
"Pa, Arif sudah menikah dengan perempuan lain. Awalnya ia membatalkan pernikahan karena merasa Rara terlalu baik untuknya. Tapi ternyata bukan karena itu, pa. Justru karena Rara tidak sebaik istrinya, pa. Arif bilang, Rara tidak secantik istrinya. Rara juga bukan dari keluarga kaya raya. Dan orang tua Rara tidak seperti orang tua istrinya. Rara anak dari korban perceraian yang merasa sangat kekurangan kasih sayang seorang ayah.
Dari perbandingan yang diuraikan Arif itulah makanya ia memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Rara.
Sedih bukan, Pa jadi Rara? Bebannya sebenarnya berarti pa. Kadang Rara berpikir untuk resaind saja karena Rara sebenarnya tidak sanggup pa. Rara tidak suka bertemu dengan Arif lagi. Bahkan hingga akhir hidup Rara. Tapi ia seperti tidak tahu malu selalu muncul di hidup Rara.
Belakangan ini Rara mencoba berpikir, ya sudahlah, Rara mencoba menerima pa. Rara akan menghadapinya. Tidak apakah berhadapan dengan orang menyebalkan seperti Arif. Toh dia cuma satu orang, yang penting saat Rara pulang, ada mama dan Dinda yang sangat peduli pada Rara.
Tapi sekarang Rara merasa kembali rapuh mendengar apa yang papa katakan tadi. Apalagi rencana Rara menjodohkan Rara dengan anak teman papa yang ternyata latar belakangnya kurang bagus.
Rara memang tidak sempurna, pa. Tapi Rara masih punya hati. Apa bagi papa Rara seburuk itu hingga papa mau saja menerima lamaran siapapun demi menutupi rasa malu papa karena Rara gagal nikah?
Pa, tolong ... setelah Rara dibuat tidak nyaman oleh lelaki itu, jangan papa buat Rara jadi tidak nyaman lagi. Bukankah Rara putri papa dan Rara berhak mendapatkan perlindungan dari papa. Bisakah papa ada untuk Rara? Bisa kan pa? Setidaknya, kalau papa memang masih punya banyak kemarahan untuk kami, tumpahkan pada Rara saja, jangan pada mama. Rara sudah tidak sanggup melihat mama sedih, pa. Beban Mama sudah banyak." aku bicara dengan suara terbata-bata. "Maafkan Rara, pa!"
Aku segera berlalu, meninggalkan rumah. Kembali menstater motor, membelah kota Jakarta yang mulai macet. Mungkin aku butuh sendiri. Setidaknya untuk menumpahkan sesak di dada ini. Ku harap, setelah ini papa bisa mengerti dan tidak meneror Mama lagi dengan kemarahan, apalagi dengan perjodohan yang tidak masuk akal bagiku.
Bulir-bulir bening itu mulai tumpah, rasanya dada ini masih sangat sesak. Perlahan berubah jadi sesenggukan.
Prittt prittt prittt. Suara peluit terdengar jelas bagiku. Aku tetap berlalu. Ada banyak beban di pundak ini sehingga tidak bisa memikirkan apapun yang sedang terjadi di sekitar hingga akhirnya aku menyadari ada yang tidak beres ketika motor polisi menyeimbangi laju motorku.
Apalagi ini?
Aku hanya bisa membatin. Lalu meminggirkan kendaraan sebab ia memberi isyarat agar aku menepi.
"Selamat sore, bisa tunjukkan sim dan ... mbak Rara?" polisi itu menyebut namaku.
"Hah, kamu lagi. Oh, maksudku pak polisi. Pak Rangga." aku meringis.
"Hahaha, enggak nyangka ketemu lagi dan mbak Rara menangis lagi. Boleh saya tanya, apakah kalau mbak ada masalah, pelariannya dengan berkeliling kota?"
"Maksudnya?"
"Maaf ... maaf. Saya cuma bercanda. Tapi saya beritahu ya, mbak. Sebaiknya kalau sedang ada masalah jangan malah jalan-jalan naik motor, berbahaya mbak. Mending mbak berdiam diri di tempat yang nyaman dulu. Misalnya di rumah."
"Kalau di rumah tidak nyaman?"
"Oh maaf."
"Jadi aku bakal ditilang?"
"Hahaha, kali ini enggak usah. Saya akan memaafkan mbak karena mbak lagi menangis."
"Kalau begitu akan aku beritahu pada semua orang, kalau mau ditilang nangis saja."
"Oh jadi ini akal-akalan mbak Rara?"
__ADS_1
"Bukan!"
"Iya ... iya. Saya cuma bercanda. Maaf ya."
"Hm."
"Sepertinya masalah mbak Rara berat, ya."
"Hm."
"Kalau mau cerita boleh kok."
"Memangnya polisi juga membuka jasa curhat?"
"Hahaha, kan tugas kami melayani masyarakat. Oh ya, bagaimana kalau kita duduk di sana saja." ia menunjuk taman kecil yang ada di bahu jalan.
