
[Assalamualaikum.] sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenal masuk ke nomorku.
Siapa ini? Tidak ada gambar di profilnya. Kuputuskan untuk mengabaikan saja. Kalau penting biasanya akan mengirimkan pesan lagi, menjelaskan siapa dia.
[Ra, kenapa tidak dijawab salamnya?] masih dari pesan yang sama.
[Siapa?] tanyaku.
[Kamu enggak nyimpan nomorku?]
[Kenapa harus nyimpan nomor kamu?]
[Astagfirullah, Rara.]
[Siapa sih?]
[Ken!]
Sesaat aku terdiam membaca nama yang ia tulis. Tanpa permisi, jantung ini kembali berdegup kencang. Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan dengan cinta yang tumbuh karena terbiasa bersama?
Dulu, awal pertama ia masuk ke kantor, hati ini benar-benar biasa saja. Ia sama sekali tidak spesial di mataku, tapi sekarang entah kenapa mendengar namanya saja sudah membuatku gugup, apalagi kalau bertemu dengan orangnya.
[Ra, kok nggak dibalas lagi? Padahal online.] pesan dari Ken kembali masuk.
[Kenapa?] jawabku.
[Kamu lagi mikirin apa?]
[Astagfirullah, Ken. Apa itu penting untuk kamu?]
[Kalau iya, bagaimana Ra?]
[Kamu kenapa sih?]
[Apa kamu punya pertanyaan spesifik untukku, Ra?]
Ya Allah, Ken ... maksud kamu sebenarnya apa? Tolong jangan membuatku jadi galau. Aku benar-benar merasa sangat bodoh di hadapan kamu. Sesuatu hal yang tidak pernah terjadi pada siapapun, sebelumnya.
[Kenapa sih?] aku masih membalas seadanya, meskipun sebenarnya sangat gemas padanya. Entah apa tujuan, Ken. Aku tak bisa berharap banyak.
[Aku ingin tahu, Ra?]
[Tapi untuk apa?]
[Penting. Untuk masa depan, ku!]
__ADS_1
Masa depan apa yang dimaksud oleh Ken? Aku benar-benar bingung dibuat olehnya. Kenapa sih Ken kamu jadi sosok yang sangat misterius seperti itu?
[Ra, kok nggak dibalas lagi?] pesan masuk dari Ken.
[Ken, aku mau istirahat dulu.] aku mengirimkan balasan.
[Ra, besok akan ada sesuatu hal yang harus kamu ketahui. Aku berharap tidak merubah sikapmu padaku.]
[Apa?]
Aghhh, kenapa aku harus membalas pesannya. Kini aku sendiri yang semakin penasaran. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Ken.
[Janji, tidak akan berubah?]
[Apa dulu?]
[Tolong Ra, janji dulu. Semua hal yang aku lakukan ada maksudnya.]
[Apa?]
[Janji dulu.]
[InsyaAllah.]
Itu pesan terakhir dari Ken hingga akhirnya aku melihat statusnya offline. Sekarang tinggal aku dengan banyak pertanyaan di benakku.
Kenapa tiba-tiba Ken mengirimkan pesan seperti itu? Apa ada sesuatu hal tentangnya dan Monika yang belum aku ketahui? Gara-gara Ken, aku jadi sudah memejamkan mata. Tetapi tidak tahu harus melakukan apa
***
Sudah pukul delapan pagi. Tidak ada tanda-tanda Ken akan datang. Bodohnya, aku malah menunggunya di parkiran. Entah apa yang ada di pikiranku, semua terjadi seolah dikuar kendaliku sendiri.
"Ra," Arif mendekat ke arahku. "Kamu sedang apa di sini? Lagi ngelihatin mobilku?"
"Kamu kira aku kurang kerjaan?" aku geleng-geleng kepala. Rasanya malas saja harus bertemu dengannya lagi. Ku kita setelah kejadian beberapa waktu lalu saat ia akhirnya kutolak bergabung dalam timku, Arif tak akan lagi mengganggu, ternyata sama saja.
"Terus ngapain di situ?"
"Sedang menunggu, Ken!"
"Ken? Oh, anak baru itu. Kamu ada apa dengannya, Ra?"
"Bukan urusan kamu!"
"Ra, kenapa sih sekarang kamu berbeda sekali dengan Rara yang dulu ta'aruf denganku?"
