
Ahad pagi, seperti biasa, waktu kugunakan bersama Dinda untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk selama satu pekan. Mulai dari mencuci pakaian yang tingginya melebihi gunung Merapi, menyetrika dan membersihkan seluruh rumah.
"Ternyata lelah juga, ya." kataku pada Dinda, setelah semua pekerjaan selesai.
Di rumah kami memang tidak ada yang membantu sebab dahulu pendapatan mama sebagai pedagang bunga hanya cukup untuk biaya sekolah dan hidup kami bertiga. Setelah aku bekerja, pernah kuusulkan pada mama untuk mempekerjakan orang, tapi mama menolak, dengan alasan sudah terbiasa mengerjakannya, ketika pekerjaannya beres, malah takutnya bingung, karena sudah biasa melakukannya.
"Paket!" seru seorang pemuda paruh baya, di depan pagar rumah yang hanya berjarak tiga meter dari pintu tempatku dan Dinda duduk.
Aku segera menyambar kerudung, lalu keluar menemui bapak yang mengantar paket. Sebuah bingkisan. Melihat nama pengirimnya, membuatku nyaris melonjak. Rangga?
"Siapa Rangga, kak?" tanya Dinda, ia mulai melihatku dengan tatapan menyelidik. "Kak, jangan coba-coba jadi playgirl lho, kakak kan sedang menjalani masa taaruf dengan mas Ken?" kata Dinda lagi.
"Ih, sok tahu deh. Siapa juga yang jadi playgirl. Rangga itu adiknya narasumber kakak." kataku, sambil jalan masuk ke dalam.
"Buka, kak. Dinda mau lihat."
"Kepo ya kamu sekarang." aku memencet hidung Dinda.
"Dikit," ia terkekeh.
"Paket dari siapa, Ra?" tanya mama yang baru keluar dari kamar.
"Rangga, ma." jawabku.
"Ayo buka, kak!" kejar Dinda lagi.
Pelan-pelan aku membuka bingkisan berwarna merah muda dengan pita senada tersebut, lalu tampaklah sekotak besar coklat yang kuketahui harganya cukup mahal. Ada tulisan juga yang ia sematkan pada bingkisan tersebut.
Semoga kita bisa bertemu lagi. Tertanda, Rangga.
Begitu pesan yang dituliskan oleh Rangga. Sehingga membuat Dinda heboh. Entah kenapa ia malah menyimpulkan bila Rangga memiliki perasaan padaku.
"Jangan sembarang bicara!" kataku, dengan tegas kepada Dinda.
"Iya, jangan sembarangan!" sambung mama.
__ADS_1
"Cie mama, sudah menentukan sikap pilihan, maunya punya menantu mas Ken!" sorak Dinda lagi.
"Walaupun mama mau, tapi kalau kakak kamu enggak mau, mama bisa apa, Din?" kata mama dengan suara memelas.
"Ma, jangan begitu dong." aku jadi tidak enak hati.
"Makanya, kakak tentukan pilihan. Mama itu sudah mantab sekali memilih mas Ken, kakak jangan ragu-ragu lagi." ungkap Dinda.
Sedang asyik berbincang-bincang dengan mama dan Dinda, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara salam lagi.
Papa. Ia, ada papa berdiri di depan pintu, bersama dengan Tante Yuni, istri papa yang baru. Mereka tersenyum ke arah kami.
Mimpikah ini? Aku masih tidak percaya, jika papa benar-benar datang ke sini. Setelah belasan tahun tidak pernah mau datang ke rumah ini. Kini, papa ada di situ.
"Papa!" pekik Dinda. Ia langsung berlari, menghambur dalam pelukan papa.
Aku masih berdiri di tempat yang sama. Dengan air mata berlinang. Memandang pemandangan yang sudah lama aku rindukan. Ya, aku selalu bermimpi dan menyematkan dalam doa-doa agar papa bisa menemui kami, memeluk dengan erat. Layaknya kebiasaan seorang ayah dengan anak perempuannya.
"Rara, kamu tidak mau memeluk papa?" tanya papa, dengan suara parau, menahan air mata agar tidak tumpah.
"Pa," aku berjalan pelan. Takut jika ini adalah mimpi, lalu terbangun dan semua hilang.
"Ra!" papa membalas pelukanku.
Ya Tuhan, terimakasih sudah menghadirkan kembali papa dalam hidup kami. Berulangkali kuucapkan hamdalah karena Dia sudah mengembalikan papa yang amat aku sayangi. Papa yang begitu aku rindukan.
