
"Kakak nggak bisa." kataku.
Dinda menatapku tajam. Aku yakin, ia begitu marah. "Ini demi kakak!" ungkapnya.
"Kakak nggak bisa, Din. Kakak sayang sama papa. Kalau kamu larang kakak berhubungan dengan Tante Wira, kakak bisa. Tapi kalau dengan papa, nggak bisa Din. Dalam tubuh kita mengalir darah papa. Bagaimana kakak bisa putus hubungan?"
"Kak,"
"Din, kakak sayang sama papa."
"Lalu kakak kira, Dinda nggak sayang sama papa? Sayang kak. Sayang banget. Perasaan kita ke papa sama, sebab kita sama-sama anak-anak papa. Tapi apa kakak tahu, papa dan Tante Wira merugikan kita "
"Nggak masalah, Din."
"Kak jangan keras kepala. Apa kakak nggak kasihan sama mama? Apa kasih sayang mama pada kakak kurang? Toh kakak sudah punya mas Ken, juga mertua yang sayang sama kakak. Apa itu semua masih kurang?"
"Beda Dinda. Kamu kira kasih sayang orang lain bisa menggantikan kasih sayang ayah kamu sendiri? Sudah bertahun-tahun kakak menantikan kehadiran papa, lalu saat papa datang kenapa kamu minta kakak menjauh? Jahat itu namanya?"
"Siapa yang jahat? Dinda, kak? Jahat mana Dinda atau papa? Kak, papa yang kakak harapkan itu nggak benar-benar tulus pada kakak. Bagaimana kalau ternyata papa kembali hanya karena uang? Ya, uang kak!
Kakak tahu, setelah kakak menikah, selama dua pekan. Ini papa terus meneror mama, meminta bagian atas pernikahan Kakak. Papa minta jatah yang sama seperti yang mama dapatkan. Mas Ken sudah membelikan mama ruko, papa juga mau. Bahkan tanpa rasa malu papa meminta mahar yang diberikan mas Ken sama mama.
Sikap seperti itu apa bisa disebut tulus?
Jawab Dinda, kak! Bisa dipastikan, papa dan Tante Wira hanya ingin memanfaatkan mas Ken. Mereka mengeruk keuntungan dari pernikahan kakak dan mas Ken.
Mama mencoba melindungi, memberikan uang tabungan mama dari hasil kerja keras selama berjualan bunga. Tapi papa meminta lebih. Bahkan papa menagih uang lebih banyak lagi. Hampir tiap hari, kak. Sampai mama nggak kuat dan akhirnya ambruk!"
Ya Tuhan ... benarkah seperti itu? Rasanya seperti petir di siang bolong. Benarkah papa kembali hanya karena uang? Tapi bukankah papa memberiku uang seratus juta, juga surat yang ditulis langsung oleh papa. Apa arti itu semua?
"Kakak tanyakan langsung pada mas Ken, berapa sebenarnya uang yang sudah diberikan mas Ken pada papa? Seratus juta atau lebih." kata Dinda lagi.
Rasanya aku tak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari Ken. Aku langsung keluar dari kamar mama, mencari Ken disnetiao sudut rumah sakit. Rupanya ia sedang ada di taman. Tempat yang cocok untuk klarifikasi.
"Sudah selesai ngobrol sama Dinda?" tanya Ken, sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
"Berapa uang yang kamu berikan pada papa?" aku langsung mengajukan pertanyaan tersebut padanya.
"Uang apa, Ra?"
"Uang yang sempat membuatku bahagia sebab merasa papa sayang padaku, tetapi semua palsu!"
"Ra,"
"Jawab pertanyaan aku, Ken. Ceritakan semuanya sebelum aku semakin terluka."
"Aku memberikan papa uang lima ratus juta."
"Lima ratus juta?" aku geleng-geleng kepala. Berarti papa mengambil sisanya. Tega sekali papa. "Kenapa kamu melakukannya? Kamu mau membeli aku? Kamu kira dengan uang sebanyak itu bisa membeli hidupku, Ken?"
"Ra, bukan seperti itu. Papa bercerita, ia juga ingin melihat kita menikah, tetapi papa nggak punya dana untuk menikahkan kita. Aku sudah mengatakan pada papa bahwa seluruh biaya pesta aku yang tanggung. Tapi papa berkilah, ingin memberikan hadiah untuk putrinya. Aku memberikan papa uang lima ratus juta sebab berharap kamu bahagia dan aku ingin membantu papa. Hanya itu."