__ADS_1
"Arif yang dulu pernah ta'aruf denganku juga berbeda dengan Arif yang sekarang. Dulu kamu tidak semenyebalkan ini, tapi sekarang benar-benar mengesalkan. Atau jangan-jangan dulu kamu pakai topeng, ya?"
"Kenapa sih kamu galak sekali, Ra?"
"Karena kamu memang mengesalkan, Rif. Sadarlah, sikap kamu itu benar-benar membuat orang gondok. Lagipula untuk apa lagi bicara denganku? Kamu kan sudah menikah, Rif. Jaga jarak dong. Hati-hati, rawan fitnah!" aku langsung masuk ke dalam kantor, sambil membatin, sampai kapan Arif akan bersikap seperti itu. Kenapa dia tidak pindah saja? Bukankah karirnya di sini tidak terlalu bagus dan ia punya mertua yang cukup berada, kenapa tidak kerja di kantor mertuanya saja.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku melirik Hp, melihat nomor Ken masih offline. Dia sebenarnya kemana. Hilang tanpa kabar. Harusnya kalau tidak masuk, berkabar. Apalagi setelah semalam mengirimkan pesan yang membuatku benar-benar gelisah.
"Ra, persiapan. Satu jam lagi kita akan kedatangan direktur baru." kata kak Gita, sambil merapikan mejanya.
"Direktur baru?" aku balik bertanya. Bingung dengan berita dadakan seperti ini.
"Iya, pak Pras baru ngabarin. Tolong kondisikan bawahan kamu ya."
"Yah, bagaimana ini?" aku langsung panik. Mencoba menghubungi Ken. Dia hari ini tidak masuk tanpa kabar. Jangan sampai jadi masalah untukku.
"Kenapa Ra?" tanya kak Gita.
"Ken belum ada kabar."
"Sudah ditelepon?"
"Sudah, tapi enggak ada balasan. Bagaimana dong?"
"Ya sudah, siapin yang lain saja. Oh ya, jangan lupa siapkan berkas-berkas juga."
Berita tentang kehadiran direktur baru di perusahaan ini membuat semua orang jadi sibuk mempersiapkan segala hal yang sekiranya dibutuhkan, sebab sudah lama perusahaan ini tanpa seorang direktur. Hanya digantikan oleh pak Pras selaku general manager.
Kini saat pak Pras mengumumkan bahwa posisi direktur akan kembali diisi langsung oleh anak pemilik perusahaan ini, semua orang langsung kasak-kusuk. Antara senang sebab akhirnya punya pimpinan sebenarnya, tapi juga deg-degan karena takut tidak cocok dengan pemimpin baru yang diketahui jebolan dari universitas luar negeri.
***
Tepat pukul sepuluh, direktur yang dinantikan akhirnya datang juga. Semua orang dibuat terkejut sebab yang hadir adalah seseorang yang pernah hadir selama satu bulan terakhir di perusahaan ini. Siapa lagi kalau bukan Ken. Ia adalah anak dari pemilik perusahaan ini, sekaligus sebagai direktur baru di sini.
Berarti apa yang sempat hadir di pikiranku itu benar, bahwa Ken bukanlah orang sembarangan. Ia ternyata adalah bosku.
Ternyata cerita-cerita tentang direktur yang menyamar sebagai karyawan itu benar terjadi dan sekarang terjadi di perusahaan tempatku bekerja. Parahnya, akulah yang ditunjuk sebagai pembimbingnya. Kalau ternyata selama ini ia tidak berkenan terhadap pengajaran yang aku sampaikan, habislah karirku saat ini juga.
Ada rasa malu juga yang muncul. Berani-beraninya aku suka pada direktur sendiri. Harusnya aku sadar diri. Arif yang hanya karyawan saja meninggalkan aku, apalagi Ken. Astagfirullah.
Jadi ini maksud dari pesan yang ia kirimkan tadi malam. Rupanya ia ingin mengatakan bahwa ia adalah direktur baruku, anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja. Mungkin inilah isyarat dari Ken agar aku tak berharap apapun padanya. Tentu saja kedekatan kami selama ini hanya karena ia butuh banyak informasi dariku tentang kondisi perusahaan saat ini.
"Rara ... Rara. Kok ya berani-beraninya kamu mendambakan seseorang yang begitu sempurna, sementara kamu punya banyak kekurangan." aku hanya bisa membatin di dalam hati
__ADS_1