"Enggak mau."
"Kenapa? Takut dimodusin ya?"
"Bukan mahram."
"O. Boleh saya minta nomor telepon mbak Rara?"
"Barangkali saya butuh petunjuk, takut tersesat kalau mau ke rumah mbak Rara."
"Ngapain ke rumahku?"
"Mau melamar."
"Maksudnya?"
"Hahaha, saya serius mbak."
"Sudahlah. Aku pergi dulu. Oh ya, terimakasih karena tidak jadi menilang ku ."
"Sama-sama mbak Rara. Oh ya mbak, saya sangat yakin, cepat atau lambat Kuta akan bertemu lagi." ia tersenyum penuh keyakinan.
***
Sudah beberapa kali aku menstater motor, tapi entah kenapa tidak juga mau nyala. Mungkin karena belum diservis atau ganti oli. Pastinya aku kurang tahu karena tidak terlalu hafal dunia permesinan.
Karena takut terlambat, aku memutuskan menghubungi ketiga sahabatku lewat grup wa. Siapa tahu di antara mereka ada yang belum berangkat dan bisa nyamperin ke rumah sebab rumah mereka melewati rumahku.
[Kamu siap-siap di depan Ra, aku sudah otw.] jawab Aya.
__ADS_1
[Oke.] aku mengucap hamdalah karena mendapatkan tumpangan gratis.
"Ma, Rara berangkat duluan. Assalamualaikum!" kataku, lalu berlalu ke depan rumah.
Tidak sampai lima menit, Aya sudah sampai di depan rumah. Setelah memasang helm, aku naik ke boncengan di belakang. Siap berangkat bersamanya.
Berbeda denganku, Aya lebih ngebut mengendarai motor hingga membuatku gemetaran. Selain karena dingin, juga takut jatuh.
"Kamu benar-benar kayak pembalap Ya, aku yang biasanya ke kantor butuh waktu dua puluh menit, sama kamu cuma separuhnya." kataku.
"Iya dong. Aku kan muridnya Valentino Rossi." jawab Aya sambil terkekeh.
Tinnnnnn. Tiiiiiin. Tiiiiiin. Suara klakson mobil membuta aku dan Aya kaget. Kami bahkan nyaris melonjak saking kagetnya.
"Siapa sih orang norak yang nglakson keras-keras seperti itu?" tanya Aya. "Apalagi kita enggak mengganggu jalannya."
"Entah." aku menggeleng, karena baru kali ini melihat mobil jazz hitam masuk ke parkiran pegawai.
"Ken kali."
"Kayaknya enggak deh. Mobilnya Ken kan bukan itu." beberapa hari lalu aku sempat melihat Ken membawa mobil sport keluaran Eropa. Tiba-tiba dipikiranku muncul sesuatu. Kalau Ken benar-benar pegawai biasa, masa dia bisa membeli mobil semahal itu. Harganya kan milliaran rupiah. Tapi aku enggak boleh memikirkan apapun tentang Ken, sebab ingat apa yang dikatakan Ken, jangan terlalu jauh melangkah.
"Kamu hafal mobilnya Ken, Ra. Kamu enggak ada apa-apa kan dengan Ken?"
"Enggak. Memangnya kenapa?"
"Hmm, aku curiga."
"Apaan sih."
"Halooo." dari dalam mobil yang tadi membuta kami kaget, keluar Arif dengan senyum begitu lebar, ia melambaikan tangannya pada kami layaknya seorang artis yang bertemu dengan para fansnya. "Selamat pagi Rara, selamat pagi Aya. Kalian baru sampai ya? Ya ampun, kalian bau asap. Pantaslah, naik motor sih. Kayak aku dong, naik mobil. Itu mobil baru, dibelikan mertua. Hadiah pernikahan kami." Arif terkekeh.
"Siapa?" tanya Aya.
"Siapa apa Ay?" Arif bertanya balik.
"Siapa yang nanya!" jawab Aya dengan ketus.
"Lho, aku cuma mau ngasih tau. Ini lho mobil baruku." Arif menunjuk mobilnya.
"Norak. Begini nih kalau orang kampung baru merasakan punya uang. Udah yuk Ra, masuk." Aya menarik tanganku. "Heran, ada orang senorak Arif. Untung kamu enggak jadi menikah dengannya Ra. Entah bagaimana kamu kalau jadi istrinya. Aku jadi bertanya-tanya, Monika melihat apa ya dari Arif? Enggak ada otak, malu-maluin, pekerjaan tidak jelas. Cuma kedompleng mukanya yang agak lumayan dikit." cerocos Aya.
"Sudah, enggak usah ngomongin orang. Keenakan, dia dapat transferan pahala, sementara kita berkurang." kataku.
Apa yang dikatakan Aya sebenarnya memang benar. Entah bagaimana cara berpikir Arif, dengan tidak tahu malunya begitu bangga mengaku selalu dapat jatah dari mertuanya. Padahal ia laki-laki, harusnya tidak bersandar pada keluarga istrinya.
__ADS_1