GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
90. Maaf Jika Aku Menyusahkan Kamu


__ADS_3

Aku tersenyum lebar saat melihat mobil Ken memasuki halaman rumah. Segera kuhampiri sebelum ia benar-benar turun dari mobil. Tadi aku sengaja meneleponnya agar buru-buru pulang, sebab sesuai permintaan Ken, kalau aku butuh apa-apa harus segera mengabarinya sebab Ken tidak mau anaknya menunggu.


"Ada apa, sayang?" tanya Ken, setelah berada di luar mobil. Ia membelai lembut kepalaku yang tertutup kerudung instan.


"Mas, aku mencium lagi aroma masakan yang lezat dari rumah sebelah." kataku, sambil menunjuk rumah sebelah dengan senyum sumringah.


"Lalu?"


"Aku mau lagi."


"Lagi? Beneran mau lagi, sayang?


"Iya mas. Mau lagi. Boleh ya mas mintakan ke tetangga kita? Satu kali lagi. Aku benar-benar pengen nih."


"Tapi Ra," Ken tampak berat. Ia melihat sekilas ke rumah sebelah, lalu menepuk pelan keningnya.


Jadi, sudah dua kali aku memaksa Ken untuk meminta makan ke tetangga sebelah. Sebab aku mencium aroma masakan yang begitu lezat dari rumah yang pagarnya tak kalah tinggi dibandingkan rumah kami.


Ken mencoba mengelak, ia mengatakan tidak mencium aroma apapun ditambah pengakuan ketiga khadimat dan dua orang satpam yang berjaga di depan. Tetapi aku bersikeras menyatakan mencium aroma makanan yang membuatku benar-benar ingin merasakan makanan tersebut. Bahkan aku tak mau memakan apapun selain makanan dari rumah tetangga.


Dua kali dengan berat hati Ken mendatangi rumah itu. Meski aku menemani, ia terlihat ogah-ogahan. Apalagi saat menyatakan keinginan untuk meminta makan ke tetangga, ia tampak begitu malu. Mungkin karena sikap tetangga yang juga tak kalah aneh menatap kami. Saat aku makan di sana, tetangga itu juga melihatku dengan tatapan aneh. Tapi aku tak peduli, rasanya benar-benar puas!


Di ibukota, orang-orang yang tinggal di ruang gedung memang rata-rata tidak saling kenal meskipun rumah mereka bersebelahan. Apalagi dengan pagar tinggi yang menjulang, sehingga membyuta batas yang begitu besar antara tetangga kiri dan kanan. Bahkan mereka tak saling kenal meski sudah menjadi tetangga selama bertahun-tahun.


Makanya pemilik rumah menatap bingung saat Ken menyatakan bahwa ia ingin meminta sepiring nasi dan juga lauknya sebab aku sedang ngidam dan keinginan aku makan masakan tetangga sebelah rumah. Mungkin ia mengira kami mengada-ada, tapi aku tak peduli itu.


Saat itu saja sebenarnya pemilik rumah sudah menunjukkan sikap tidak suka. Mereka benar-benar tidak ramah. Apalagi untuk kedua kalinya. Tetapi anehnya, saat itu aku merasa baik-baik saja dilihat dengan tatapan aneh oleh tetangga kami tersebut. Bahkan aku makan dengan lahap dan bisa meminta tambah sehingga membuat tatapan itu semakin tidak enak di pandang mata.


"Sayang, ngidamnya yang lain dong." pinta Ken. "Misalnya mau shopping atau pengen aku temani seharian. Pokoknya yang bisa aku penuhi deh."


"Yang namanya ngidam ya nggak boleh ditentukan orang lain dong. Namanya juga anaknya yang minta." aku beralasan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke restoran, kamu bisa pilih menu apa saja yang kamu mau, kalau nggak ada yang cocok, kita cari menu lainnya."


"Enggak mau mas, aku maunya makanan yang dimasak tetangga kita!"


"Tapi kan kemarin sudah minta dua kali."


"Ya sudah, ganjil kan jadi tiga kali ya."


"Yang, tapi aku malu."


"Kenapa harus malu? Kita kan nggak maling."


