GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
62. Peta Kehidupan Ken


__ADS_3

Membuat peta kehidupan merupakan salah satu hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Tetapi, menjadi begitu menarik olehku ketika dalam rencana-rencana tersebut ada namaku dan yang menulisnya adalah Ken, sesuatu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya.


Ken mengaku sudah menulisnya sejak pertemuan awal kami. Pada tanggal yang ia bubuhkan juga sudah tertera. Bagaimana ia menjadikanku target untuk dijadikan teman hidup.


"Tapi kenapa kamu memilihku?" pertanyaan itu terlontar sebab cukup membuatku penasaran.


"Sebab aku nyaman di sisimu." jawab Ken.


"Masa nggak ada jawaban lainnya? Misalnya, kenapa kamu nyaman? Padahal kan aku bukan sofa atau tempat tidur!" aku protes atas jawaban Ken yang itu-itu saja.


"Hahaha, panjang ceritanya Ra."


"Aku punya waktu kok untuk mendengarkan kamu, Ken."


"Baiklah. Sejak awal aku menginjakkan kaki di perusahaan, aku sudah kagum akan kecerdasan kamu, Ra. Apalagi saat kamu membimbingku, aku sudah merasa sangat klik. Aku adalah tipikal lelaki yang mengangumi perempuan tidak hanya dari paras saja, tapi dari otaknya. Bagiku, yang sudah terbiasa belajar dan hidup di luar negeri, perempuan smart itu selalu menarik.


Keyakinan itu semakin bertambah saat tahu betapa sabar dan baiknya kamu menghadapi sebuah masalah. Kala itu aku tahu kamu baru saja ditinggal nikah, tapi tidak ada satu kata buruk pun yang kamu lontarkan untuk Arif. Aku mulai berpikir, terbuat dari apa hatimu, Ra?


Caramu menjaga diri, juga membuatku makin terkagum-kagum. Saat aku cerita pada ibu, beliau pun langsung mendukung tanpa ragu sedikitpun padahal kalian belum pernah bertemu.


Sejak itu aku mengencangkan doa, terus belajar dan pastinya minta restu dari ayah dan ibu hingga akhirnya aku bisa memenangkan hati kamu.


Aku memang mencari calon istri yang nggak hanya bagus rupanya saja, tapi yang terpenting agamanya. Kamu tahu kan Ra, bagaimana seorang lelaki muslim dalam mencari calon istri, diminta untuk memilih dari agamanya terlebih dahulu.


Kegagalan di masa lampau membuatku belajar banyak. Ternyata memilih harus benar-benar hati-hati. Jangan tertipu dengan covernya saja sebab semua bisa saja dipermak. Tapi kalau hati sudah baik, insyaAllah baik semuanya.


Aku harap, dengan usahaku memilih calon istri yang baik secara agamanya, bisa membawa berkah dalam hidupku dengan nantinya dikaruniai anak-anak shalih. Lagipula, bukankah setiap anak berhak mendapatkan ibu yang terbaik dan itu adalah tugas dari seorang ayah untuk memastikan calon istrinya adalah perempuan yang baik agamanya."


"Ken," aku menatapnya hari, ternyata pertimbangan Ken sudah sepanjang itu.


"Lagian, perempuan yang gak suka drama itu selalu menarik di mata lelaki seperti aku, Ra." kata Ken.


"Meskipun aku tidak cantik?"


"Ra, aku akan tetap mencintai kamu, selagi kamu masih mencintai Rabb-mu. Lagipula, kata siapa kamu tidak cantik? Yang namanya cantik nggak harus menor, Ra. Justru aku risih kalau Perempuanku wajahnya merah-merah kayak ditampar kiri dan kanan."


"Akupun akan begitu, Ken."


Sebuah kecupan dihadiahkan Ken di keningku. Entah mengapa, aku merasa hari ini rasa cinta di hati untuk Ken semakin bertambah banyak. Lebih banyak dari sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Tetaplah jadi Rara yang seperti ini, Rara yang apa adanya. Rara yang selalu membuatku terpesona dengan akhlaknya."


***


Untuk kesekian kalinya telepon seluler milik Ken berbunyi. Tetapi ia masih terpejam. Saat aku melihat nama ibu di layarnya, cepat-cepat telepon ku angkat.


[Assalamualaikum, Bu.] sapaku.


[Wa'alaikumussalam, Rara. Sehat, nak?] tanya ibu.


[Alhamdulillah sehat, Bu. Ibu dan bapak sehat juga?]