"Lalu apa lagi yang kamu berikan pada papa? Jawab jujur, Ken."
"Papa minta ruko, tiga pintu. Seperti yang mama dapatkan. Alasan papa untuk memulai usaha karena sekarang perekonomian keluarga papa sedang sulit."
Ya Allah ... jadi papa menjadikan Ken sebagai tambang uangnya. Aku langsung lemas mendengarnya.
"Iya, Ra."
"Tapi kenapa nggak bilang aku, Ken?"
"Aku nggak masalah, Ra." ungkap Ken.
"Bagi aku ini masalah, Ken. Aku punya harga diri!"
"Ra, aku hanya ingin memudahkan semua urusan kita."
"Kamu kira uang bisa menyelesaikan semua masalah, Ken? Lihat mama, sekarang terbaring di rumah sakit gara-gara uang kamu."
"Maafin aku, Ra. Aku nggak bermaksud apapun. Aku hanya ingin membahagiakan kamu. Toh kamu yang cerita bagaimana rindunya pada sosok ayah kamu. Makanya aku mendatangi papa di puncak, tetapi ternyata malah berujung masalah seperti ini. Sungguh ini di luar kuasa aku, Ra."
__ADS_1
"Aku kecewa sama kamu, Ken. Kamu benar-benar menunjukkan padaku bahwa uang adalah segala-galanya. Kamu nggak tahu bagaimana sakitnya hatiku sekarang. Aku benar-benar patah hati, Ken. Papa yang aku harapkan, ternyata tidak benar-benar menyayangi aku. Kecewa Ken," aku berbalik arah, hendak berlalu.
"Ra," Ken menarik tanganku.
"Lepas! Kamu sudah salah menilai aku, Ken. Aku nggak mau uang yang mengatur segalanya."
"Ra, aku nggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini."
"Sudahlah, kamu sudah mengacaukan semuanya. Pergilah Ken, aku mau sendiri dengan keluargaku dulu."
"Ra!"
"Ken, jangan ganggu aku lagi. Aku nggak mau melihat kamu. Aku kesal, kecewa sama kamu, Ken."
"Maksudku baik, Ra. Aku hanya ingin membahagiakan kamu. Sungguh, Ra."
"Tapi kamu juga harus tahu, Ken, uang bukan segala-galanya. Kamu lihat, sekarang semua tambah semakin kacau gara-gara uang kamu. Jadi simpan saja semuanya itu!"
"Ra ... Rara!" panggilan Ken tidak lagi aku abaikan. Entahlah, ada begitu besar kekecewaan yang terasa karena sikapnya.
***
Entah sudah berapa banyak pesan masuk dari Tante Wira. Tetapi tidak ada satupun yang aku balas, semua kuabaikan. Aku benar-benar kecewa. Ternyata Tante Wira nggak benar-benar sayang, semua hanya karena uang.
Ya Tuhan ... andai saja mereka menyadari, jika tulus, akupun tak akan mungkin membiarkan mereka kekurangan.
Sekarang, papa dan Tante Wira benar-benar mengawasi mama. Mereka tidak mau kalah. Apapun yang diberikan Ken pada mama, mereka juga harus dapat, termasuk mahar yang kini dipegang mama ingin dikuasai oleh papa.
Aku lebih memilih diam, sebab kondisi yang sudah sangat suntuk, ditambah suasana yang tidak nyaman. Sama seperti Dinda. Hingga akhirnya kami menyadari sepasang mata Mama mengerjap.
"Mama," kataku, sambil mendekat ke tempat tidur Mama, diikuti oleh Dinda.
"Ra ... Din." Mama tersenyum pada kami.
"Mama bagaimana? Ada yang sakit?" kataku.
__ADS_1
"Enggak. Mama kangen kamu, Ra? Kamu baik?" tanya mama, masih dengan senyum yang menenangkan aku.
Ma, Rara akan menyayangi mama. Mama akan selalu menjaga mama. Rara nggak akan membiarkan mama disakiti oleh siapapun lagi, termasuk oleh papa. Kita bahagia bertiga saja!