GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
27. Tangis Rara


__ADS_3

Kami membopong mbak Yuni masuk ke kursi belakang. Setelah itu Ken langsung melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


Sepanjang perjalanan, aku tak henti berzikir, berdoa untuk keselamatan mbak Yuni. Meskipun baru pertama kali bertemu, dari wajahnya, aku tahu ia orang baik. Bukan seperti apa yang dituduhkan oleh tetangganya tadi, bahwa ia adalah gadis egois yang menjadi penyebab kematian orang lain.


"Mbak, bertahan ya!" kataku. Sambil meremas tangannya, berharap ia memberikan respon agar hatiku bisa sedikit tenang.


Sampai di lobi rumah sakit, Ken segera berteriak minta dibawakan tempat tidur. Tidak berapa lama datang dua orang perawat yang siap memindahkan mbak Yuni ke atas tempat tidur yang bisa didorong.


"Silakan ke pendaftaran dulu." kata perawat tersebut.


"Aku saja Ra, kamu temani dia ke IGD. Nanti aku susul!" kata Ken. Setelah itu ia langsung berlalu.


Aku mengikuti mbak Yuni yang didorong menuju ruang IGD. Dokter jaga langsung siaga memeriksa mbak Yuni.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter tersebut padaku.


"Saya juga tidak tahu. Tadi dia ada di dalam kamar. Waktu kami datang, langsung mendobrak pintu kamar, terus mbak Yuni sudah seperti ini!" kataku.


"Pasien minum racun tikus." kata dokter tersebut. "Kami akan membuatnya memuntahkan semua racun yang sudah ditelan. Semoga saja belum terlambat!"


Beberapa orang perawat langsung cekatan memasang peralatan di sekujur badan mbak Yuni. Aku hanya bisa menyaksikan dari kejauhan sambil terus berzikir. Jujur saja aku sangat tegang sekali. Semua rasa bercampur aduk. Takut, sedih dan juga bingung.


"Bagaimana Ra?" tanya Ken yang baru masuk IGD setelah selesai mendaftarkan.


"Masih diperiksa. Kata dokter mau diusahakan untuk memuntahkan racunnya."


"Semoga saja baik-baik saja. Kamu tenang Ra, jangan panik. InsyaAllah kita sudah membawa mbak itu ke tempat yang tepat."


Hampir satu jam kami menunggu dokter yang masih berusaha menangani mbak Yuni. Tiba-tiba kami didatangi dua orang yang kemudian baru kami ketahui adalah ayah dan ibunya mbak Yuni.


"Ya Allah Yuni, kenapa jadi begini nak?" ibunya terisak-isak.


"Sabar ya Bu." kataku.


"Terima kasih ya mbak, mas. Sudah membawa putri kami ke rumah sakit. Kalau tidak ada mbak dan mas, entah apa jadinya." ucap ayahnya, sambil menggenggam erat tangan Ken.


***

__ADS_1


Kondisi mbak Yuni meskipun belum sadarkan diri tapi sudah berhasil melewati masa krisis. Ia sudah mengeluarkan semua racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Kami beruntung bisa cepat menemukan mbak Yuni sehingga racunnya bisa langsung dikeluarkan.


"Saya dan istri sangat berterima kasih atas bantuan mbak Rara dan mas Ken. Kami tidak tahu harus berkata apa. Kalau kalian tidak mencari tahu keberadaan anak kami, mungkin sekarang ia sudah tidak ada." mata ayahnya mbak Yuni langsung berkaca-kaca. Tampak jelas olehku betapa ia sangat menyayangi putrinya. Entah mengapa, aku jadi iri. Andai papa juga seperti itu. "Sekali lagi terimakasih banyak ya mas Ken, mbak Rara!"


Ken memeluk bapak tersebut untuk memberikannya dukungan. Bapak tersebut memang mengaku sangat memanjakan putrinya sebab mereka lama baru mendapatkan anak. Setelah sepuluh tahun usia pernikahan.


"Saya tidak menyangka kalau Reno akan bunuh diri. Selama ini dia cukup dekat dengan Yuni. Bahkan sudah dekat sekali. Makanya saya menuruti keinginan putri saya untuk melamarkan Reno.


Ketika Reno menerima, kami kira ia juga mencintai putri kami. Ternyata ia melakukannya karena terpaksa. Sebab merasa berhutang budi pada keluarga kami yang sudah membantu banyak keluarganya.


Tetapi saya sungguh-sungguh rela membantu. Saya juga tidak akan marah kalau Reno menolak. Saya dan keluarga tidak akan memutuskan hubungan pertemanan.


