GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
37. Membesuk Mbak Yuni


__ADS_3

"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ken, setelah Arif pergi. Hanya tinggal kami berdua, diantara kendaraan yang lalu-lalang sebab posisi kami berada tepat di samping jalan raya.


Aku yang semula memperhatikan Ken buru-buru menunduk sambil mengucap istighfar berulang kali. "Kenapa juga mata ini ngelihatin, dia." ucapku dalam hati. Bagaimana kalau ternyata ia salah sangka.


"Ra, kok malah bengong?"


"Hah, enggak kok." aku mengelak. "Kenapa harus bicara seperti itu?" tanyaku pada Ken.


"Apa?"


"Ngaku-ngaku sudah mengkhitbah?"


"Lho, kamu nggak dengar aku bicara apa tadi di restoran? Aku serius melamar kamu, Ra. InsyaAllah aku akan segera bertemu papa dan mama kamu untuk meresmikannya, sekaligus membawa orang tuaku agar saling kenal. Lagipula, aku sengaja tidak merahasiakan dari mantan kamu itu supaya dia jaga jarak dengan kamu. Jangan lagi mengganggu, kalau sampai dia macam-macam atau gangguin kamu lagi, aku nggak akan segan-segan memberinya pelajaran!"


"Terus, besok kamu mau ngomong apa sama Arif?"


"Apakah penting untuk kamu tahu? Atau kamu takut aku bakal jahatin, Arif? Tenang Ra, aku masih punya hati, kok. Meskipun sebenarnya rasa kesalnya sudah diubun-ubun, tapi insyaAllah aku masih tahu batasan. Tapi tergantung juga sih."


"Tergantung apa?"


"Kalau dia ngeselin, akan aku beri dia pelajaran."


"Astagfirullah, Ken!"


"Hahaha. Tenang Ra, aku tahu diri kok. Tapi sebenarnya aku nggak suka kalau kamu terlalu khawatir seperti itu padanya. Ingat Ra, begitu kedua orang tua kamu menerima lamaranku, aku nggak mau kamu memikirkan dia lagi sebab hanya aku yang boleh ada di pikiran kamu."


"Ihhhhhh, kamu posesif juga ya. Aku nggak suka."


"Ya nggak apa-apa kalau posesifnya demi kebaikan kamu juga. Aku nggak mau kamu sedih atau nangis lagi, Ra."


"Sudah ah, aku nggak mau dengar gombalan!"


"Serius Ra. Atau kamu mau bukti? Aku siap melamar bahkan menikahi kamu sekarang juga."


"Apa? Enggak. Enggak sekarang!"


"Kenapa Ra?"


"Udahlah Ken, aku mau pulang dulu. Ada banyak hal yang harus aku lakukan." motor kembali kustater, lalu berlalu meninggalkan Ken yang masih diam di tempat semula.

__ADS_1


Kenapa semuanya jadi seperti ini? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul di pikiranku. Apa semuanya benar-benar semudah itu? Ken jatuh cinta padaku, lalu ia siap menggantikan posisi Arif yang sempat menjadi calon suamiku.


Benarkah akan semulus itu? Sungguh, aku sudah lelah menghadapi kegagalan. Melawan satu orang Arif saja sudah melelahkan, jangan sampai kelak Ken pun jadi mimpi buruk untukku.


Ken, bisakah kamu membuktikan bahwa semuanya bukan harapan palsu saja?


Motor mulai memasuki halaman rumah sakit terbesar di Jakarta Selatan, lalu memasuki parkirannya. Kataku begitu awas mencari tempat parkir kosong. Jam besuk seperti yang ni pengunjung memang lebih banyak. Begitu dapat tempat yang cukup nyaman, aku segera berlalu menuju salah satu ruangan tempat mbak Yuni dirawat.


Aku nggak salah lihat, kan? Lelaki yang ada di hadapanku adalah polisi yang beberapa kali bertemu denganku. Dia Rangga, ia masih mengenakan seragam polisi. Tapi sedang apa di sini?


"Mbak Rara?" ia kini melempar senyum padaku.


"Eh, pak polisi. Eh, maksudnya pak Rangga." jawabku.


"Panggil Rangga saja, Ra. Sepertinya usia kita tidak jauh beda."


"Ya, panggil Rara juga. Jangan mbak. Kalau memang jarak usia kita enggak jauh."


"Hahaha, ia Ra. Kamu sedang apa di sini? Siapa yang sakit?"


"Lagi mau besuk teman. Kamu sendiri?"


"Lagi jagain kakakku."


"Ruangan ini." ia menunjuk ruangan tempat mbak Yuni dirawat.


"Maksudnya, kakak kamu mbak Yuni?"