[Alhamdulillah, kami semua sehat. Bagaimana di rumah baru, kerasan?]


[Alhamdulillah, Bu.]


[Ra, nanti malam ibu mau mengingatkan untuk datang ke acara makan malam di rumah ya. Ibu takut Ken lupa.]


[Oh iya, Bu. Nanti saya bilang sama Ken lagi.]


Perbincangan kami berakhir. Aku langsung memandang Ken yang masih tidur dengan pulas. Kenapa ia tidak cerita apapun kalau malam ini ada acara makan malam di rumah orang tuanya?


Dengan ekspresi panik aku mondar mandir di depan kasur, tanpa sadar ada sepasang mata yang baru terbuka memandangku heran.


"Kamu lagi olah raga ya?" tanya Ken dengan polosnya.


"Hah, bukan." aku menggeleng.


"Terus kenapa mondar-mandir? Sini, tidur lagi sama aku." Ken membentangkan tangannya. "Mumpung masih pagi."


"Nggak Ken, aku nggak suka tidur lagi setelah salat Subuh. Lagian kamu kenapa enggak bilang-bilang kalau kita diundang makan malam di rumah orang tua kamu."


"Oh iya, aku lupa."


"Tuh kan, untung ibu ngingatin."


"Jadi gara-gara itu kamu resah?"


"Iya, aku bingung. Nanti mau pakai baju apa."

__ADS_1


"Tenang, nanti habis sarapan kita cari baju yang cocok untukmu."


"Benar?"


"Iya."


"Wah, makasih suamiku sayang." spontan aku menghambur dalam pelukan Ken. Tapi setelah tertawa sebentar, aku baru sadar sudah bertindak terlalu jauh. "Eh, maaf." kataku, sambil berusaha menjauh dari Ken, tetapi dengan sigap ia menarik kembali tanganku dalam pelukannya.


"Sama-sama istriku sayang." ucapnya sambil tersenyum. "Kamu kenapa jadi begitu menggemaskan kalau sudah kaku begitu, Ra."


***


Aku mengira Ken akan membawa ke toko-toko baju tempat aku biasa berbelanja. Tetapi ternyata Ken membawaku ke butik besar yang ada dalam salah satu mall di Jakarta Selatan.


Entah sudah berapa baju yang akhirnya aku lepaskan. Bukan karena tidak bagus, justru bajunya bagus-bagus, tetapi harganya jutaan, sehingga membuatku mundur teratur.


"Bagaimana, enggak ada yang cocok juga?" tanya Ken, saat melihatku kembali menggeleng. "Ya sudah, kita cari di butik lainnya.


Ken menggandeng erat tanganku menuju butik lainnya. Kali ini ia ikut memilihkan, saat aku kembali geleng-geleng kepala, gara-gara melihat kabel harganya, Ken semakin semangat mencarikan yang terbaik.


"Ini kayaknya bagus, deh Ra." ungkap Ken, sambil menunjukkan sebuha gaun berwarna merah muda.


"Iya sih, tapi ...." belum sempat aku menjawab, tiba-tiba seseorang menghampiri Ken.


"Ken." panggil seorang gadis berjilbab biru muda dengan gamis berwarna senada.


"Gina?" panggil Ken juga.


Dua orang itu tampak canggung, mereka saling bertanya kabar dan kegiatan sekarang. Sekilas aku mendengar kalau gadis ini baru kembali dari Mesir. Tapi siapa dia? Mengapa Ken tak pernah bercerita sebelumnya padaku?


"Hem," aku sengaja berdehem sebab merasa seperti obat nyamuk yang dicuekin.


"Oh iya, ini istriku Rara, Gin." Ken memperkenalkan aku pada gadis itu.


Sepasang mata itu langsung melirik dari atas hingga bawah, meski ia tampak kaget, tapi berusaha terlihat biasa-biasa saja. Sementara aku tak sabar ingin mewawancarai Ken tentang jati diri perempuan ini.


"Ken, aku pamit duluan ya, ada urusan yang harus aku kerjakan. InsyaAllah nanti malam kita ketemu di rumah ibu." katanya pada Ken. "Mbak Rara, saya duluan ya." ia mengulurkan tangan, lalu seperti kebiasaan para wanita, kamu berpelukan sesaat meski rasanya benar-benar tidak nyaman.


"Ken, bisa jelaskan siapa dia?" tanyaku, siap untuk mengintrogasi.

__ADS_1


__ADS_2