Akibat semua ini, Yuni jadi tertekan. Ia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, apalagi ditambah orang-orang di sekitarnya ikut menyudutkan Yuni. Sejak kematian Reno, ia mengurung diri di kamar. Tidak mau makan dan minum. Hanya menangis saja. Siapa sangka ternyata ia sampai berpikir untuk bunuh diri." cerita ayahnya mbak Yuni. Terlihat benar bahwa bapak tersebut sangat merasa bersalah, namun aku dapat menangkap bagaimana tulusnya ia terhadap Reno dan keluarganya.


"Pak, saya boleh titip ini untuk mbak Yuni? Kalau ia bangun, tolong berikan surat ini. InsyaAllah saya akan kembali lagi." kataku, sambil menyerahkan sepucuk surat yang kutuliskan dadakan saat menanti masa kritis mbak Yuni. Aku berharap, saat ia membaca tulisan ini, mbak Yuni tidak akan berpikiran untuk melakukan hal nekat lagi.


Hidup ini terlalu singkat, jangan sampai kita menyia-nyiakan. Apalagi karena hal seperti itu. Cinta memang salah satu penyebab kebahagiaan dan juga kehancuran seseorang, tapi kita juga punya orang lain yang berhak atas diri kita.


Sebelum memutuskan untuk tidak mengakhiri hidup sendiri, lihatlah. Ada keluarga dan juga orang-orang baik lainnya yang juga mengharapkan kehadiran kita di sisinya. Sementara memilih bunuh diri berarti menyerahkan diri kita sendiri pada kehancuran. Orang-orang yang mati bunuh diri maka tempatnya adalah di neraka. Nauzubillah.


Setelah selesai, kami pamit balik ke kantor. Di jalan, tangisku pecah. Tidak bisa lagi kubendung bulir-bulir air mata ini.


"Aku bisa merasakan bagaimana sesaknya mbak Yuni." kataku.


"Ra!"


"Ken, patah hati itu benar-benar menyakitkan. Apalagi kalau kita sudah terlanjur jatuh cinta. Rasanya tidak enak semua-muanya. Tapi mbak Yuni beruntung punya ayah dan ibu yang menyayanginya."


"Ra, kamu bisa kan melupakan Arif?"


"Ken,"


"Kamu enggak pantas menangisi Arif, Ra. Bersabar sebentar lagi akan ada lelaki baik yang meskipun ia tidak sempurna, tapi akan berusaha menyempurnakan hidup kamu. Bisa kan, sabar sebentar?"


"Aku sabar kok Ken."


"Bagus. Sekarang hapus air mata kamu. Jangan menangis lagi. Kamu harus tatap masa depan yang cerah di depan sana!"

__ADS_1


"Ken,"


"Ya Ra."


"Apa kamu melakukan semua ini pada perempuan yang menangis di hadapan kamu?"


"Enggak Ra. Tidak semua orang beruntung bisa menangis di hadapanku."


Apa ini? Kenapa perasaanku jadi aneh begini? Jantungku juga berdebar lebih kencang. Dan pertanyaan terakhir tadi, kenapa juga aku harus bertanya seperti itu?


Astagfirullah ... astagfirullah ... Rara, kenapa malah kamu yang jadinya modus.


Setan itu memang benar-benar pintar. Merayu lewat segala cara. Lagipula bagaimana mungkin aku bisa bertanya seperti itu. Ya Allah ... malu sekali.


Sadar Rara, sadar!


"Ra," panggil Ken.


"Hah, iya. Kenapa Ken?" aku menjawab dengan suara terbata-bata.


"Kamu sudah tidak apa-apa?"


"Iya. Aku enggak apa-apa. Kenapa memangnya?"


"Sudah jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan dulu?"


"Oh ya. Enggak ke kantor dulu?"


"Nanti jam makan siangnya keburu habis. Bagaimana dong? Perutku lapar sekali. Kalau aku kenapa-napa, kamu enggak nyesal seperti saat mendapati mbak Yuni?"


"Ken, enggak lucu! Aku nggak suka kamu mencandai orang lain yang sedang mengalami musibah!"


"Astagfirullah. Iya, aku minta maaf Ra."


"Minta maaf sama mbak Yuni. Jangan sama aku!"


"Iya, iya. Tapi kita jadi makan, kan?"

__ADS_1


"Ya jadilah. Aku juga lapar!"


"Siap!" Ken memutar mobilnya menuju tempat makan yang ia pilih.


__ADS_2