"Ini bukan mimpi, kan?" kataku, sebab sejak perdebatan lewat telepon kala itu, aku tak berani lagi berharap bahwa papa akan datang pada kami.
"Bukan nak, ini benar-benar papa. Maafkan papa." kata papa lagi. "Rara, Dinda mau kan memaafkan papa?" ulang papa lagi.
"Nggak ada yang harus dimaafkan, pa. Rara sudah merelakan segala kesalah pahaman di masa lalu." kataku.
"Terimakasih, nak." papa menggenggam erat tangan kami.
Mama dan Tante Yuni juga saling berpelukan. Mereka saling meminta maaf atas hubungan yang pernah renggang belasan tahun belakangan. Lagi-lagi aku tersenyum melihat pemandangan yang telah lama aku rindukan.
__ADS_1
Jikapun orang tua memutuskan untuk berpisah, tak seharusnya membuat jarak dengan anak sebab mereka tidak bersalah atas apa yang terjadi.
Selesai saling bermaafan, kami berlima duduk bersama di ruang tamu. Siapa sangka, kedatangan papa hari ini karena Ken. Dia ternyata kemarin mendatangi papa di Bogor. Selain meminta izin, Ken juga membantu meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa benar-benar kagum dengan Ken, Ra. Papa harap kalian berjodoh!" ungkap papa.
"Iya Ra, Ken yang membuat kami sadar bahwa ternyata selama ini kamilah yang salah sebab membuat jarak dengan kalian. Tante mendukung kamu dengan Ken, Ra. Sekaligus sekarang kita semua tahu hikmah dari kegagalan rencana pernikahan Rara yang lalu, Allah ganti dengan yang lebih baik." ungkap Tante Yuni.
"Iya, insyaAllah Ken lah yang terbaik!" Mama memberikan dukungan untuk Ken.
"Dinda juga dukung mas Ken. Sudah kaya, baik, salih, tampan, sayang banget lagi sama kak Rara!" sambung Dinda.
"Hus, anak kecil kok ikut-ikutan?" aku kembali memencet hidung Dinda.
Ken, bagaimana caranya aku mengucap terima kasih atas jasa yang telah kamu lakukan. Kamu sudah menyatukan anak dengan ayahnya yang hubungannya memburuk sejak beberapa tahun lalu. Sebuah pesan ucapan terima kasih tidak lupa aku kirimkan pada Ken, disaat kami masih berkumpul bersama.
[Aku akan berusaha melakukan apapun agar kamu bahagia, Ra. Aku tidak main-main. Ini adalah salah satu bukti bahwa aku serius sama kamu, Ra. Tolong, mulai sekarang jangan ragukan aku lagi.] pesan balasan dari Ken.
Lagi-lagi Ken membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
[Jadi, kapan kamu mau menerima lamaranku?] pesan dari Ken lagi.
[Kenapa sih kamu terburu-buru seperti itu?] tanyaku.
[Sebab menghalalkan kamu adalah salah satu impian terbesarku saat ini. Kamu harus tahu, Ra. Kalau aku punya impian, maka aku akan berusaha dengan keras untuk mewujudkannya. Jadi tolong jangan membuatku menunggu terlalu lama.]
[Lalu bagaimana dengan orang tuamu?]
[Kapan kami boleh datang ke sana?]
Aku menarik nafas dalam-dalam. Tidak tahu harus menjawab apa. Sementara pandanganku tertuju pada papa, Tante Yuni dan mama yang terlihat akrab berbincang-bincang. Sedangkan Dinda bolak-balik menyajikan hidangan, sambil sesekali menimpali perbincangan.
[Akhir pekan nanti. Datanglah.] kataku, dalam pesan yang aku tulis setelah mengucapkan basmallah. Sungguh, saat ini hatiku benar-benar gelisah. Ada perasaan senang, tapi juga takut. Khawatir jika orang tua Ken akan menolak, mengingat status sosial kami berbeda jauh. Juga perempuan-perempuan di sekeliling Ken. Apakah mereka bisa terima?
Ahhhh, Rara, jangan pikirkan itu semua. Jalani saja. Untuk urusan ibadah pernikahan dahulukan diri sendiri, baru orang lain! Begitu yang selalu diajarkan kak Gita
__ADS_1
Aku menatap kembali pesan dari Ken. Tuhan, benarkah ini jodohku? Kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga mendapatkan balasan seperti ini?