat dari hari ini ketika berangkat kerja. Apalagi alasannya, kalau bukan Ken. Iya, dia memenangkan hati ini. Aku kini benar-benar sudah yakin bahwa ialah yang akan menjadi pelabuhan akhir hati ini nantinya, insyaAllah.


Sikap Ken kemarin, ditambah cara ia meyakinkan, juga keyakinan mama yang begitu besar padanya membuatku makin yakin bahwa Ken lelaki yang tepat.


Baru hendak memasuki lobi, langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang rasanya tidak asing bagiku. Aku sempat mengingat, hingga nama itu muncul. Monika, ia ada di sini, kini berada hanya beberapa meter di hadapanku. Begitu ia melihatku, langsung melambaikan tangan dan tersenyum.


"Rara!" panggilnya. Ia mendekat, lalu menarik tanganku, mencium pipi kanan dan kiri. Kami seperti dua sahabat akrab yang telah lama tidak pernah bertemu. Bukan aku yang membuat semuanya seperti itu, tapi Monika, ia menempatkan dirinya seperti sangat dekat denganku sebelumnya, padahal dulu hubungan kami tidak seperti ini, kalau bertemu di lobi, lebih sering tidak bertegur sapa. Apalagi sejarah yang telah ia buat, merebut Arif dariku yang sudah berencana menikah.


Tetapi sekarang aku sudah tidak peduli. Semua ada hikmahnya, kalau Monika dan Arif tidak menikah, bisa jadi ada cara lain Allah untuk memisahkan kami. Itulah yang dinamakan tidak jodoh.


"Kamu apa kabar, Ra?" ia masih bersikap seolah-olah kami adalah sahabat dekat.


"Alhamdulillah, kamu?" aku mulai terbawa, ikut berbasa-basi.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Oh ya, apa kita bisa bicara sebentar?"


"Aku harus kerja."


"Sudah, tidak apa-apa. Kita keluar sebentar, nanti aku yang bilang pada Ken. Dia nggak akan masalah kalau aku yang izinin."


Apa maksud Monika tadi? Kenapa dia seolah-olah ingin mengatakan bahwa di mata Ken ia masih istimewa.


"Mau ya? Aku belum sarapan soalnya." pinta Monika lagi, sambil menarik tanganku.


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti Monika. Ia membawaku ke cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor.


Cafe Bunga. Sesuai dengan namanya, ada banyak bunga beraneka jenis yang dipajang di sini. Begitu masuk, aromanya langsung tercium. Ada mawar, melati, lili, Kamboja dan lainnya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Monika, ia mulai memilih menu yang baru diberikan pelayan.


"Aku sudah sarapan." jawabku.


"Ya sudah, minum apa? Aku mau makan nasi goreng dengan banyak taburan bawang goreng. Ini menu kesukaan Ken." Monika mulai berceloteh, ia membahas segala tentang Ken yang belum aku ketahui.

__ADS_1


Apa maksudnya membahas Ken di hadapanku? Apa ia ingin memberitahu bahwa ia tahu segala hal tentang Ken?


"Sebenarnya ada apa, Monika? Aku harus segera ke kantor sebab masih banyak pekerjaan." kataku, memotong pembicaraan Monika yang masih membahas Ken.


"Oh iya, maaf ya Ra. Aku nggak bermaksud nahan kamu di sini. Jadi begini, aku butuh bantuan kamu."


"Bantuan apa?"


"Sebelumnya aku minta maaf, Ra."


"Maaf untuk apa?"


"Ra, aku tahu, kamu dan Arif dulu berencana menikah. Tetapi aku merebut Arif dari kamu hingga pernikahan kalian gagal. Sekarang, aku mau mengembalikan Arif padamu."


"Mengembalikan? Enggak, enggak perlu Monika. Antara aku dan Arif sudah enggak ada apa-apa lagi. Lagian kenapa juga harus dikembalikan. Dia kan suami kamu, bukan barang." aku memaksakan diri untuk tertawa kecil meski sebenarnya tidak nyaman membahas masalah ini.


"Rara, aku tahu kamu terluka karena batalnya pernikahan kalian. Sebenarnya Arif pun sama, tetapi saat itu aku benar-benar terdesak, Ra. Aku nggak punya pilihan lain."


"Maksudnya apa Monika?"


Saat benar-benar galau, aku memutuskan untuk mencari lelaki yang mau menutup aibku sebab keluarga besar bisa marah jika tahu bahwa aku hamil di luar nikah. Bisa-bisa aku dicoret dari kartu keluarga.


Satu-satunya jalan hanya mencari calon suami yang mau membantuku. Kebetulan saat itu Arif bersedia menikah denganku. Ia mau melakukan apapun demi uang. Akhirnya kami menikah. Tetapi hubungan kami hanya sebatas hingga bayi itu lahir.


Kini anak itu sudah lahir, Ra. Aku sudah menggugat Arif. Aku ingin semua kembali seperti semula. Kamu dengan Arif, dan aku dengan kekasihku."


"Kekasih yang kamu maksud siapa?"


"Ken."


"Apa kamu yakin Ken akan menerima kamu?"


"Maksudmu apa, Ra?"


"Monika, sebelumnya aku ingin mengatakan turut prihatin atas musibah yang kamu alami. Tapi, aku dan Ken sudah menjalin hubungan."

__ADS_1


"Apa? Hahaha." tawa Monika tiba-tiba pecah. "Bentar Ra, maksudnya, kamu dan Ken pacaran?"


"Bukan, dia sudah mengkhitbah aku dan kamu berencana untuk menikah!"


"Ya ampun, Rara ... Rara. Ini nggak mungkin!"


"Kenapa?"


"Rara, kamu punya kaca nggak? Kamu itu nggak pantas untuk Ken. Maaf ya Ra, Ken itu lelaki berkelas, kalau kamu menikah dengannya, aku nggak yakin kamu bisa menempatkan diri sebagai pendamping hidupnya.


Sadar dong Ra. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu itu nggak cocok dengan Ken, tapi dengan Arif!" Monika terpancing, ia terlihat begitu emosi.


"Cerita antara aku dan Arif sudah berakhir, Monika. Kini tinggal kisah antara aku dan Ken."


"Kamu benar-benar enggak malu, Ra?"


"Malu kenapa? Ken mengatakan kalau ia nyaman denganku."


"Hahaha, jadi begini Rara, Ken bisa saja menjalin hubungan dengan kamu karena dia kasihan sebab aku sudah merebut Arif dari kamu. Tapi percayalah, setelah aku dan Arif bercerai, ia pasti akan meninggalkan kamu.


Ken itu pewaris kerajaan bisnis ayahnya. Ia butuh pendamping yang selevel. Sama-sama keluarga kaya raya sehingga ketika harus maju ke depan umum, Ken nggak akan malu. Berbeda kalau ia membawa kamu, Ra. Kamu kan cuma staff biasa. Wajah pas-pasan, penampilan juga tidak menarik."


"Lalu bila dengan kamu, pantas?" akupun ikut terpancing. Sudah cukup mereka terus-menerus menghinaku, hanya karena penampilan sederhana dan tidak mengenal make up.


"Ya pantaslah."


"Termasuk bila orang-orang mengetahui bahwa kamu hamil di luar nikah?"


"Apa maksud kamu, Rara?"


"Monika, sebelumnya Ken sudah menceritakan semuanya padaku dan aku lebih percaya padanya."


"Ya ampun, kamu ngepoin kehidupan aku?"


"Terserah apa yang kamu katakan Monika, aku pamit dulu." aku bergegas bangkit dari duduk.

__ADS_1


__ADS_2