"Tapi kan minta-minta nggak baik juga sayang."


"Ya sudah beli."


"Tapi kan mereka nggak jualan."


"Enggak."


"Astagfirullah, mas jahat banget. Kalau aku yang minta nggak mas kabulkan nggak apa-apa, tapi ini keinginan anaknya mas juga. Jangan pelit begitu dong."


"Aku nggak pelit kok."


"Katanya mau membahagiakan aku dan anak kita. Baru dimintai kayak begitu mas sudah nggak mau."


"Yang, tapi kan segan minta sama tetangga."


"Apa salahnya? Mama juga sering kok berbagi dengan tetangga kami. Tetangga juga begitu, suka berbagi dengan mama. Kalau kita baik sama tetangga, sering ngasih hadiah nanti tetangga juga bakal baik sama kita. Intinya ada di kita."


"Duh ya beda sayang. Tetangga rumah kamu bukan perumahan besar yang rata-rata orang-orangnya nggak hidup individual, kalau di sini kan sendiri-sendiri. Sama tetangga nggak saling kenal nggak apa-apa."

__ADS_1


"Aneh sekali, sama tetangga ya harusnya dekat!"


"Udah deh sayang, kita nggak bisa maksa orang-orang untuk samaan dengan kita. Lagipula kamu kan tahu ini Jakarta, hidup individu itu biasa."


"Tapi aku mau makan masakan tetangga!"


"Enggak sekarang Ra. Kamu makan yang di rumah dulu. Atau kalau kamu pengen sesuatu, pesan saja. Oke. Sekarang aku harus kembali ke kantor karena dua jam lagi ada rapat dengan klien. Aku sedang merancang divisi baru." Ken mencium keningku, lalu tanpa peduli bahwa aku belum bisa terima sebab ia tidak mengabulkan permintaanku, Ken berlalu begitu saja dengan mobilnya.


"Kenapa sih demi anaknya sendiri nggak mau berusaha!" aku mengomel, lalu berlalu ke kamar.


Lima menit kemudian aku keluar kamar, sudah berganti pakaian. Tidak lupa kubawa dua stel pakaian ganti.


"Mba Tati, anterin saya ya." pintaku.


"Lho, mbak Rara mau kemana?" tanya mbak Tati.


"Mau ke rumah mama. Aku mau nginap di sana dulu."


Kami berdua membelah kota Jakarta dengan mengendarai mobil. Sampai di depan rumah mama, aku memerintahkan mbak Tati untuk segera pulang, tidak lupa kukatakan padanya untuk mengabari Ken nanti jika ia pulang kalau aku mau nginap di rumah mama selama beberapa hari.


Setelah mobil yang dikemudikan mbak Tati pergi, aku segera masuk ke dalam. Menemui mama yang sudah mulai beraktivitas seperti biasanya sebab kondisi Mama sudah membaik.


"Rara itu bingung deh ma, Ken itu gengsian banget. Masa minta makan ke tetangga saja susahnya minta ampun. Sampai wajahnya itu memerah saking malunya." kataku. "Padahal kalau kita sama tetangga cukup dekat. Malah suka bantuin kita juga. Suka saling mengirim makanan."


Mama terkekeh. "Ya beda dong Ra, tetangga di sini dengan di sana. Rumah kalian kan rumah gedong. Beda dengan perumahan mama yang rata-rata sederhana, jadi masih berhubungan sama tetangga kiri kanan."


"Nggak ada bedanya ma. Tinggal kitanya saja, mau gaul atau nggak dengan tetangga. Memang kalau meninggal nggak butuh tetangga?"


"Lho, bukannya dulu kamu juga begitu Ra. Maunya hidup sendiri, nggak gabung sama tetangga. Kalau mama ngobrol sama orang sebelah, langsung kamu batasi."


"Hah, oh iya kah ma?" aku menggaruk kepala, sambil memaksakan senyum. Benar juga, dulu kan aku yang paling berharap agar tidak banyak berinteraksi dengan tetangga, lalu kenapa sekarang ngomel-ngomel saat suamiku sendiri bersikap demikian?

__ADS_1


__ADS_2