"Kamu kenal mbakku, Ra? Oh, atau jangan-jangan kamu adalah orang yang menyelamatkan mbakku? Iya, Ra?"


"Hanya kebetulan saja."


"Alhamdulillah, ternyata dunia ini sempit ya, terimakasih banyak ya Ra. Kalau nggak ada kamu, mungkin entah apa jadinya kakakku."


"Semua karena kehendak Allah."


"Iya Ra. Oh ya, terimakasih juga karena kamu sudah menuliskan surat untuk kakakku. Sejak membacanya, mbak Yuni jadi lebih semangat lagi melanjutkan kehidupan. Dari kemarin kami sangat ingin bertemu dengan kamu, selain ingin mengucapkan terima kasih, kami juga mau minta tolong."


"Minta tolong apa, Ra?"

__ADS_1


"Kamu mau nggak Ra, jadi teman mbak Yuni. Memberinya semangat agar tidak gampang menyerah. Mbak Yuni itu pribadi introved, sangat tertutup sekali dalam segala hal, bahkan pada ayah dan ibu kami. Sejak mas Reno meninggal dunia, hidupnya benar-benar kehilangan arah. Nggak ada semangat hidup lagi, tapi sejak kemarin, usai membaca pesan dari kamu, mbak Yuni sudah bisa tersenyum, ia seperti hidup kembali. Bahkan mbak Yuni sudah punya banyak rencana untuk kedepannya. Tetapi tetap saja sebagai keluarganya, kami ingin memberikan yang terbaik untuk mbak Yuni, termasuk kami ingin benar-benar yakin bahwa ia betul-betul tidak terpikir untuk berhati-hati mengakhiri hidupnya lagi.


Sebenarnya kami ingin jadi orang yang selalu ada untuk mbak Yuni tanpa merepotkan orang lain, termasuk kamu Ra, tapi sepertinya tidak mudah. Mbak Yuni benar-benar hemat kalau bicara. Makanya, begitu melihat reaksi mbak Yuni saat membaca surat dari kamu, kami yakin kamulah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk membantu keluarga kami." ungkap Rangga.


"Kamu tenang saja Ngga, insyaAllah aku akan bantu semaksimal mungkin agar mbak Yuni bisa benar-benar sembuh dari trauma dan sakitnya. Aku siap jadi tempatnya berbagi."


"Terimakasih banyak ya Ra."


"Kalau sudah, boleh aku membesuk Mbak Yuni?"


"Ya ampun, sampai lupa. Maaf ya Ra. Tentu saja boleh, di dalam juga ada ibu yang menemani mbak Yuni." dengan cepat Rangga membukakan pintu kamar tempat mbak Yuni di rawat.


Di dalam ruangan itu sudah ada seorang perempuan yang usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahu di atasku, ia ditemani perempuan paruh baya yang sedang memegang tangan perempuan itu.


"Rara?" kata mbak Yuni.


"Mbak Yuni." kataku, sambil mendekatinya. "Mbak Yuni kenal aku?"


"Iya Ra. Ternyata kamu sesuai dengan apa yang aku bayangkan." ia tersenyum ceria, seperti tidak sedang menghadapi masalah yang berat.


"Memangnya mbak membayangkan aku seperti apa?" aku balik bertanya.


"Memakai jilbab lebar, pintar, ramah dan pastinya cantik." ungkap mbak Yuni.


"MasyaAllah, mbak ini. Bisa saja membuat hati orang lain berbunga-bunga." kataku, sambil tersipu malu.


"Bener kok. Iya kan bu?" tanya mbak Yuni pada ibunya.


"Iya, benar sekali. Ditambah hatinya baik sekali seperti malaikat. Andai ibu punya menantu seperti nak Rara, pasti senang sekali." tambah ibunya.


"MasyaAllah." lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum.


"Eum, bener lho Ra, aku saja sampai nyaman banget lho berbincang-bincang.dengan kamu. Padahal biasanya aku sudah berteman dengan orang lain." ungkap mbak Yuni. "Benar kan Ngga, Rara cantik dan baik."


"Eh, iya." Rangga menjawab malu-malu.


Aduuh, aku jadi salah tingkah. Kenapa semua orang malah memujiku seperti itu. Sehingga membuatku jadi malu.


"Ra, boleh aku bicara sama kamu berdua?" tanya mbak Yuni, setelah kami berempat berbincang-bincang.

__ADS_1


"Tentu saja mbak." kataku.


Mbak Yuni meminta izin pada ibunya dan Rangga agar boleh diizinkan tinggal berdua denganku sebab ada perbincangansecara pribadi yang ingin disampaikannya.


__ADS_2